Sebatas Patok Tenda

Sebatas Patok Tenda
SPT 21


__ADS_3

Dua hari kemudian


Pagi harinya, para peserta Jambore dan juga panitia beserta pembina peserta masing-masing sedang bersiap-siap untuk melakukan APEL pagi. Karena, mereka akan pulang ke rumahnya masing-masing.


Ini yang akan menjadi momen tersedih bagi para peserta Jambore. Karena, mereka akan berpisah dengan teman barunya. Entahlah, apa mereka bisa bertemu lagi? Hanya waktu dan Tuhan yang akan menjawab di kemudian hari.


"Kepada, pemimpin upacara ... Hormat, grak!" Seru pemimpin barisan paling kanan. Pemimpin upacara itu pun membalas hormatannya lalu menurunkan tangannya.


"Tegap ... Grak!" Ujar pemimpin barisan paling kanan setelah pemimpin upacara itu menurunkan tangannya. Semuanya bersikap sempurna. Pembina upacara mulai memasuki lapangan upacara sesuai arahan dari pembaca susunan upacara.


Pemimpin upacara yang ternyata adalah kak Rudy pun membalikkan badannya. Lalu memberi hormat kepada pembina upacara, yaitu ketua panitia Jambore.


"Kepada, pembina upacara ... Hormat, grak!" Tegas kak Rudy dengan suara berat yang sangat pantas untuk menjadi pemimpin upacara di istana negara. Pembina upacara membalas hormatannya, tidak lama dari itu, ia menurunkan tangannya.


"Tegap ... Grak!" Dengan suara yang sangat berat dan berwibawa, kak Rudy menurunkan tangannya begitu juga dengan para peserta upacara lalu kembali bersikap sempurna.


Hampir setengah jam, mereka melakukan upacara APEL pagi dan itu masih belum selesai. "Menyanyikan lagu Hymne Pramuka oleh seluruh peserta upacara." Ujar pembaca susunan upacara. Seorang pemimpin lagu mulai berjalan dengan sikap sempurna ke arah peserta upacara.


"Mari kita menyanyikan lagu Hymne Pramuka dengan seksama. Satu ... Dua ... Tiga ..." Pemimpin lagu memberi aba-aba. Dihitungan ke tiga, peserta upacara serempak menyanyikan lagu Hymne Pramuka.


"Kami ... Pramuka Indonesia.


Manusia ... Pancasila.


Satya ... Ku, ku darmakan ...


Darma ... Ku, ku baktikan ...


Agar jaya ... Indonesia ... Indonesia.


Tanah air ku ... Kami jadi pandumu."


Setelah selesai, pemimpin lagu itu kembali ke tempatnya. Setelah menyanyikan lagu-lagu, pembacaan do'a pun dibacakan. Pembaacan do'a itu dibaca oleh pembina peserta Jambore dari Bandung. Namanya yaitu, Rizki Anggara, yang menjadi sorotan para peserta Jambore terutama kaum hawa.


Setelah itu, pembina upacara memberikan pengumuman. Isi pengumuman itu adalah, "hari ini merupakan hari terakhir bagi kalian semua. Semoga, kalian dapat mengambil pengajaran dari aktivitas-aktivitas yang kalian lakukan disini. Kakak disini, ingin mengucapkan, banyak-banyak terimakasih untuk adik-adik sekalian.


Mohon maaf jika perlakuan Kakak ke kalian itu tidak mengenakan. Setelah upacara APEL pagi, Kakak akan memberikan hadiah untuk kalian semua. Semoga saja, hadiah itu bisa membuat kalian menjadi anak Pramuka yang hebat dan bermartabat. Itu saja yang Kakak sampaikan. Mohon maaf jika ada kesalahan kata. Salam Pramuka!"


Setelah pengumuman, pemimpin upacara kembali ke tempatnya lagi dan para peserta dibubarkan untuk membenahi barang-barang mereka dan juga, membongkar tenda mereka secara berkelompok.


"Berasa cepat banget, ya. Maksudku tuh, 'nggak kerasa gitu, lho," ucap Rafael yang tiba-tiba ada di samping Ria. Terkejut akan kedatangan Rafael yang tiba-tiba, "kamu ih! Kalau datang 'nggak bilang-bilang!" Bentak Ria yang masih sibuk melipat tenda.

__ADS_1


"Ehehe. Maaf," ujar Rafael sambil terkekeh kecil. Ria hanya mengangguk sebagai responnya, "kamu 'nggak rapihin tenda? Hih ... Diomelin luh!" Cibir Ria dengan nada seram di akhir.


"Apa sih. Tuh lihat sendiri ..." Elak Rafael sambil menolehkan mukanya sebagai petunjuk arah. Ria pun melihat arah yang ditunjuk wajah Rafael, benar saja! Tendanya sudah rapi hanya tertinggal barang-barang, seperti tas dan lainnya.


"Kamu ... Kok? Cepat banget?!" Kata Ria yang tak percaya dengan sedikit terbata-bata. "Ya iyalah. Aku tuh udah handal dalam bongkar-pasang tenda. Makanya cepat!" Ucap Rafael dengan bangga sambil melipat tangan di dadanya.


"Sombong." Gumam Ria sembari memutar bola mata jengah akan tingkah laku Rafael yang sekarang.


"Gays!!" Tak ada angin, tak ada hujan dan tak juga ada yang manggil. Ninda datang tiba-tiba sambil merangkul Ria kemudian disusul oleh Bima yang datang.


"Udah, kan?" Tanya Ninda. Ria hanya mengangguk sambil tersenyum kikuk.


"Yaudah. Kalau gitu, kita makan yuk! Kebetulan di sana ada tukang Bakso," imbuh Bima sambil menunjuk tukang Bakso yang sangat ramai pembelinya.


"Emang boleh?" Tanya Ria tak percaya. Bima mengangguk, "tuh lihat. Pembelinya aja kebanyakan peserta Jambore. Yaudah, yuk!" Ucap Bima sambil melangkahkan kakinya. "Yuk, Rel!" Lanjut Bima sambil merangkul Rafael yang masih tak bergeming sama sekali.


"Rel?" Ucap Ninda dan Ria bersamaan. Bima menggeleng miris, "iya. Rafael, disingkat jadi 'Rel'. Udah lah, cuma masalah nama doang." Kemudian melengang pergi sambil merangkul Rafael.


Ninda dan Ria hanya menatap satu sama lain lalu mengangkat bahunya masing-masing.


.....


"Ria!" Sapa Rafael yang tiba-tiba duduk di samping Ria. Datangnya tiba-tiba mulu, pusing Author ini.


"Ih, serius!!" Tegas Rafael lalu membenarkan posisi duduknya.


"Iya iya. Aku maafin," sarkas Ria tetapi masih memasang wajah kesal dan memandang ke arah lain. Rafael pun mengercutkan bibirnya, "begitu! 'Nggak ikhlas! Senyumnya mana?!" Ucapnya. Terpaksa, Ria pun tersenyum selebar-lebarnya.


"Gitu, dong!" Ucap Rafael lalu tertawa kecil. "Eh, aku mau nanya nih. Selama kamu ikut beberapa Jambore, kamu pernah 'nggak merasa CinLok (Cinta Lokasi) gitu?" Tanya Rafael serius. Ria menaruh buku yang dibacanya, lalu memikirkan sesuatu.


"Pernah, sih. Tapi sekali ..." Gumam Ria tetapi masih bisa di dengar oleh Rafael. "Oh, ya? Kalau boleh tau ... Siapa orangnya?" Tanya Rafael dengan antusias.


"Kepo!" Sergah Ria sambil memasang wajah meledek dan kembali membaca bukunya lagi. "Aku sih, selama ikut beberapa Jambore ... Baru kali ini aku suka sama seseorang dan, aku baru tahu gimana rasanya jatuh cinta." Ria yang mendengar melihatnya sekilas sambil menyeritkan dahinya.


"Maksud kamu?" Tanya Ria penasaran. Rafael pun menoleh ke arahnya dan berkata, "aku suka sama kamu. Tapi, apa kita bisa ketemu lagi setelah berpisah?" Ucapnya.


"Biar waktu yang menjawab semua itu," balas Ria yang mengerti arah pembicaraan. Tiba-tiba saja, pipinya merona bagaikan kepiting rebus. "Udah lah! 'Nggak usah bahas begitu!" Ucap Ria yang salah tingkah. Rafaek hanya terkekeh kecil melihat tingkah Ria yang tiba-tiba salah tingkah.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


WARNING ❗❕❗❕❗


BACAAN INI MENGANDUNG PROMOSI ❗❕❗❕


Pararunteun Akang Teteh 🙏


Taraktakdung 2020 🙏


Sambil nunggu novel ini mau up, baca yang ke-tiga novel ku ini, ya! 😉



Musuh Menjadi Sahabat - End (Novel)


Bad Boy And Bad Girl - Up (Chat Story)


Reinkarnasi - New//Tapi sudah basi 😌 Masih up kok!// (Novel)



Kuy dibaca. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, bukan jejak kaki yaww jejaknya yaitu : Like 👍🏻, Komen 📝 dan Subscribe 📌. Eh, ralat ❌. Dan Vote boleh poin atau koin. //Tapi aku maunya koin ... Eh, 'nggak deng bercanda 😂// Jangan lupa juga buat di favorit kan ❤️. Mau feedback? Boleh kok! Kalian tinggal komen aja. Nanti, aku bakal balas feedbackan kalian 😉. So, tunggu apa lagi? Ayo belanja di AlfaMart! Eh! Ayo baca novel ku!


Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)


*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*


-**Bersambung-

__ADS_1


#HappyReadingAll😉🤗**


__ADS_2