Sebatas Patok Tenda

Sebatas Patok Tenda
SPT 7


__ADS_3

3 hari kemudian......


"Adik adik semuanya!! Perhatian!!!" Suara bass milik Kak Rudy terdengar menggema ditengah kerumunan murid kelas X. Semuanya pun terdiam.


"Baik, sekarang kita mulai berangkat ke buper ya! Baris yang rapi bentuk 2 banjar! Ingat, jangan ada yang dorong-dorong selalu dengarkan aba-aba dari Kakak, ya!" Titah Kak Rudy menggunakan pengeras suara.


"Siap, Kak!" Sahut mereka semua ---Murid kelas X----


Semuanya pun mulai berjalan menuju buper yang jaraknya lumayan tidak terlalu jauh dan juga tidak terlalu dekat. Mereka berjalan melewati persawahan, bukit, kebun dan masih banyak lagi. Mungkin, jika ada anak kota mereka pasti sedikit kagum dengan pemandangan tersebut. Karena, mereka lebih sering disuguhkan dengan pemandangan penuh dengan polusi.


"Haduhh capek banget ..." Keluh salah satu murid sembari menghentikan langkahnya.


Tiba-tiba ...


"Woahh!!!" Pekik Rio menggunakan pengeras suara tepat ditelinga siswi tersebut.


"Eh amboy amboy!" Siswi tersebut pun melatah dengan melompat kecil.


"Hayo ngapain? Lanjut jalan! Bikin lampu merah aja," kata Rio yang masih menggunakan pengeras suara.


"Ya ampun! Bang! Telingaku masih berfungsi dengan baik! Jangan pake pengeras suara!" Bentaknya.


Rio pun tertawa kemudian mematikan pengeras suara tersebut, "yaudah yaudah. Emang kamu kenapa? Lanjut jalannya! Bikin macet aja!"


"Capek tau! Masih lama Bang?" Tanya Siswi tersebut.


"Lumayan. Emang kenapa? Oh capek ya? Mau digendong nggak?" Kelakar Rio yang membuat siswa-siswi memperhatikannya.


"Gendong? Lumayan sih, di gendong sama Abang ganteng hihi." Siswi itu membatin.


"Heh! Ngelamun! Mau nggak? Kalo nggak mau yaudah!" Rio pun mulai melangkahkan kakinya.


"Ah? Hah? Apa? Ah iya, mau lah Bang!" Jawab siswi itu dengan mata berbinar.


"Yaudah sini!" Perlahan Rio mulai berdiri dihadapan siswi itu dan hampir berjongkok. Siswi tersebut pun mulai mendekat ke arah Rio. Tetapi ...


"Nggak jadi! Wlekk!!!" Rio pun kembali berdiri tegak dan berlari kecil sembari menjulurkan lidah ke arah Siswi tadi. Siswi itu pun menghentakkan kakinya je tanah berkali-kali sambil mengercutkan bibirnya dan juga memasang wajah kesal.


....


"Adik adik!! Selesai makan, kita akan mengadakan acara api unggun. Jadi, Kakak minta kalian bentuk barisan yang rapi sesuai regu yang sudah dibagikan kemarin," ucap Kak Rudy menggunakan pengeras suara ditengah kerumunan siswa-siswi kelas X dan juga ditengah gelapnya malam yang hanya disinari cahaya lampu remang-remang.


"Kak! Sini, nih selimut kamu ketinggalan!" Ucap seorang Ibu kepada anaknya yang merupakan peserta Persami tersebut.


"Oh iya hehe. Aku lupa Bu. Yaudah, sini makasih ya Bu!" Balas si anak.


"Oh ya, kamu kan lupa bawa senter, nih senter takutnya ditenda gelap!" Kata si Ibu sembari memberikan sebuah senter untuk sang anak.


Tiba-tiba ...

__ADS_1


"Ada apa ya Dik? Bu?" Kak Rudy menghampiri dua orang itu.


"Ini Kak, Ibu saya. Dia bawa selimut sama senter buat saya," jawab si anak berjenis kelamin lelaki.


"Oh gitu. Ibu nya baik banget sama putranya. Sampai dibawakan gini. Tapi Bu, untuk senter kebetulan penerangan disini cukup kok. Memang suasananya seperti ini. Jadi, untuk senter tidak perlu Bu." Kak Rudy memberitahu Ibu tersebut. Tetapi, Ibu tersebut tak menggubris sama sekali. Ibu itu hanya memandang wajah Kak Rudy tanpa berkedip sama sekali.


Kak Rudy pun melambaikan tangannya ke arah Ibu itu sembari berkata, "Bu? Kenapa? Maaf jika ucapan saya menyinggung."


Ibu itu pun tersadar dari lamunannya dan langsung berucap, " ah iya saya nggak apa-apa kok. Ganteng banget sih Mas nya." Bagaikan lupa dengan umur, Ibu itu langsung bermode ABG alias Anak Baru Gede.


Kak Rudy pun menyeritkan dahinya berusaha mencerna perkataan Ibu itu perlahan ia paham kemudian menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


"Ya sudah, saya pergi dulu ya sebentar," pamit Kak Rudy kepada si anak sembari menepuk-nepuk bahun siswa itu.


"Bu! Apa apaan sih! Ingat umur Bu! Ingat umur!!!" Peringat si anak kepada Ibu.


...


"Bima! Itu kayunya ambil lagi yang banyak!" Titah Ria yang sedang membawa banyak kayu bakar.


"Sabar napa sih! Emang tangan aku ada banyak apa?! Nih pegang!" Balas Bima kemudian bangkit dan hendak menaruh kayu bakar ke tangan Ria.


Tetapi...


"Eh eh, enggak enggak! Ini tuh udah banyak banget tau! Enggak enggak!" Tolaknya kasar. "Yaudah! Kita taruh dulu dipos!" Lanjut Ria.


"Yaudah. Yok! Cepat!!" Ria mulai berjalan menuju pos dimana tempat itu terdapat banyak perlengkapan untuk Persami.


"Eh, mau kemana lagi?" Tanya Sindy ketika melihat Ria dan Bima hendak berjalan lagi.


"Mau ambil kayu bakar lagi. Disana," jawab Ria dengan polos.


"Heh!" Ria pun menyeritkan dahinya sembari memundurkan kepalanya, "ini tuh udah lebih dari cukup tau nggak?! Banyak banget ini!" Tukas Sindy.


"Tau tuh Ria! Banyak begini juga dikira masih dikit. Emang tuh kayu mau dimakan kali?!" Sewot Bima kemudian mendudukkan dirinya dekat teman satu kumpulnya.


"Yaudah sih sellow." Ria dengan santainya mengucapkan hal itu.


Bima pun kembali sewot, "heh! Sellow kamu bilang?! Tangan aku pegel tau bawa bawa kayu bakar! Mana lagi ukurannya besar besar!"


"Yaudah! Kalo gitu, nggak usah bantu bantu lagi! Nggak ikhlas banget sih jadi orang!" Ria pun ikut sewot karena Bima.


"Hmp!" Bima langsung membuang mukanya sambil melipat tangannya di dada.


Ria pun melakukan hal yang sama dengan Bima, "hmp!"


Robby, Rio, Dean, Doni, Sindy, Windy, Risa, Saras dan Ninda yang melihat kelakuan temannya yang terlihat terlalu ke kanak-kanakkan itu pun hanya menghela nafas pelan dan menggelengkan kepalanya.


Keesokan harinya ...

__ADS_1


Hari ini merupakan hari terakhir Persami. Kegiatan awalnya yaitu melaksanakan salat shubuh berjamaah yang di pimpin oleh Dean, setelah itu semua peserta Persami mengganti bajunya dengan baju olahraga.


Kemudian, sarapan pagi bersama-sama. Kemudian, melakukan senam pagi di lapangan Buper. Setelah senam, mereka semua diwajibkan untuk mengikuti latihan PBB dasar dan juga tongkat.


Setelah itu, mereka pun mengikuti upacara penutupan yang di pimpin oleh Bima dan juga di bina oleh Kak Vino yang merupakan Kakak senior satu tingkat lebih tinggi dibanding kak Rudy.


Setelah semua itu, mereka semua berkumpul ke tendanya masing-masing untuk mebersihkan tenda setelah selesai, mereka pun mencopot patok tenda dan membenahi tendanya secara mandiri walaupun ada yang membutuhkan bantuan karena kesulitan.


"Huh, capek ..." Keluh Ninda sembari terduduk lesu.


"Gitu doang capek! Aku enggak tuh! Masih kuat! Nih liat!!" Sahut Sindy sembari mengepalkan tangannya bagaikan merenggangkan otot ototnya.


"Sombong. Kamu kan tau, kalo aku tuh ada riwayat penyakit anemia!" Balas Ninda kemudian mengipas-ngipas tubuhnya menggunakan tangannya sendiri.


"Oh iya yah. Hehe," ucap Sindy dengan cengiran diakhirnya.


"Emang kamu nggak bawa obat penambah darah?" Tanya Doni yang duduk disamping Ninda.


"Enggak hehe. Terlupa," balas Ninda dengan cengiran sejuta kebodohan diakhirnya.


"Lupa mulu. Kalo emang udah tau punya penyakit begitu, harusnya tuh lebih diperhatiin!" Sambung Bima yang baru saja datang.


"Uuuu Bima sweet banget. Perhatian banget sih," ucap Windy sembari memasang mode imut.


"Emang aku nggak perhatian apa?!" Gerutu Robby kesal.


"Hehe. Perhatian kok Beb!" Balas Windy.


.


.


.


.


.


.


.


Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)


*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*


-**Bersambung-


#HappyReadingAll😉🤗**

__ADS_1


__ADS_2