Sebatas Patok Tenda

Sebatas Patok Tenda
SPT 36


__ADS_3

Bulan demi bulan berlalu, pertanda untuk kita harus terus berusaha lebih keras. Ulangan, merupakan kata yang sangat sulit untuk diartikan. Ketika kita ditanya, “kenapa kamu takut ulangan? Padahal ulangan itu cuma menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru.” Hanya satu kata yang keluar, yaitu, “enggak tau kenapa?” Seakan-akan, kata-kata itu seperti bertanya kepada diri kita sendiri. Namun, sayang, kita tak bisa menjawabnya.


Sama halnya seperti Ria. Beberapa hari lagi, ia akan menghadapi ulangan atau biasa disebut, ujian akhir semester. Waktunya yang senggang, yang biasa digunakan untuk membaca novel-novel kesukaannya, terganti oleh belajar, belajar dan belajar. Berharap, mendapat nilai yang memuaskan.


'Tok, tok, tok.' Suara ketukan membuatnya menoleh ke arah pintu kamar. Kemudian, ia membuka pintu itu.


Di depan pintunya, terdapat Sukma dengan senyum yang mengembang. "Ada apa, Uni?" Tanya Ria sambil mengucek-ngucek matanya.


"Tuh, ada teman kamu sama kak Rudy di ruang tamu," jawab Sukma dengan senyum yang masih mengembang.


"Ngapain mereka?" Tanya Ria lagi.


Sukma menghembuskan nafasnya, "udah sana, kamu samperin mereka." Tanpa ba-bi-bu, Ria menurut kemudian menutup pintu kamar terlebih dahulu, lalu ia pun pergi menuju ruang tamu. Sedangkan Sukma, ia menyiapkan makanan kecil dan juga minuman.


••••


"Eh, kalian? Ada apa kemari?" Tanya Ria ketika berada di ruang tamu.


"Kak Rudy ajakin kita jalan-jalan, kamu mau ikut?" Sahut Rafael dengan cengiran tampan di wajahnya.


"Iya bener. Mau ikut 'nggak, Li?" Imbuh Sindy. Ninda, Windy, Risa dan Saras mengangguk setuju akan ucapan dari Sindy.


"Gitu, tapi ... kan minggu depan kita ulangan, aku harus belajar. Ini aja lagi belajar, terus ada kalian akhirnya aku tunda dulu belajarnya," jawab Ria lesu.


"Yah .... Belajarnya bisa nanti 'kan, Li. Kita juga 'nggak lama, kok. Kak Rudy cuma nepatin janjinya buat traktir kita." ucap Ninda dengan nada kecewa.


"Ini, silakan di nikmati. Maaf, ya sedikit, soalnya cuma ini doang yang ada. Di minum, ya." Tiba-tiba, Sukma datang membawa senampan berisi minuman dan juga makanan ringan.


"Wah, ngerepotin nih," sahut kak Rudy.


Sukma hanya terkekeh kecil, "ngerepotin? 'Nggak kok, 'kan cuma makanan ringan doang. Ayo, di minum, di minum."

__ADS_1


Semuanya langsung menyesap minuman yang sudah disuguhkan oleh Sukma. "Gimana, Li? Mau 'nggak?" Tanya Windy setelah meminum minuman itu.


"Eumh .... Gimana, ya?" Ria mulai kebingungan, ia sangat mau untuk ikut pergi bersama teman-temannya. Namun, ia harus belajar.


"Udah lah, ikut aja. 'Nggak lama 'kan?" Ucap Sukma memperbolehkan.


"Iya, 'nggak lama. Nanti sore kita pulang," sahut kak Rudy sambil tersenyum simpul.


"Ya udah, deh. Aku ikut," jawab Ria, lalu ia beranjak ke kamar sambil mengganti pakaiannya dan mengambil tas kecil serta ponsel miliknya.


"Ayo!" Seru Ria dengan semangat.


"Rudy, nitip Ria, ya." Pesan Sukma kepada kak Rudy.


Kak Rudy tersenyum lalu berkata, "iya. 'Nggak lama kok. Aku bakal jaga Ria dan mereka juga. Kalau gitu, kita pamit, ya." Sukma mengangguk.


••••


Detak jantung yang tak karuan, menandakan mereka tak siap untuk menghadapi ujian. Memang, ujian hidup mereka lakukan dengan santai, tapi ini ujian sekolah, apa bisa mereka kerjakan dengan cara santai? Mungkin bisa, bagi beberapa orang yang sudah siap.


Siap enggak siap, mau tak mau, mereka harus mengikuti ulangan itu dengan segenap hati, dan seluruh jiwa.


Ketika lembar soal dan jawaban di bagikan, pertama yang mereka lihat adalah, pertanyaan-pertanyaan dalam lembar soal. Apakah gampang, atau lumayan, atau sulit? Atau sangat sulit?


Syukur mereka ucapkan, ternyata soalnya tak terlalu sulit. Akhirnya, mereka kerjakan dengan teliti dan juga mereka pastikan itu jawaban yang benar.


••••


Sudah satu pekan mereka lalui, ini adalah ujian terakhir mereka. Setelah dirasa semua soalnya tak terlalu susah, mereka akui, ujian terakhir ini pasti semua pertanyaan pasti gampang-gampang. Namun, memang realita tak semanis ekspetasi.


"Ini, kenapa lebih susah?"

__ADS_1


"Why, pertanyaannya itu lebih susah kebanding kemarin-kemarin?!"


"Ku ingin teriak ...."


"Kenapa woy?! Kenapa?! Kenapa soalnya susah banget?!"


"Gue aja yang beg0, kagak tau mau jawab apa. Lah, ini yang pinter juga lebih parah."


Ya, itulah gumamam-gumamam yang dikeluarkan oleh para murid. Pelajaran kimia memang merupakan pelajaran yang susah bagi sebagian pelajar. Mulai dari menghitung, menghafal rumus dan masih banyak lagi. Berharap, ada kunci jawaban yang jatuh tepat di meja mereka. Mungkin, mereka bisa mengerjakannya dengan tenang, anteng adem.


.


.


.


Masihkah aku punya harapan?


Semua orang punya harapan. Harapan untuk sukses, harapan untuk bahagia, dan harapan menjadi orang yang beruntung di suatu hari. Ketika suatu pencapaian diraih dengan begitu mudah, hidup ini menjadi sungguh indah. Namun sebaliknya, ketika hidupmu sulit dimengerti, kamu jadi antipati. Jangankan kebahagian, tersenyum saja begitu sulit untuk di dapatkan. Terpukul karena kekalahan, lalu kehilangan harapan. Ya, begitulah hidup, begitulah harapan yang terbaik. Semua orang memiliki kesempatan kedua setelah ia jatuh ke lubang penyesalan. Jika kalian berpikir, apakah aku masih punya harapan? Jawabannya, iya. Kamu masih punya harapan. Bahkan, masih banyak harapan yang kalian punya. Sertakan lah Sang Maha Esa di setiap doa-mu, di setiap usahamu. Karena, tanpa Ia, semua usahamu dan doa-mu akan tak ada artinya. Semuanya bisa saja membaik jika kamu mengingat-Nya. Ingat, semua orang, termasuk kamu pasti masih punya harapan yang baik. Bahkan, termasuk saya juga.—Rizka.


.


.


.


Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)


*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2