Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
Garis do'a (Cerita Islami)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Menyusuri jalan demi satu tujuan, membahagiakan tersayang, tak lebih. Menangkap gambar kenangan. Melukiskan kisah dan menitip pada tiap langkah.


Acap menangis sendiri. Itulah hidupku. Bukan keputusan sulit kembali melangkah. Namun, hati terluka sangat sukar menemukan penawarnya. Sesakit inikah? Walau nyatanya, aku bisa sekedar tersenyum mengelabuhi.


Mengkaramkan ingin menua bersama. Bak dihujam belati. Sesungguhnya cintaku telah pergi meninggalkanku selamanya. Namun, kenapa harus tersimpan luka yang seperih ini? Apa aku benar-benar bisa pulih? Entahlah.


Perjalanan ini melelahkan. Aku ingin kawan. Sekedar bergelak bersama. Tapi, tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku alpa, bagaimana rasanya bahagia.


Aku ingin pulih hingga lupa pernah merasa sesakit ini.


"Kenyataannya, kini kau sendiri, tak lagi bersuami. Berhentilah berhalunisasi!" Ketus, pria itu membuka tabir kebenaran.


Aku hanya tertegun, tapi logika bisa menerima ucapnya.


Sebelumnya tak ada yang benar-benar memberi kejujuran. Mereka memberi dukungan, lembut dan manis tapi hasilnya tetap saja aku terkungkung dalam kesedihan. Lukaku terlalu andam hingga karam.


"Haruskah kau berkata demikian?" lirihku berharap belas kasihan.


"Harus. Kali ini kau harus tahu tentang status barumu. Harus lebih siap menghadapi kenyataan-kenyataan baru yang tak sesuai dengan hayal indahmu saja."


Aku hanya tergugu. Nelangsa. Kenapa harus dipertemukan dengan lelaki ini?


Kuseka linangan air mata. Menutup mata sejenak. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, dan menghembuskan perlahan.


"Baiklah, aku akan coba."


"Bagus," Lelaki itu mengedarkan mata sejenak pada langit biru dengan gumpalan awan tebal. "Dunia ini tak hanya dipenuhi kebaikan-kebaikan seperti yang ada di pikiranmu itu. Kau perlu siap dengan segalanya, bahkan pada keadaan yang bisa jadi melumatmu tanpa ampun," lanjutnya memberi pemahaman.


Aku hanya tertunduk terdiam. Hatiku membenarkan apa yang ia katakan.

__ADS_1


Diaz, lelaki yang datang tanpa diundang. Bak sebuah takdir. Dia menyadarkan agar aku berdamai dengan duka. Menukar luka dengan kesempatan uluran pertemanan. Memberiku cara membuang rasa sakit yang mencabik hati. Ini penting untuk sembuhku.


Purnama demi purnama aku lalui dengan gelisah. Ingatankanku kembali pada peristiwa yang membuat pilu. Di hamparan sajadah, malam itu, aku tersimpuh. Luruh, segala tangis dan harap jadi satu. Memunajatkan doa agar Tuhan segera memberi bantu. Aku hanya butuh sandaran sementara. Mengerti sesak yang menghimpit dada. Itu saja, tak lebih.


Masih segar dalam ingatan, bagaimana kuciumi baju-baju peninggalan lelakiku, memeluknya erat. Membayangkan ia mendekap dalam tidur. Setiap sore, tak lupa bersiap diri menunggunya datang ke peraduan. Dan semuanya semakin membuat lukaku menguar sempurna.


Di tempat yang sama, di mana luka tertoreh, aku mencoba menyembuhkan diri. Sendiri. Dan aku tak bisa.


Pintu hatiku terkunci rapat dengan duka. Aku bahkan tak bisa membukanya dengan benar. Mendobrak? Hanya semakin membuat rusak. Mungkin ... saja, lelaki ini adalah pemegang kunci itu.


Kunci yang dipegang itu bukan lantas menjadikan ia pemiliknya. Hanya meminjamnya sesaat, agar aku tahu bagaimana melangkah tanpa duka. Itu saja. Tak mengapa, bukan?


Ada rasa aneh yang menyeruak di dada. Desir yang membahagiakan. saat ia berada di samping. Berbicara panjang tanpa makna. Berceloteh banyak hal padanya. Apa aku suka? Entahlah.


"Jangan terus memandangiku! Nanti kau bisa jatuh cinta."


Aku mencibikkan bibir, tanda tak setuju.


"Ge-er."


Aku hanya mendengkus kesal. Membiarkan ia dengan gaya nakalnya.


Aku terhibur.


Detak jam menunjukkan pukul 18.30, kami masih duduk-duduk di trotoar. Memandangi lalu lalang kendaraan. Kelap-kelip lampu jalanan dan gedung-gedung pencakar menambah kesaduan malam.


Senyap. Kami sama-sama diam, bergelut dengan pikiran masing-masing.


Selarut ini dan aku masih dengan lelaki yang belum lama kukenal, tapi membuat nyaman.


Aku menikmati setiap kelakarnya. Kadang sinis, kadang manis dan kadang sedikit narsis.

__ADS_1


Penyembuh. Itu yang kusematkan untuknya. Tak banyak yang kuketahui tentang dirinya. Pun tak ingin bertanya, takut membuatnya terganggu.


Biar saja seperti ini. Berjalan sesuai garis yang ditakdirkan. Cukup itu saja.


Detik menuju menit kemudian jam, kami tetap terdiam menikmati udara malam. Mengurai sesak yang menghimpit. Perlahan demi perlahan. Sesekali aku melihatnya tersungging mengangkat sedikit bibir. Mungkin otaknya mengingat sesuatu. Aku pun biasanya begitu. Menertawakan keadaan dan ketidakberdayaanku.


"Mau pulang atau masih ingin di sini?" tanyanya sambil menelengkan kepala ke arah wajahku.


"Sebentar ... sebentar lagi ... saja."


Aku masih ingin menikmati udara luar, setelah sekian lama bahkan tak ada minat melangkahkan kaki walau hanya di ambang pintu depan rumah sekalipun.


"Baiklah," jawabnya tenang.


Kami terdiam kembali. Cukup lama hampir menuju jam.


"Tak usah memikirkanku! Aku memang sangat mempesona," cakap Diaz memecah keheningan.


Aku berbahak. Dia berlaga dengan gaya flamboyan.


"Apanya yang mau dipikirkan?"


"Apa saja? Senyum manisku. Postur tubuhku yang seperti opa-opa korea."


"Opa-opa korea?"


Tawaku tak bisa kutahan. Membayangkan lelaki di sampingku ini, berlaga lincah menari seperti artis-artis korean. Membuat perutku tergoncang sebab tawa yang tak bisa kuhentikan.


Ternyata, segampang ini tertawa. Mungkin ini garis doa yang Tuhan coba kabulkan.


Cerpen karangan : Windy Aira

__ADS_1


Tamat.


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.


__ADS_2