
Malam harinya.
Di kamar bernuansa khas rumah Gadang dengan beberapa buku-buku kecil yang tersusun rapi di rak buku bagaikan perpustakaan mini, ada juga berbagai piagam penghargaan dan juga sertifikat berlogo Tunas Kelapa. Kalian tahu 'kan? Yup, itulah kamar Ria. Kini ia sedang membaca novel kesayangannya.
"Li! Masih mau hidup 'nggak?! Kalo masih, cepat keluar! Mau makan malam!" pekik Sukma dari balik kamar tidur Ria.
"Duhhh resek banget dah agh! Lagi baca novel sambil ngehalu juga!" Ria bergumam kesal.
"Iya iya! Sabar!" ucap Ria dengan setengah berteriak dari dalam kamar.
.
.
.
.
"Kenapa mukamu masam begitu?" tanya Izzudin Prakasa pria paruh baya berdarah Minang-Batak yang merupakan Abah Ria.
Ria tak menggubris dan langsung duduk setelah itu langsung mengambil lauk pauk yang ada di meja makan.
"Eh Li! Tadi 'kan Amak ketemu teman SMA Amak, nah dia kan tinggal di luar kota, dia bilang anaknya ada acara kemah di Bukit Tinggi, nah kamu kapan kemah lagi? Kamu pasti rindu kan?" ucap Laila Sintia Indah. Wanita paruh baya yang kerap disapa 'Amak Ila' oleh beberapa warga desa.
"Nggak tau. Belum ada kabar dari kak Rudy, kayaknya sih bulan-bulan ini. Tapi 'nggak tau juga," balas Ria sambil mengangkat bahunya.
"Ya sudah. Kalau begitu, habiskan makanannya!" perintah Laila. Semuanya pun menikmati makanannya masing-masing.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya.
Pagi hari yang cerah disambut dengan kicauan burung yang merdu.
"Hooaamm. Hari ini libur ya?" Ria melihat kalender yang tergantung di dinding kamarnya.
Ketika melihat tanggal merah, Ria pun berkata, "Iya benar. Sekarang libur."
Ria pun mengambil handuk yang tergantung dibelakang pintu kamarnya dan keluar berjalan menuju kamar mandi yang letaknya tak jauh dari kamarnya.
'Tok tok tok'
Ria mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi yang tertutup rapat dan terkunci.
__ADS_1
"Apaa?!" sapa seseorang dari dalam kamar mandi. Suaranya tak asing bagi Ria dan ternyata itu Kakaknya.
"Uni! Cepat! Ria mau mandi!" pekik Ria.
"Iya sabar," balasnya.
Tidak lama kemudian,
"Lama! Awas awas! Aku ada misi penting!" pungkas Ria sambil menyenggol kasar bahu Sukma yang berdiri di ambang pintu kamar mandi.
"Iya iya!" balasnya santai sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
'Dor!'
Pintu ditutup kasar oleh Ria sehingga menimbulkan bunyi yang menggelegar.
"Sensian!" cibir Sukma sembari mengangkat tangannya lalu merenggangkan jari-jari tangannya dan membuka mulutnya lebar-lebar hingga memperlihatkan giginya yang bersih seakan ingin menerkam mangsa.
.
.
.
.
.
'Kring kring'
Benda pipih persegi panjang yang bernama ponsel bermerk iPhone berdering pertanda ada panggilan masuk.
Dan, benar saja disitu terpampang nama 'Ria si jones' dengan emot love ungu dan juga emot wajah yang sedang menjulurkan lidahnya sembari mengedipkan sebelah matanya. Mungkin, jika digambarkan seperti, 'Ria si jones ππ' wkwk.
"Ya halo?" sapa Sindy setelah mengangkat telfon dan menempelkan ponselnya di telinganya.
"Ada apa?" sambungnya karena tidak mendapatkan jawaban dari si penelfon hanya ada suara bising.
.
.
.
.
"Sindy! Kamu dimana? Kata kak Rudy, cepat ke sekolah!" ucap Ria dengan setengah berteriak karena keadaan sekolah yang lumayan bising.
"Hah? Aku di rumah. Emang mau ngapain?" tanya Sindy dari balik telfon.
"Kita 'kan latihan! Ini hari Minggu! Kamu 'nggak inget?" tegas Ria.
__ADS_1
"Latihan? Hari minggu?" Sindy langsung melihat layar ponselnya yang memang itu hari Minggu.
"Oh iya. Ya udah aku ke sana ya," ucap Sindy mengakhiri telfon.
"Cepat!" balas Ria.
'Tuut tuut tuut'
Ria langsung memutuskan telfon sepihak.
.
.
.
.
"Maaf telat Kak! Hehe," kata Sindy dengan cengiran lebar diakhirnya.
"Ya udah 'nggak apa. Sekarang kita latihan dasar dulu," ucap Kak Rudy memulai latihan.
"Latihan dasar?" Semuanya heran dan bertanya-tanya.
"Karena, sekarang ada calon anggota baru di Scout Batanghari. Jadi, Kakak pinta, kalian sebagai senior, kalian ajarkan adik kelas kalian ini," pinta Kak Rudy.
"Ooh. Oke lah Kak! Siap!" ucap mereka serempak.
Semuanya pun mengajarkan beberapa gerakan dasar. Seperti, balik kanan, hadap kanan, hadap kiri, serong kanan, serong kiri, lencang depan, hormat dan masih banyak lagi.
Ada pula mereka mengasah konsentrasi adik kelas seperti ....
"Tomat grak!" Semuanya pun (adik kelas) mengangkat tangannya dan menempelkan jari telunjuknya di pelipis bagaikan gerakan hormat. Memang suaranya terdengar samar-samar dan cepat. Kata orang, supaya mengasah konsentrasi anggota pramuka.
.
.
.
.
.
.
Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)
*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*
-Bersambung-
__ADS_1
#Happy Reading All ππ€