Sebatas Patok Tenda

Sebatas Patok Tenda
SPT 25


__ADS_3

Keesokan harinya.


Mentari sudah nampak di timur, pertanda pagi mulai datang. Ayam-ayam berkokok saling sahut-menyahut, sebagai pengganti jam weker dan sejenisnya. Orang-orang ada sudah bangun dari tidurnya, ada juga yang masih terlelap dalam mimpi.


Ria, ia sudah bangun dari subuh tadi. Mengerjakan kewajibannya sebagai muslimah, yaitu, salat subuh setelah itu, ia membaca al-Qur'an sejenak. Kemudian, mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah itu, ia bersiap-siap dan berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama.


"Li! Mau bareng, nggak?" Tanya Sukma, kakak Ria. Ria yang sedang memakai kaus kaki itu, berkata, "iya, bareng! Tunggu dulu!"


Kakaknya yang sudah berada di jok motor itu pun mendengus kesal, "ya udah. Tapi, cepat, ya!" Titah Sukma.


Setelah memakai kaus kaki dan sepatu, Ria pun mengambil tasnya dan memeriksa, apakah ada yang tertinggal atau tidak. Ketika memeriksa, Ria merasa ada yang janggal, "tunggu. Dompet aku dimana, ya?" Gumam Ria yang terus-terusan merogoh isi tasnya itu.


Sudah cari-cari selama lima menit, kurang lebih, tetapi, dompet kecil yang dicari nya tak ada. Ia sudah mengecek di bagian-bagian kecil dalam tasnya, namun, nihil hasilnya. Setelah itu, Ria bangkit dari duduknya dan masuk kembali ke dalam rumahnya.


Sukma yang melihatnya, terlihat kebingungan, "hei! Ngapain masuk lagi?!" Pekik Sukma, tetapi tak ada jawaban dari Ria.


"Ya udah, kalau gitu, aku duluan, ya!" Pekik Sukma lagi walau tak ada sahutan dari Ria. Sukma langsung menyalakan motor matic miliknya dan tancap gas, karena, mata kuliahnya di mulai pukul delapan pagi.


....


"Duh! Dimana, ya?" Gumam Ria panik. Sudah di cari dalam kamarnya, tetapi, dompet kecil miliknya tak jumpa-jumpa.


"Atau ..." Ia pun kepikiran sesuatu, "pasti di tas yang kemarin dipakai buat Jambore!" Lanjutnya. Kemudian, ia pun mengambil tas yang ia pakai selama Jambore di Pandeglang, yang berada di dekat meja belajarnya.


Setelah menemukan tas tersebut, Ria pun langsung membalikkan tas itu, alhasil, isi dari tas itu pun terjatuh ke lantai.


Tidak lama kemudian, ia pun menemukan dompet kecilnya. Ria langsung mengambil dompet kecil miliknya itu. Tetapi, ketika hendak mengambil dompet kecilnya, Ria difokuskan kepada setangkai bunga mawar yang masih segar dan terbungkus oleh plastik.


"Lho? Kok bisa ada bunga?" Tanya Ria pada dirinya sendiri. Ia langsung mengambil bunga mawar itu, dan memperhatikan bunganya. Mungkin, ada surat di dalamnya, pikirnya.


Tetapi, tak ada sama sekali surat atau tulisan kecil di sana. "Dari siapa ini?" Kata Ria yang masih bingung.

__ADS_1


"Eh? Kamu masih ada disini? Kata mau berangkat." Tiba-tiba saja, Laila berada di ambang pintu kamar Ria sambil membawa bakul yang berisi makanan.


"Eh, iya. Tadi, dompet Lili ketinggalan, Amak. Makanya, Lili belum berangkat. Ya udah, kalau gitu, Lili berangkat ya, Amak. Assalamu'alaikum!" Pamit Ria yang sedikit terkejut, lalu mencium tangan Laila, kemudian pergi berangkat ke sekolah.


.....


"Li! Gimana Jambore nya? Seru 'nggak?" Windy langsung menanyakan hal itu kepada Ria yang baru saja datang.


"Ya, gitu. Kayak biasa," jawab Ria dengan santai.


"Ih! Bukan itu!"


"Terus? Apa?"


"Kamu ketemu cowok ganteng, nggak? Atau, ketemu kakak pembina yang ganteng, gitu?" Ucap Windy dengan wajah penasaran.


"Ketemu sih, tapi, ada yang lebih dari itu!" Balas Ria dengan wajah serius.


"Apa tu?"


"Hah? Iya, apa?!" Pekik Windy tak percaya. Ria dan Ninda hanya mengangguk.


"Tanya aja sama Bima kalau 'nggak percaya," imbuh Ria. Kemudian, berjalan menuju kursinya.


"Sebenarnya, itu bunga dari siapa? Atau Bima? Tapi, masa sih? Ah 'nggak mungkin! 'Nggak mungkin kalau itu Bima!" Batin Ria penasaran akan pengirim bunga mawar.


"Atau, jangan-jangan!! Mawar itu 'kan selalu ada dalam ziarah ke kubur. Jangan-jangan, arwah siswi itu lagi!" Pikirannya terus berkeliaran hingga ke hal-hal yang mistis.


Hingga, guru mata pelajaran pun datang, Ria masih saja bergelayut dengan pikirannya. Bahkan, selama pelajaran berlangsung, Ria masih saja bertengkar dengan pikirannya sendiri.


......

__ADS_1


"Jadi, contoh hukum Newtoon tiga yaitu ..." Diwaktu yang sama, tetapi di lain tempat, sang guru sedang menjelaskan pelajarannya di dalam kelas XII IPA 1.


"Rafael, kamu dengar penjelasan Ibu atau tidak?" Tegur guru itu yang melihat muridnya sedang menatap kosong ke arah papan tulis.


Rafael pun terkejut ketika mejanya di gertakan oleh guru yang mengajar, "ah, iya, Bu. Ada apa?" Katanya.


"Kamu ini, coba kamu jelaskan yang Ibu jelaskan barusan!" Titah guru itu sambil menunjukan ke arah papan tulis yang terdapat berbagai rumus-rumus.


"Maksudnya, Bu? Maaf, saya tadi 'nggak menyimak," ucap Rafael sambil menunduk. "Semalam saya 'nggak bisa tidur, Bu." Sambungnya.


"Ya sudah, kamu, pergi ke toilet, cuci muka kamu, biar lebih segar!" Titah guru itu lagi. Rafael menurut, lalu berjalan keluar kelas dengan keadaan jalan lesu. Mengantuk, itu lah dia.


.


.


.


.


-Makanya, kalau tidur, jangan malam-malam. Tidur jam 1 malam, itu baru bagus.- Wkwkwk sesat!


.


.


.


Mohon dukungannya dengan like, comment dan vote sebanyak-banyaknya. Tanpa semua itu, Author ini tak ada apa-apanya :)


*Jika ada persamaan nama, tempat dan wilayah Author mohon maaf sebesar-besarnya, itu semua hanya karangan Author belaka :')*

__ADS_1


-**Bersambung-


#HappyReadingAll😉🤗**


__ADS_2