Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
27 menit yang menyedihkan (Cerita keluarga)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏


"Aku pulang.." Kataku sembari membuka pintu dan melempar tas ke sofa ruang tamu. Lagi-lagi tak ada orang di rumah. Aku segera melepas sepatu dan berjalan ke kamar. Merebahkan diri di atas kasur empukku. Aku mencari handphone-ku. "Ada pesan? Tumben.." Aku segera membuka pesan tersebut. "Mama? Masih ingat aku ternyata.." Kataku sambil tersenyum masam.


7 September 2012


"Mama.. mau ke mana?" Tanyaku melihat mama yang menata bajunya ke dalam kantong plastik besar.


"Mau ke tempat laundry. Mama enggak lama kok. Ini uang buat bayar listrik. Kan Kak Fia lagi tidur, kalau sudah bangun dibilangin ya?" Kata Mama sambil menangis.


Apa yang salah? Kenapa Mama menangis? Aku yang tak tahu apa pun ikut menangis. Entah mengapa, rasanya sakit. Rasanya seperti Mama akan pergi lama sekali. Mama memelukku dan mengecup keningku. Ia pergi dengan menaiki sebuah motor. Aku membuntutinya sampai depan gerbang. Aku terdiam. Aku menangis.


"Kak.. Bangun. Tadi, kata Mama ini uang buat bayar listrik." Kataku dengan polos. Aku masih menangis waktu itu. Kalian tahu. Kakakku hanya memelukku kemudian menangis. Menangis sekencang-kencangnya.


Pukul 22.27 WIB, Papa pulang. Papa dinas dari kota Pekalaungan. Wajahnya yang kelelahan memudar ketika melihatku. Namun, wajah paniknya mulai muncul ketika ia melihat mata kedua putri kecilnya sembab. "Motor yang satunya lagi mana?" Tanya Papa kepada Kak Fia.


"Mama.. Mama pergi, Pa." Kak Fia tak kuasa menahan tangis. Papa memegang dada sebelah kirinya dan menjatuhkan tasnya. Papaku mempunyai penyakit jantung koroner. Aku tak tahu apa yang terjadi. Aku benar-benar tak tahu. "Papa!!" Kak Fia berusaha menahan teriakannya.


"Fia, tutup saja gerbangnya. Mama gak akan pulang lagi." Kata Papa berusaha berkata setenang mungkin. Kak Fia segera melakukan perintah Papa. Papa berusaha berdiri tegak. Ia menatapku nanar. Bibirnya mengukir sebuah senyum getir.


Aliran air mataku tak bisa ku bendung lagi. Peristiwa itu. Mama. Oh Tuhan, pahit sekali hidup ini. Tanganku bergetar membaca pesan dari Mama. "Selamat Pagi putri kecilku. Bagaimana kabarmu, Celin? Mama merindukanmu." Begitu isi pesannya. Aku tak boleh membenci Mama. Bagaimanapun pula dia juga orang yang telah bertaruh nyawa demi melahirkanku, bukan?


11 Desember 2013


"Celin, Papa Mama sudah cerai." Kata Papaku tanpa basa-basi. Aku terdiam.


"Kamu enggak apa-apa kan?" Lanjut Papa.


"Ha? Iya, Pa. Celin enggak apa-apa kok." Jawabku sambil mengukir senyum.


"Ah, Papa tahu kamu anak yang kuat." Jawab Papa sambil mengelus kepalaku. Hei, apa kalian tahu bagaimana perasaanku? Rasanya hatiku sudah remuk. Oh, bukan hanya remuk. Rasanya hatiku sudah hancur menjadi debu. "Papa menyetujui gugatan cerai Mama juga karena Kak Fia. Kak Fia bilang 'Untuk apa mempertahankan Mama, kalau Mama sudah tak ingin dipertahankan?' Kak Fia juga ada benarnya." 


Terlihat guratan kesedihan dari nada suaranya. Aku terdiam. Aku berpikir. Mempertahankan Mama? Untuk aku? Apa itu tak ada gunanya? Mungkin tak ada gunanya untuk Kak Fia karena ia sudah kuliah. Tetapi, untuk aku? Aku yang menginjak kelas 6 SD? Apa itu tak berguna? Oh Tuhan, haruskah aku menjadi dewasa sebelum waktunya? Aku melihat ke arah jam dinding. Sudah 10 menit air mata ini mengalir. Air mata ini tak ingin berhenti. Luapan emosi yang ku pendam selama ini tumpah seketika. Kenapa semua ini terjadi padaku?

__ADS_1


03 April 2014


"Mama sudah menikah." Kata Kak Fia dengan wajah datar.


"Oh, ya? Baiklah kalau begitu." Jawabku biasa saja.


Ya, kami memang tak kaget. Untuk apa kaget? Lagi pula, ini semua kesalahan Mama. Sekarang kami tahu semuanya. Mama pergi meninggalkan rumah dengan alasan tak bahagia. Namun, pada kenyataannya di luar sana ada lelaki bejat yang menarik perhatian mamaku.


"Lelaki berengsek!" Kata kakakku tiba-tiba. Kak Fia emosi. Ia sudah tak dapat menahan semuanya.


"Sudahlah, Kak. Biarkan saja." Kataku sambil tersenyum kemudian pergi meninggalkan kamar. Lelaki itu bukan hanya sekedar berengsek. Dia adalah sampah yang terburuk di antara sampah yang paling buruk. Sampah? Ya, sampah! Mama. Dia yang seharusnya ada di sampingku telah bersanding dengan pria lain. Entah apa yang ada di pria itu sampai-sampai membuat Mamaku jatuh hati kepadanya. Memang, lelaki itu tak tahu jika Mamaku sudah mempunyai suami?! Benar-benar tak tahu diri. Air mataku masih belum mau mengering. Aku rindu Mama.


12 November 2014


"Papa! Ayo cepetan! Celin udah telat!!" Aku membentak Papa. Papaku hanya terdiam. Ia meminum obat kemudian mengambil kunci motor. Tatapannya sangat tak mengenakan.


Aku segera menaiki motor. Mungkin, emosi Papaku sudah tak dapat dibendung lagi.


"Celin, kamu itu tak ada bedanya sama Mamamu. Mamamu itu keras kepala. Kamu jangan seperti dia! Sifat buruk Mamamu jangan kamu tiru! Kamu itu bodoh! Seharusnya kamu meniru sifat baik Mamamu saja!" Papa membentakku ketika berkendara. Hal itu membuat orang-orang memperhatikanku. Aku malu. Aku ingin marah. Aku ingin berteriak.


Lagi-lagi tak ada yang menjemputku pulang sekolah. Terpaksa, aku harus berjalan. Sekolahku memang tak terlalu jauh. Manja? Bukan itu! Barang di dalam tasku ini terlalu berat. Punggungku sakit jika seperti ini terus. "Celin pulang!" Kataku dengan nada kesal.


"Kok udah pulang?" Tanya papa dengan santai.


"Celin emang pulang jam segini. Masa Papa enggak tahu? Oh iya, Papa kan enggak pernah jemput Celin pulang sekolah." Kataku sambil melepas sepatu.


"Enggak pernah jemput?" Tanya Papaku yang emosinya mulai naik.


"Mmm.. Pernah sih. Berapa kali ya? Bisa dihitung pakai jari." Kataku sambil masuk kamar. Papaku terdiam. Aku tahu, Papaku pasti sangat emosi.


Aku duduk di atas kasur dengan emosi yang masih meluap. Aku mengambil handphone dan segera mendengarkan musik dengan volume cukup keras. Tiba-tiba Papaku masuk ke dalam kamarku.


"Celin, kenapa kamu sekarang jadi susah diatur? Kenapa kamu jadi sering berontak gini?" Tanya Papa.

__ADS_1


"Aku rindu Mama. Aku cuma mau Mama." Aku menjawab singkat.


"Ya, anggap saja Kak Fia itu Mamamu." Papaku menjawab dengan santai.


"Kak Fia bukan Mama! Dan Kak Fia enggak pernah bisa menjadi seperti Mama! Celin cuma butuh Mama! Bukan Kak Fia!" Teriakku. "Celin!!!" Papaku mengangkat tangannya bersiap untuk menamparku.


"Tampar, Pa!! Tampar! Celin enggak takut!" Jawabku dengan penuh emosi. Terdengar isakan tangis Kak Fia. Ia segera mengambil kunci motor dan pergi entah ke mana. Papa keluar dari kamarku.


Peristiwa itu terlalu pahit untuk dikenang. Aku yang berumur 13 tahun merasakan hal pahit seperti itu. Seharusnya memang ada Mama di sampingku. Kakakku tak akan pernah paham maksudku begitu pula Papaku. Mereka tak pernah berada di posisiku. Mereka tak pernah merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa Mama di usia 13 tahun. Aku sudah menangis 15 menit lamanya. Aku ingin membenci Mama. Aku ingin membenci Papa. Tapi, aku lebih membenci diriku yang mencoba untuk membenci orangtua kandungku.


15 Maret 2015


Aku melihat ke arah cermin. Aku terlihat sangat cantik hari ini. Aku melirik Kak Fia. Kak Fia terlihat sangat anggun dengan dress warna pinknya. Kecantikannya tak perlu diragukan lagi. Aku melihat ke arah cermin lagi. Berusaha tersenyum. Ini hari pernikahan Papaku. Seharusnya aku senang, bukan? Mempunyai seorang "Ibu baru". Hari ini, Papaku akan menikahi seorang janda dua anak. Jujur saja, aku tak ingin Ayahku menikah lagi. Tak ada yang bisa menggantikan Mama. Walaupun Mama selingkuh. Ya, begitulah. Ketika acara pernikahan sudah selesai aku duduk di sofa ruang tamu. Aku melihat foto Mama Papa yang berada di tembok berwarna biru muda itu. Aku mengamati senyum bahagia Mama Papa. Oh, indahnya. 


"Celin.." Kata Tante Tyas dengan lembut sembari duduk di sampingku.


"Iya? Ada apa, Tante?" Jawabku.


"Mmm.. Begini, nanti keluarga dari 'Ibu baru'-mu akan datang ke sini. Tante mau minta tolong, lepas semua foto Mama dan Papamu itu. Simpan saja di kamarmu." Kata Tante Tyas tanpa dosa. "Tapi, Tante, nanti kalau keluarga Ibu udah pulang, fotonya boleh dipasang lagi?" Tanyaku dengan tenang.


"Ya enggak dong, Celin sayang. Mamamu kan sudah bukan bagian dari keluarga kita lagi." Jawab Tante Tyas sambil mengecup keningku. Kemudian ia berdiri dan menghampiri Papaku. Bagiku, Mama tetap saja bagian dari keluargaku. Mama tak ada gantinya. Sekali lagi. Mama tak ada gantinya.


Air mataku semakin deras ketika mengingat bahwa sekarang ada perempuan lain yang bersanding dengan Papa. Rasanya tak rela. Tapi, ya sudahlah.


"Aku rindu Mama." Kataku lirih. Lagi-lagi aku memperhatikan jam dinding. Sudah 23 menit aku menangis.


"Aku rindu Mama. Aku rindu pelukan Mama. Aku rindu kecupan Mama. Aku rindu masakan Mama. Aku rindu mendengar suara Mama. Aku rindu mendengar suara tawa Mama. Aku rindu ketika Mama menjemputku sekolah. Aku rindu ketika aku pergi berdua bersama Mama. Aku rindu ketika Mama menyanyikan lagu tidur untukku. Aku rindu ketika Mama bercerita tentang masa kecilnya. Aku rindu ketika Mama menyuruhku mandi." 


"Aku rindu ketika Mama marah kepadaku. Aku rindu cubitan kecil Mama. Aku rindu ketika Mama mengepang rambut panjangku. Aku rindu ketika Mama menyuapiku makan. Aku rindu ketika Mama menyirami tanaman. Aku rindu ketika Mama bernyanyi. Aku rindu Mama! Aku hanya butuh Mama! Aku tak ingin yang lain! Hanya Mama! Andai waktu bisa diulang! Aku enggak bakal biarin Papa Mama cerai!" Aku berteriak. Memang, tak ada yang mendengar teriakanku karena aku seorang diri di rumah. Aku sudah tak tahan menahan rindu dan emosi. Aku hanya ingin meluapkan semuanya lewat tangis dan teriakanku ini.


"Celin enggak boleh nangis lagi. Celin harus bangkit. Celin kuat. Celin bisa. Celin harus belajar mensyukuri hidup dan hidup bahagia." Kataku kepada diriku sendiri. Aku tersenyum. Ku lirik jam dinding kamarku. 27 menit. Aku menangis selama 27 menit. Sekarang, aku sudah lega. Aku memang masih merindukan Mama, namun setidaknya aku lebih tenang. Aku berjalan ke kamar mandi dan mencuci muka. Aku kembali ke kamar dan tidur. Aku berharap memimpikan keluarga sederhana yang hidup bahagia. Keluargaku yang dulu. Keluarga yang sekarang sudah hancur, tetapi aku tetap mencintainya.


TAMAT...

__ADS_1


Cerpen Karangan: Wardhani (temen author)


Hai. Panggil saya Wardhani. Umur saya 14 tahun. Ini tulisan pertama saya.(karena temen saya Alifa, bilang saya bakat dalam menulis dan saya punya konsep dan cerita) Maaf kalau masih berantakan. Sebenarnya, ini kisah saya. Tapi, saya tidak mau banyak orang tahu. Karena saya takut dihujat. Maka dari itu, saya tidak menggunakan nama asli saya di cerpen tersebut. Saya anak broken home. I Love My Broken Home Family.


__ADS_2