
"Kalian semua gimana sih?! Kerja 'nggak becus!" Bentak Dona pada suruhannya.
"Maaf, Bos. Kita berdua itu 'nggak tahan sama teriakannya. Bso tau sendiri 'kan? Teriakannya itu kayak toak masjid, malahan lebih." Beberapa alasan dituturkan oleh suruhan Dona.
"Halah! 'Nggak bisa diandalkan!" Ketus Dona.
"Mana uang yang tadi saya kasih?!" Sambungnya, sambil mengadahkan tangannya di depan suruhan dia.
Pasrah, suruhan Dona pun memberikan amplop coklat yang berisi uang sebesar Rp. 5.000.000,-. "Ini, Bos."
Dona langsung mengambilnya dengan kasar, kemudian membuka amplop coklat itu dan ternyata isinya masih utuh.
"Bos, tolong jangan diambil, itu uang kita satu-satunya," pernyataannya di angguki oleh rekan di sampingnya.
Dona melirik ke arah suruhan dia itu, sambil menaikan alisnya. "Nih," ucap Dona sambil memberikan selembar uang Rp. 100.000,-.
"Segini doang, Bos? Tambahin dikit lah," rengek bawahan Dona itu.
"Oke." Dona menambahkan dua lembar uang sebesar Rp. 100.000,-.
"Bos, kasih lima ratus ribu aja, Bos. Uang segini mana cukup?"
"Oh? Kalau begitu, biar saya ambil lagi uang ini!" Ancam Dona.
"Iy-iya, Bos! Ya udah, kalau gitu kita cabut, ya Bos." Pamitnya, kemudian menepuk bahu rekannya memberi kode.
Setelah kepergian suruhannya itu, Dona beranjak ke ruang makan, dilihatnya ada beberapa makanan yang sudah disajikan oleh asisten rumah.
Ia melahap makanan itu dengan diiringi amarah yang meledak-ledak.
"Benar-benar 'nggak tau diri! Punya suruhan tetap aja 'nggak bisa diandalin! 'Nggak berguna!" Pekik Dona meluapkan seluruh amarahnya. Makanan yang ia santap tadi pun, sudah habis tak tersisa.
Dona meminum air dengan diiringi amarah juga. "Dasar 'nggak tau diri!!" Pekik Dona, kali ini dengan melemparkan gelas beling yang kosong ke arah tembok yang tak ada salah apapun.
Beberapa asisten rumah yang berada di lain ruang langsung berlari ke sumber suara pecahan itu.
__ADS_1
"Non, sabar, Non. Non kenapa?" Tanya salah satu asistennya yang bernama bi Ijah. Ia merupakan rantauan dari Jakarta. Bi Ijah sudah mengabdi kepada keluarga Marlenda sejak beberapa puluh tahun lalu. Dan juga, bi Ijah merupakan satu-satunya asisten yang paling dekat dengan Dona.
"Bi, jangan ganggu aku. Aku mau sendiri, dan tolong rapihin pecahan gelas itu!" Titah Dona sambil menunjuk ke pecahan gelas tadi. Kemudian melenggang pergi dari sana.
• • •
Hari senin ini, merupakan tanggal merah sekolah Ria diluburkan lagi. Maka dari itu, hari libur ini Ria akan bermalas-malasan sambil marathon mmbaca novel yang baru ia beli beberapa hari ini.
Ketika Ria berada di teras rumahnya sambil menghirup udara segar, tiba-tiba ada bulatan kertas yang terdapat batu lumayan besar di dalamnya. Untung dengan sigap Ria langsung menangkap kertas itu dan hampir mengenai kepalanya.
Di saat yang bersamaan, Sukma baru saja berada di teras rumah dan ia terkejut tiba-tiba ada bulatan kertas terbang mengarah Ria.
"Itu apaan?!" Pekik Sukma yang masih syok. "U-untung langsung ketangkap. Coba kalau 'nggak," sambungnya sambil membayangkan yang tidak-tidak.
"Entah. Tiba-tiba terbang ke sini," jawab Ria santai.
Perlahan, Ria membuka bulatan kertas itu yang ada batu cukup besar di dalamnya. Langsung, Ria melemparkan batu itu ke sembarang arah, namun bukan ke dalam rumahnya atau ke arah Sukma.
‘INI ADALAH AWAL PENDERITAANMU.’
'Tuut... Tuut... Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif, silakan coba beberapa saat lagi.' Bukan suara itu yang ia harapkan.
Lalu, Ria mengirim pesan WhatsApp kepada Dona.
‘Dona! Kamu yang udah kirim buntalan kertas yang dalamnya ada batu 'kan?!’
Delivered.
‘Dona! Jawab!’
Delivered.
Ia lihat terakhir kali Dona aktif di WhatsApp, dan Dona terakhir kali aktif yaitu kemarin, pukul 21.30 WIB.
"Duh, 'nggak aktif lagi." Ria frustasi bercampur marah.
__ADS_1
Untung ia tak kehabisan akal, Ria langsung menelfon teman Dona, yaitu Rebecca.
'Tuut... Tuut...'
"Ayo angkat dong!!" Ria terus mondar mandir dalam kamarnya.
"Halo? Ada apa?" Ada suara di seberang sana, pertanda ada yang mengangkatnya.
"Rebecca?!" Pekik Ria senang.
"Di sana ada Dona 'nggak?" Tanya Ria langsung pada intinya.
"Dona? 'Nggak ada. Dari semalam aku hubungin dia tapi tetap 'nggak bisa. Aku udah ke rumahnya, tapi kosong. Kayak 'nggak ada orang gitu," jawab Rebecca apa adanya. Memang benar, semalam ia ke rumah Dona berniat untuk mengajak Dona menginap ke rumahnya.
"Begitu, ya udah. Makasih, ya!" Tutup Ria, kemudian Ria menutup telfon bersamaan dengan Rebecca.
"Huft, gimana ya? Masa sih, bukan Dona pengirimnya?" Ria terus bermonolog. Sudah beberapa ia menelfon semua teman dekat Dona, namun jawabannya tetap sama dan tak pernah berubah.
Kira-kira, siapa yang ngirim, ya?
Apakah sama seperti episode lalu? Yang pengirimnya adalah Rafael? Atau salah satu teman dekat Ria? Atau yang Sukma menyuruh bawahannya untuk memberikan kertas itu, karena Ria sangat durhaka kepadanya? Atau jangan-jangan, Author yang syantik ini yang ngirim? Hmm siapa, ya? Kalian tahu? Jawab dikolom komentar!
Karena udah 4.400 character's, jadi see you next part! Muach.
.
.
.
Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)
*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*
-**Bersambung-
__ADS_1
#HappyReadingAll😉🤗**