
SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏
Tidak terasa waktu ini terus berjalan tanpa menghiraukan keberadaanku disini. Aku masih seperti kemarin, tadi dan sekarang termenung mengharap lembaran ini bisa diisi oleh tinta hitam yang penuh arti. Semakin lama aku disini semakin tragis waktu mengerogoti perjalanan hidupku ini. Untuk itu aku memutuskan pergi ke taman bunga, samping bangunan ini sekedar menyegarkan pikiran. Ternyata disana lebih baik.
Aku duduk di bangku tepat bersama orang yang tak aku kenal, dia terlihat pendiam dengan sebuah buku yang menutupi wajahnya. Namun itu bukan urusanku untuk melacak kehidupannya. Ku hanya terpaut pada orang-orang yang berlalu lalang di hadapanku saja. Tiba-tiba suara lembut terdengar dari orang yang ada di sebelahku.
“Tenang saja, pasti kamu akan mendapatkannya”
“Apa maksudmu.” tanyaku penasaran
“Tanyakan saja pada dirimu sndri” bicaranya misterius
Aku tak tahu apa maksud perkataan orang yang tak kukenal ini. Semakin jelas suaranya, dan rasa penasaran ku pun terobati setelah dia membuka buku yang menutupinya, ternyata dia adalah teman SMA ku dulu, Ardi.
“Kamu?” Kataku kaget
“Iya aku teman lamamu, kamu disini ngapain?”
“Lagi cari angin, bosen berkutat sama tulisan terus, hehe. Ngomong-ngomong kamu sekarang ngelanjutin dimana?”
“Wah, berarti sekarang kamu masih ngelanjutin nulis dong. Aku sekarang lagi ngelanjutin kuliah semester akhir nih.”
“Iya nih. Wah, bentar lagi ada yang mau dapet gelar nih.” candaku
“Ah, nggak juga Kar, kamu ini dari dulu nggak berubah sering ninggi-ninggiin orang lain.” Katanya sambil mengacak-ngacak rambutku.
“Nggak damai nih caranya.” Balasku sambil memukul punggung Ardi.
Akhirnya kami pun bercanda-canda sambil meningingat masa SMA dulu. Ardi memang teman lamaku, dia terkenal pintar dan tampan. Dulu ku pernah menaruh hati kepadanya. Dan aku belum sempat mengatakannya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Dan sejak pertemuanku di taman kemarin aku tambah akrab dengan Ardi. Walaupun aku tak pernah mengatakan bahwa aku suka. Tetapi, setidaknya aku bisa merasakan kedekatanku ini meski masih sama seperti 2 tahun yang lalu, yaitu menjadi teman baiknya.
Suatu malam aku sedang duduk di taman dekat rumahku. Aku duduk sambil termenung melihat langit yang sedang dipenuhi cahaya bintang dan bulan dengan ditemani angin malam yang menerpaku saat ini. Aku lupa tadi tidak pakai baju hangat. Saatku benar-benar merasa kedinginan, ada yang menyodorkan segelas kopi hangat.
“Nih, aku beliin kopi hangat.” Sambil menyodorkan.
“Eh Ardi. Kamu kenapa kok ada disini?”
“Tadi kebetulan lewat, barusan nganterin kue ke pelanggan mamaku, kamu kesini ngapain?” Oh tadi aku rencanannya pengen cari angin, eh malah sekarang kedinginan.”
“Ya udah. Pakai jaketku aja, nanti malah kamu masuk angin, berabe urusannya. Hehe.” Sambil menaruh jaketnya tepat pada punggungku.
“Makasih Di.”
“Walaupun kebesaran tapi paling tidak ini sudah lebih.” Batinku dalam hati.
Lagi-lagi obrolan ini kembali lagi berlanjut hingga rintik hujan meminta kita untuk segera pergi dari tempat ini. Padahal tadi langit lagi senengnya menampakan cahaya ribuan bintang.
“Kar, udah ayo nebeng aku aja sampe rumah nanti kamu malah kehujanan. Udah gak papa keburu tambah deres.” Pintanya.
“Ah gak usah Di, rumahku deket kok dari sini.” Elakku.
“Gak papa, Kar. Ayo!” Dengan ekspresi yang bikin aku luluh.
“Beneran nih gak papa. Ya udah kalo gitu.” akhirnya aku pun mengiyakan ajakan Ardi
Perjalanan ini begitu cepat, hingga saat Ardi berhenti tepat di depan rumahku.
“Kar, dah sampai nih.”
“Oh iya. Makasih ya Di, atas tumpangannya”.
“Sama-sama Kar. Dah sana masuk. Aku pulang dulu ya.”
“Hati-hati ya. Daaaah…” Ucapku sambil melambaikan tangan.
Malam ini berakhir indah di depan rumahku bersama rintik hujan yang hampir hilang dari bumi. Aku merasa bahagia dengannya malam ini.
Hari berikutnya, pagi-pagi ada seorang perempuan menungguiku di depan kantor sambil bertolak pinggang. Setelah aku mendekat. Tenyata dia pacarnya Ardi.
“Hei. Kamu Sekar ya, temanya Ardi. Masih inget aku?”
“Iya. Kamu pacarnya Ardi kan?
“Yap tepat. Ternyata kamu masih inget aku. Dan aku kesini mau bilang sama kamu. Jauhin Ardi. Semenjak kamu datang di kehidupannya, dia tidak pernah menhiraukanku. Please, Sekar bulan besok aku dan Ardi akan tunangan. Dan pastinya kamu tidak akan menghancurkan kebahagiaan itu kan. Ini aku kasih undangan tunanganku dan kumohon kamu datang. Dan kamu mau kan jauhin Ardi” Pintanya sambil menyodorkan undangan tersebut.
“Aku akan mencobanya demi kebahagiaan kalian.” Kataku singkat sambil menerima undangannya.
__ADS_1
“Makasih, Sekar.”
“Bener-bener sakit hatiku saat tahu Ardi ternyata masih dengan pacarnya dulu. Dan bulan besok mereka akan tunangan. Apa aku bisa melakukan itu semua?” Batinku dalam hati.
Semoga ini menjadi pertemuan pertama dan terakhirku dengan Rena, si Mrs. Cerewet. Aku nggak pernah nyangka Ardi masih betah dengannya. Apa dia nggak tuli apa denger suara cemprengnya? Huft, payah.
Seminggu sebelum Ardi tunangan, dia datang ke rumahku. Aku tidak tahu tujuannya.
“Sekar, aku akan tunangan seminggu lagi”.
“Iya aku sudah tahu itu”.
“Dari mana kamu tahu itu? Apa dari Rena? Jawab Sekar.” Katanya dengan wajah menegang. “Eeemmm, iya.” Jawaban yang singkat.
“Dia bilang apa aja sama kamu? Apa ini penyebab kamu menjauhi aku akhir-akhir ini? Tanyanya penuh antusias seperti para demonstran yang lagi demo kenaikan BBM”.
“Dia Cuma ngasih aku kartu undang tunanganu saja kok. Tenang saja pacar kamu itu orang yang baik.” Kataku. Padahal aku di dalam hati sedikit membencinya.
“Begitukah Sekar? Aku tak percaya. Matamu tidak berkata seperti itu. Tolong jawab yang jujur. Kalau aku akan memutuskan Rena dan membatalkan ini semua” Matanya hanya tertuju padaku menunggu mulutku ini bicara yang sejujurnya.
“Kamu gila ya?” Kataku kaget nggak percaya sama yang dibicarain Ardi barusan.
“Iya, aku gila karenamu. Entah mengapa setelah hampir 2 tahun lebih aku bisa memendam perasaan ini. Banyak permohonan menggila dalam diamku. Kau menjadi pemberontak batinku dari lamanya nyenyak dusta. Tak ada kata lebih yang mencipta suasana hati ini gelora, suka, bahagia. Ingin rasanya kukatakan aku sayang kamu, Sekar!” Katanya romantis sambil terus menatap mataku.
“Apa kamu tidak salah? Kamu sakit ya?” Aku menempel kan tanganku di dahinya untuk memastikan Ardi tidak sakit.
“Sekar aku jujur dari hati. Apa kamu mau menjadi sebagian hidupku menemaniku di setiap asa dan senangku sebagai seorang kekasih
“Enggg… Aku nggak bisa Di.” Balasku sambil meneteskan air mata. Tuntutan hati
Ardi langsung menunjukkan muka yang penuh kecewa saat ku mengatakannnya.
“Aku nggak mau merusak hubunganmu dengan Rena. Aku bukan penuntut cinta Di, yang hanya ingin kebahagianku denganmu.” Air mata ini nggak bisa dibendung lagi. Tetap menetes walau ku sudah berkali-kali mengusapnya.
“Aku tahu itu, Sekar. Nanti aku akan urus ini. Tetap tunggu aku di taman seperti biasa.” Pintanya sambil berlalu di hadapanku.
“Bener-bener sakit luar biasa. Aku ingin dia tapi, aku lebih tak ingin menyakiti Rena, yang lebih dulu mengisi hati Ardi.” Batinku.
Malamnya setelah kejadian itu.
Ardi makan malam bersama kedua orangtuanya. Rencananya dia akan bicara yang sebenarnya tentang keputusan membatalkan hubungan dengan Rena.
Mamanya pun yang menjawab dengan lembut. “Ngomong aja nak.”
“Ardi akan memutuskan pertunangan dengan Rena. Aku tahu ini hal yang sangat bodoh yang pernah aku lakukan. Tapi, aku mohon pah, ma ini hanya soal pilihan hati. Aku memilih orang lain. Dia adalah Sekar. Sebenarnya aku sudah menyukainya sejak pertama bertemu dengannya. Dan selama aku berpacaran dengan Rena aku juga masih menyukai Sekar. Cintaku lebih besar dengan Sekar dibanding cintaku dengan Rena.” Kataku sambil terus melihat naik turun ekspresi wajah mama dan papaku.
“Ini memang hal yang tidak mudah. Memang ini adalah soal pilihan hati. Sebagai orangtua, kami hanya ingin kamu bahagia, tanpa menghancurkan hati orang lain. Kamu harus benar-benar memikirkan ini sebelum kamu mengatakannya.” Balas papaku dengan nada bijaksananya yang penuh makna.
“Iya pah. Aku tahu itu. Tapi apakah mama dan papa tidak marah jika aku melakukan ini?” Tanyaku sambil menunggu jawaban yanga akan diucapkan kedua orangtuaku ini.
“Aku terserah padamu saja. Ini juga pilihanmu.” Balas mama yang dari tadi diam tanpa kata.
Akhirnya perkataan orangtuaku tadi membuatku lebih menyakinkan hati ini. Aku besok akan menemui Rena untuk menjelaskan ini semua.
Hari yang ditunggu telah tiba.
Ardi menemui Rena di rumahnya.
“Hai cinta.” Katanya lebay.
“Hai. Aku ingin bicara denganmu. Penting! Ini soal pertunangan kita.” Kataku semangat 45.
“Wah, cintaku, mau bicara soal tunangan saja. Semangat 45 kayak mau perang aja.”
“Iya, aku akan perang. Perang hati.”
“Apa maksudmu?”
“Maafkan aku, Rena.”
“Maaf untuk apa Ardi, kamu nggak salah apa-apa.” Balasnya yang mulai lugu.
“Maaf jika pada akhirnya aku tak memilih kamu sebagai teman hidupku. Aku…” Belum selesai ngomong, Rena malah udah nimbrung.
“Apa ini gara-gara Sekar? Anak itu sudah kusuruh menjauhin kamu. Eh, malah sekarang tambah deketin kamu. Benar-benar anak kurang ajar itu.” Katanya sambil mengepal tangan. Kayak pengen ninju orang aja.
“Bukan dia yang mendekatiku tapi akulah yang mendekatinya. Aku mencintaimu Rena, terimakasih telah menjadi kekasihku selama ini.” Kataku sopan agar tidak menyinggungnya.
__ADS_1
“Apa yang kamu bilang Ardi? Memutuskanku di beberapa hari menjelang pertunangan kita. Benar-benar gila kamu. Aku nggak mau!” Jawabnya sambil membuang muka.
“Tapi inilah adanya Ren, Aku juga nggak tahu kenapa aku bisa mencintai Sekar. Aku mencintainya sebelum kukenal dirimu. Maafkan aku Rena.”
“Segampang ini Di? Sungguh tega. Aku dulu pernah menunggumu. Tapi, apakah ini balasanmu setelah kita pacaran.” Tetesan air mata Rena mulai turun membasahi pipinya.
“Tappp iii.” Seketika itu Ardi bingung mau berkata apa. Dia juga nggak tega harus memutuskan Rena. Di sisi lain Ardi ingin bersama Sekar.
“Sudahlah, jika ini memang jalannya aku akan merelakan dirimu, untukknya. Maaf bila selama ini ku pernah membuatmu repot, makasih telah menemani dan memahamiku selama 2 tahun ini. Semoga kamu lebih bahagia dengannya.” Katanya sambil menyalami Ardi dengan wajah yang sudah penuh air mata.
Hari berikutnya bertambah sulit beban ini.
“Hei Sekar. Apa kabar?”
“Rena?” Kataku kaget
“Iya aku. Kamu kaget ya?
“Enggg…gak juga sih. Tumben kamu kesini, ada perlu apa?”
“Mau nemuin kamu dong.” Katanya bercanda.
“Iya, aku tahu itu. Selain itu?”
“Aku mau ngucapin selamat ya.”
“Selamat dalam rangka apa, Ren?”
“Dah menangin cinta Ardi. Hehe.”
“Maksud kamu?” Perkataan Rena sungguh membuat aku bingung.
“Masak kamu nggak tahu. Pokoknya selamat ya.”
“Emm, iya deh.”
Akhirnya obrolanku dengan Rena berlanjut. Dari awal aku memang salah menilai Rena. Walaupun dia cerewet tapi Rena nyambung diajak ngobrol. Hubungan ini membuat ku semakin akrab dengan Rena. Dia bercerita semuanya denganku.
Hari berikutnya adalah Sabtu. Aku ingin sekali pergi ke taman seperti biasa. Sore hari. Disana sudah banyak orang yang memenuhi bangku-bangku taman. Tinggal ada 1 bangku yang tersisa.
“Yah, bangku udah di dudukin orang.” Kataku kecewa.
“Udah nggak apa-apa. Duduk disini aja. Daripada berdiri terus.” Kata seseorang yang duduk di bangku itu.
“Baiklah.” Kataku dalam hati.
“Apa kamu nggak kangen sama aku?”
Ku menoleh ke orang yang bicara tadi. “Ardi? Kamu ngapain kesini?”
“Kan aku nagih janji kamu. Kamu dah lupa ya?
“Aku masih inget kok. Tenang aja.” Kataku.
“Apa kamu masih mau menjadi kekasihku?” Katanya membuatku kaget.
“Kenapa sih harus disaat yang nggak tepat gini.” Kataku dalam hati.
“Engg…. Nggak bisa Di. Aku nggak bisa” Perkataanku yang sekarang malah mengkagetkannya.
“Benarkah? Ya, sudah bila ini kemauanmu.” Kata Ardi dengan rasa kecewa yang tak tertahankan.
“Emmm maksudku. Aku nggak bisa nolak.”
Seketika Ardi tersenyum sambil tetap menatapku dalam-dalam.
“Terima kasih, Sekar.”
“Atas?”
“Telah mau menjadi apa yang kuinginkan dan kuharapkan.”
“Iya sama-sama, Ardi.” Sambil memeluk ku erat-erat.
Akhirnya keberuntungan berpihak kepada aku, pemendam cinta yang tak tersampai. Dan sekarang aku tahu jawaban nya. Lembaran kosong ini akan kutuliskan cerita cinta ku dengan tinta hitam penuh arti yang kutunggu-tunggu. Semoga lembaran penuh rasa ini bisa menjadi bukti perjalanan cintaku bersama Ardi. Tanpa ada sakit hati orang lain, yaitu Rena.
Tamat.
__ADS_1
MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH