Sebatas Patok Tenda

Sebatas Patok Tenda
SPT 39


__ADS_3

Keesokan harinya.


Siang ini, Ria sedang bersiap-siap untuk datang ke acara pesta di rumah Dona. Mereka hanya mengundang beberapa saja, karena yang lainnya akan beristirahat selepas perpisahan kemarin.


"Aduh, yang mana, ya? Yang ini ... jangan ih! Terlalu mencolok. Yang ini ... jangan, terlalu norak. Atau, yang ini ... 'nggak deh, itu 'kan terlalu ketat." Sudah banyak baju yang berserakan di atas ranjangnya itu, dan sudah dua puluh menit ia terus-terusan menentukan baju mana yang akan di pilihnya.


Kini tersisa satu baju, yaitu baju lengan panjang yang berukuran agak besar. Dengan motif bunga-bunga yang warnanya senada dengan baju itu, pink. Serta, bertuliskan 'love yourself'.


Setelah berpikir panjang, akhirnya ia memutuskan untuk memakai baju itu. Dengan bawahan rok panjang berwarna coklat dan hijab segi empat berwarna hitam.


Setelah memoles sedikit make-up. Padahal sih, cuma pakai bedak bayi sama lip blam.


Ria berpamitan kepada Amak Laila dan yang lainnya. Ketika sudah ada di ambang pintu, ia kelupaan untuk membawa tas kecilnya.


"Oke, sip, 'nggak ada yang ketinggalan. Sekarang, waktunya berangkat!" serunya.


Hal yang sangat tak terduga terjadi lagi, "aduh, tuh anak ngapain sih?!" batinnya memekik.


Ia melihat Rafael di depan halaman rumahnya yang sedang duduk di jok sepedanya dan sepertinya ... ia sedang ber-telfon ria dengan seseorang.


"Aduh, jangan ge-er, udah lewat aja. Sambil ngendap-ngendap," gumam Ria. Perlahan ia berjalan santai, ketika sudah di depan halaman rumahnya, ia pun mengendap-ngendap.


"Oke, tungguin ya! Jangan makan duluan!" ucap Rafael di telfonnya.


"Iya iya, bawel amat sih! Sabar, tung-" belum selesai ia berkata, telfon sudah di matikan sepihak.


"Ish! Dasar! Udah cewek, bawel, 'nggak sabaran, ngeselin pula!" umpatnya seakan-akan ponsel yang ada di genggamannya itu adalah lawan telfon yang tadi.


"Lho? Emang si Ria 'nggak liat aku apa?! Aku gede begini sih!" batin Rafael bingung saat melihat Ria acuh kepadanya.


Langsung Rafael mengayuh sepeda miliknya, dan memelankan nya ketika sudah ada di samping Ria sambil mensejajarkan laju sepeda dengan langkah Ria.


"Kok kamu 'nggak nyamperin aku sih? 'Kan aku ada di tepat depan halaman rumah kamu. Gimana sih!" gerutu Rafael kesal.


"Ya, aku kira, kamu itu lagi 'nggak sengaja berhenti di depan halaman rumah aku gara-gara ada telfon masuk. Buktinya aja, kamu tadi lagi telfonan, kan?" jelas Ria santai, ia gengsi untuk mendekati Rafael yang sedang bertelfonan itu.


"Oh. Gimana kalau bareng? Daripada buang-buang tenaga, mending bareng sama aku, sekalian di bonceng sama Rafael yang ganteng ini, yang liat pasti bakal iri." celetuk Rafael seraya menaik turunkan alisnya.


"Dih, apaan sih!"


"Ayok, mau 'nggak? Kalau 'nggak mau, terserah. Tahu akibatnya, jangan salahin aku!" ancam Rafael lalu mengayuhkan sepedanya.


"Eh, iya iya. Sewot amat sih!" Rafael tersenyum mendengarnya. Ria langsung duduk di jok yang menjadi tempat boncengan itu.


"Pegangan, nanti jatuh!" kata Rafael yang hendak melajukan sepedanya itu.


Ria acuh, dengan sengaja, Rafael melajukan sepedanya dengan kencang. Hampir saja Ria akan terjengkang karenanya.


"Pelan-pelan apa!" bentak Ria sambil memukul punggung Rafael.


"Makanya, aku bilang pegangan, ya pegangan!" balas Rafael santai.


"Iya-iya, tapi jangan kencang-kencang!" Terpaksa, Ria pun berpegangan dengan pinggang Rafael.

__ADS_1


"Gitu dong!"


••••


Sesampainya di rumah Dona, kedua muda-mudi itu langsung turun dari sepeda dan mengetuk-ngetuk pintu rumah Dona.


Hening.


"Kayak nggak ada orang nih, jangan-jangan kita di tinggalin!" pekik Ria kecewa.


"Kamu sih! Pake acara pegang-pegangan segala!" lanjutnya menggerutu.


"Loh?! Kok aku sih? Kalo kamu nurut, pasti bakalan cepet sampe!" balas Rafael tak mau kalah.


Dan, terjadilah debat tak berfaedah. Lebih baik nonton Mata Najwa daripada lihat ini.


"Udah lah! Kalau gitu, mending kita masuk aja, daripada nggak jelas di sini." Akhirnya, Ria memutuskan untuk langsung masuk ke dalam rumah Dona tanpa permisi.


Namun, ketika dibuka keadaan ternyata sangat sepi. Gelap, hanya ada cahaya dari luar.


"Aduh, pada kemana ini?" gumam Rafael sambil cecelingukan.


Tiba-tiba, mereka mendengar derap suara langkah, seperti sekelompok orang. Karena, derap langkah mereka seperti bersahut-sahutan.


Segera, Ria bersembunyi dibalik tubuh Rafael. "Aduh, jangan gini lagi dong!!"


Sambil memegang erat hodie yang dipakai Rafael, Ria terus berdoa dan bergumam meminta pertolongan.


'Dugh!'


"Loh? Ada apa ini?" Ria dan Rafael saling pandang dan bertanya-tanya satu sama lain.


"Tegang, ya? Padahal kita mau buat surprise tau!" ujar Dona sambil tertawa.


"Iya, surprise kecil-kecilan gitu," sahut Ninda yang terus-terusan memencet terompet di tangannya.


"Kirain apa! Kita udah takut tau nggak?! Bujug, dah!" sewot Rafael, dan jiwa anak Betawi-nya pun mulai muncul.


"Ya maaf sih."


"Udah, udah. Kita mending mulai pestanya aja yuk!" ajak Bima yang langsung pergi menuju halaman belakang rumah Dona.


"Yeeu, dasar kentung," ejek Dean yang menyusul Bima.


••••


Mereka pun mulai berpesta dengan riang gembira, melepaskan seluruh kesedihan yang ada dibenak mereka. Melepaskan gundah-gulana yang sudah bertahta dalam diri mereka.


"Eh, yang bener dong, pangganginnya!" pekik Doni ketika melihat Ninda sedang memanggang daging sambil melihat ponselnya.


"Nih, begini ...." Doni mulai mengambil alih daging stik dari tangan Ninda ke tangannya.


"Hey! Liatin!" sambungnya, saat Ninda masih fokus pada ponselnya.

__ADS_1


"Iya-iya. Aku liatin," sahut Ninda lalu mematikan ponselnya dan memasukkan ke dalam saku celananya.


"Nih, begini. Jangan terlalu lama, nanti gosong. Kalo udah kecoklatan, baru dibalik dagingnya," ucap Doni, Ninda hanya mengangguk ria.


Selesai memanggang daging stik, mereka pun memakan daging itu secara bersama-sama, dan sesekali bercengkerama serta bersenda gurau.


"Eh, kalian ada niatan buat lanjut ke kampus, atau langsung kerja?" tanya Bima disela-sela makannya.


"Ngampus," jawab mereka, kecuali Bima serempak.


"Oh, sama. Ngampusnya dimana?" tanya Bima lagi.


"Maunya sih, yang deket aja. Jadi, nggak ngocek uang banyak."


"Kalo kamu? Rafael?" Semuanya langsung menoleh ke arah Rafael seakan-akan menunggu jawaban dari Rafael.


"Kata bunda sama ayah sih, aku bakal balik lagi ke Jakarta. Dan, aku kampus di situ juga," jawab Rafael lesu.


Seketika, Ria yang tadinya duduk tegap, menjadi lesu dan menunduk. Seakan-akan ia sedang menahan tangis.


"Yah, jadi pisah gitu? Jadi sedih," ucap Windy seperti memberi kode.


"Ya, harus gimana lagi? Aku nggak bisa bantah perintah dari orang tua aku."


"Tapi, tenang kita pasti nggak akan lose kontak. Soalnya, nomor telfon kalian aku simpan di buku ini!" seru Rafael sambil menunjukkan buku kecil bersampul biru dengan karakter Doraemon.


"Wih, kayaknya tuh buku berharga banget. Kalau hilang seru tuh!" seru Bima seraya menyeringai misterius.


"Apaan sih! Enak aja maen di ilangin!" sewot Rafael tak terima.


"Hehe, boleh liat dong isinya apa aja," goda Bima sambil memohon-mohon kepada Rafael.


"Kepo! Nggak boleh lah yaw!" tolak Rafael, lalu menaruh buku kecil miliknya ke dalam tas kecil yang biasa dipakai-pakai oleh anak zaman now.


.


.


.


.


.


.


.


Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)


*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*


-Bersambung-

__ADS_1


#HappyReadingAll😉🤗


__ADS_2