
Sekitar jam 10.40 WIB para panitia pulang ke rumahnya masing-masing.
"Assalamu'alaikum! Lili pulang!" Ucap Ria ketika sudah sampai di depan rumah.
"Wa'alaikumsalam," jawab Laila yang sedang memotong daging sapi.
"Wuih, Amak mau masak apa?" Tanya Ria sembari menghampiri Laila.
"Masak Dendeng Batokok. Kamu mandi sana, setelah itu bantu Amak masak Dendeng," balas Laila.
"Oke siap!" Ria pun langsung ke kamarmya kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
...
Setelah selesai mandi, Ria langsung menuju ke dapur untuk membantu sang Amak.
"Ria bantu apa?" Tanya Ria ketika sudah sampai di dapur.
"Sebentar .." Laila bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju tempat rempah-rempah.
"Habis? Hmm harus beli ke pasar." Barang yang di carinya ternyata sudah habis. Alhasil, Laila pun berencana untuk membeli ke pasar.
"Kenapa Amak?"
"Bawang merahnya habis," jawab Laila.
"Biar Lili dengan Uni aja yang belikan. Bagaimana?" Ucap Ria menawarkan diri.
"Ya sudah. Ini uangnya. Bawang merah 1Kg ya! Kalo ada lebih, kalian boleh beli apa aja." Laila menyodorkan uang selembar seratus ribu rupiah.
Ria pun dengan hari riang mengambil uang tersebut, "iya! Kalau begitu, Lili panggilkan Uni dulu ya Mak!"
Laila pun mengangguk sebagai respon. Kemudian, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda yaitu memukul-mukul daging supaya tipis dan melebar. Memang dasarnya begitu, kalo nggak percaya tanya aja sama Pak Haji. Eh, salah salah. Kalo nggak percaya, tanya aja Mbah Go*ogle.
"Uni, yuk! Antar Lili ke pasar!" Ria langsung menarik tangan Sukma yang sedang menonton televisi.
"Eh eh. Ngapain? Nggak mau!" Sukma langsung menolak tanpa ada sebab menyebab.
Ria pun melebarkan uang seratus ribu rupiah di hadapan Sukma. Anggap saja seperti membujuknya. Dengan menggoda sang Kakak sembari menaik turunkan alisnya Ria berkata, "kata Amak, kalau uangnya lebih kita bisa beli apa aja. Gimana? Mau 'nggak? Kalo 'nggak mau, yaudah. Lili sendiri aja ke pasarnya. Mau beli banyak makanan Uni 'nggak perlu dibagi!"
Sukma pun melebarkan matanya, "iya iya. Sebentar, Uni ambil kunci motor dulu!"
"Okee!" Ria senyum penuh kemenangan. Kapan lagi bisa merasakan sejuknya udara menggunakan motor. FYI, Ria itu nggak bisa naik motor. Pernah belajar sama si Kakak, tapi jatuh berkali-kali untung ke bawah jatuhnya coba ke atas bayangin aja dulu jangan di coba.
__ADS_1
...
"Uda, bawang merah 1kg ya!" Sesampai di pasar, Ria langsung menghampiri kios penjual bahan-bahan masakan.
Setelah selesai, Ria dan Sukma pun langsung pergi menuju tempat kue tradisional. Disana, banyak aneka ragam kue tradisional mulai dari kue basah hingga kering. Mulai dari kue Sabang sampai Merauke.
"Eh? Uni! Sini Uni!" Ria memanggil manggil Kakaknya.
"Ada apa?" Tanya Sukma.
"Ini kue apa ya? Lili nggak pernah lihat padahal kan Lili sering ke sini," ucap Ria sembari menunjuk kue tetapi lebih di namakan dengan bubur.
"Uni juga ..." Sukma pun berfikir sejenak kemudian bertanya kepadaa si penjual. Penjual tersebut seperti bukan orang asli Minang, dari pakaiannya saja sudah terlihat dia bukan asli Minang, "Pak ini apa ya?"
"Oh, ini namanya Bassang," jawab si penjual itu. Dari logat bicaranya saja sudah sangat kelihatan itu bukan orang Minang.
Ria dan Sukma terdiam. Ini baru pertama kalinya mereka melihat jajanan ini.
"Bassang?" Ucap mereka kompak ------Ria dan Sukma-------.
"Iya. Saya ini orang rantau. Saya orang asli Makassar, tujuan saya kesini untuk mencari pekerjaan. Karena sedikit sulit untuk mencari pekerjaan disini, jadi saya membuat makanan khas daerah saya untuk dijual.
Hitung-hitung, saya memperkenalkan makanan khas daerah saya," jelas si penjual itu. Sukma dan Ria hanya mengangguk-ngangguk entah mereka mengerti atau tidak.
"Seporsinya sepuluh ribu," jawabnya sembari tersenyum.
"Gimana Uni? Mau beli?" Tanya Ria kepada Sukma.
Sukma mengangguk kemudian menguarkan uang dua puluh ribu rupiah.
"Beli dua ya Pak!" Ucap Sukma penjual itupun mengangguk dan langsung menuangkan Bubur Bassang itu kedalam mangkuk berisi plastik.
Setelah selesai, Sukma dan Ria pun berterima kasih dan pergi menuju parkiran kemudian pulang. Karena, cuaca mulai mendung dan hampir hujan.
...
"Assalamu'alaikum!" Ucap Sukma dan Ria berbarengan.
"Wa'alaikumsalam. Lama sekali. Beli apa aja?" Ucap Laila yang sedang menonton televisi.
Sukma dan Ria hanya terkekeh sembari menyodorkan kantung plastik berisi makanan dan juga bawang merah.
"Banyaknya." Laila hanya menggeleng.
__ADS_1
"Oh ya, tadi kita beli Bubur Bassang katanya sih dari Makassar," ucap Sukma bercerita.
Laila kebungungan kemudian, Ria pun mengambil kantung plastik yang berisi Bubur Bassang itu.
"Ini. Yuk! Kita makan bareng!" Ajak Ria.
Kemudian, mereka bertiga pun memakan Bubur Bassang tersebut tetapi, Laila hanya memakan sedikit sisanya, di berikan kepada Ria. Perpaduan antara jagung pulut dan tepung terigu membuat rasanya berbeda dari bubur lainnya.
.
.
Ilustrasi Bubur Bassang.
Bassang merupakan makanan khas dari Sulawesi Selatan. Makanan ini sejenis bubur yang terbuat dari jagung pulut, tepung terigu, air, gula dan garam. Bassang lebih baik dihidangkan dalam keadaan panas dan diberi gula pasir secukupnya pada waktu disajikan.
So, buat kalian pecinta kuliner jangan lupa cobain Bassang yaw jika ke Makassar. Tambahkan ke daftar makanan kalian 😉📖.
Semoga informasinya bermanfaat😉
#BerbagiItuIndah
.
.
.
.
.
.
Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)
*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*
-**Bersambung-
#HappyReadingAll😉🤗**
__ADS_1