
Malam harinya, mereka semua masuk ke kamar masing-masing untuk tidur. Karena villanya ada dua lantai, dan masing-masing lantai ada dua kamar tidur serta satu kamar mandi. Jadi, mereka membagi kamarnya sesuai selera mereka. Awalnya sih berebutan dulu.
"Duh, nggak bisa tidur!" keluh Ria, ia terus berpindah-pindah posisi tidur.
"Oh, iya. Ninda bukannya bawa susu, ya? Minta ah," ujarnya bermonolog.
Kemudian, Ria keluar kamar dan menuruni anak tangga satu persatu. Di buatnya susu, ia menuangkan dua sendok makan, lalu air secukupnya.
Ketika ia sedang mengaduk susu, Ria mendengar suara orang seperti sedang bernyanyi dan memetik senar gitar.
Karena penasaran sekaligus takut, Ria langsung meminum susu itu dengan sekali teguk. Kemudian mendekati sumber suara tersebut dengan perlahan.
Saat di depan pintu, suara itu semakin terdengar.
Ia mencoba untuk mengintip lewat jendela. Ketika diintip, ternyata itu adalah Rafael.
Ternyata bukan dugaannya. Ria langsung membuka pintu dengan perlahan dan mendekati Rafael.
"Dor!" kejut Ria.
Rafael menoleh dengan wajah datar. "Nggak kaget! Wlek!" ejeknya.
"Oh." singkat Ria. Lalu, ia menatap ke arah langit-langit malam.
"Kok kamu disini? Emang kenapa?" tanya Ria.
"Aku nggak bisa tidur. Kamu sendiri ngapain disini?" Rafael mengajukan pertanyaan yang sama.
"Ya, sama. Aku nggak bisa tidur." jawab Ria.
"Oh. Aku ada sesuatu yang mau diomongin." ujar Rafael sambil menoleh Ria.
"Ngomongin apa sih??" balas Ria penasaran.
"Tapi, jangan disini. Ayo, ikut aku!" ajak Rafael lalu menarik pergelangan tangan Ria.
"Kemana sih??" tanya Ria penasaran.
"Udah, ikut aja. Yuk!"
Ketika di sebuah taman yang tak jauh dari sana, Rafael dan Ria berhenti disitu. Di taman itu, sudah ada bangku yang dihias cantik, serta lampu-lampu temaram yang menambah suasana.
"Silakan duduk, Tuan Putri." ujar Rafael sambil membungkukkan dirinya.
"Ih, apaan sih." Ria menurut saja, ia duduk di bangku itu lalu disusul oleh Rafael.
__ADS_1
Saat mereka berdua duduk, Rafael mengambil sebuah gelang dari sakunya. Dililitkan gelang itu di pergelangan tangan Ria dan dirinya. Gelang itu seperti borgol.
"Eh, ini ... kok?" kata-kata tergugup.
Rafael mengambil langkah dan Ria mengikutinya dari belakang. Namun, karena langkah Rafael terlalu panjang, Ria hampir saja terjatuh. Untungnya, Rafael langsung menahan.
Iris mereka saling bertubrukan, pandangan mereka saling beradu.
"Em .... Maaf." kata Ria dan langsung menegakkan tubuhnya.
Rafael berjongkok dihadapan Ria, gelang yang mengikat kedua tangan mereka masih terikat.
"Ria, kamu tau nggak? Kalau aku itu, suka banget sama kamu, suka." tutur Rafael lembut.
"Eh, bangun. Malu tau! Takutnya nanti ada yang liat," ucap Ria sambil mengedarkan pandangannya.
Rafael menurut, ia kembali bangkit dari jongkoknya. "Aku cinta sama kamu, aku cinta kamu, Ria Eliyanti." tuturnya lagi.
"Apa kamu bersedia untuk menjadi pendamping hidupku?" tanya Rafael serius.
Mata Ria berkaca-kaca, kemudian ia mengangguk cepat pertanda 'iya'. Dengan senang, Rafael berseru, "yes! Terimakasih ya Allah!"
"Yes!" lanjutnya lagi sambil mengangkat tangannya ke atas.
Mereka berdua tertawa lalu bersama-sama menatap langit malam yang dipenuhi dengan kemerlap bintang.
"Iya lah, apalagi kalo sama aku." sahut Rafael bangga.
"Apaan sih! Udah yuk, balik ke villa." ujar Ria lalu melenggang pergi sambil menahan senyumnya.
"Oh, iya. Gitar aku masih ada di sana!" sahut Rafael dan langsung berlari dari taman itu.
••••
Keesokan harinya, di pagi hari ini, mereka tengah bersantai di teras. Ada yang berjalan santai sambil menikmati udara segar.
"Aduh, maaf ya Teh, saya nggak sengaja." kata Doni bersalah, ia menabrak seorang wanita yang mungkin lebih muda dari dirinya.
"Iya, nggak apa-apa, biar saya aja," balas wanita itu lalu memungut kan berkas-berkas yang jatuh tadi.
Seketika pandangan mereka bertemu. "Citra?" tanya Doni sambil terus memandang wajah wanita di depannya.
"Eh, Doni? Kamu ada disini juga?" jawab wanita yang dipanggil Citra itu.
"Aku ada acara sama teman-teman, kamu kerja disini?"
__ADS_1
"Oh gitu. Nggak kok, aku pemilik villa disini, waktu beberapa bulan lalu kan aku bilang sama om, tante dan kamu juga, kalau aku lagi kelola villa sepeninggal ayah. Daripada yang ngisi cuma aku doang, ya udah aku buat villa aja." jelas Citra.
"Oh, gitu. Iya ya. Hebat ya kamu, masih muda udah punya villa, terkenal lagi." tutur Doni kagum.
"Nggak juga, ini belum seberapa, masih banyak tempat yang populer disini. Tapi, Alhamdulillah sih, hehe." balas Citra sedikit tertawa hambar.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memerhatikan mereka. Seseorang itu adalah, Ninda. Gadis yang sangat mencintai Doni, tapi harapan itu mungkin sudah pupus, ketika melihat dua orang itu sangat akrab.
"Woi! Ngapain disitu? Bengong aja," kejut Feri yang tiba-tiba ada di belakang Ninda.
"Eh, nggak kok. Ka-kamu ngapain disini juga?" jawab Ninda dengan terbata-bata.
"Eh, lo kenapa? Lo nangis? Bukan salah gue 'kan?" kata Feri bingung.
"Nggak, siapa juga yang nangis. Aku cuma ... em, anu kelilipan. Iya, kelilipan." sahut Ninda sambil mengusap kelopak matanya.
Ketika Feri melihat dua orang lawan jenis yang kelihatan akrab, ia pun tahu sebabnya. "Oh, ya udah yuk, ikut gue! Gue tadi jalan-jalan, terus ada tempat yang bagus banget." ajak Feri.
"Kemana?" beo Ninda.
"Udah, ikut aja!" imbuh Feri.
••••••
Tiga minggu kemudian.
Hari ini, adalah hari paling bersejarah bagi Rafael dan Ria. Mereka akan menjadi pasangan sah secara hukum, agama dan negara.
Setelah janji suci telah diucapkan, dan kata 'sah' terucap dari seluruh tamu, mereka telah sah menjadi pasangan suami-istri.
Rafael memakaikan cincin di jari manis Ria, begitupun sebaliknya. Kemudian, Ria mencium punggung tangan Rafael. Lalu, Rafael mengecup kening Ria.
Para tamu bersorak bahagia dan memberi selamat. Begitu juga dengan kedua orang tua mereka.
"Bro, selamat ya. Gue nanti bakal jadi uncle nih, nanti kan gue punya ponakan." ujar Feri sembari memeluk Rafael.
"Ria! Selamat! Aku bakal jadi onty ini! Aku mau, ponakan aku itu cantik kayak aku." Kali ini, Dona yang bersorak sambil memeluk Ria.
"Selamat Li, aku senang banget!" ucap Ninda sambil memeluk erat Ria.
Begitu juga dengan semuanya. Mereka bahagia karena sahabatnya juga bahagia.
Inilah Cinta Sebatas Patok Tenda. Yang mempunyai cerita berbeda setiap harinya. Dan cerita dari Sebatas Patok Tenda, bermulai dari kisah nyata sang penulis. Yang berteman dengan seseorang dalam organisasi yang sama. Yaitu, pramuka. Kemudian tumbuh rasa suka, tapi pada akhirnya, seseorang itu perlahan mulai pergi dalam hati si penulis. Namun, rasa suka itu, masih ada di hati penulis.
Cerita Sebatas Patok Tenda, saya buatkan khusus untuk kalian. Kalau kalian punya cerita tentang masa-masa pramuka, kalian bisa berbagi di kolom komentar ini.
__ADS_1
Sekian dan terimakasih.
...-Tamat-...