Sebatas Patok Tenda

Sebatas Patok Tenda
SPT 28


__ADS_3

Matahari mulai menurun, langit pun berganti warna menjadi jingga. Hingga sore hari, Ria masih saja bertukar pesan dengan Rafael. Begitu juga dengan Rafael yang setia membalas pesan dari Ria.


Ria yang teringat akan hal itu, langsung menutup pembicaraannya via chat. Ia segera menuju ke kamar mandi setelah itu, menunaikan kewajibannya sebagai muslimah.


"Udah makan belum?" Tanya bu Laila yang melihat Ria sedang sibuk mengerjakan tugas sekolahnya.


"Udah." Ria menjawab tanpa sadar. Padahal, ia belum makan sedari sore, dirinya terlalu lelap dalam percakapannya bersama Rafael lewat chat.


Perlahan, malam mulai larut, tetapi, Ria masih setia di atas kursi belajarnya sembari mengerjakan tugas sekolahnya.


"Ya Allah, 'nggak nyadar kalau udah larut," gumam Ria sambil menyenderkan punggungnya di kepala kursi belajarnya.


"Aduh, lapar. Ah, pasti masih ada makanan nih!" Ria terus bermonolog, sambil melihat jam yang terpampang di dinding kamarnya, matanya membulat sempurna. Karena, jam menunjukkan pukul 23.00, gadis itu mulai mengendap-endap berjalan menuju meja makan.


Dibukanya tudung saji itu, bernafas lega, karena masih ada nasi yang tersisa begitupun dengan lauk-pauk. Ria mulai mengambil piring kemudian menyendok nasi dari bakul, lalu ia mengambil lauk untuk menemani nasinya.


Setelah itu, ia berjalan mengendap-endap menuju kamarnya, tidak lupa menutup pintu kamarnya supaya tidak ketahuan.


Butuh waktu 5 menit untuk menghabiskan makanannya, itu karena ia lapar. Biasanya, gadis itu menghabiskan makanan yang dimakannya selama 30 menit.


Sebelum kembali ke kamar tadi, Ria tak lupa mengambil segelas air penuh. Diminumnya air itu hingga tak tersisa, kemudian merapikan buku-buku yang tadi ia pelajari, serta menaruh piring dan gelas yang dipakainya di bawah ranjang tidur.


10 menit kemudian, Ria terlelap masuk ke dunia mimpi.


• • •


Jam beker berdering tepat dipukul 05.00, Ria terbangun karena itu, dimatikannya jam beker itu, sambil mengucek-kucek matanya sesekali menutup mata karena rasa kantuk masih menyelimuti, dengan segera Ria berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, dan menunaikan kewajibannya salat 5 waktu.


Selesai salat, Ria menaruh piring dan gelas yang ia pakai semalam ke dapur. Tentunya dengan mengendap-endap.


"Ehem." Suara deheman itu hampir membuat Ria terjungkal, untung saja Ria reflek menegakkan tubuhnya.


"Ngapain itu? Bukannya kamu baru selesai salat?" Tanya Sukma dengan menelisik. Ria hanya cengengesan belaka, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Ah, tau 'nggak? Semalam hujan deras banget, aku kedinginan," ucap Ria berusaha mengalihkan pembicaraan, walau hal itu sangat absurd.


"Oh." Singkat Sukma lalu pergi begitu saja.


Ria menghela nafasnya, mungkin bisa saja ia akan bersujud syukur.


• • •


"Eh, Li mukamu kok gitu? Kayak ... Kusam gitu," ujar Windy yang sadar akan penampilan Ria.


"Eh, iya. Kamu kenapa, Li?" Imbuh Sindy yang menyetujui ucapan Windy.


"Pasti habis begadang nih!" Sahut Bima yang duduk dibelakang mereka. Ucapan Bima, disambut anggukan lesu oleh Ria.


Ria duduk di kursinya lalu melipat kedua tangannya di atas meja, dan menaruh kepalanya dengan keadaan menyamping, sesekali ia mengerjapkan matanya. Hingga tertutup sempurna.


"Dia ngantuk?" Sahut Ninda, dan dibalas anggukan singkat oleh ketiga temannya —Sindy, Windy dan Bima—.


"Li! Bangun!" Pekik Ninda sambil menggoyangkan tangan Ria, namun tak ada sahutan sama sekali.


"Eh! Ada kebakaran! Cepat keluar!!!" Kini, pekikan Sindy yang terdengar, dengan sigap Ria langsung mengemaskan barang-barangnya.


"Kebakaran?! Mana?!" Sahut Ria yang sudah siap dengan barang-barangnya.


Sedangkan, mereka semua hanya tertawa sembari menggelengkan kepala. "Kalo yang ekstrim aja, baru bangun!" Cibir Windy yang masih tertawa.


Tak berselang lama, diwaktu itu juga guru datang sambil membawa materi pelajaran ditangannya.


• • •


"Huft, capek." Keluh Ria yang baru sampai di rumahnya.


Ria langsung berjalan ke kamar, lalu merebahkan tubuh lelahnya itu.

__ADS_1


Melihat banyak sekali notifikasi yang masuk, ia segera menyambar ponsel yang berada di atas nakas.


“Aku ada kabar gembira lho.” Isi pesan itu.


"Siapa ini?" Tanya Ria, kemudian ia membuka pesan itu, dan tertera nama pengirim dilayar ponselnya.


"Dia lagi? Kabar gembira apa coba," ucap Ria, dengan langsung ia melemparkan ponselnya ke ranjang dengan kasar.


.


.


.


Dalam hidup, ada banyak pilihan. Tetapi, ada dua pilihan utama dalam hidup kita. Yaitu, melakukan atau tidak. Lakukanlah sesuatu jika menurutmu itu baik, serta jangan lakukan sesuatu jika menurutmu itu buruk. Jangan jadikan hidup itu seperti beban, yang menjadikan beban itu adalah, dalam dirimu dan luar dirimu alias, dari orang lain. Lakukanlah sesuatu menurut kata hatimu, jangan dengarkan orang lain, tetapi, jika omongan orang lain bagimu itu bagus, maka pikirkanlah dahulu— (Rizka)


.


.


.


.


.


Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)


*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*


-**Bersambung-


#HappyReadingAll😉🤗**

__ADS_1


__ADS_2