
"Assalamu'alaikum! Lili pulang!" Ujar Ria yang baru saja sampai di rumahnya.
Lalu, langsung masuk ke dalam kamarnya karena keadaan rumahnya yang sangat sepi. Sambil menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan berkata, "huft, capek ..." lirihnya.
"Eh? Lili? Udah pulang?" Tiba-tiba saja Sukma yang tadinya ingin ke kamarnya, terhenti karena, melihat Ria yang sudah merebahkan tubuhnya di kasur. "Belum! Lili nya masih ada di Pandeglang!" Ketus Ria lalu merubah posisinya yang semula rebahan menjadi duduk.
"Dih! Baru pulang sih, udah sensian aja!" Cibir Sukma lalu langsung pergi begitu saja. Ria hanya mencibir balik hanya dengan gerakan bibir.
"Akhirnya, bisa balikan lagi sama, Markonah!! Aduh, maaf ya, Markonah aku ninggalin kamu. Soalnya, terpaksa, hehe," ucap Ria sambil merebahkan tubuhnya ke kasur sambil mengusap-usap kasurnya sendiri bagaikan berpelukan bersama manusia. Nb : Markonah itu, nama kasurnya. Kalau bantal namanya, Nunung. Kalau guling namanya, Siti. Nah, selimutnya dinamai, Dwi. Dia dapat nama Markonah, Nunung, Siti dan Dwi itu terinspirasi dari pengalaman dia selama ikut Jambore. Entahlah, nanti lemari sama baju-bajunya bakal dinamai apa. Oh, ya! Buat namanya yang keseret, maaf ya!
......
"Assalamu'alaikum!" Ucap seorang pemuda yang baru saja pulang setelah meninggalkan rumah yang dirindu-rindukannya.
"Wa'alaikumsalam. Eh, kamu udah pulang? Padahal, Bunda sama ayah baru mau berangkat jemput kamu lho!" Balas seorang wanita yang umurnya hampir empat puluh lima tahunan.
"Oh, iya. Kamu lapar, 'nggak? Bunda kebetulan masak makanan kesukaan kamu nih!" Sambung wanita itu.
"Yaudah, Rafael mau mandi dulu ya, Bun. Lengket," sahut si pemuda itu yang ternyata adalah Rafael Dirgantara sang pemeran utama pria di novel ini. Eh, keceplosan. Eh, memang benar, kok!
"Oke. Bunda sama ayah tunggu di ruang makan, ya!" Balas wanita itu yang merupakan, Ibunda Rafael. Namanya yaitu, Santi Indah Dirgantara.
Rafael mengangguk, lalu mencium puncak kepala sang ibunda. Kemudian, pergi ke arah tangga dan mulai menaiki anak tangga.
Rumah dengan nuansa modern berwarna putih bersih, bagaikan istana di sana. Membuat siapa pun menjadi ingin masuk ke dalam sana.
__ADS_1
Di kamar bercat putih bersih, terdapat seorang pemuda yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil sambil berkaca ria.
Berbeda dengan catnya yang berwarna putih bersih, isinya sangat berantakan sekali. Mulai dari bungkus makanan ringan yang berserakan, selimut yang berada di tempat sampah, buku-buku yang hampir keluar dari nama baiknya alias, covernya di coret-coret seperti di tambahkan kumis, kacamata, bintik-bintik dan masih banyak lagi. Sungguh mengenaskan.
"Ya ampun. Ini kamar atau TPS (Tempat Pembuangan Sampah)?! Berantakan begini! Jangan-jangan, kerjaannya si Udin, nih!" Gerutu Rafael sambil berkacak pinggang dan menggeleng miris.
Kemudian, melangkah pergi keluar dan menuju sebuah kamar yang di tutup oleh pintu, bukan jendela! Kemudian, mengetuk-ngetuk pintu kamar itu.
"Din! Buka!" Tukasnya sambil mengetuk-ngetuk dengan keras. Oh, ya! Udin itu sebutan untuk adiknya Rafael. Sebenarnya, sih, nama aslinya bukan Udin, tapi, entahlah Rafael yang suka manggil adiknya dengan sebutan 'Udin'.
Setelah sekian lama, tak ada jawaban sama sekali, akhirnya, "pasti pergi nih! Mentang-mentang sekarang aku pulang!" Geramnya. Lalu menuruni anak tangga dan pergi ke ruang makan.
"Bun! Si Udin mana?" Tanya Rafael to the point'. Si ibu hanya menggeleng, "nama adikmu itu, Puan! Bukan Udin!" Jawab si ibu dengan lantang.
"Iya. Maksud Rafael itu. Dia kemana?" Tanya Rafael lagi. Sang ibu menghela nafas panjang sepanjang sungai Cisadane, "pergi dia. Ke rumah temannya," jawab si ibu.
"Tuh, lihat! Kamar Rafael kayak TPS (Tempat Pembuangan Sampah)!" Ketus Rafael lalu duduk di kursi makan dan langsung makan dengan lahapnya. Tapi, kalau di lihat-lihat, bukan lahap, kayak orang kelaparan gitu, orang yang 'nggak makan satu abad.
"Pelan-pelan makannya, hei!" Ujar si bapak. Rafael tak menggubris dan tetap menghabiskan makanannya.
Awas luh! Nanti kualat kayak Ehsan! Lagi enak-enak makan, eh duri ikan nyangkut di kerongkongannya. Terus, di kasih air segelas, malah ambilnya air yang sebaskom!
-Aku 'nggak tahu, mau buat kata-kata apa.
Aku 'nggak tahu, mau mikir yang gimana.
__ADS_1
Aku 'nggak tahu, pokoknya 'nggak tahu. Pokoknya aku 'nggak tahu sama sekali!
Intinya, aku 'nggak tahu!- (Rizka)
.
.
.
.
-Sensodyne, pasta gigi khusus gigi sensitif-
.
.
.
.
Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)
*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*
__ADS_1
-**Bersambung-
#HappyReadingAll😉🤗**