
SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏
Sepertinya sore ini akan turun hujan, aku harap hujan ini tidak turun terlalu lama. Karena aku ingin melihat Raka. Ya, dialah pacarku. Walau dia tidak pernah mempedulikanku, aku tetap saja menyayanginya.
Besok adalah hari ulang tahun Raka. Aku harus mempersiapkan hadiah istimewa untuknya. Aku tahu harus meminta tolong kepada siapa. Akupun menelepon Rani mantan sahabatku. Gadis cantik dengan rambut kuncir kuda, dan mata hitam indahnya
“Ran, kamu bisa gak sekarang temeni aku membeli hadiah untuk Raka?” Bujukku ditelepon.
“tapi kan di luar hujan sya?” ujar Rani.
“Ayolah ran, sebentar saja. Aku tidak ingin melewatkan hadiah ini untuk raka. Lagian besok aku akan memberikan surprise untuknya”
“Baiklah, ayok. Aku sudah siap, kamu ke rumahku saja”.
Tanpa berlama-lama lagi. Aku segera ke rumah Rani. Dengan hujan-hujan begini, kami menaiki angkot untuk menuju toko kue. Untung saja toko kue ini hanya berada di seberang jalan. Hanya menempuh waktu 5 menit, kamipun telah sampai.
Aku dan Rani segera memasuki toko kue yang untungnya buka. Aku memilih kue Tart dengan hiasan lilin di sekililingnya. Tak lupa dengan tulisan Happy Birthday Cintaku.
“Semoga aja Raka suka sama surprise kamu ya sya” Rani memberikan semangat padaku.
“Iya, semoga aja. Aku harap setelah dia berulang tahun yang ke-16 ini, dia bisa peka dengan perasaanku ini”.
"Kamu gak marah kan sama aku??" Tanya Rani
"Gak kok, aku tahu yang kemarin itu cuma salah paham Rin" aku berbohong, padahal itu menyakitkan bagiku, dan tau kebenarannya.
Setelah selesai, aku dan rani pun pulang ke rumah.
Keesokan harinya tiba, aku segera bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Aku sudah tidak sabar untuk memberikan surprise ini pada Raka.
Setelah semuanya sudah siap, akupun berangkat.
Setibanya di sekolah, aku segera masuk ke kelasku. Aku dan Raka berbeda kelas. Jadinya kami hanya bertemu saat jam pulang sekolah, atau sekedar berbica sebentar saat jam istirahat.
“Teng… teng..” Bel pulangpun berbunyi. Aku sudah tidak sabar untuk melihat ekspresi raka saat aku memberikan kejutan ini padanya. Aku pun berlari ke kelas Raka. Dengan membawa hadiah di tanganku.
Aku telah tiba di pintu kelasnya Raka. Disana aku melihat Raka sudah diberikan surprise duluan oleh teman-temannya, dan dia terlihat sangat bahagia. “Sepertinya dia sudah tidak mengharapkan aku lagi di sisinya” gumamku dalam hati.
“Eh sya? Lu ngapain disini? Masuk aja, tuh ada Raka” tanya salah satu temannya Raka.
“Ga usah deh dit, aku cuma mau nitip ini aja ke kamu. Tolong kasih ke Raka ya, aku mau pergi dulu”. Jawabku dengan nada kecewa.
Akupun berlari pulang ke rumah dengan air mata yang keluar tak henti-henti. Aku sangat sedih, sampai-sampai aku tidak melihat arah di kedua sisiku. Aku menyeberang jalan, dan tiba-tiba ada sinar yang menyilaukan mataku. *Tin.. tinn..* ternyata itu sebuah mobil, yang jaraknya sudah sangat dekat denganku. Aku berteriak sangat kencang.
“Aaaa…” Teriakku.
Mobil itu menabrak, dan membuatku terpental ke sisi jalan. Aku dapat mendengar seseorang yang berteriak. Suara ini sangat hangat.
“Tasyaa!!” Teriak seseorang.
Aku dapat melihat walau tidak terlalu jelas. Ternyata itu Raka. Dia mengangkat kepalaku ke atas bahunya, dia terdengar sangat khawatir.
“Sya bangun!! Maafin aku sya, yang tidak pernah mempedulikanmu”
“Ra.. raka..”
“Iya sya, aku disini. Bangunlah sya, aku tidak sanggup melihatmu seperti ini”.
“Ha..ppy.. Birth..day ka.. Aku san..gat.. Menya..ya..ngi..mu. Se..moga.. Kamu.. Selalu.. Bahagia..”.
“Aku juga sya, bangunlahh!!”
“Aku gak kuat ka.. Boleh..kah.. Aku.. Meminta.. Per..mintaan terakhir?”. Pintaku pada Raka.
“Apapun untukmu sayang”.
__ADS_1
“Tol..ong.. Pe..luk aku ka.. Aku.. Ingin.. Merasaka..n pelu..kan ter..akhir mu..”.
Rakapun memelukku. Aku membalas pelukan terakhirnya dengan sisa-sisa tenagaku. Aku dan Raka berpelukan, sampai semuanya menjadi gelap.. semuanya... gelap gulita, aku tak bisa melihat apa apa, aku masih ingat pelukan hangat itu. Tunggu... kenapa seakan memory ku terbang keluar semua, cahaya apa itu?? Terang sekali, suara apa itu?? Berisik sekali, kumohon diam lah!! Cahaya terang itu semakin terang saja, aku membuka mataku, banyak orang yang mengelilingiku. Tapi aku tidak mengenali mereka semua, tunggu... kenapa pria muda memelukku?? Melihat seragamnya, sepertinya dia baru berusia 16 tahun, siswa baru SMA. Tapi kenapa dia memelukku?? Punggung ku terasa basah, sebentar.. eh kenapa pria muda ini menangis??
"Tasya, kamu gak papa kan sayang, ada yang sakit. Sebentar ya.. kakak kamu sedang munuju kesini nak" ucap wanita paruh baya di sisi kanan ranjangku.
Dia siapa?? Aku tak mengenalinya, lalu siapa Tasya??
"Kamu siapa?? Aku kenapa?? Dan... aku siapa??" Sekarang.. aku penuh dengan pertanyaan
Semua orang diruangan itu tampak sedih mendengar pertanyaan ku. Apa ada yang salah dari pertantaan ku?? Aku hanya tidak mengenali siapa diriku??
"Bibi.. kak Ara disini" ucap seorang wanita muda masuk keruangan serbah putih itu bersama seorang wanita dewasa berjubah putih, dari penampilannya tek namanya, aku tahu dia seorang dokter dan dia bernama dokter Dianra. Entah kenapa aku merasa sangat akrab dengan nama itu.
"Tasya.. kamu sudah sadar dik??" Tanya dokter itu.
Sekali lagi, Tasya itu siapa sih?? Kenapa semua orang memanggil aku dengan nama itu???
"Kamu siapa??" Tanyaku pada dokter itu
"Ara.. entah kenapa, Tasya tidak mengingat kita semua" ucap wanita paruh baya pada dokter itu.
"Apa!!" Kaget wanita muda cantik yang membawa dokter masuk keruangan tadi.
"Sya.. kamu ingat aku kan?? Aku Rani sahabat kamu Sya. Ini mamah kamu, ini kak Ara kakakmu, dan ini Raka. Laki-laki yang sudah kamu kejar sedari SMP sampai sekarang Syah" ucap Wanita yang katanya bernama Rani itu menjelaskan padaku
Tapi aku masih tidak mengenali mereka semua.
"Kalian semua siapa??" Tanyaku kebingungan
Nama nama mereka seakan berterbangan dikepalaku.
Aku merasa akrab dengan mereka, tapi entah kenapa aku tidak mengenal mereka!! Kepalaku sakit, aku mencoba dengan keras untuk mengingat mereka, tapi kepalaku sekarang bagaikan bom waktu, yang akan meledak. Tolong hentikan memaksaku mengingatnya.
"Rani, hentikan!! Jangan paksa Tasya untuk mengingatnya"
Aku merasa kesal padanya, tapi entah kenapa, aku tak bisa marah ketika melihatnya. Ada perasaan akrab pada wanita ini. Tunggu kenapa dokter berkata jangan paksa aku untuk mengingatnya?? Apa yang harus diingat?? Apa aku amnesia??
Dokter itu berbalik, manatapku dengan tatapan yang lembut. Ia tersenyum hangat, aku merasa kenal dengan senyuman itu, tapi dimana aku melihatnya??
Dokter itu memegang pundakku sambil ia berkata "Hah.. Sya, kita mulai dari yang mudah ya. Ingat ini, namamu Tasya Amelia, putri bungsu dari 2 bersaudara, dan aku kakak kandungmu, Dianra"
Tunggu dia tadi bilang apa?? Sebentar... namaku.. Tasya Amelia?? A.. aku.. Tasya, yang mereka sebut dari tadi?? A.. aku..Tasya. ya.. aku Tasya.. tadi dia bilang dia siapaku?? Kakak?? Dokter Dianra.. dokter Dianra.. Dianra....... Kak Ara. Ya kakakku, lalu... mereka semua siapaku?? Aku tak bisa mengingatnya, aku hanya mengingat dia, kakakku, kak Ara.
"Kak Ara.." panggilku pada kak Ara
Ia tersenyum senang, sepertinya karena aku mengingatnya.. ia pun memelukku dengan erat.
"Kamu ingak aku dik?? Kamu ingat mamah?? Kamu ingat Rani sama Raka gak??" Tanya kak Ara.
Aku pun membuat ia kecewa dengan satu gelengan.
Tapi aku benar benar tidak mengingat mereka semua.
"Aku amnesia ya??" Tanyaku
"Ya, kamu sepertinya harus kembali ke tempat tempat yang bisa mengingatkan mu masa lalu mu dik"
"Apakah butuh waktu yang lama kak??"
"Kakak juga tidak tau, labih baik kita mulai dari kamu pulang kerumah dan lingkungan yang familiar bagi kamu sebelumnya, dan kembali mengenal keluarga kita dan teman temanmu. Dari papah, mamah dan Rani" jelas kak Ara
"Kamu bener bener gak ngingat apapun tentang Raka Syah??" Tanya wanita bernama Rina ini
Aku pun menggeleng yang menandakan jawaban 'tidak'
__ADS_1
#######
Aku sudah berada di rumahku sekitar 11 bulan, papah dan mamah masih melarangku ke sekolah. Ya aku sudah mengingat semua keluarga ku
Tapi entah mengapa, aku masih tidak mengenal siapa itu Raka atau pun siapa itu Rina. Aku merasa yang tidak mau mengingat mereka, aku merasa... ada yang pernah mengecewakan ku. Aku merasa ada yang menghianatiku, aku merasa... ada yang tidak membalas persaanku. Entah kenapa.. hatiku tidak mau mengingat mereka berdua. Rasanya berat untuk melupakan mereka, tapi rasanya juga sakit kalau aku mengungat mereka.
Cekreek, pintu kamarku terbuka, kak Ara masuk ke kamarku dengan senyuman hangat di wajahnya.
"Masih belum bisa ngingat Rina sama Raka ya??" Tanya kak Ara sembari duduk di sisi ranjangku...
Aku terdiam.. kak Ara pun tampak sudah mengetahui jawabannya dari ekspresi ku
"Hah... gak heran sih kamu gak ngingat mereka, mungkin hati kecilmu tidak tak mau mengingat mereka berdua"
Kak Ara bilang hatiku gak mau ngingat mereka, memangnya kejadian apa yang membuat hatiku tak mau mengingat mereka??
"Kak, kakak tadi bilang apa?? Kanapa aku tak mau mengingat mereka??"
"Kamu belum ingat waktu kamu ngepergokin mereka??" Tanya kak Ara menggenggam tanganku
"Kejadian apa?? Aku gak ingat!!"
"Kamu sudah suka Raka dari SMP, kamu juga sudah sahabatan sama Rani dari SMP. Saat perpisahan SMP setahun yang lalu, kamu pulang dan lari ke kakak dengan berlinang air mata. Kamu bilang Rani nyatain cinta sama Raka, dan kamu bilang Rani mencium Raka"
Aku bagai di sambar petir. Sebelum kak Ara mengatakan ini, aku mengira Rani adalah sahabat dekatku dulu. Tapi dia ternyata penghianat.
Aahhhh!!! Kepala ku sakit, aahhh!!! Ingatan apa ini?? Aku tak ingin mengingatnya, pergi!! Aaahhh sakittt!!
Pandanganku mulai kabur, samar samar aku lihat Kak Ara berteriak memanggil mamah. Aahh!!! Sakit.. ya tuhannnn!!!! Rasa sakit apa ini?? Aku merasa kak ara menggoncang tubuhku, mencoba membuatku tetap sadar. Lalu semuanya menjadi gelap gulita.
Aku terbangun di ruangan yang serbah putih lagi, ahh.. ini rumah sakit. Aku lihat mamah ku tertidur di sisi kiri ranjangku, aku lihat papahku memasuki ruangan. Ia tersenyum melihatku sudah sadar.
"Kamu jangan paksa ingatan itu ya nak, kalau hatimu gak mau mengingatnya" ucap papah
Papah mengoyangkan tubuh mamah, membangunkannya.
Mamah bangun dan langsung memelukku erat.
Cekreek.. pintu ruang rawatku terbuka, kak Ara masuk dengan membawa infus ditangan kanannya.
Ia berjalan cepat menghampiriku sambil tersenyum.
"Kamu gak usah mengingat mereka ya.. masih ada mamah, papah dan kakak. Kamu juga masih punya banyak teman teman" ucap kak Ara
Cekreek.. pintu terbuka lagi, seorang gadis cantik berambut hitan panjang dan seorang gadis berjilbab terlihat diambang pintu. Ya... itu 2 sahabatku, Nadya dan Alifa, mereka tersenyum hangat sembari berjalan masuk.
Aku sangat senang melihat mereka, aku merasa tidak sendirian dengan adanya mereka berdua disini.
"Tuh kamu lihat, Nadya dan Lifa selalu ada disisi mu"
Aku hanya menggangguk senang
"Hey Sya😊😊" sapa mereka berdua bersamaan
"Lif, Nad.. makasih ya udah jengukin aku"
"Iya.. emm i'm sorry ya, kita kemarin gak jengukin kamu. Kita sibuk banget sama organisasi" ucap Alifa
"Iya.. santai aja" ucap ku tersenyum hangat.
"Ya udah Syah, kamu gak usah mekirin Rani si pengkhianat itu ya. Sahabat itu yang selalu mendukung, buakn yang menusuk dari belakang" ucap Nadya. Aku hanya mengguk kecil.
Kami pun mengobrol dengan riang.. aku merasa tidak sendirian lagi. I love you sahabat, dan.. terimakasih
TAMAT...
__ADS_1
CERITA NYATA DARI: TASYA AMELIA
Ini tuh teman author yang amnesia, yang membuat author diluapain hingga berbulan bulan. 👆👆👆