Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
Istriku punya cem-ceman (Cerita Lucu)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Belakangan ini kuamati ada yang aneh dengan gelagat Idah, istriku. Tiga hari belakangan bahkan aku mendengarnya mengigau memanggil-manggil nama bang Limin, entah siapa itu.


Awas saja kalau Idah berani macam-macam di belakangku. Gini-gini aku mantan juara tarik tambang, kalau hanya sekedar bikin bonyok lelaki hidung belang tentu tidak jadi masalah. Apalagi sebagai mandor, aku punya anak buah yang siap sedia membantuku, tinggal menambah bonusan mereka saja.


"Da, mana kopi, Abang?"


"Bentar Bang, tanggung."


Tuh, lihat saja, tidak biasanya Idah berkata begitu, selama ini istriku itu cekatan untuk segala urusan rumah termasuk menyiapkan segala kebutuhannku. Lha hari ini bahkan untuk bikin kopi saja wanita mesti nunggu perintahku.


"Idah ...." setengah berteriak aku memanggil namanya.


"Iya, Bang. Ni kopinya."Sambil meletakkan kopi di meja, mata perempuan itu tak lepas memandangi layar telefon gengamnya.


Burr. Seketika kusemburkan seduhan hitam itu. "Apa-apa'an si, Da, masa kopi rasanya pahit asin, kamu kasih apa'an ini?"


Terlihat Idah menghampiriku sambil membawa toples berisi serbuk putih. "Eh ... dalah ternyata keliru, Bang, yang Idah masukkan tadi ternyata garam. Maaf ya, Bang."


"Kamu itu, Da, yang dilihat hp melulu, apa wes gak sayang sama, Abang."


"Sayang la, Bang," jawabnya pelan tetap dengan layar gawainya.


Ah, lihat saja. Jangan sebut nama Memed kalau aku tak bisa menemukan lelaki itu.


***


Semalam, lagi-lagi si Idah merancau nama si Limin itu lagi.


Pagi ini aku berencana membeli cctv. Sebagai lelaki tentu saja aku tak mau harga diriku dikoyak-koyak seperti ini. Awas saja kalau istriku itu sampai membawa cem-cemannya itu masuk rumah ini. Mati, mati saja deh.


Tadi malam aku juga sempat bertanya-tanya pada anak semata wayangku itu perihal pekerjaan ibunya akhir-akhir ini. Jawaban yang kuterima sungguh mencenggangkan, Idah akhir-akhir ini sering senyum dan tertawa sendiri setiap kali melihat layar benda pipih miliknya itu.


"Abang berangkat jam berapa ke proyek?"


"Kenapa, Da?"


"Lha Abang ditanya malah nanya, Idah mau nebeng abang ke pasar."


"Bukannya biasanya kamu ke pasar tiga hari sekali. Kok ini sudah ke pasar lagi, kemaren kan baru belanja, Da."


"Iya, ada yang Idah belum beli, Bang. Terus sudah janjian pula dengan pedangangnya mau Idah ambil sekarang karena kemaren barangnya belum datang."


"Pedagangnya lelaki, Da?"


"Ih ... Abang kalau nanya aneh-aneh, kayak satpol pp saja."

__ADS_1


"Udah, Bang ayo berangkat!"


Terpaksa kuambil kunci mobil dan segera melaju menuruti permintaan Idah,.


Tepat di ujung jalan menuju pasar. Istriku itu sudah minta turun. Katanya tak usah diantar sampai pasar. Ia pun meminta izin untuk ke rumah temannya mengambil bolu yang diminta, Adit, putraku. Ah, gelagatnya semakin membuatku curiga.


Setelah kuturunkan dia. Gegas kutancapkan gas dan mencari toko yang menyediakan alat pengawas itu. Acara ke proyek hari ini sengaja kubatalkan. Rumah tanggaku lebih penting untuk dipikirkan saat ini.


Kutelfon asistenku, Budi, untuk segera ke rumah. Aku tahu dia paling pintar kalau untuk pasang-pasang alat-alat seperti ini.


"Cepetan, Bud, keburu nyonya datang."


"Memang kenapa, Bang?"


"Sudah kau tak perlu tahu. Kerjakan saja, nanti bonusmu aku tambahi."


"Siap, Bos."


"Kamu kalau lihat duit, selalu ijo matanya kayak cewek saja." Budi hanya tertawa berbahak mendengar nyinyiranku.


Tak berselang lama, terlihat Idah sudah ada di depan rumah. Aku menyuruh agar Budi segera pergi.


"Lho Abang kok sudah pulang?" Belum sempat kujawab mata Idah sudah berpindah memandangi pegawaiku itu. "Lho kamu, Bud? Tumben pagi sudah ke sini."


"Iya ada masalah di proyek yang lain. Ah, kamu takkan paham, Da. Itu tentang banggunan." Sebelum Budi membocorkan apa yang ia lakukan buru-buru kucari alasan.


"Ini kunci lemari kantor ketinggalan." Kuperlihatkan rangkaian beberapa kunci. "Ayo Bud, kita pergi."


Kusodorkan tangan untuk dikecup Idah. Ini juga sebagai simbol kalau aku ini masih suami yang harus dihormati.


***


Di kantor, aku tak bisa menyembunyikan kegelisaan. Kamera pengawas yang terpasang di rumah itu terhubung dengan ponsel yang aku bawa.


Sedari tadi tak terlihat aktivitas berarti. Idah seperti biasa mengerjakan pekerjaan rumah, hanya saja ada yang sedikit berbeda, setiap ia melakukan sesuatu, bolak-balik wanita itu melihat layar gawai, tersenyum tersimpuh kemudian beraktivitas kembali.


Ah, bagaimana bisa aku dapat bukti kalau seperti ini.


Aku sampai di rumah menjelang maghrib. Idah menyiapkan makan malam. Untung saja anak lelakiku itu lebih suka main game di kamarnya jadi aku bisa leluasa mengintrogasi istriku itu.


"Da, Abang boleh tanya tidak?"


"Hemm." Ia masih fokus dengan gawainya.


"Da, Abang ini serius."


"Ia, Bang. Tanya saja, Idah mendengarkan." Masih dengan layar handpone-nya.

__ADS_1


"Midah masih sayang, Bang Memed, kan?"


"Iya, Bang."


"Da ... !" Kali ini suaraku sedikit meninggi melihatnya lebih fokus dengan gawainya dari pada terhadapku.


"Abang kenapa bentak-bentak Idah?" Tiba-tiba, dia bangun dan berbicara selevel dengan suara bentakanku.


Kali ini emosi sudah berada di ubun-ubun. Wanita ini perlu tahu kalau tak pantas mengabaikan suaminya seperti itu.


"Kamu itu diajak ngomong malah yang dipandangi hp melulu." Tertumpah sudah segala keluhku. "Sudah seminggu ini Abang lihat gelagat Idah aneh. Bikin kopi saja Abang yang nyuruh dulu. Jangan-jangan Idah sekarang punya lelaki lain yang aku tidak tahu."


"Abang! Itu fitnah, gak ada buktinya." Suara perempuan yang kunikahi sembilan tahun lalu itu semakin meninggi.


"Ada kok buktinya."


"Bukti apa, Bang?"


"Tiap malam kamu sering merancau memanggil-manggil nama Bang Limin. Entah, siapa itu Limin. Aku tak ingin harga diri Abang diinjak-injak, Da."


Ia hanya menatap dengan tatapan yang tak percaya atas ucapanku.


"Seminggu ini bahkan kau senyum-senyum sendiri setiap kali lihat hapemu. Mana kulihat obrolan dengan lelaki itu."


Segera kuambil gawai yang dipegangnya. Kulihat video lelaki itu. Tampan, tentu saja aku kalah darinya. Tapi ini kan artis yang biasa nonggol di tivi itu.


"Ini siapa, Da?"


"Ya, itu Lee Min Hoo bukan limin, artis yang Abang sangka kekasih gelapku. Abang jahat banget sudah nuduh Idah begitu."


Waduh bisa gawat ini, mampus aku malam ini


"Ini bantalnya. Abang tidur saja di luar."


"Eh eh eh..." aku masih saja terbengong tak mengerti situasi saat ini.


Braakk, sampai suara bantingan pintu kamar yang di banting Idah terdengar nyaring. Mampus, bisa bisa aku tidur diluar 1 bulan


"Mak pak, jangan berisik! Aku sedang main game!!" Anak semata wayangku berteriak dari dalam kamarnya.


Hah, nasib nasibb..


Cerpen karangan : Windy Aira


Tamat.


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2