
Pagi harinya ...
"Oke. Hari ini, kegiatan kalian free! Alias, tidak ada kegiatan. Kecuali, nanti malam. Karena, nanti malam akan mengadakan PenSi yaitu Pentas SenI. Silakan kalian berlatih terlebih dahulu mulai sekarang ..." Perintah orang yang membina Jambore tersebut menggunakan pengeras suara.
"Huft ... Akhirnya, kita free kegiatan. Keinget jamkos dah," celetuk Ninda dengan kekehan di akhir ucapannya.
"Iya. Kalau jamkos, pasti kelas bakalan berisik kayak pasar!" Sahut Ria yang sedang memakan cemilan.
"Nanti ngapain, ya? Masa kita di tenda aja?" Lanjut Ria sembari memikirkan kegiatan lain.
Ninda pun ikut berfikir, "gimana kalau kita jalan-jalan sekitar sini? Siapa tau, nanti kita ketemu sesuatu?" Ujarnya setelah tiga puluh detik berfikir.
"Boleh juga!" Ria pun setuju dengan pemikiran Ninda.
"Boleh apa tuh? Aku mau ikut dong!" Sahut Bima yang tiba-tiba muncul.
Ninda pun kaget karena kedatangan Bima, "ikh! Kaget tau! Kamu tuh, ya! Kebiasaan! Kalau datang 'nggak pernah permisi!" Bentak Ninda sembari memukul bahu Bima.
"Yaudah sih ..." Ucap Bima dengan kekehan garing, "santai. 'Nggak usah bringas gitu dong. Oh, ya emang kalian tadi ngomongin apa?" Sambungnya.
"Tadi, kita lagi ngomongin kegiatan kita nanti siang," jawab Ria sambil membenarkan posisi duduknya.
"Kegiatan? Kegiatan apa?" Tanya Bima lagi diiringi mengangkat sebelah alisnya.
"Ish! Jangan kayak gitu napa, Bim!" Bentak Ninda lagi. Bima pun tersenyum misterius, "kayak gitu apa? Begini, hah? Begini?" Bima kembali menaik turunkan sebelah alisnya.
Ninda tak bergeming ... "Kenapa? Aku kalau begini tambah ganteng, ya?" Goda Bima lagi sambil menaik turunkan sebelah alisnya. Ninda berdecak kesal, "apaan sih?! Kurang kamu, mah! Masih dibawah Abang Doni! Huuu!" Ledek Ninda kemudian membuang muka sambil melipatkan tangannya di dada.
"Emang kegiatan apa, Li?" Tanya Bima kepada Ria.
"Itu ... Kita mau jalan-jalan keliling sekitar sini. Siapa tau, kita ketemu sesuatu ... Gitu ..." Jawab Ria yang tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponsel. Bima hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, "oh. Gitu ... Aku boleh ikut?" Ria pun mengangguk pelan tanpa mengalihkan dari layar ponsel.
......
"Kak! Kami izin, ya. Kami mau jalan-jalan sebentar sambil latihan buat PenSi nanti." Ria meminta izin kepada seseorang yang membina Jambore.
"Boleh, silakan. Tapi, ingat! Jangan terlalu lama. Paling lama, kalian pulang jam ... Sekarang jam satu siang, ya? Jadi ... Paling lama jam ... lima sore! Ingat, jangan melewati batas jam!" Balas orang tersebut sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
"Baik, Kak! Siap! Makasih ya, Kak!" Pamit mereka bertiga. Mereka pun mulai berjalan keluar area Jambore.
"Woi!!! Kalian mau kemana?!" Pekik Rafael yang memberhentikan langkah Ria, Ninda dan Bima. Rafael pun menghampiri mereka bertiga, "kalian mau kemana?" Tanyanya.
"Kita mau jalan-jalan santai aja keliling sini. Kenapa? Kamu mau ikut?" Jawab Ria kemudian bertanya lagi kepada Rafael.
"Boleh? Wih aku ikut dong!" Seru Rafael. Kemudian, mereka berempat pun mulai berjalan.
__ADS_1
.....
"Udaranya sejuk, ya?" Kata Ria sembari menghirup udara bebas. Mereka sedang berada di sebuah taman yang sangat asri.
"Iya. Padahal, kalau di Padang 'nggak se sejuk ini udaranya," sahut Ninda lalu duduk di sebuah kursi panjang yang tersedia. "Aku duduk disini ya!" Ucap Ninda sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya.
Rafael dan Bima pergi ke lapangan bola. Disana, ada bola yang sedang menganggur. Alhasil, mereka pun mengambil bola itu dan bermain sepak bola.
Sedangkan, Ria sedang berjalan-jalan di taman itu. Disana, banyak sekali pepohonan. "Berasa di hutan aku tuh ..." Ucapnya lirih sembari menjelajah penglihatannya.
'Buk!'
"Eh? Apa ini?" Tanya Ria kepada dirinya sendiri ketika menabrak sebuah benda. Ria pun mengambil buku tersebut.
"Penyandera para pribumi?" Ucap Ria sambil membaca judul buku itu. "Ah ... Mending aku bacanya disana aja yang lebih ramai."
Ria pun kembali ke tempat yang mana, ada teman-temannya yang sedang bersantai. Rafael dan Bima masih bermain bola dan Ninda sudah terlelap tidur di kursi panjang.
"Ya ampun Ninda ... Bisa-bisanya dia tidur disini ..." Ucap Ria sambil menggeleng miris.
Ria pun mulai membuka halaman pertama buku tersebut. Ketika dibuka, buku itu mengeluarkan cahaya putih yang menyilaukan. Sontak, Ria pun berteriak. "Akhh!!" Bima dan Rafael pun menghampiri ke sumber suara.
"Eh? Ria tidur? Atau kenapa?" Bima mengeluarkan pertanyaan bertubi-tubi. Rafael hanya membalasnya dengan mengangkat bahunya pertanda tidak tahu.
.....
"Rumah siapa ini?!" Pekiknya ketika menyadari bahwa ia sedang berada di dalam kamar seseorang. Kemudian, Ria berjalan menuju kaca yang berada di kamar tersebut. "Kenapa aku pakai baju begini? Terus, kenapa wajah aku beda?" Tanyanya. Ria sedang memakai gaun putih pucat yang menjuntai sampai ke betis kakinya dan juga, wajahnya sangat berbeda dari yang dulunya.
'Kriet ...'
Pintu terbuka oleh seseorang. Ria pun kaget.
"Eh? Udah bangun, Neng?" Tanya wanita paruh baya yang mengahmpirinya. Ria hanya mengangguk.
"Mbok boleh tanya, 'nggak?" Tanya wanita paruh baya itu. Ria menyeritkan dahinya.
Wanita itu tersenyum, "kamu datang dari mana? Apa benar, kamu ini noni belanda? Karena, disini banyak orang kulit putih yang sedang mencari noni belanda mereka yang menghilang."
"Jadi, aku Time Travel gitu?" Batin Ria bingung.
Kemudian, Ria melihat ke sekeliling kamar itu. Dia pun menemukan sebuah kalender dan melihat tahun tersebut yang ternyata adalah tahun 1941.
......
'Dor! Dor!'
__ADS_1
"Dimana noni belanda kami?! Pasti kalian yang menyembunyikannya, 'kan?! Cepat katakan dimana dia!" Bentak seorang laki-laki brewok berkulit putih.
Ria yang berada di kamar pun keluar untuk mengetahui hal yang terjadi.
"Nona Van Heutand!" Sapa laki-laki brewok berkulit putih itu kepada Ria. Sontak, Ria pun terkejut.
"Nona Van Heutand? Apa yang dimaksud dia itu aku?" Batin Ria bingung.
"Kenapa kamu menghilang? Apa kamu menghilang karena perjodohan antara aku dan kamu?" Tanya pria brewok itu lagi.
"Kalau, iya? Kenapa, hm?" Tanya Ria secara tiba-tiba. Ria langsung menutup mulutnya, "kenapa aku tiba-tiba ngomong gitu?" Ria membatin.
"Ah ... Aku tahu, kamu pasti hanya berbohong 'kan? Buktinya saja, kamu langsung menutup mulutmu. Ayo! Ikut aku!" Pria itu langsung menghampiri Ria dan membawa Ria keluar dari rumah itu.
Ria pun hendak memberontak dan tiba-tiba ...
'Byur'
Air disiram oleh Ninda menggunakan se ember penuh. Wah temannya jahat banget ya? "Tuh 'kan! Sadar!" Pekik Ninda ketika melihat Ria sudah sadar dengan nafas tersengal-sengal.
"Kalian! Nin! Kenapa harus di guyur pakai air sih?!" Geram Ria sembari mengepalkan tangannya.
"Abisnya, di bangunin 'nggak bangun-bangun. Di goyangin badannya 'nggak bangun juga. Makanya, aku guyur aja. Iya 'nggak? Tuh, saksinya Rafael sama Bima ..." Elak Ninda kemudian menunjuk ke arah Rafael dan Bima yang sedang bermain, mereka berdua pun melirik ke si penunjuk itu.
.
.
.
.
.
.
.
Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)
*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*
-**Bersambung-
#HappyReadingAll😉🤗**
__ADS_1