
Hari ini, hari minggu, dimana semua pekerja diliburkan. Begitu juga dengan sekolah, para murid dan guru diliburkan, melepas penat setelah hampir sepekan beraktivitas.
Di sebuah rumah gadang, terdapat seorang gadis yang sedang duduk santai di teras rumahnya. Sesekali ia membuang napas kasar, seperti membuang beban yang menunggangi hidupnya sekarang. Ya, itu adalah Ria. Hari ini, tak ada kegiatan yang penting baginya.
Ting!
Pesan WhatsApp masuk, Ria langsung mengambil ponsel yang tergeletak di meja dekatnya.
Message form Dona Marlenda.
‘Ria, ayo datang ke rumahku. Aku ngadain acara makan-makan sekelas, aku undang teman sekelas kita. Ditunggu, ya! (Emot love ungu 20×) ’
"Kebetulan lagi boring! Oke lah, kita capcus!" Seru Ria setelah membaca pesan dari Dona.
‘Oke. Aku OTW, tunggu, ya!’
Delivered.
Hanya membutuhkan waktu 10 menit, Ria langsung berangkat menuju rumah Dona, karena jaraknya yang tidak terlalu jauh, hitung-hitung olahraga sedikit. Kebetulan ia sedang sendirian di rumah, jadi kunci rumah ia selipkan di celah-celah ventilasi dekat pintu rumahnya.
‘Kak, aku ke rumah Dona. Di ajak makan-makan sekelas, kunci rumah aku taruh di tempat biasa, ya!’
Read.
Message form Kak Sukma.
‘Oh, iya. Jangan pulang kesorean!’
‘Siap, Bu!’
Read.
Ria mulai berjalan santai sambil membawa tas kecilnya, kemudian ia gendong di samping tangannya.
• • •
"Mana nih? Katanya ada acara, kok sepi?" Ujar Ria ketika sudah sampai di depan rumah mewah milik Dona. Rumah bernuansa mewah dan glamor, serta bercat kuning keemasan, dengan gerbang berwarna hitam yang menjulang tinggi, bagaikan istana dalam dunia nyata.
‘Don, kamu dimana? Aku udah sampe nih.’
5 menit kemudian, read.
Message form Dona Marlenda.
‘Kamu masuk aja. Gerbangnya 'nggak dikunci ini, aku lagi siap-siap.’
"Oke." Ria langsung berjalan mendekati gerbang rumah Dona, kemudian membuka gerbang itu dengan cara mendorong ke samping, setelah selesai, Ria menutup kembali gerbangnya.
Firasat aneh menyelimuti pikirannya. "Katanya ada acara. Tapi kok, sepi gini?" Gumam Ria sambil mengedarkan pandangannya di halaman rumah Dona.
‘Don, kok sepi sih? Teman-teman pada kemana? Kata kamu 'kan, ada acara makan-makan.’ Isi pesan Ria.
Read.
‘Iya. Mereka belum datang, kamu masuk dulu aja. Sekalian kita natain piring bareng, ya?’
"Hah... seterah deh." Ria mulai berjalan ke arah pintu masuk rumah Dona.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, ia membuka pintu dengan perlahan. Keadaannya sama seperti di halaman. Sangat sepi, dan gelap.
"Assalamu'alaikum. Dona... ini aku, Ria. Kamu dimana?" Ria terus mencari-cari Dona, walau Dona tak ada di situ.
"Don, kamu dim...." Tiba-tiba, ada seseorang yang membekap mulut Ria dari belakang. Siapa itu? Apakah Dona? Atau salah satu teman Ria yang memberi surprise? Atau Author yang syantik ini?
Ria terus memberontak, hingga si pembekap itu menusukkan suntikan bius. Karena efek suntikan yang cepat, Ria langsung lemas dan pingsan.
• • •
"Ugh...." Perlahan, gadis itu membuka matanya kemudian menggerjapkan matanya dua kali.
Ketika ingin menggerakan tangannya, gadis itu terkejut tangannya diikat kuat dengan tali dan berada di belakangnya. Kini, ia sedang terduduk di sebuah kursi dan berada di ruangan yang gelap bagaikan tak ada orang satupun.
"Hei! Lepasin saya!" Tegas Ria sambil setengah berteriak.
"Lepasin saya! Siapa kamu?! Keluar kamu?! Jangan jadi pengecut!" Pekik Ria dengan suara yang semakin tinggi di setiap ucapannya.
Tiba-tiba, ia melihat sebuah bayangan yang seperti manusia. Sontak ia kembali memekik, "siapa kamu?! Jangan tunjukkan bayanganmu! Jangan jadi pengecut!"
Srrkk krss. Lampu dinyalakan, terdapat percikan listrik yang keluar.
Orang yang menunjukkan bayangannya itu, langsung maju selangkah. Terdapat dua orang pria yang bertubuh besar, kekar dengan wajah yang sangat garang.
"Siapa kalian?" Tanya Ria dengan terbata-bata. Dengan susah payah ia menelan salivanya, tenggorokannya seperti kering.
"Siapa kami itu 'nggak penting buat kamu, Gadis!" Ucap salah satu dari mereka dengan suara yang sangat berat.
"Jadi ini, orangnya? Lebih baik, mau di apakan terlebih dahulu?" Tanya rekannya dengan tatapan tajam.
"Jangan terburu-buru, Bung. Kita tunggu sampai dia bereaksi seperti apa."
"Heh, Gadis! Kamu lupa? Kamu itu sedang berada di tempat sebelum kamu pingsan!"
"Berati ini, rumah Dona? Tapi, kenapa aku bisa pingsan gitu? Apa aku diculik?!" Batin Ria gelisah.
"Bohong! Kalian pasti bohong 'kan?! Kalian berniat buat culik aku sama teman aku, iya 'kan?! Dasar pengecut!" Bentak Ria sambil menggertakkan giginya.
"Dia 'nggak tau nih, Bung." Salah satunya tertawa.
Tiba-tiba, muncul seorang gadis dengan pakaian serba hitam. Ria yang tak sengaja melihat, langsung membeo, "Dona? Itu Dona! Dona, kamu 'nggak papa 'kan?"
Gadis itu berjalan mendekatinya, dan memang benar itu Dona. "Don, kamu 'nggak papa 'kan?" Tanya Ria lagi.
"Heh, dasar bodoh! Gampang banget ya, bodohin kamu. Cuma bilang begitu doang, tapi percaya aja." Dona meremehkan.
Amarah Ria meledak-ledak, dengan sekuat tenaga, ia ingin melepaskan tali yang mengikat tangannya. Karena amarahnya sudah meledak, akhirnya tali itu terputus. Ria langsung bangkit dari duduknya.
Ingin rasanya ia menampar pipi mulus Dona, namun.... "Apa? Mau nampar? Ayo, silakan! Tampar aja!" Tegas Dona sambil memajukan wajahnya.
"Kenapa?! 'Nggak berani?! Pengecut ngatain pengecut!" Cibir Dona ketika Ria tak bisa menamparnya.
"Kalian, hajar dia!" Titah Dona kepada suruhannya.
"Siap, Bos!" Jawab mereka serempak.
Dona pergi beberapa langkah dari tempat itu, sambil menyaksikan peperangan antara Ria dan suruhannya.
__ADS_1
"Aku pasti bisa! Ingat aku dulu pernah belajar bela diri. Pasti bisa!" Batin Ria menyemangati dirinya sendiri.
Ria mulai mengambil sikap kuda-kudanya. "Kayaknya dia udah ahli tuh," cibir suruhan Dona yang satunya.
"Ayo lawan kalau kalian berani!" Ancam Ria dengan tatapan tajamnya.
Suruhan Dona pun dengan santainya bertolak pinggang ssesekali tertawa keras, "ayo kalau berani!" Jawab mereka dan langsung mengambil posisi.
Ria yang jaraknya cukup jauh dari bawahan Dona itu pun, menarik napas panjang kemudian mengeluarkannya dengan perlahan.
Ria mulai melangkahkan kakinya sambil berteriak, "hyaaaaa!!!!!" Memekik sekuat tenaga sambil menodongkan kepalan kuat.
"Suaranya nyaring banget! Kuping gue pengang!" Ucap yang satunya sambil menutup kedua telinganya.
"Sama gue!" Sahut yang satunya dengan melakukan hal yang sama dengan rekannya.
Ria yang sudah semakin dekat, semakin menguatkan pekikkannya, dan juga kepalan tangannya. Dona juga melalukan hal yang sama dengan bawahannya, sekuat tenaga ia menutup kedua telinganya.
"Hyaaa!!!!!" Pekikkan nyaring yang membuat kaca hampir retak.
'Bugh!'
Ria memukul kuat perut salah satu pria berbadan besar itu, kakinya menendang bagian intim pria besar itu.
"Auwh!" Erang pria itu sambil memegangi bagian intimnya.
Ria yang sudah tak memekik lagi pun kegirangan. "Heh! Dasar anak 'nggak tau diri! Berani kamu hah?!" Bentak rekannya.
Dengan sigap, Ria memekik sekuat tenaga lagi dan melakukan hal yang sama sebummya. Sedangkan, Dona yang melihat bawahannua ambruk, langsung bangun untuk kabur dari tempat itu.
Ria yang menyadarinya, langsung mengepalkan tangan lagi, "mau rasain?!" Kata Ria sambil meniup-niupkan tangannya itu. Seperti tembakannya tepat sasaran.
"Hyaaa!!!!" Dona langsung berlari keluar ketika Ria berteriak kembali.
"Berani sama Ria, akibatnya begini! Gini-gini juga, saya atlet yang belum terkirim!" Ujar Ria bangga pada dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
Kepanjangan ya? I'm sorry :3
Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)
*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*
-**Bersambung-
__ADS_1
#HappyReadingAll😉🤗**