
Sudah satu minggu Rafael menginjakkan di sekolah barunya ini. Baginya, beradaptasi dengan lingkungan baru tidaklah sulit. Ia bisa berubah sesuai dengan keadaan sekitar.
Kini, Rafael sedang menulis sesuatu di bukunya. Entah apa yang ia tulis itu, apa mungkin surat cinta untukku? Jangan sewot kalian!
Ketika ia sedang memikirkan kata selanjutnya, Ria masuk bersama kawan-kawannya. Kemudian disusuli oleh beberapa pemuda yang masih lajang. Kata-kata gue kok gini, ya?
"Selamat pagi, dunia! Mari mulailah hari dengan baku hantam!" Ujar Bima seraya mendudukkan dirinya.
Semua yang ada di kelas hanya menatap aneh ke arahnya. "Aneh." Mungkin, itu isi hati mereka.
"Udah lah, 'nggak ada yang nyaut ini," kata Dean sambil mengipas-ngipaskan wajahnya.
"Bodo amat. Siapa peduli," sahut Bima kemudian, langsung membuka isi tasnya.
"Oh ya, sekarang ada PR nih, yang udahan liat dong!" Lanjutnya dengan wajah memelas.
"Yah, buku ku robek semalam. Soalnya, 'nggak sengaja kerobek sama adek." Salah satu teman, berucap demikian untuk dijadikan alasan.
"Sama, buku aku dicoret sama sepupu aku." Sahut yang satunya. Bima yang menyadari hal itu pun, berkata, "halah, siapa juga yang mau minta ke kalian! Tulisan kalian aja 'nggak bisa dibaca!"
"Lah, terserah. Kayak situ nulisnya seperti Times New Roman. Cuih!" Sewot si murid perempuan yang ada di depannya.
"Eh, udah napa! Pagi-pagi begini, niatnya mau hirup udara segar malah hirup udara keributan! Lama-lama, gue kawinin lo berdua!" Ancam Doni, terlihat di wajahnya seperti orang yang sangat frustasi dan menuju tingkat depresi. Bisa-bisa, satu sekolah akan hancur dalam sekejap.
• • •
30 menit berlalu.
Bel berbunyi hingga menggema ke seluruh ruangan di seantero sekolah itu. Para murid yang berada di luar kelas, langsung berhamburan masuk ke kelas. Begitu juga dengan guru-guru mulai mrmasuki kelas yang akan diajarinya.
"Assalamu'alaikum, anak-anak." Guru dengan pakaian gamis panjang nan lebar memasuki kelas 12 IPA 1. Namanya, bu Khomariah, seorang guru yang mengajar mata pelajaran Agama Islam dan juga pengajar eskul tahfidz di sekolah favorit itu. Biasa disapa oleh murid dengan sebutan, 'bu Kokom'.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam, Bu." Jawab mereka serempak.
"Shobahal 'khoir. (Selamat pagi.)"
"Shobahan nūr. (Selamat pagi.) "
"Kayfa 'haluk? (Apa kabar?) "
" Nahnu bi 'khoir wall hamdulillah."
Ya, setiap kali pertemuan pembelajarannga, bu Khomariah selalu mengawali dengan percakapan singkat berbahasa Arab. Supaya peserta didiknya dapat berbicara bahasa Arab walau sedikit.
"Baik, pertemuan kita kali ini hanya materi. Ibu akan menjelaskan tentang beberapa isi kandungan dari beberapa surat yang minggu lalu kita pelajari. Silakan buka buku catatan kalian masing-masing, dan simak jika perlu kalian catat." Titah bu Khomariah.
"Sebelum memulai, alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu," sambungnya. Tanpa ba-bi-bu, sang ketua kelas memimpin doa.
Sekali-kali lah, jadi alim. Nanti keterusan kok ^_~ .
• • •
Pelajaran sudah berganti, bel juga sudah berbunyi lima menit yang lalu. Kini, pelajaran yang paling tak disukai oleh semua murid (read \= malas) akan dimulai.
Detakan jantung tak karuan, bukan karena jatuh cinta atau apa. Namun, karena guru mata pelajaran yang tidak disukai oleh murid mulai melangkah masuk ke dalam kelas.
Beberapa dari mereka, ada yang terasa sulit untuk menelan salivanya.
"Baik. Pelajaran kita kali ini adalah uji coba gunung merapi. Akan Ibu bagikan 8 kelompok, satu kelompok terdiri 4 orang. Ibu akan bagikan kelompok kalian secara acak!" Titah bu Nami tak terbantahkan.
Setelah dibagikan kelompok, mereka semua mulai memasuki ruangan laboratoriun. Ruang, dimana banyaknya gelas-gelas percobaan dan juga berbagai macam bentuk.
Seperti jambore kemarin, Ria satu kelompok dengan Ninda, Bima dan Rafael. Tak disangka olehnya.
__ADS_1
"Baik, setelah kalian mencampurkan semua bahan-bahannya ke dalam kerucut itu, tuliskan apa yang terjadi dan mengapa kerucut itu bisa meletus dan mengeluarkan soda?" Titah bu Nami lagi, setelah memberikan bahan-bahan yang akan digunakan oleh peserta didiknya. "Ibu ke toilet sebentar. Setelah Ibu kembali, semuanya harud siap semua!" Lanjut bu Nami kemudian keluar dari ruang laboratorium.
.
.
.
.
Inscure. Satu kata yang menpunyai arti, rendah diri. Atau, minder. Saya pernah merasakan inscure, bahkan sering. Jaman sekarang, inscure diibaratkan dengan paras seseorang, mulai yang cantik, tinggi dan hal sempurna lainnya. Namun, bagi saya itu bukanlah inscure. Karena, Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan sempurna. Jika tak sempurna, itu bukanlah pemberian dari Tuhan, melainkan campur tangan manusia. Saya pernah inscure kepada hasil orang lain, inscure terhadap orang yang mempunyai banyak teman didekatnya. Tetapi, saya tahu Tuhan sudah mempersiapkan semuanya. Buat kamu yang sedang inscure, jangan merasa sendiri, karena semua yang ada di dalam dirimu itu, belum tentu bisa dicapai oleh orang lain. Hanya satu yang tidak bisa orang miliki, apa itu? Ya, itu adalah 'Kejujuran'. Jarang orang yang bersikap jujur. So, intinya jangan merasa rendah diri, karena belum tentu semua yang kita punya, tidak mungkin dipunya oleh orang lain.— Rizka.
Selamat datang bulan Oktober! Selamat hari kesaktian Pancasila semuanya! Tunai sudah janji bakti—
September mengukir sejarah pilu negeri ini. Darah-darah, membanjiri ibu pertiwi. Darah pahlawan jatuh bertumpah ruah. Demi melawan komunis dan penjajah. Walau musuh selalu mengintai mu, namun menyerah tak ada di sejarahmu. Penjajahan telah kau hapuskan, penghianatan telah kau hancurkan.
Pancasila kau bangkitkan, untuk tanah air, berkedaulatan— Hanin Dhiya.
Kalian paham? Hehe.
.
.
.
.
Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)
*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*
__ADS_1
-**Bersambung-
#HappyReadingAll😉🤗**