Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
Jas almamater part 2 (Cerita Thriller)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏


“Dor!!!” Rendy terperanjat bangun sambil memegang pistolnya. Matanya masih belum jelas melihat sekitar. Cahaya matahari menembus masuk melalui kaca depan mobil. Ia ingat bahwa ia tadi tidur di dalam mobil.


Perlahan matanya mulai terbiasa. Ia mendengar suara deru mobil dengan knalpot plong. Suara knalpot tersebut mirip suara tembakan pistol. Rendy tenang setelah mengetahui asal suara tersebut, namun matanya tetap waspada memperhatikan sekitar mobil hingga seluruh area parkir mobil lantai 11.


Tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Rendy segera membetulkan rambutnya yang sedikit awut-awutan. Ia membuka pintu tengah mobil dan berjalan menuju sebuah toilet. Tangan kanannya tidak lepas berada di balik mantelnya. Menyembunyikan sebuah pistol di dalam. Tangan kirinya membawa buntalan.


Rendi menghentikan langkah kakinya di dekat pintu masuk toilet, dengan berjalan perlahan ia mengintip ke dalam toilet. Pintu toilet di bagian dalam terbuka. Tanda bahwa tidak ada siapapun di dalam toilet tersebut.


Rendi pun segera memasuki toilet dan masuk ke dalam ruang dalam. Ia berganti pakaian bersih di dalam. Setelah cuci muka, ia pun kembali ke mobil. Ia membuka dashboard, ia menemukan sebuah botol parfum kecil dan menyemprotkan ke badannya.


***


Rendy telah berada di jalanan kembali. Di pagi hari yang cerah, namun tidak secerah kasus yang ia tangani. Waktu baru menunjukkan pukul 7 pagi. Rendy segera mengarahkan mobilnya ke sebuah restoran cepat saji di tengah kota.


Ia menyantap dengan lahap namun matanya tidak berhenti mengawasi sekitar restoran tersebut. Masih sepi. Ia duduk di pojok batas antara tembok dengan dinding kaca. Di sini ia cukup aman. Ia juga masih dapat mengawasi area depan restoran dan dalam restoran.


Sebuah mobil memasuki pelataran parkir resto. Mobil tersebut parkir di samping persis mobil milik Rendy. Tidak lama pengendara mobil turun menuju restoran.


Seorang pemuda dengan tinggi badan 168 cm dan agak atletis, memakai jas almamater sebuah kampus terkenal di Surabaya memasuki resto. Ia memakai kacamata warna coklat. Penampilanya modern sedikit retro.


Tanpa menoleh ke kiri kanan, pemuda itu lalu menuju meja pemesanan. Setelah memesan dan mendapat sebuah burger plus minuman cola, ia pun mencari tempat duduk.


“Boleh saya temani mas?” Tanya pemuda itu padanya.


Rendy mengernyitkan dahi sejenak, ia berpikir apakah pemuda ini seorang homo? Namun buru-buru ia tepis pikiran tersebut.


“Boleh.. silahkan” jawab Rendy, “ dengan begini gak bakal kentara aku sedang mengintai.


“Sendirian saja mas?” Tanya pemuda tersebut pada Rendy.


“Iya, adik kuliah?” Rendy balik bertanya.

__ADS_1


“Iya mas, kenalin mas, namaku Toni” pemuda itu memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangan.


“Rendy” kata rendy sambil menyalami tangan pemuda bernama Toni.


“Kerja di mana mas?” Tanya Toni.


“Oh, aku kerja di kantor Jl. Pangsud, adik kuliah di Unair?” buru-buru Rendy bertanya agar tidak terlalu banyak ia berbohong pada pemuda yang baru ia kenal.


“Iya mas” jawab Toni.


“Jurusan apa? Semester berapa?” Rendy mencecar pertanyaan agar pemuda ini tidak terlalu banyak bertanya tentang dirinya.


“Jurusan akuntansi mas, semester 7”


“Pake jas almamater emang ada acara apa?” Rendy tidak memberi waktu pemuda tersebut untuk bertanya balik.


Sejenak kemudian pemuda itu pun bercerita tentang acara yang akan digelar dikampusnya pagi ini. Toni, pemuda tersebut, sudah lupa akan pertanyaan-pertanyaan yang akan ia ajukan pada Rendy. Toni sudah bercerita panjang lebar tentang kampus hingga kegiatannya di kampus. Rendy sukses membuat Toni teralihkan ke dirinya sendiri.


“Sebagai aktivis kampus, apa pandanganmu tentang perpolitikan tanah air?” Rendy semakin dalam menyakan pemikiran mahasiswa Unair tersebut. Sambil makan, Toni terus bercerita dan menyatakan pandangan dan pemikirannya tentang peta perpolitikan tanah air.


Di sisi lain, Rendy terus memperhatikan jalanan dan parkiran mobil.


Saat makanan Toni sudah habis semua, sebuah mobil memasuki pelataran parkir. Mobil hitam dengan warna kaca riben itu berhenti di samping mobil mahasiswa bernama Toni. Serentak keempat pintu mobil terbuka setelah mobil berhenti dan mesin mati.


Tiga orang perawakan atletis dengan potongan cepak turun dari mobil. Sekilas mereka terlihat seperti tentara berpakaian biasa. Namun jika diperhatikan, wajah dan sorot mata mereka memancarkan wajah yang bengis. “Mereka bukanlah tentara, mereka adalah pembunuh bayaran!” ujar Rendy dalam hati.


Rendy pun segera menimbang dengan cepat. Membaca situasi di dalam restoran, lalu berpikir dengan cepat untuk mengambil tindakan. “Toni, geser ke sampingku cepat!” suruh Rendy pada Toni. Mahasiswa itu mengernyitkan dahi tidak mengerti apa mau Rendy.


Secepat itu juga tang kiri Rendy menarik bahu Toni untuk duduk di sampingnya. Sedang tanpa diketahui Toni, tangan kanan Rendy bergerak cepat di bawah meja. Toni hanya menurut dengan kebingungan. Namun kebingungan Toni tidak berlangsung lama, Ia segera memahami situasi tatkala 3 orang tersebut sudah berdiri di hadapan mereka.


“Serahkan diri lebih baik daripada bikin ulah” Seorang dari mereka berbicara pada Rendy.


“Kalian siapa?” Tanya Rendy.

__ADS_1


“Kami aparat pemerintahan, kamu bisa ikut kami secara baik atau dengan kekerasan jika tidak menurut” Tegas seorang yang lain.


Rendy memberi kode pada Toni untuk pergi menjauh dari kondisi ini.


“Oke, tapi biarkan anak ini pergi, dia tidak ada hubungan dengan semua ini, dia hanya sekedar duduk makan cari teman” ujar Rendy menjelaskan.


“Ton, segera pergi dari sini” Rendy menyuruh Toni.


“Mas Rendy ini siapa? kriminal?” Tanya Toni pada Rendy.


“Iya dia kriminal, kami harus menangkapnya sekarang, jika kamu masih di sini, kami anggap kamu komplotannya” salah satu dari ketiga orang itu ikut berbicara.


Secepat itu pula Toni menghambur keluar restoran lalu pergi dengan mobilnya. Sudut mata Rendy memastikan bahwa Toni sudah pergi dan tidak ada orang di dalam resto kecuali hanya pelayan di meja kasir.


Secara tiba-tiba Rendy menendang meja makan ke atas sekuat tenaga. Sisa-sisa makanan berhamburan ke atas mengenai muka ketiga orang di depan Rendy, bahkan ujung meja mengenai salah satu muka ketiga orang itu. Orang pertama dari ketiga orang tersebut surut ke belakang.


Sesaaat Rendy berdiri mengambil kursi disampingnya dan memukulkan kearah seorang yang berdiri di samping kiri, orang ketiga.


“PRAKKK!!!” terdengar suara besi beradu dengan kepala orang ketiga. Seketika itu pula orang tersebut tersungkur jatuh ke lantai restoran.


Sebuah tendangan kaki kanan Rendy mengenai perut orang kedua. Orang tersebut terdorong 5 langkah ke belakang lalu terjatuh. Rendy bukanlah agen sembarangan, meski ia ditempa latihan militer disertai ilmu bela diri, namun Rendy sejak kecil sudah mempelajari ilmu silat dan tenaga dalam di kampungnya.


Sebuah pukulan mengarah ke wajahnya, pukulan dari orang pertama. Rendy menangkis pukulan tersebut. Dengan cepat membalasnya dengan sebuah hantaman keras di dada orang pertama. Tidak main-main Rendy mengeluarkan tenaga dalamnya. Orang tersebut tersungkur dengan darah keluar dari mulutnya.


Sebuah mobil jeep memasuki pelataran parkir restoran. Dengan cepat seluruh penumpang turun dari mobil jeep tersebut. ada 4 orang yang turun dari mobil jeep. Dilihat dari tampang mereka jelas bahwa mereka adalah teman ketiga orang lawan Rendy.


Melihat temannya mengeluarkan darah, kedua orang yg lain segera mengeluarkan pistolnya masing-masing. Rendy yang melihat gelagat bahaya segera berlari dan berlindung ke balik meja kasir. Para pelayan semburat melarikan diri dan keluar restoran.


Rendy mengendap-endap di balik meja kasir menuju dapur, ia mencari pipa tabung gas. Setelah menemukan, ia segera mengintip. Ia melihat seluruh penumpang mobil jeep sudah berada di dalam restoran. Rendy segera memotong pipa tabung gas dan berlari keluar secepat tenaga.


Saat itu pula sebuah tembakan diarahkan ke Rendy yang sudah berada di depan pintu belakang restoran dan “BUUUUMMM” sebuah ledakan akibat percikan api dari pistol mengenai gas bocor dari dapur. Seluruh restoran meledak. Ketujuh orang pengejar Rendy terpanggang di dalam restoran.


Rendy berlari menuju mobilnya dan pergi menjauh dari lokasi restoran yang terbakar.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2