
SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏
Ardi menutup handphone miliknya. Ia memasukkan handphone ke dalam saku bajunya. Matanya beralih ke jalan beraspal. Wajah Ardi diterpa angin di atas motor yang melaju di tengah hutan jati. Ia duduk di belakang membonceng temannya.
Ia dan temannya dalam perjalanan pulang dari takziyah. Ibu salah seorang teman mereka meninggal dunia. Rumahnya berada di desa sebelah. Untuk mecapai desa tersebut, mereka harus melalui hutan jati yang sangat luas. Berkilo-kilo meter jarak yang harus ditempuh untuk mencapai lokasi rumah temannya.
Beruntung lokasi temannya dapat ditempuh dengan mengendarai motor dan jalanan beraspal. Sehingga tidak terlalu sulit untuk mencapai rumah temannya. Hanya saja perjalanan pulang ini sudah malam. Gelap dan tidak ada penerangan di jalan beraspal ini.
Ardi dan temannya tadi mendapat kabar duka di siang hari. Tanpa menunggu waktu terlalu lama, mereka berdua akhirnya janjian takziyah sore itu juga. Jika menempuh perjalanan berangkat sore hari, maka pulangnya mau tidak mau terpaksa malam hari.
Mereka berdua sebenarnya disuruh menginap tapi mereka menolak secara halus. Bukan karena tidak setia kawan namun karena sudah banyak orang kampung yang menemani keluarga teman mereka yang dirundung duka. Mereka berdua tidak ingin bertamu takziyah malah menjadi beban bagi keluarga duka.
Motor melaju kencang melintasi hutan. Terkadang harus menurunkan laju kendaraan karena jalanan berkelok dan menurun tajam. Tidak ada kendaraan yang melintas sama sekali. Mereka hanya berdua melintasi area hutan ini.
Sesekali mereka melihat seekor rusa melintas menyeberang jalan. Sesekali pula mereka harus menghentikan motor disebabkan sebuah batu besar maupun dahan pohon berada di tengah jalan. Sungguh mengganggu pengendara.
“Aneh, sore tadi lewat jalanan ini tidak ada batu maupun dahan pohon tergeletak di tengah jalan gini” gumam Ardi sambil menyingkirkan sebuah dahan pohon di tengah jalan.
“Yah paling juga ada angin besar di daerah sini” kata teman Ardi.
“Masak sih? Ini kan di dataran tinggi, lagian gak ada bekas angin kencang, semua normal..” kata Ardi selesai menyingkirkan dahan dan kembali menaiki motor.
Kendaraan kembali melaju di atas aspal jalanan. Sekitar 100 meter mereka berhenti lagi menyingkirkan dahan pohon di tengah jalan. Ardi kembali curiga. “Ada yang tidak beres ini,” pikirnya. Dan berulang kembali setelah menempuh sekitar 100 meter kemudian. Sebuah batu yang berukuran lumayan besar tergeletak di tengah jalan.
__ADS_1
“Ini sudah keempat kalinya. Doni, ini kayaknya ada sesuatu, apa yah yang sedang terjadi?” Tanya Ardi pada temannya.
“Yuk ah naik, udah tengah malam nih,” kata Doni yang tidak peduli dengan pertanyaan Ardi.
Setelah motor kembali melaju, mereka tidak menemui batu maupun dahan yang menghalangi perjalanan mereka. Namun.. mereka melihat sebuah pemandangan aneh, dengan lampu motor jarak jauh, mereka melihat di depan sana sebuah barisan orang-orang yang berjalan searah dengan mereka. Seketika Doni menghentikan motornya.
Doni mengernyitkan dahi. Ia memicingkan mata. Berusaha memahami peristiwa di depannya. Orang-orang di depan sana berbaris dan berjalan ke depan. Semua orang berpakain lusuh dan kotor. Tubuh kurus kering hanya otot tubuh yang terlihat menonjol mengisyaratkan bahwa tubuh kurus dipaksa kerja keras tanpa asupan makanan yang cukup.rambut mereka kusam dan kotor.
Berdua, Ardi dan Doni memperhatikan mereka dari jauh tanpa berani mendekat. Yang menjadi tanda tanya mereka berdua bahwa tidak seorang pun dari orang-orang di depan sana yang menoleh kea rah mereka. Padahal malam itu sunyi hanya ada suara mesin motor Doni. Cahaya yang terbentang juga cahaya dari lampu motor Doni.
Bulu kuduk mereka merinding. Ketika melihat salah seorang dari orang-orang di depan terjatuh dan batuk-batuk. Seorang berseragam coklat datang dari depan. Ia seorang lekaki berperawakan agak pendek dengan tubuh lebih sehat dan berkulit putih pucat. Bertopi khas tentara jepang masa perang dunia ke-2. Tentara tersebut mendatangi orang yang terjatuh ke tanah lalu mencambuknya. Suara cambuk beradu dengan tubuh seorang lelaki tua renta disertai jerit kesakitan dari mulut orang tua tersebut. Benar-benar membuat hati bergetar.
Ardi dan Doni membuang muka, mereka tidak tega melihat pemandangan itu. Lelaki tua renta sepertinya penduduk lokal dicambuk oleh seorang tentara jepang. Cambukan mengenai seluruh tubuh orang tua, mulai dari punggung, kaki bahkan kepala, tentara tersebut tidak memerdulikannya, ia terus mencambuk dengan buas.
“Ar, sakit nih,” kata Doni kesakitan sambil menggoyang-goyangkan bahunya berusaha melepas cengkeraman tangan Ardi.
“Eh.. sori gak sengaja, Don” Ardi kaget tidak menyadari perbuatannya.
“Tadi apaan ya?” Tanya Doni pada Ardi.
“Gak tahu, Don. Ayo cepetan pulang” jawab Ardi dan mengajak Doni segera mengendarai motorrnya kembali.
Mesin motor belumlah mati, seketika itu juga Doni menarik gas dan motornya melaju dengan kencang.
__ADS_1
Baru saja mereka melaju, tiba-tiba Doni menghentikan motornya kembali. Sekali lagi mereka bertemu rombongan orang berbaris berpakaian lusuh berjalan kearah depan. Pemandangan sekarang agak berbeda dari pemandangan tadi saat pertama. Kali ini di samping rombongan tersebut terlihat beberapa orang tentara jepang dengan pakaian khasnya dan menenteng senapan laras panjang khas perang dunia ke-2.
Rombongan orang berbaris diiringi beberapa tentara jepang itu berjalan ke depan dan menutup seluruh badan jalan. Sehingga Ardi dan Doni tidak dapat melewati rombongan tersebut. Jika ingin lewat, mau tidak mau mereka harus membunyikan klakson agar diberi jalan. Namun gagasan itu mereka urungkan mengingat dengan siapa mereka akan berhadapan. Mereka berdua hanya menunggu hingga barisan tersebut menghilang.
Mereka berdua mengikuti rombongan tersebut dari belakang, berjalan perlahan.
Sebuah teriakan keras bergema di sekitar tempat itu. Teriakan berbahasa jepang yang mengisyaratkan sesuatu pada rombongan. Saat itu rombongan orag berbaris di bagian depan berbelok ke kiri menuju sebuah cerukan semacam danau kecil kering tanpa air.
Seluruh orang di rombongan itu memasuki ke dalam area danau kering. Mereka berjubel dan berdesak-desakan masuk ke dasar danau. Para tentara yag membawa senapan berdiri di sisi pinggir danau. Sedang seorang tentara yang membawa cambuk berdiri di sisi lain sambil berkacak pinggang. Sepertinya dialah yang member perintah pada seluruh rombongan tersebut.
Di sisi jalan, Ardi dan Doni sudah berada sangat dekat dengan lokasi berkumpulnya rombongan tersebut. jarak mereka hanyalah 20 meter dari tentara di sisi pinggir danau. Anehnya, rombongan orang tersebut termasuk tentara jepang sepertinya tidak memerdulikan keberadaan Ardi dan Doni.
Tentara pembawa cambuk pun berteriak kembali. Suaranya memecah suasana malam hutan ini. Dengan suara keras ia memerintahkan sesuatu kepada tentara pembawa senapan. Seketika itu pula terdengar suara rentetan senapan mengarah pada seluruh manusia di danau kering.
Suara-suara menyayat terdengar bergantian. Satu persatu orang yang ada di danau kering ambruk ke tanah. Ardi dan Doni yang melihat kejadian itu di depan mata shock. Mereka benar-benar ngeri melihat pembantaian manusia di hadapan mereka.
Tempat itu menjadi ladang pembantaian manusia. Sungguh sebuah pemandangan yang keji dan mengerikan. Ardi dan Doni merasakan bulu di sekujur tubuhnya meremang. Mereka ketakutan, ngeri, shock, ditambah terdengar suara minta tolong dari berbagai penjuru.
Reflek kedua orang teman itu segera membawa motor mereka menjauh dari lokasi itu. Doni menghentakkan gigi motor dan mengegas dengan kencang. Beruntung bagi mereka, jalanan di depan merupakan jalanan lurus tanpa berbelok hingga pinggiran hutan dan mencapai perumahan penduduk. Namun jaraknya masih 5 kilometer di depan!
Doni mengendarai motor seperti orang kalap. Motor melaju dengan kencang. Di atas motor mereka berdua ingat cerita para orang tua bahwa danau kering itu bernama danau darah. Konon ceritanya danau tersebut dinamakan danau darah karena terjadi pembantaian penduduk lokal di sana.
Tamat.
__ADS_1
MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.