
SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏
Pukul 10.00
Kejadian malam itu semakin panas dibicarakan oleh warga sekitar hingga ke luar desa. Beritanya pun sudah merebak hingga termuat di media cetak dengan judul, “Kematian Misterius, Gadis gantung diri” keberadaan Yanny pun dipertanyakan hingga semuanya terjawab pada sore itu. Sore dimana 3 hari setelah kejadian. Dengan perban masih melekat di pergelangan tangan, muka yang pucat dan kusut. Yanny terserek melewati desa tempat tinggalnya hendak pulang. Warga yang tahu pun hanya diam tidak menyapanya sama sekali. Dari pemberitaan yang beredar menyudutkan Yanny membuat warga menjadi takut. Beberapa dari mereka pun menghubungi polisi dan polisi segera meluncur ke rumah Yanny.
Sepuluh langkah dari depan rumah Yanny, para rombongan polisi pun datang dan langsung membawa Yanny ke kantor polisi untuk dimintai keteranganya. Sungguh tindakan yang tak manusiawi sebenarnya. Mereka tak melihat kondisi Yanny seperti apa. Dia ingin pulang. Apa mereka tahu Yanny sudah makan atau belum?? Apa mereka tahu Yanny sudah tidur atau belum? Apa mereka tahu bagaimana rasanya ditinggal mati keluarga satu-satunya? Apa mereka tahu rasa rindu seorang Kakak ke Adiknya. Dan mereka tak akan pernah bisa bertemu lagi. Apa mereka pernah memikirkannya? Mereka tak pernah memikirkan kondisi Yanny saat itu. Kasihan Yanny.
Sesampainya di kantor polisi Yanny dicecar berbagai pertanyaan tentang kematian Adiknya. Satu kalimat yang selalu Yanny katakan.
“Saya tidak tahu. Adik saya tidur di kamar dan saya tiba-tiba terbangun di depan pintu kamarnya. Jangan tuduh saya membunuhnya, dia Adik saya. Tolong jangan tuduh saya membunuhnya.” Namun saat Yanny ditanya alasan dia kabur dari rumah sakit, Yanny seakan hilang ingatan. Dia mengatakan bahwa dirinya tidak tahu akan hal itu dan tiba-tiba dia berada di suatu tempat yang asing. Bahkan untuk pulang saja dia sampai butuh waktu 2 hari.
Kesaksian Yanny itu memunculkan dugaan baru bagi pihak kepolisian. Sepertinya Yanny mengalami gangguan kejiwaan. Tapi pihak kepolisian tidak bertindak gegabah meskipun harus menjunjung azas praduga tak bersalah namun kesaksian Yanny ini bisa saja dibuat-buat agar dia bisa lepas dari jeratan hukum. Akhirnya setelah dibiarkan beristirahat beberapa jam dan diberi makan, Yanny diinterogasi lagi dengan melakukan serangkaian tes kejiwaan. Untuk mengetahui apakah Yanny ini memang gila? Ataukah memang normal kejiwaanya?
Setelah tes selesai, dapat disimpulkan bahwa Yanny mempunyai kejiwaan yang normal. Tapi.. Yanny mempunyai masalah. Ya masalah dengan ingatan. Dia terkadang tidak bisa mengingat akan suatu hal yang pernah ia alami. Terkadang dia sadar sudah berada di suatu tempat yang asing. Terkadang dia kaget dengan gaun yang ada di lemarinya, padahal dia merasa tak membelinya. Ke pesta sekalipun dia tak pernah karena kehidupan mereka apa adanya. Tapi dia merasa itu hadiah dari Adiknya. Hal itu terus berulang walaupun Yanny tak menyukainya dan Adiknya pun selalu bilang, “kan Kakak yang membelinya sendiri.”
Mengetahui akan hal itu polisi pun bertindak cepat dengan menghadirkan seorang psikiater yang diharap bisa menggali informasi lebih dalam lagi tentang amnesia yang diderita Yanny. Ya. Sejauh ini polisi beranggapan Yanny mengalami amnesia dan keterangannya sangat dibutuhkan. Yanny dijadwalkan harus melakukan sejumlah tes lagi dengan psikiater.
Hari-demi hari berlagsung, sedikit-demi sedikit ada hal yang diperoleh dari Yanny. Tentang kehidupanya, masa kecilnya, masa remajanya, orangtuanya. Diketahui Yanny semasa kecil kerap menerima siksaan dari orangtuanya. Terbukti dengan bekas luka ditubuh Yanny yang sangat mengerikan. Bahkan bekas setrika di bahu kiri Yanny pun masih tampak jelas. Yanny mempunyai masa kecil yang suram, Ayah yang kerap menyiksanya adalah seorang Ayah tiri, Ibunya pun sama kejamnya karena memang Yanny adalah anak yang tidak diharapkan.
Empat hari telah berlalu dari jadwal yang ditetapkan, Yanny memang diberi jadwal tes yang padat agar membuat emosinya bergejolak, itulah salah satu strategi untuk mengetes kejiwaan Yanny. Apakah dia mampu mengontrol dirinya ataukah tidak saat emosi diaduk sampai titik jenuh. Sore itu telah berakhir. Setelah psikiater ke luar ruangan karena dipanggil pihak kepolisian, dia kembali menemui Yanny yang dari tadi duduk diam. Yanny diperbolehkan untuk istirahat. Setelah Yanny ke luar ruangan psikiater itu pun hendak pulang ke rumahnya sembari membereskan buku-bukunya di atas meja dan kertas-kertas yang berserakan. Psikiater itu dikejutkan oleh secarik kertas yang terselip dalam bukunya. Kertas itu bertuliskan pesan, yang berbunyi.
“Aku Aryn yang membunuh gadis itu, jangan ganggu aku lagi atau aku akan membunuhmu juga.”
Membaca pesan itu tubuh psikiater berguncang hebat. Tangannya bergetar dan tubuhnya hampir jatuh.
“Surat ancaman ini. Jangan-jangan.. mungkinkah ini terjadi.. aku masih belum bisa mempercayai kalau orang berkepribadian ganda itu ada. Apa benar ada sosok lain di tubuh Yanny. Dia mengaku dirinya adalah Aryn. Kalau memang benar berarti dia adalah sosok yang sangat menakutkan. Begitu mudahnya dia mengancam untuk membunuhku. Aku harus melaporkan hal ini secepatnya.”
Mendapat keterangan dari psikiater sebenarnya polisi lebih memilih untuk menganggap Yanny gila. Tapi psikiater tersebut meyakinkan bahwa Yanny lebih berbahaya dari pada orang gila dan pembunuh. Karena Yanny melakukan pembunuhan secara tidak sadar. Lalu esok hari psikiater itu bertemu dengan Yanny lagi. Dengan pengawalan tentunya. Psikiater itu mengatakan ini adalah sesi tes terakhir, dan Yanny tampak lega, terlihat dari otot-otot wajahnya yang mulai mengendur.
“Saya akan membacakan sebuah cerita, tolong anda tulis kata-kata saya.” Sambil menyodorkan secarik kertas dan bolpoint kehadapan Yanny. Psikiater itu memulai ceritanya.
“Aku pernah bekerja di pabrik tekstil. Aku sangat nyaman bekerja di sana. Hanya satu yang membuatku terganggu. Di sana banyak lalat yang membuatku ingin membunuh lalat-lalat itu
tapi gadis di sampingku selalu berkata, ‘Jangan membunuh lalat karena lalat itu pun juga tak bisa membunuhmu.’ selesai menulisnya?”
__ADS_1
Psikiater itu mengambil kertas yang ditulis Yanny dan mencoret kata-kata yang tidak perlu. Lalu ia mengeluarkan kertas surat ancaman yang diperolehnya kemarin. Polisi yang mendampingi proses investigasi itu pun tercengang dengan apa yang mereka lihat. Ya. Tulisan Yanny sama persis dengan tulisan surat ancaman yang diperoleh psikiater itu kemarin, tiap kata dan huruf tertulis sama. Psikiater itu memang memodifikasi surat ancaman itu agar sosok Aryn tidak merasa terpanggil dan muncul.
Setelah itu sang psikiater menunjukkan surat ancaman yang diterimanya kemarin ke hadapan Yanny.
“apakah ini kamu yang menulis?” tanya Psikiater.
“Bukan.” jawa Yanny.
Psikiater menunjukkan tulisan Yanny barusan. “Lalu kalau anda melihat dua kertas ini apa yang ada dalam pikiran anda?”
“Sama. Tulisannya sama.” jawab Yanny.
“jadi bukan anda yang menulis surat ancaman ini?”
“bukan. Kapan saya menulisnya, terlebih di situ kan tertulis siapa penulisnya. Jadi bukan saya.”
“surat ini ditulis dan diselipakan kemarin, saat saya meninggalkan anda sendirian di ruangan ini. Saya bisa memastikan itu.”
Yanny hanya diam memikirkan sesuatu.
Yanny diam membisu sembari melihat kedua tangannya.
“tapi ini bisa disembuhkan.”
Yanny yang tak pernah menyadari akan hal itu. sedikit demi sedikit mengerti akan jawaban mengapa ia sering lupa akan sesuatu kejadian dan tiba-tiba berada di tempat yang asing. Dia meneteskan air mata teringat akan Adiknya yang telah mati, “apakah aku yang membunuh Adikku?”
Hati Yanny bergejolak hebat waktu itu, dia menangis dan berteriak, “bukan aku yang membunuhnya. Jangan tuduh aku membunuh Adikku. Bagaimana aku bisa membunuh Adikku. Aku tak tahu. Tolong jangan tuduh aku membunuhnya!!!”
Melihat kondisi yang seperti itu, Yanny diistirahatkan di suatu ruangan interogasi yang mempunyai cermin dua sisi agar kegiatannya dapat terus dipantau. Dia pun diberi obat anti depresi agar jiwanya tidak bergejolak yang beresiko memunculkan sosok Aryn dalam tubuh Yanny. Tapi Yanny terus saja menangis, sesekali dia berdiri di depan cermin sambil berkata.
“Kamu siapa?”
Dia selalu mengulang-ulang pertanyaan itu sambil memegang cermin, dia mengusap bayangan wajahnya. Dan kembali berkata, “kamu siapa?”
Hal itu yang membuat hati para penyidik seakan hancur. Mereka yang melihat Yanny dari balik cermin. Mereka tahu sorot mata Yanny bukan sorot mata seorang pembunuh dan pembohong. Tapi sorot mata itu, sorot mata yang penuh keputusasaan.
__ADS_1
Selepas itu Yanny didapati tertidur sambil duduk meletakkan kepalanya ke meja. Dia sangat lelah kelihatannya. Hari sudah banyak berlalu. Psikiater itu membawa seorang ahli terapis. Mereka dijadwalkan melakukan pendalaman terhadap kesaksian Yanny. Secepatnya kasus ini harus segera diungkap agar tidak menimbulkan opini publik yang bukan-bukan. Serta menetapkan status Yanny sebagai apa. Mereka bertiga memasuki ruangan khusus yang dilengkapi kamera pengawas. Yanny dihipnotis oleh sang terapis agar bisa memasuki alam bawahnya, dan mengetahui siapa sebenarnya sosok lain yang hidup dalam tubuh Yanny.
Yanny sudah tertidur. Dan terapis itu membawa Yanny jauh ke dalam alam sadarnya. Dan tiba-tiba sosok Aryn yang muncul. dia dicecar dengan banyak pertanyaan dari di mana dia tinggal, apa hobinya, apa yang dia suka dan dia benci. Dari rentetan pertanyaan itu didapati sosok lain yang hidup dalam tubuh Yanny adalah Aryn. Dia adalah sosok wanita yang sangat cerdas, hidupnya glamor, ambisius, pendendam, pembenci, penuh siasat, dan bisa membunuh. Ya dia bisa membunuh siapa saja yang menghalangi keinginanya. Dia mengatakannya. Dia tidak takut dengan hal apapun. Tapi saat dia ditanya tentang Ana, dia hanya diam. Astaga. Dalam kondisi tidak sadar pun Aryn masih bisa menyembunyikan sesuatu.
Psikiater dan pihak penyidik mengalami titik stuck dalam hal ini. Memang kejadian ini belum pernah mereka tangani sebelumnya, kejadian ini pun jarang terjadi. Polisi harus bertindak seadil mungkin menangani kasus pembunuhan Ana. Apakah dia akan dijadikan tersangka atau ia akan Terbebas dari jeratan hukum. Yang pasti semua orang iba dengannya saat mengetahui kondisi Yanny. Dia mengalami masa kecil yang memilukan. Keputusasaan, trauma, kemunafikan, penganiayaaan dan segala perasaan negatif yang dipendam dalam-dalam menyebabkan munculnya sosok Aryn ini.
Setelah Yanny disadarkan, Yanny diperlihatkan rekaman kamera pengawas yang sejak awal merekam setiap ucapannya. Yanny sangat terkejut melihat rekaman tersebut. Dia jatuh ke lantai dan hanya menangis mendengar sosok Aryn yang hidup di dirinya berbicara. Ya. Dia hanya menangis dan memandangi lantai. Dia menyadari bahwa dia memang berkepribadian ganda. Sosok yang tak pernah ia harapkan muncul di hidupnya kini menghancurkannya. Semua bukti telah dipersiapkan dan rencananya secepatnya kasus ini akan bergulir ke persidangan. Polisi telah bekerja sekuat tenaga dan tinggal memasrahkan kasus ini kepada putusan persidangan.
Saat ini Yanny sedang dibiarkan beristirahat karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk berinteraksi dengan orang lain dia diberikan obat anti depresan lagi. Dan dibiarkan tidur di sofa ruang si psikiater. Mereka beranggapan meninggalkan Yanny sendiri tanpa pengawasan tidak apa-apa karena Yanny sudah diberi obat penenang.
Padahal itu FATAL. Ya. Hal yang fatal terjadi. Menjelang sore. Psikiater itu pun hendak mengecek kondisi Yanny. Setelah berdiskusi lama dengan kepolisian. Tapi didapati ruangan tempat Yanny tidur tadi dikunci dari dalam. Psikiater itu pun memanggil-manggil nama Yanny dari luar, tapi tak ada jawaban sedikitpun. Sebenarnya ia ingin mendobrak pintu itu tapi ia urungkan karena kantor ini bukan kantornya. Lantas dia berlari menuruni tangga karena ruangan tempat yanni berada ada di lantai dua sembari berteriak ke seorang petugas.
“ruangan Yanny 3a dikunci dari dalam!”
Dia berlari ke luar dengan maksud melihat kondisi dalam kamar dari luar gedung, karena dia ingat meninggalkan Yanny dengan korden jendela yang terbuka. Dan alangkah terkejutnya dia melihat petugas yang ia teriaki tadi sudah berada dalam ruangan sedang memegangi tubuh Yanny yang tergantung oleh kabel telpon dan dikaitkan ke jeruji fentilasi udara.
“Oh Tuhan..”
Psikiater itu pun berlari kembali menuju ruangannya sembari berteriak-teriak menyebut nama Yanny. Dan memang benar. Mereka mendapati Yanny telah tewas gantung diri. Dengan air mata yang belum mengering dari pipinya.
“Yanny..” Psikiater itu adalah satu-satunya orang yang menangisi jasad Yanny. Ya. Dia merasakan apa yang dirasakan Yanny. Gejolak hatinya. Keputusasaannya. Kesedihan dan penderitaannya.
Psikiater itu sangat menyesalkan ini terjadi. Ya dia merasa sangat bersalah karena meninggalkan Yanny sendiri dengan kondisi kejiwaannya yang seperti itu. Padahal penyakit yang diderita Yanny bisa disembuhkan, dia yakin itu. Dan berharap demikian. Tapi beban yang ditanggungnya serta perasaan bersalahnya mungkin membuat Yanny merasa tak ada kebahagiaan lagi untuknya. Memang itu adalah masa-masa yang sulit baginya.
Dua hari berselang kasus ini masih ditindak lanjuti. Meskipun Yanny telah tewas. Satu hal yang menjadi misteri adalah cara Yanny membunuh Adiknya dalam kamar yang terkunci dari dalam. Hal itu masih belum bisa diungkap oleh kepolisian. Kedua jasad Kakak berAdik itu pun dimakamkan bersebelahan pada tempat pemakaman umum di hari yang sama. Meskipun terbukti dengan samar Yanny adalah pembunuh Adik kandungnya. Tapi semua orang yakin, Yanny adalak sosok Kakak yang sangat menyayangi Adiknya. Andai dia sadar. Pasti ia tak akan mampu membunuh Adiknya, bahkan untuk menyakitinya pun dia tak mampu. Itu terlihat dari pesan yang ia tulis pada sebuah kertas yang ditinggalkan Yanny saat mengakhiri hidupnya. Pesan kematiannya.
“Ana. Maafkan Kakak tidak bisa menjagamu. Maafkan Kakak na. Demi Tuhan maafkan Kakak. Kakak mencintaimu lebih dari segalanya hanya kamu yang Kakak punya di dunia ini. Bagaimana Kakak tega menyakitimu. Maafkan Kakak. Kakak tak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Dia hidup di hidupku. Iya iblis itu. Maafkan Kakak. Kakak tak punya harapan lagi. Jika masih ada bahagia untuk Kakak Kakak ingin selalu bersamamu. Adikku Ana. Maafkan Kakak.”
Beberapa hari kemudian kasus itu ditutup. Karena pihak berwajib tidak menemukan tersangka dan bukti lain. Berita berubah menjadi seorang gadis tewas bunuh diri di kantor polisi. Meskipun banyak yang melupakan kejadian itu. Namun tak sedikit kisah itu masih menggantung di benak orang-orang yang mengenalnya karena perasaan bersalahnya. Dan karena ketakutan akan dirinya yang akan membunuh orang tak bersalah lagi. Yanny pun mengakhiri hidupnya sama seperti saat tanganya membunuh Adiknya sendiri. Meskipun ia tak menyadarinya.
Sosok dalam tubuhnya pun kini telah mati. Dari jiwa yang rapuh dan berakhir dengan kesiasiaan. Entah karena apa ia membunuhnya. Tidak pernah ada yang tahu.
Tamat.
MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH
__ADS_1