Sebatas Patok Tenda

Sebatas Patok Tenda
SPT 31


__ADS_3

Nb : Bab ini kita bakal fokus ke pemeran Dona, ya^_~. Tapi, tetap ada pemeran utama lelaki dan perempuannya, ya.


Setelah selesai praktek di laboratorium, beriringan dengan suara bel yang menggema di sekolah itu. Semua murid mulai berhamburan keluar kelas, begitu juga dengan kelas Ria. Mereka mulai melepas alamater putih mereka.


• • •


Ketika di kantin, Dona langsung memesan 3 gelas jus jeruk, dan segera meminum jus itu dengan sekali teguk begitu seterusnya hingga habis tak tersisa.


"Don, kamu kenapa?" Tanya Diana yang sangat bingung dengan tingkah Dona.


Dona tak menggubris, ia langsung menyambar es teh manis pesanan Riana dan langsung menghabiskan segelas es teh manis itu. "Eh, Don! Itu punya aku ih," sewot Riana.


"Don, kamu .... Ih!" Rebecca terlihat geli dan jijik dengan sikap Dona yang terus menerus menghabiskan minuman milik ia dan juga temannya. "Kamu kenapa sih?! Oh, jangan-jangan kamu abis ...." Sadar akan ucapan selanjutnya yang keluar dari mulut kecil Rebecca, Dona langsung memukul bahu Rebecca dengan kencang.


"Enak aja! Ya 'nggak lah! Pikiran kamu tuh, ya ckckck, ngeres!"


"Hehe. Kali aja, kamu itu abis ... muach muach, gitu. Terus kehabisan nafas gara-gara kelamaan," lantur Rebecca seraya memajukan bibirnya.


"Kamu PMS?" Tanya Riana menyelidik.


"Iya. Tapi, bukan karena itu juga," jawab Dona dengan datar.


"Terus? Eh, kamu'kan PMS, kok minum es, sih?!" Sahut Rebecca.


"Panas."


"Panas kenapa? Di lab 'kan, ada AC mana mungkin panas?"

__ADS_1


"Kamu tuh 'nggak ngerti!" Tukas Dona sambil melipat tangannya di depan dada. "Aku kesal sama si Ria. Dia kayaknya tuh dekat banget sama anak baru, si Rafael."


"Lah, mereka 'kan udah kenal duluan. Mereka juga teman jambore 'kan?" Imbuh Diana.


"Ya. Tapi ... mereka itu kayak lebih dari teman, gitu!" Pungkas Dona sambil menahan amarahnya.


"Hmm, jangan-jangan kamu suka sama Rafael, ya? Ya 'kan? Ngaku hayo ngaku," goda Riana sambil menyipitkan matanya.


"Siapa juga!" Ucap Dona dengan penuh penekanan.


"Bohong! Ketahuan tau! Udah sih, ngaku aja." Rebecca menimpali.


"Tau lah!" Dona langsung bangkit dari duduknya dan langsung melenggang pergi.


• • •


Pelajaran terkahir dimulai. Karena hampir semua kelas sudah pulang, hanya tersisa beberapa kelas, guru yang mengajar cukup santai. Ia hanya bercerita atau bersenda gurau dengan muridnya.


Sampai Ibu lulus, 'nggak ada kabar sama sekali dari Wati. Ibu udah sabar, sampai Ibu mau nikah. Niatnya sih, mau undang dia ke acara pernikahan Ibu. Tapi, karena semua keluarganya tinggal di Bandung, dan 'nggak nitip alamat sama sekali, ditambah semua nomor keluarganya 'nggak bisa dihubungi. Ibu sedih, niatnya mau terus bareng sampe tua, tapi semuanya hancur." Tutur guru itu, huhu Author turut prihatin ya, Bu. Yang sabar, Bu. Sedangkan, semua muridnya hanya menyimak bahkan, ada yang hampir menjatuhkan wajahnya ke meja karena merasa ngantuk.


Mereka merasa di Nina Bobo-kan oleh sang guru, soalnya wese wese wes gitu 'kan. Rasanya tuh, bikin ngantuk.


"Firman! Kerjakan soal nomor 4! Sekarang! Di papan tulis!" Pekik guru itu ketika tak sengaja melihat wajah anak muridnya yang sudah menempel dengan meja. Murid yang dipanggil 'Firman' itu pun langsung mendongak dan terdapat bekas air liur di ujung bibirnya.


• • •


Sebelum pulang sekolah, Ria dan Rafael ditugaskan untuk menaruh buku-buku paket ke perpustakaan sekolah.

__ADS_1


"Bisa 'nggak? Sini, biar aku yang bawa." Rafael menawarkan dirinya kepada Ria yang terlihat kesusahan membawa buku di tangan kecilnya. Padahal, di tangan Rafael sudah banyak buku yang tertumpuk.


"Bisa-bisa. 'Nggak apa, kok nih bisa." Balas Ria sambil mengumpulkan tenaganya untuk mengangkut tumpukan buku di tangannya.


Dona yang melihat hal itu, langsung mencibir, "cuih! Sok perhatian! Begitu doang sih, 'nggak kuat." Ada kebencian yang terpendam dalam hatinya.


"Ria, awas kamu, aku bakal kasih perhitungan buat kamu!" Batin Dona membentak.


Cuih, situ aja kagak ada hubungan apa-apa, gimana sih Mbak °^°.


.


.


.


Kamu dan kenangan, selalu berjalan di waktu yang bersama. Di saat aku mengingatmu, aku juga mengingat kenangan yang kau berikan kepadaku. Kamu dan kenangan, selalu membuatku bahagia ketika mengingatnya.— Rizka.


.


.


.


Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)


*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*

__ADS_1


-**Bersambung-


#HappyReadingAll😉🤗**


__ADS_2