Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
Lorong cinta (Cerita Remaja)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏


Tempat kuliahku di gedung C fakultas teknik. Tempat berkumpulnya 2 golongan pemuda. Golongan pertama adalah pemuda awut-awutan, rambut gondrong, celana jeans lusuh, wajah kumus-kumus. Golongan kedua adalah pemuda culun, berkacamata, kuper, sekaligus pemalu. Meski ada yang bergaya modis dan gaul. Namun itu hanya satu dua orang yang bisa ditemukan.


Aku? Aku termasuk dalam golongan kedua. Pemalu namun tidak memalukan.


Untuk mencapai gedung kuliahku, aku harus melewati kedua gedung fakultas lain. Fakultas ekonomi dan fakultas sastra. Fakultas yang isinya mahasiswa modis dan gaul. Terutama mahasiswinya terkenal cantik-cantik. Meski begitu aku tidak pernah tertarik dengan mereka. Bukan karena aku homo ya.. Aku memang tidak berminat.


Beda dengan fakultas sastra yang tergolong unik. Penampilan mahasiswa sastra lebih sederhana bahkan termasuk unik bagiku. Lebih mirip dengan fakultas teknik. Hanya saja lebih banyak ceweknya di sastra ketimbang di teknik.


Justru di fakultas inilah aku bertemu sesosok gadis manis. Mahasiswi baru, semester 1. Kuketahui dia masih semester 1 dari pakaian yang dikenakan. Ia memakai baju putih dan rok hitam panjang. Kostum yang wajib dipakai maba saat minggu pertama perkuliahan dimulai.


Awal mula bertemu saat berpapasan di lorong penghubung antara fakultas ekonomi dengan fakultas sastra. Waktu itu siang hari aku sedang jalan. Hari itu kuliahku siang hari. Kulihat gadis itu ditinggal oleh teman-temannya yang berlarian menuju fakultas sastra untuk bertemu senior aktifis, mereka harus mengumpulkan tugas. Sayangnya, gadis itu belum selesai membereskan barang-barangnya. Sehingga ia ditinggal oleh teman-temannya.


Kulihat ia terburu-buru membereskan seluruh barangnya. Aku kasihan melihatnya. Aku tahu betul jika sampai terlambat menghadap senior, ia bakal dapat hukuman. Dan aku tahu hukuman berat bagi yang terlambat mengumpulkan tugas dan menghadap senior. Hal itu sama saja dengan merendahkan senior. Saat kulewati gadis itu, wajahnya begitu letih, kantung matanya menyiratkan bahwa ia kurang tidur. Peluh mengalir dari keningnya menuju dagu.


Saat itulah aku menyadari degup jantungku berdebar dengan keras. Aku meliriknya. Dan.. Deg! Mata lentik gadis itu pun melihat ke arahku. Ada desir halus dan menenangkan saat mata kami bertemu. Buru-buru aku mengalihkan perhatian ke ubin lorong kampus. Aku malu. Debaran jantungku semakin keras seolah seluruh gedung kampus bergetar merasakan kekuatan debaran ini.


Mataku kembali melihat jalan lorong kampus di depan. Di ujung sana ku lihat para senior memarahi maba yang ramai mengumpulkan tugasnya masing-masing. Sekelebat imajinasiku membayang, gimana dengan gadis itu? Dia akan telat mengumpulkan tugas. Tidak tega aku membayangkannya dimarahi oleh senior.

__ADS_1


Aku menghentikan langkah. Berpikir untuk memilih apakah aku harus membantunya atau tidak. Sebenarnya aku lebih memilih mengindahkan bayangan gadis itu dan terus melanjutkan perjalanan menuju ruang kuliah. Tapi hati ini rasanya tidak tega. Meski sebenarnya aku juga malu. Kuhembuskan nafas perlahan. Kubulatkan tekad untuk membantunya. Kuberanikan diri untuk berbalik arah. Aku akan membantunya membereskan barang-barang miliknya. Kulangkahkan kakiku meski agak goyah. Aku gugup sekali.


Setiap kakiku melangkah, setiap itu pula detak jantungku semakin kencang. Gila, apa aku akan pingsan bila berhadapan dengan gadis itu? Ahh.. Pikiran itu ku buang jauh-jauh demi mengingat bila ia dimarahi senior.


Tanpa berkata sepatah kata, aku membantunya membereskan peralatan dan barangnya yang berceceran. Gadis itu berhenti. Melihatku keheranan. Aku pura-pura tidak tahu jika sedang diperhatikan dengan tatapan bingung. Jangankan melihatnya, berdekatan gini saja sudah hampir membuatku pingsan.


"Gak usah, Kak.. Biar kukerjakan sendiri." gadis itu berkata kepadaku.


Tanpa menyahuti kata-kata gadis itu aku tetap membantunya beberes.


"Kak.." katanya sambil memegang lenganku.


Deg! Aku berhenti beberes. Tubuhku seolah kaku tidak bergerak sama sekali. Hanya jantungku yang berdebar seolah melompat ke sana kemari. Telapak tangan yang lembut memegang lenganku. Kurasakan kehangatan mengalir dari telapak tangan lembut tersebut menyentuh kulitku. Merasuk ke dalam melewati pori-pori. Lalu meresap ke dalam daging dan aliran darahku. Mengalir jauh menembus hatiku. Aku seperti terlempar ke atas awan membubung tinggi jauh ke langit tujuh.


"Sudah kak.. Gak papa, aku masih bisa membereskannya sendiri"


"I..itu senior, ka.. Kamu su.. Sudah di.. Tungguin se.. Senior. Ka-kamu telat... Nanti" aneh, aku berani berkata-kata kepada gadis ini. Meski terbata-bata.


Gadis itu melihat ke ujung lorong dan saat kulihat matanya melihat senior, saat itu pula matanya berbicara seolah ketakutan. Segera aku mempercepat beberes barangnya. Ia pun tidak lagi menahanku untuk tidak membantunya. Tidak berapa lama, kami selesai membereskan barang.

__ADS_1


Ketika selesai, ada gurat kebingungan di wajahnya. Aku tertegun, cantik sekali gadis ini saat kebingungan, dan entah kenapa aku tersenyum kecil. Ia kebingungan, bagaimana caranya ia membawa barang sebanyak itu, sendirian...


“A..aku tahu ini bu..kan barangmu sendiri, i..ni ada be..berapa per..alatan kelompok, dan.. se..bagian milik te..man-te..man barumu kan?” tanyaku sedikit terbata.


Kegugupanku hilang setelah melihat gadis ini kebingungan, aku tidak lagi gugup. Malah aku senang melihatnya.


“Em.. adik kumpulin tugas aja, aku bantu urus peralatan ini” kataku. Entah kekuatan dari mana aku dapatkan hingga bisa ngomong sama dia lancar. Apakah ini yang di maksud orang-orang “The Power of Love”?


“Tapi kakak kan kuliah?” Tanya dia.


“Gak papa absen sekali, jatahnya kan 3 kali” kataku meyakinkan dia. “Nanti telat lho” aku mengingatkannya kembali.


“Baik, Kak. Minta tolong ya..” pinta dia membuat hatiku luluh.. jatuh ke ubin kampus, meresap ke dalam tanah, menjadi akar yang kuat lalu tumbuh menjadi cinta yang berbunga warna warni menghiasi setiap langkahku setiap sudut jalan kampus.


Gadis itu berlarian menuju gedung B. Aku hanya memperhatikannya dari belakang. Rambut yang dikuncir kuda terurai ke kiri dan kanan. Sesampainya di gedung B, kulihat ia sempat menoleh ke arahku, tersenyum.. tersenyum manis sekali.


Aku lupa menanyakan namanya. Menanyakan jurusannya, menanyakan tempat tinggalnya, menanyakan tentang kesukaannya, menanyakan tempat asalnya, menanyakan nomor handphone-nya. Ahh.. sepertinya aku terlalu berkhayal. Ya.. aku terlalu berkhayal membayangkan gadis cantik itu.


Aku baru menyadari ada peraturan yang melarang senior memberikan bantuan apapun kepada maba selama masa pengenalan kampus. Agar tidak dicurigai oleh teman-teman aktifis, aku pun memindahkan barang-barang milik gadis dan teman-temannya itu ke dalam taman kampus. Aku sembunyikan di sana lalu aku mencari tempat duduk nyaman dan menunggu bidadari surga turun dari fakultas sastra.

__ADS_1


Tamat.


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.


__ADS_2