Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
Ajari aku tertawa (Cerita Romantis)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


"Kau ini masih tanggung jawab Bapak, Rum. Maka, kamu wajib nurut apa kata Bapak," titah ayah kandungku itu tak mau dibantah.


Bapak pergi meninggalkanku yang masih duduk membisu.


Menunduk. Terdiam untuk beberapa saat. Air mata mengucur tak terbendung lagi. Ibu tak banyak bicara. Ia berada di tengah-tengah antara aku dan Bapak.


"Turuti saja Bapakmu, Nduk! Sampai kapan kau begini?" Nasehat Ibu sambil mengusap punggung dan merangkul agar kepalaku bersandar di bahunya.


"Aku hanya mencintai Mas Bram, Bu. Dia berjanji akan datang," ucapku sambil terisak.


"Ini sudah dua tahun, Nduk. Dia bahkan tak memberi kabar apa pun sejak terakhir kali kemari." Ibu menatap mataku lekat, membuatku semakin gamang dengan hubunganku dengan Mas Bram.


Dua tahun yang lalu, kekasihku itu telah datang ke rumah untuk menyatakan kesungguhannya mempersuntingku sebagai istri. Atas berbagai pertimbangan Bapak memberi jeda setahun sebelum hubungan benar-benar diresmikan.


Itu adalah terakhir kali aku bertemu dengannya. Pria jangkung itu akhirnya pergi mengadu nasib di pulau seberang. Ada satu perusahaan yang membutuhkan tenaganya. Mengingat ia sarjana teknik mesin.


Meski berjarak, hubungan kami tetap terjaga dengan baik. Setiap saat kami berkirim pesan lewat whatsapp. Berbagi temu lewat videocall. Segala yang ia lakukan dan masalah yang ia alami tak pernah luput dari perhatianku.


Ada moment bahagia serta haru saat kami berbincang malam itu. Sebab satu bulan lagi kami akan bertemu raga dan tentu melaksanakan hajat yang sudah kita rencanakan sebelumnya. Tapi siapa sangka, itu adalah panggilan video terakhirku dengannya. Sejak saat itu tak ada lagi pesan yang kuterima. Pesan-pesan yang kukirim hanya centang satu saja.


Tak ada jawaban yang kuterima saat aku bertanya pada teman serta kerabat dekatnya. Hatiku sungguh pilu. Antara khawatir, rindu serta amarah jadi satu. Anehnya, terus saja aku menunggu kehadirannya. Berharap dan berharap ia datang dengan senyum termanis yang selalu kudambakan.


Harapanku sepertinya sia-sia. Ini sudah hampir setahun aku mengharap sosoknya menyapa meski sekedar pesan saja.


"Besok keluarga Rendi akan datang kesini untuk meminangmu. Mau tidak mau kamu harus menuruti apa kata Bapak. Menerima lamarannya," ucap Bapak dari luar rumah.


"Tapi, Pak. Ak--."


Belum sempat kuselesaikan bicaraku, Bapak sudah menyela tanpa jeda.


"Tidak ada tapi. Ini sudah keputusan Bapak. Aku tak ingin banyak omongan di luar sana semakin liar kalau kau itu perawan tua, tak laku-laku ...." ucap Bapak tegas.


Sekali lagi aku masih terisak di pelukan Ibu. Mengapa harus begini? Rendi? Ya, aku memang mengenalnya. Dia masih saudara jauh bapak. Beberapa kali aku bertemu dengannya saat acara keluarga besar. Lelaki itu pun bahkan tahu tentang hubunganku dengan Mas Bram. Tak menyangka kalau jadinya akan seperti ini.


Tak ada yang salah dengan didikan orang tuaku. Bahkan keluarga cukup demokratis perihal banyak hal terkait kehidupan. Akan tetapi penilaian dan penghakiman masyarakat membuat Bapak dan Ibu harus membuat sebuah keputusan, walau itu akhirnya menguliti relung hatiku.


"Terima sajalah, Nduk. Bapak dan Ibu dulu juga menikah karena perjodohan. Belajar mencinta dan menerima pasangan. Karena kehidupan pernikahan itu tak cukup hanya sekedar kau cinta dengan dia saja. Banyak faktor. Pernikahan itu seperti sekolah seumur hidup. Nurut yo, Nduk!" Petuah Ibu membuatku semakin tergugu. Ada satu sisi hati ingin berontak, tetapi sisi yang lain bisa menerima apa yang Ibu katakan.


Malam ini, sulit sekali memejamkan mata. Ada yang berkecamuk dalam dada. Ingin lari dan pergi dari situasi ini, tapi kemana? Kekasihku itu bahkan tak kuketahui keberadaannya.


Tak ada pilihan tersisa untukku, selain menerima apa yang menjadi keputusan orang tua.


****


Bibi dan beberapa kerabat sudah datang di rumah, menyambut kedatangan keluarga Rendi yang akan datang siang ini.


Aku masih menutupi diri dengan selimut saat terdengar riuh gurauan beberapa sepupu dan yang lainnya yang sibuk menata dan menyajikan suguhan.


Aku mengenal Rendi dengan baik. Beberapa kali juga sempat mengobrol dengannya, bahkan hanya dengannya aku bercerita tentang kisah cintaku dengan Mas Bram. Tapi bukan begini kisah yang kuinginkan.


"Ayo bersiap-siap. Ibu sudah memanggilkan Mbak Sum untuk mendandanimu biar cantik. Tidak kucel." Ibu menarik selimut yang menutupi tubuhku. Mengangkat tanganku dengan paksa, meksi aku sedikit enggan. Meletakkan handuk di bahu agar aku segera beranjak membersihkan diri menuju kamar mandi.


"Ibu ini apa-apa'an, si? Nanti dulu la, Bu!" Malas masih menggelayuti tubuhku.


"Ayo, cepetan mandi!" Ibu mendorong tubuhku memasuki kamar mandi.


Saat keluar dari kamar mandi, beberapa sepupu dan Mbak Sum sudah menyambut dengan semringah. Sebuah baju sudah disiapkan di atas kasur.


Kali ini, sudah tak ada pilihan lagi untukku. Mbak Sum sudah memoles wajahku. Sepupu-sepupuku berceloteh menggodaku. Aku hanya tersenyum tipis menanggapi mereka. Menyembunyikan luka itu tepatnya. Ternyata sesakit ini. Hampir setahun terluka oleh cinta Mas Bram yang tak kunjung datang, dan sebelum aku benar-benar bisa menerimanya. Kini aku dipaksa menambatkan hati pada seseorang yang bahkan dalam bayanganku saja tidak.


Aku bisa apa? Aku masih tanggungan orang tuaku? Saat ini nama baik keluarga yang menjadi perioritasku. Maafkan aku, Mas Bram! Kali ini aku berhenti berharap kedatanganmu. Aku kalah oleh keadaan.

__ADS_1


Satu jam berikutnya, rombongan Rendi telah datang membawa banyak hantaran.


Aku hanya duduk terdiam saat permintaan itu datang dari kedua orang tua Rendi. Lelaki itu tersenyum saat Bapak menerima dengan senang hati lamaran yang datang. Cincin itu akhirnya disematkan Rendi dijari manisku. Aku masih ragu saat hendak menyematkan cincin ke jari tangannya, tapi lagi-lagi wajah teduh Ibu seperti mengintimidasi diriku.


Tepuk tangan dan tawa gembira saat aku dan Rendi memamerkan cincin yang telah tersemat di jari manis kami masing-masing.


Menit berikutnya, semua orang menyantap hidangan yang telah disediakan. Kelakar dan guyonan membahana di penjuru rumah. Aku masih duduk di tempat semula. Memandang gawai, berharap satu pesan saja balasan darinya, agar acara ini bisa dibatalkan.


"Ngelamun apa?" Rendi tiba-tiba menghampiri dan duduk di samping.


"Kenapa kamu mau menikahiku, Rend? Sementara kau tahu kisahku dengan Mas Bram." Pertanyaan yang memang ingin kusampaikan dari awal padanya.


"Tak tahu, Rum. Hanya saja aku ingin melindungimu. Mungkin kau belum bisa menerimaku saat ini, tapi biarlah kasih sayang itu tumbuh perlahan. Lagian aku tak rela jika kau akan dijodohkan dengan yang lain, yang bahkan kau tak mengenalnya sama sekali."


"Maksudmu, Rend?" Ada hal lain yang mengusik dalam benakku saat ia menjawab pertanyaanku.


"Dua minggu lalu, aku mendengar pembicaraan Bapakmu dan Ayahku, mereka hendak memperkenalkanmu dengan teman bisnis Ayah. Seorang pria yang cukup kaya, namun entah aku masih ragu dengan karakter yang dimilikinya. Mengingatmu membuatku sedih jika kau jatuh ke tangan lelaki yang salah. Maka, entah dorongan dari mana, aku begitu saja mengambil keputusan dan menyatakan keinginanku untuk mempersuntingmu."


Tak ada ucap yang ingin kusampaikan pada lelaki yang kini telah mengkhitbahku itu. Tapi, yang kulihat ada ketulusan dalam dirinya.


"Lagian kita bisa menjadi sahabat dulu seperti sebelumnya. Sapa tahu lama-lama akhirnya kau terhipnotis juga dengan pesonaku," kelakarnya sambil menyodorkan segelas es jeruk yang segera kuteguk tanpa sisa.


Kurespon kelakarnya dengan pukulan kecil di bahu tangannya.


"Bahuku ini siap menghapus jejak bahu lelaki yang membuatmu nyaman dahulu," ia masih saja menggoda.


Aku hanya tertawa, sedikit lupa dengan sesak yang menit sebelumnya memenuhi hatiku. "Bisa aja kamu, Rend."


"Tuh, kan, kamu itu cantik kalau tertawa. Tak pantas membuatmu menangis hingga kau melupakan tentang masa depanmu."


Aku mencebik. Kuakui setiap kali bertemu dengan Rendi. Aku seperti punya cara untuk tertawa dan sedikit melupa tentang luka.


Acara berakhir dengan kepulangan keluarga Rendi. Banyak doa tersemat untuk kami agar acaranya diperlancar sampai hari H.


"Kalau kau kangen padaku. Jangan sungkan-sungkan menghubungiku, Rum!" Bisik Rendi di telingga saat ia melewatiku di halaman rumah. Membuatku tak bisa menahan tawa.


***


"Bagaimana kalau pakai ini, Rum?" Rendi menunjukkan dekorasi pelaminan.


"Terserah sajalah, Rend. Aku ikut dengan seleramu saja," jawabku seenaknya.


Ibu datang tergopoh dari luar rumah.


"Rum, ada yang datang." Nafas Ibu tak beraturan.


"Siapa, Bu?"


Ibu melihatku dan melihat Rendi. Ada sedikit ragu untuk berbicara.


"Siapa, Bu?" Desakku penasaran.


"Bram."


Aku terdiam. Seketika bangkit ingin berlari. Tapi ada yang kuingat. Ada Rendi di sini. Segera kupandang Rendi.


"Temui saja dia. Tenang saja, biar Ibu menemaniku di sini," ucap Rendi memberi izin.


"Terima kasih, Rend."


Saat hendak melangkah. Tiba-tiba ....


"Tunggu, Rum." Pria itu beranjak dari tempat duduknya. Mendekatiku dan berbicara lirih dekat telingga. "Jika kau ingin kembali padanya. Ini masih belum terlambat. Aku akan mendukung segala keputusanmu ...."

__ADS_1


Rendi kembali duduk. Seperti tak terjadi apa pun, ia berbincang dengan Ibu seperti biasa.


Kulangkahkan kaki menuju ruang tamu. Ada lelaki yang selama ini kurindu. Mas Bram. Ia berdiri saat melihatku. Ingin sekali memeluknya erat tapi seketika langkahku terhenti. Aku mundur. Mas Bram menggangkat alis penuh heran.


Kami sama duduk dan terdiam untuk beberapa lama.


"Ma--af." Kami berucap secara bersamaan.


"Kau duluan saja, Mas!" Perintahku ingin mengetahui alasan dibalik kabar yang tak kunjung kudapat darinya.


"Maaf, Rum. Aku baru bisa datang sekarang, tapi ini ada apa? Kok banyak pekerja di rumahmu," tanyanya dengan kebingungan.


"Aku akan menikah, Mas," jawabku lirih meski sakit tapi harus diucapkan.


"Kenapa kau tega, Rum?"


"Harusnya aku yang tanya, Mas. Kenapa kau tiba-tiba menghilang tanpa kabar? Hampir setahun aku menunggu balasan pesan darimu."


"Maafkan aku, Rum. Apa tak ada kesempatan bagiku lagi?"


"Ada, Mas."


"Kalau begitu biar aku ngomong sama Bapak dan Ibu."


"Tidak, Mas. Mungkin aku dan kamu bisa merajut cinta kembali, tapi akan banyak orang yang tersakiti. Akan banyak keluarga yang kehilangan harga dirinya. Lagian tentu kau cukup paham, Mas. Tak boleh lelaki lain mengkhitbah perempuan yang sudah dikhitbah oleh pria lain."


"Tapi, Rum ...."


"Maafkan aku, Mas. Biarkan aku menerima takdirku ini. Aku memang salah, tapi kau juga punya andil yang sama sehingga aku memutuskan ini. Aku hanya tak ingin menyakiti Ibu dan Bapak lagi."


"Rum, biar aku yang ngomong dengan tunanganmu?"


"Tidak, Mas. Rendi bahkan merelakan jika aku harus kembali padamu."


"Kalau begitu apa masalahnya?"


"Masalahnya tentang pilihanmu sendiri, Mas."


"Maksudnya, Rum?"


"Ketika kau memutus kontak denganku, sejatinya kau telah membuat keputusan bahwa bisa jadi kita sama-sama punya kesempatan untuk meninggalkan. Komunikasi itu memang sepele, Mas, tapi hubungan tanpa komunikasi yang baik juga tidak akan berjalan. Suatu saat bisa jadi kau akan melakukan hal yang sama seperti ini, jika aku punya cela untuk disakiti. Maaf, Mas. Aku tak bisa."


"Rum!" Pria itu sedikit berteriak.


"Pergilah, Mas. Relakan aku melepas cinta yang kuberi untukmu. Jalani hidupmu seperti saat kau tak lagi menghubungiku dulu."


"Apa kau tak lagi cinta padaku, Rum?"


"Mengapa tak kau tanyakan hatimu, Mas. Saat kau lebih tega membiarkanku meratap harap dirimu di sini hingga dua belas purnama lebih."


Mas Bram akhirnya terdiam. Kita sama-sama diam. Menit berikutnya ia pamit pulang. Aku hanya membiarkan punggung itu menghilang di balik pagar rumah.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu, Rum?" ucap Rendi menghampiri sambil memeluk tubuhku.


Aku terisak di dada bidangnya. Menenggelamkan kepala di sana.


"Ajari aku tertawa denganmu, Rend! Ajari aku!" Hanya itu yang terucap dari bibirku.


"Tentu saja. Percayalah!"


Kali ini kubiarkan hati ini berlabuh pada hati yang baru. Hati yang bisa membuatku tertawa dan lupa tentang rasa sakit.


Maaf!

__ADS_1


Tamat.


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH


__ADS_2