
Semuanya sudah siap, mereka mulai berangkat ke bandara Kualanamu. Karena, mereka tidak bisa menggunakan mobil, takut tersesat pikirnya. Padahal ada google maps.
Mereka berangkat ke bandara menggunakan mobil yang di pesan oleh Dona. Ada dua mobil, satu mobil ada yang berisi lima orang yang mana semuanya itu lelaki terdiri dari, Rafael, Bima, Doni, Dean dan Feri. Satu mobil lagi berisi enam orang, yaitu Ria, Ninda, Windy, Dona, Diana dan Rebecca.
Sesampainya di bandara, mereka semua mulai melakukan chek-in.
••••
"Kita naik pesawat lagi gengs!" seru Ninda yang sedang merekam video menggunakan kamera ponselnya.
"Norak!" pekik Feri tanpa ada rasa takut sekalipun.
"Heh! Habis lo sama dia!" bisik Rafael sambil tertawa kecil.
Dengan susah payah, Feri menelan saliva, tenggorokannya seakan-akan kering. Tak tahu harus berbuat apalagi.
"Tadi kamu bilang apa?!" pekik Ninda bak auman singa yang kelaparan.
"Eng-enggak kok. Aku bilang, Nora iya, Nora. Teman SMA aku dulu." elak Feri sambil tertawa hambar, keringat dingin menyelimuti pelipisnya.
Mata Ninda melotot seperti guru killer yang haus dengan penyerahan tugas. Jika di depan Feri ini bukan perempuan, maka ia tidak akan segan untuk membaku hantam.
"Maaf, maaf. Aduh, maaf iya aku tau, aku salah. Maaf!" ucap Feri memohon.
Ninda mengangkat setengah alisnya, sambil bersedekap dada.
"Sombong banget ni anak! Gue kasih makanan empat sehat lima sempurna awas aja lu!" batin Feri geram.
"Oke, sebagai permintaan maaf, mana tangan kamu?" ujar Ninda.
"Hah?" beo Feri, dan b0dohnya ia mengadahkan tangannya.
"Bawain, ya. Tolong." kata Ninda sambil menaruh tas besarnya di telapak tangan Feri yang masih membeku.
"Cih, sialan!" gumamnya, ingin ia menangis saat ini karena hatinya juga menangis.
"Sabar, ini ujian." ucap Rafael lalu meninggalkan Feri yang sedang bersusah hati.
•••••
__ADS_1
"Liat apa sih? Kok serius banget?" ucap Rafael yang duduk di samping Ria. Ia merasa tak dianggap oleh Ria.
"Liat deh, mereka keren kan?" jawab Ria sambil memerhatikan layar ponselnya yang berisi tentang dancer asal Korea Selatan.
"Kerenan juga aku!" elak Rafael tak mau kalah.
"Emang kamu bisa dance kayak gini?" tanya Ria balik.
"Bisa, kayak begitu mah kecil!" ucap Rafael membanggakan dirinya.
"Sombong." cibir Ria sinis.
"Biarin!"
•••••
Ketika sampai di bandara Soekarno-Hatta, mereka beristirahat terlebih dahulu. Setelah Dona memesan taksi onnline, mereka menunggu mobil itu datang sambil sesekali bersantai.
Saat mobil sudah tiba, mereka semua masuk ke dalam mobil.
Selama perjalanan, tak ada habisnya mereka bercanda ria, bahkan si sopir pun di ajak berbincang.
"Iya, Pak kita masih muda, masih imut-imut nih." sahut Feri dengan bangga.
"Halah, imut dari Hongkong!" timpal Bima.
"Iya, Pak kita cuma acara kecil-kecilan aja. Sewa villa sama jalan-jalan nikmati kawasan Puncak." jelas Rafael, Doni dan Dean hanya mengangguk.
"Oh, gitu. Kalau Bapak jalan-jalan sama teman tuh suka ke sini. Dulu mah bagus masih asri banyak pepohonan, kalau sekarang sih udah jarang. Kemakan sama pembangunan pabrik sama sejenisnya." balas si supir.
•••••
Butuh waktu yang cukup lama untuk sampai di Puncak, Bogor. Hari hampir menjelang sore, mereka baru saja sampai. Karena akses jalan yang cukup padat dan macet, jadi memakan waktu lama. Mereka juga membayar uang tip untuk si supir.
"Wilujeng sumping, Akang, Teteh," sapa petugas yang ada di villa itu. (Selamat datang, Abang, Kakak).
"Ish, anjeun! Kumaha aranjeunna tiasa ngartos bahasa urang?" oceh rekannya sambil memukul bahu si petugas tadi. (Ish kamu ini! Mana mungkin mereka ngerti sama bahasa kita?).
"Maaf, ya Mas, Mbak. Teman saya mah begitu," ucap petugas kedua sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
"Iya, nggak apa-apa kok. Kita ngerti," balas Ria membalas senyum.
"Naon anu anjeun lakukeun !? Abdi parantos ngawartosan anjeun yén anu datang di dieu sanés ti Bogor, Bandung sareng Tasikmalaya!" protes petugas kedua tadi sambil mengomel-ngomel kepada temannya. (Kamu ini gimana sih!? Kan saya sudah kasih tahu, kalau pengunjung disini tuh bukan dari daerah Bogor, Bandung sama Tasikmalaya!).
"Leres, hapunten." kata petugas tadi meminta maaf. (Iya, aku minta maaf).
"Oh, iya. Maaf nih, kita anggurin, ayok masuk! Kalian yang mesan waktu lusa itu, kan?" tanya petugas yang bername tag Liya.
"Iya, Teh Liya. Kita yang pesan waktu lusa itu." jawab Dona ramah.
"Oh, iya. Duduk disini dulu, ya. Kalian kan tamu, kita harus layanin. Sebentar, ya," ujar Liya lalu melenggang pergi.
Selang dua puluh menit, para petugas di villa itu memberikan hidangan, seperti Ubi Cilembu, Nasi Tutug Oncom, Karedok serta Es Goyobod sebagai penutup.
"Silakan, dinikmati Akang, Teteh. Yang ini namanya, Nasi Tutug Oncom atau Sangu Tutug Oncom, yang ini Ubi Cilembu, ini namanya Karedok pasti nggak asing kan? Kalau es ini, namanya Es Goyobod, dijamin enak. Makanan disini mah nggak ada yang nggak enak." tutur Liya memperkenalkan makanan khas Sunda.
"Oh, iya. Kebetulan kita punya lahan perkebunan Durian, ini Durian yang sudah kita olah jadi es krim, silakan menikmati."
Mereka pun mulai menyicipi makanan khas Sunda yang terbilang aneh, namun menarik.
-To be Countine-
Tahukah kamu Nasi Tutug Oncom?
#Kira-kira seperti itu gambarnya.
Nasi Tutug Oncom atau Sangu Tutug Oncom dalam Bahasa Sunda sering disingkat Nasi T.O adalah makanan yang dibuat dari nasi yang diaduk dengan oncom goreng atau bakar. Penyajian makanan ini umumnya dalam keadaan hangat. Secara bahasa, kata tutug dalam Bahasa Sunda artinya menumbuk.
Es Goyobod.
Es goyobod adalah minuman dingin Indonesia yang berbasis pada santan yang mirip dengan es campur. Minuman ini terbuat dari es serut, santan, gula cair, dan sari pati kacang hijau yang dibekukan yang dikenal seabgai hunkwe. Bahan lainnya termasuk avokad dan kelapa yang diparut.
#MariDiLike
#SemogaBermanfaat
__ADS_1
#SundaToday