Sebatas Patok Tenda

Sebatas Patok Tenda
SPT 17


__ADS_3

Malam harinya, mereka melakukan aktivitas seperti biasanya.


"Makanan tadi enak banget ..." Ucap Ninda sembari memegangi pipinya yang tengah membayangkan kembali makan-makanan seafood.


"Iya. Tumben tuh, biasanya juga 'kan makanannya biasanya aja," sahut Bima yang tiba-tiba nongol.


"Lagi baik tuh mereka," timpal Ria yang sedang memainkan ponselnya.


Ya, menu makan malam tadi adalah makanan seafood. Alhasil, para peserta sangat lahap ketika makan.


"Mereka kelaparan atau kenapa, sih? Biasanya juga 'nggak kayak gini 'kan?" Cibir salah satu panitia sembari melipatkan tangannya di dada dan melirik ke arah temannya.


"Biasa. Makanan enak mah di embat ..." Timpal temannya sembari tertawa garing.


"Gimana kalau besok, menu makanannya kita kasih ... Makanan bubur hitam?" Tiba-tiba, ide jahil muncul dari dalam otaknya.


"Hehe. Resepnya gimana tuh?" Tanya teman satu prodi si panitia itu.


"Ada deh. Waktu SMA ada acara makan-makan, dan kebetulan aku yang disuruh masak. Aku bikin bubur hitam, pas dimakan satu kelas, semuanya langsung sakit perut. Ada yang 'nggak masuk seminggu malah," jawabnya sembari terkekeh karena mengingat dirinya waktu itu yang harus mengganti rugi.


"Ya ampun ... Benar-benar dah! Nanti kalau pada sakit perut gimana?" Timpal rekannya itu.


"Ya, kamu lah yang tanggung jawab. 'Kan kamu yang setuju!" Balas si panitia itu. Hal tersebut, membuat rekannya mematung.


"Lah, 'kan Abang yang punya ide begituan. Ngapa saya di bawa-bawa, Bang?" Batinnya.


Itulah obrolan panitia Jambore yang keheranan melihat para peserta yang makannya sangat lahap.


.....


"Eh, aku ada permainan nih!" Seru Bima yang memecahkan keheningan. Ria yang sedang berpetualang di Media Sosial langsung mendekat, Ninda yang tadinya melamun langsung mendekat juga, Rafael yang tadinya sedang sibuk membaca komik mendekat juga, kak Rudy yang sedang memandang langit malam pun ikut mendekat juga.


"Apa, tuh?!" Tanya mereka serempak.


"Wesh ... Selow dong ... Gimana kalau kita main Truth or Dare? Gimana? Mau 'nggak?" Ucap Bima sembari memegang dagunya.


Semuanya mengangguk pelan, "boleh boleh. Botolnya?" Tanya Ria setelah mengangguk kepalanya selama lima menit.


"Pakai ... Botol ini aja, gimana?" Balas Bima sembari memegang botol kosong berwarna hitam.


"Tunggu! Itu botol, kamu dapat dari mana?" Tanya Rafael yang tak asing dengan botol tersebut.


"Oh, tadi aku nemuin di sana ..." Balas Bima sembari menunjuk ke arah tenda Rafael.


Rafael pun mengepalkan tangannya, "itu 'kan punyaku!! Pantesan aku cari 'nggak ketemu-ketemu! Rupa-rupanya kamu yang ambil?!" Geram Rafael sembari berdiri dari duduknya.


"Lah? Aku kira 'nggak kepakai lagi makanya aku ambil. Lagi pula, botolnya kosong 'kok!" Elak Bima sembari melipatkan tangannya di dada.

__ADS_1


"Yaudah lah. Seterah kamu! Lagi pula, botolnya udah 'nggak ada isinya lagi!" Ucap Rafael kemudian duduk kembali.


"Ada 'kok isinya! Isinya tuyul!" Sahut Ria yang sedari tadi hanya menyimak.


Semuanya pun diam, "kalian berantem mulu! Apa 'nggak capek?!" Sambung Ria sembari berkacak pinggang. Menurut mereka semua, Ria bagaikan anak yang paling tua walau sebenarnya yang paling tua itu Bima.


"Aku tidak suka melihat kalian berteman. Lebih baik, kalian bertengkar saja, aku dukung 'kok!" Sahut Ninda yang membuat suasana semakin absurd. Bukan mencekam tapi malah tambah absurd.


"Sudah! Diam! Kakak kira permainannya langsung dimulai! Ternyata kalian ngejulid dulu!" Ujar kak Rudy kemudian kembali ke posisi semulanya yaitu menatap langit-langit malam. Entah lah, Author juga tidak tahu apa yang ditatapnya. Mungkin ... Dia galau hehe.


"Kalau gitu, cepat dimulai permainannya!" Ujar Ria mungkin, ini yang terbaik.


"Oke ..." Botol diputar oleh Bima. Dan, botol tersebut pun berhenti tepat di depan Ninda.


"Nah, Ninda nih. Truth or Dare?" Tanya Bima sembari memberikan pilihan.


"Kalau aku milih Dare, nanti tantanganya malah aneh soalnya 'kan, yang atur Bima. Pilih Truth aja lah!" Ninda membatin.


"Truth!" Ucap Ninda sungguh-sungguh.


"Oke. Siapa orang yang disukai sama kamu, Ninda?" Tanya Bima.


"Ya pastinya Babang Doni dong ... Secara 'kan, kalian udah tau. Kenapa masih nanya?" Jawab Ninda sembari mengusung senyum penuh kemenangan.


"Kirain beda lagi!" Cibir Ria.


"Oke. Botolnya berhenti di aku. Masa aku nanya diri aku sendiri sih?" Gerutu Bima.


"Biar aku aja!" Ninda pun mengangkat tangannya.


"Pilih Truth or Dare?" Sambungnya tetapi, nada bicaranya bagaikan sangat mencengkam.


"Dare!" Jawab Bima.


"Oke. Kamu, harus lari dari ujung sana sampai ke sini!" Ucap Ninda sembari menunjuk garis start nya. Yang dimana, jaraknya yaitu kurang lebih, 50 meter.


"Dih?! Kamu 'nggak salah?" Ninda mengangguk sembari melipat tangannya di dada.


Bima pun pasrah dan mulai berlari. Setelah itu, botol kembali diputar dan berhenti di depan Rafael. Semuanya pun tersenyum misterius kecuali Ria.


"Oke. Truth ..." Ucap Bima, kemudian disambung oleh Ninda, "or Dare?"


Rafael berdiam sejenak, "pilih truth, pasti nanti ditanyain yang aneh-aneh. Kalau dare? Nanti tantangannya kalau sama kayak Bima ... Ah biar lah!" Batin Rafael berfikir.


"Pilih ... Dare!" Tegas Rafael dengan sungguh-sungguh dan terdapat kemenangan dalam lubuk hatinya.


"Oke. Tantangannya yaitu ..." Bima sengaja membuat Rafael penasaran.

__ADS_1


Satu detik ...


Dua detik ...


Tiga detik ...


"Siapa orang ya kamu suka?!" Pekik Bima sembari menunjuk-nunjuk ke arah Rafael. Alhasil, senyum Rafael yang sedari tadi merekah bak bunga mawar, hilang dalam sekejap.


"Si4lan! Dikira tantangannya apaan?! Ini mah sama kayak jujur!" Batin Rafael mendumel.


Rafael pun membolak-balikkan otaknya. Setelah lama berpikir-pikir, akhirnya Rafael menemukan jawabannya.


"Suka, ya? Aku suka sama semua orang 'kok. Aku suka sama teman-teman ku, sama guru-guru ku, sama kalian juga. Jadi, aku jawab semua orang aku suka."


Bima pun bergeming, begitu juga dengan Ninda. "Apa?! Pinter juga dia jawabnya!" Gumam Bima.


"Ganti jawaban! Siapa orang yang kamu cintai?" Bima bertanya lagi kepada Rafael.


"Cinta, ya? Aku cinta sama orang tua aku, sama adik ku juga." Pungkas Rafael.


"Hehe, rasakan itu!" Batin Rafael menang.


Bima pun kembali bergeming begitu juga dengan Ninda. Sedangkan, Ria hanya menggeleng miris melihat kelakuan kedua temannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)


*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*


-**Bersambung-

__ADS_1


#HappyReadingAll😉🤗**


__ADS_2