Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
Thank you Chalia (Cerita Remaja)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏


"Sekali lagi kamu melakukannya, kamu akan kena hukuman! Paham?!"


Aih! Berisik banget nih guru. Daripada lama, gue cuma mengangguk dan tertawa kecil aja.


"Hey! Kenapa kamu tertawa? Ada yang lucu?" tegurnya.


"Habisnya Ibu lucu. Cuma kena lemparan bola kasti aja, Ibu langsung marah. Kan, buku Ibu aja yang jatuh. Jangan bawa ribet lah Bu. Santai saja.."


"Apa?!?"


Gue salah ngomong? Ah, udahlah. Gue senyum, "Yeah, urusan saya dan Ibu sudah selesai. Izinkan saya ke luar ya, Bu. Jangan sampai Ibu suka sama saya. Hm? Hehe. Saya duluan. Dah…"


Dan akhirnya, gue pergi dari ruangan ini sambil salam dadah ke guru itu. Tapi sebelumnya gue denger… "Awas kamu, ADIT!!!"


Yah, mau gimana lagi? Kenalin, gue Adit. Atau lengkapnya, Aditia Rio. Gue kelas 11-IPA-1. Gue punya banyak teman. Tapi sahabat gue namanya Hari, Aldo, Rey, banyak sih. Gue sekolah di SMA GLOBAL 3. Gue gak punya pacar dan gak pernah punya mantan pacar. Soalnya, gue itu gak mau gue gak fokus belajar gara-gara seorang perempuan. Tapi kali ini, gue makin gak konsen, gara-gara ada perempuan yang kemampuannya mirip gue, tapi dia beda dari gue. Dia ada di kelas gue. Gue sama dia bersaing di masalah peringkat. Dia, Chalia. Dan gue gak tahu gue kenapa, gue tertarik sama dia.


Sampe juga di kelas. Cape juga ya kalau habis dari ruangan BK. Yah, anak bandel sih guenya.


"Napa lo? Dikejar BK? Cape amat." tanya sahabat gue, Hari.


"Bukan dikejar BK lagi, ri. Habis dipanggil BK!" ucap gue. Gue langsung duduk di salah satu kursi deket gue.


"Ah serius! Keren lo.. Kasus apaan?" Hari.


"Masalah kasti. Oh iya, mana saingan gue itu? Belum datangkah?" tanya gue sambil ngelihat sekitar.


Hari mengangkat bahunya, "Saingan? Maksud lo, Chalia?"


Gue tersenyum, "Yoi" Hari langsung tertawa terbahak-bahak. "Lo? Saingan dia? Cewek cantik, kaya, cuek minta ampun? Gue dukung dah! Semangat!"


PLETAK! Akhirnya, gue jitak dah tuh si Hari.


"Aduh! Gue kan kasih pendapat!" katanya sambil megangin keningnya. "Noh dia dateng"


"Mana? Belum ada tuh di kursinya.." kata gue masih ngelihatin kursinya Chalia.


Then, ada yang nepuk bahu gue dari belakang. Spontan, gue langsung nengok ke belakang. "Eh, kamu.. Apa kabar?" Kenapa gue nanya begini sih. Dia Chalia.


"Eh, hai!" Hari. Chalia hanya mengangguk dan tersenyum walau sekilas pada Hari.


"Kamu-kamu! Kabar gue baik! Lo nyariin gue? Kok ngelihatin bangku gue begitu amat?" tanya Chalia ke gue dengan nada -ngebentak.


Santai, Dit… "Galak amat sih lo.. maaf dah ya manggil lo kamu. Oh iya, sejak kapan lo di sini?"


"Oh, ganggu? Sorry. Gue duluan." Dan akhirnya, Chalia pergi dari kelas. Tapi sebelumnya dia taruh tasnya di bangkunya dan berjalan ke arah luar kelas.


"Dih? Siapa yang keganggu? Hm, menarik."


"Lo suka sama dia, Dit? Bukannya lo gak mau pacaran?" Hari.


"Gak tahu." Dan gue hanya tersenyum, gak tahu kenapa. Dan gue tahu, saat ini Hari pasti bingung ngelihat gue.


Saat ini gue laper, gak tahu harus makan apa, gak tahu harus duduk di mana di kantin yang penuh ini. Huah… "Chalia?" Chalia sama teman-temannya, ya? Okelah. Gue samperin. Daripada gak makan. Hehehe. Sampe. "Hai. Boleh gabung? Gak ada tempat kosong, nih. Eh, ada Chalia. Berjumpa lagi." sapa gue. Biasalah, basa-basi.


"Boleh-boleh." ucap temannya Chalia dan sedikit bergeser. Dan akhirnya, gue duduk di samping dia. "Eh, thanks."


Kebetulan, gue duduk berhadapan sama Chalia. Cantiknya lebih nih kalau kayak gini.


Gak lama abis pesen makan dan makanan udah dateng, "Nama kalian siapa? Jujur, aku baru kenal sama Chalia aja di meja ini. Hehe. Maaf ya!" gue.


Mereka tertawa kecil. "Ah. Gak apa. Lagi pula, kami gak se-famous kamu kok, Adit."


"Hm? Oh ya? Se-famous apa emangnya?" gue.


Tiba-tiba Chalia ngelihat gue dan ngejawab, "Famous banyak hal. Sering dipanggil guru BK itu bahan gosipannya anak-anak. Hm?"


Gue diem seribu bahasa. Chalia? Andai dia guru, dia cocok jadi guru killer. Dia bener-bener cuek sama perasaaan gue ah. "Apa?"


"Ah, gak gitu juga kok. Kamu dikenal gara-gara pinter, ganteng. Ya kan, Chalia?" ucap salah satu temannya Chalia.


Gue ngelihat Chalia yang masih lanjut makannya tanpa membalas pertanyaan itu. Cuek. Lama setelah itu, gue kenalan sama temen-temennya. Mereka Karin, Shilla, dan Ara. Tapi, Chalia masih cuek banget sama gue di sini. Gue harus pendekatan nih sekarang. Hm, gue punya ide.


"Hm, Chalia?" gue.


Chalia nengok ke gue, "Apa? Lo masih laper?"


"Eh, bukan gitu. Gue pengen minta bantuan sama lo." Mereka ngelihat gue penuh tanya dan penasaran. Apa-apaan nih?

__ADS_1


"Gini. Lo tahu kan sikap gue begimana. Nah, mending lo bantuin gue deh ngebenerin sikap gue ini. Denger-denger, lo itu sopan banget.. Hm?" gue.


Chalia diem. Begitu pun sama teman-temannya. Gak lama, Chalia ngelihat gue. Dan… KRING, KRING, KRING, Bel istirahat berakhir. Bahkan, gue belum tahu jawabannya apa.


"Gimana? Hm?" gue.


"Sorry. Gue gak mau lakuin itu. Gue banyak urusan." Chalia.


Dan abis itu, mereka semua pergi ninggalin gue sendirian. Sial! Apa salahnya coba? Huahh..


--


Baru 5 menit udahan jam pelajaran. Udah sepi aja ya nih sekolah. Hujan? Aih! Bahkan sopir gue belum datang. Aih! Kenapa sesial ini? Eh, itu Chalia, kan? Lagi ngapain dia? Nunggu jemputan? Nunggu angkot? Nunggu pangeran? Ah, gak mungkin. Samperin ah!


"Hei!"


"Oh. Ngapain lo di sini?"


"Nemenin lo."


"Apa?"


"Gue terlalu jujur ya? Hehe. Lo lagi ngapain di sini?"


"Nunggu angkot."


"Bukannya lo orang kaya? Rumah kita kan satu perumahan. Supir lo sibuk?"


Chalia diam. Oke, gue salah. "Eh maaf. Gue gak maksud kepoin lo kok. Hm, tuh angkotnya dateng. Bentar ya gue stop-in."


Akhirnya, angkot yang gue panggil berhenti. Gue sama Chalia naik deh. Yah, meskipun gak sampingan.. Gue duduk di depannya. Hehehe. Karena gue gak mau omongan gue didengar sama sopir, gue akan ngomong pake bahasa inggris. Untung aja gak ada penumpang selain kita. Selamat! Chalia ngelihat gue dan mengerutkan keningnya, "Heh! Ngapain lo ikut gue?"


"Gak ikut-ikutan kok. Gue kan juga jalan sini pulangnya. Sopir gue belum dateng. Oh ya, speak english, please?" gue membela.


Chalia memutar bola matanya. Kayaknya dia pasrah. Hehehe. Dan berjalanlah angkot ini di tengah hujan yang deras. Huhuhu.


"Do you want me to follow you keep on like this? Hm, Chalia?" gue. (Apa lo pengen gue ngikutin lo terus kayak begini? Hm, Chalia?)


"I could be crazy because of you." Chalia. (Gue bisa gila gara-gara lo)


"Then? What are you waiting for? Do not waste it." (Terus? Lo tunggu apalagi? Jangan sia-siain ini)


"Oke. I will teach you. But, please not love me. Can you?" (Oke. Gue akan ngajarin lo. Tapi, jangan suka sama gue. Bisa?)


Apa? Nih orang apa-apaan sih? Justru gue modus. Yah, gak apa-apa sih. Daripada gue selalu dibentak guru BK.


"Why? It is my right. Hhh.. OK. But, I do not promise." (Kenapa? Itu hak gue. Hhh.. Ok. Tapi, gue gak janji)


Chalia tersenyum. Yah, dia menang sekarang. Dasar pintar. "OK. Welcome, Adit." (Ok. Selamat datang, Adit)


Gue rasa, untuk kedepannya.. gue akan susah tidur. Dan inilah, perjalanan gue ngebenah sikap.


--


Yah. Ini udah sebulan gue diajarin sikap baik sama si Chalia. Pertamanya, dia kesel sama gue. Gara-gara gue pengen bayar pengalaman dia. Dan abis itu, gue dipukul. Bukan dipukulin sih. Tapi sakit. Gue baru tahu kalau dia itu karateka. Semoga berhasil dah. Sekarang sih, bisa dibilang gue deket sama dia. Soalnya, dia ngajarin gue cara bersikap dengan ajak gue ke berbagai tempat dalam sehari. Dia yang bayar pula. Kalah deh gue. Pertama, dia bawa gue ke cafe depan sekolah. Gue diajarin betapa susahnya jadi pelayan. Dia suruh gue gantiin pelayan yang gue maki gara-gara kelamaan dateng. Hahaha. Tapi, gue ngerasain itu kemarin.


Kedua, masih di hari itu juga. Dia bawa gue ke taman. Karena katanya gue kurang piknik. Kan kurang ajar ya. But, no problem. Gue diajarin untuk bersikap tenang saat ada masalah. Dia cerita tentang pengalamannya, walaupun gak banyak. Itu berkesan bagi gue. Dan di saat itulah, gue bilang, "Kenapa lo gak bilang aja ke Ayah lo yang di Amerika? Lo lagi gak punya uang? Gue akan ngasih lo uang deh." Haha. konyol, kan?


Abis itu dia bawa gue ke mana lagi ya? Gue lupa. Tapi, dia pernah bawa gue ke tempat panti jompo. Sebelumnya, gue gak tahu gue harus apa. Tapi dia kasih arahan, dia kasih gue beberapa inspirasi dan motivasi. Akhirnya, di sana gue nangis soalnya gue inget semua yang gue lakuin sama orangtua gue. Hah.. gue kehilangan kontrol. Gue jadi emosi di sana. Finally, gue pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Chalia bilang, "Lo kenapa sampe ngamuk gitu sih? Semua yang lo lakuin sama orangtua lo kan salah lo sendiri. Gue tahu lo terpuruk setelah gue ngebawa lo masuk ke dalam pikiran gue, tapi jangan nyiksa diri lo sendiri. Payah!" Ya, itulah yang ia bilang.


Dan sekarang, gue juga udah gak sering dipanggil ke ruangan BK. Nilai harian gue membaik, hubungan gue sama guru-guru membaik, hubungan gue sama temen-temen gue membaik, hubungan gue sama orangtua gue membaik, hubungan gue sama sang pencipta juga membaik. Cuma satu yang masih sama, hubungan gue sama Chalia. Dia bikin gue makin masuk ke dalam kehidupannya. Meskipun dia pernah bilang di awal gue diajarin sama dia, "Gue masih belum percaya sama siapa pun, dit. Karena, orang itu adalah keluarga gue. Yahh, kalau lo tahu perasaan gue sekarang, lo bakal tahu apa yang gue pikirin, kan?" 


Ternyata, dia cuek karena keluarganya sendiri. Kakaknya meninggal satu bulan sebelum dia masuk SMA. Makanya itu, sikap belum terima keadaan masih dibawanya sampai sekarang. Tapi, demi apa pun, gue makin tertarik sama dia. Sama latar belakangnya dia yang dia ceritain ke gue. Sama sikap dia yang cuek itu. Sama sikap dia yang bisa berbaur itu. Sama kepintaran dia. Sama semuanya yang ada pada diri dia sendiri.


Gue gak mau langgar perjanjian kita dulu. Tapi, gue gak bisa. Gue pernah nembak dia di sebuah taman. Dan jawabannya, "Gue belum percaya sama siapa pun, dit. Bahkan eo. Maaf." Hahh.. gua jadi gak enak sama dia. Dia menutupi semua itu dengan sebuah sikap cuek dan gue rasa dingin. Tapi, dia tetap perempuan yang kuat, ceria, cuek, pintar, mampu. Dia juga udah ngambil hati gue. Dia jahat, kan? Hahaha. Tapi, guenya juga sih yang berharap. Hahah, Chalia.


--


2 Years later..


Taman. Gue gak tahu kenapa. Gue sedih banget. Karena, Chalia bilang ke gue.. dia bakalan dipindahin ke Jerman dari kampusnya. Dan dia ajak gue ke taman ini buat ucapan selamat tinggal mungkin. Gue melihat arloji gue. Jam 5 sore. Kok dia belum datang? Hm.. Gue melihat kanan-kiri. Dan akhirnya, gue lihat Chalia lagi lari ke arah gue. Kenapa dia? Dan setelah sampe, dia berhenti tepat di depan gue. Jaraknya mungkin semeter.


"Kenapa? Ada yang salah?" tanya gue memastikan. Gue pegang bahunya.


Chalia lihat ke gue dan pegang tangan gue yang ada di bahunya. "Gak. Gak ada yang salah. Gue cuma mau kasih lo hadiah atas pertanyaan lo yang belum gue jawab. Ya, mungkin lo udah lupa. Tapi gue masih inget. Hehe." Dan dia turunin tangan gue, tapi masih dipegang sama dia.


"Em.. pertanyaan? Maaf, gue lupa." gue.


Chalia mengibaskan tangannya ke depan wajah gue. "Ah, gak usah diinget-inget lagi. Gue.. gue cuma mau nyampein itu aja." Chalia tersenyum. Gue juga senyum ke dia.

__ADS_1


"Dit, lo itu.. makasih banyak ya! Lo udah bikin gue ke diri gue yang dulu. Makasih banget," katanya sambil ngejabat tangan gue. Dia senang.


"Oh, itu. Eh, iya. Gak apa-apa. Gue juga makasih banget sama lo. Lo udah bikin kehidupan gue membaik. Ya, walaupun gue gak pernah tahu apa tanggapan lo dari semua ini. Tapi, gue sayang sama lo, Chalia."


Dan akhirnya, gue nyatain itu. Terlalu gampang? Ah, gak! Gue udah ngerencanain ini dari 2 tahun yang lalu. Bahkan waktu kelulusan, gue gak foto sama dia. Gue cuma bisa lihat dia dari jauh. Chalia menunduk dan melepaskan jabatan tangannya dari gue. "Dit, hadiah ini.. tentang semuanya. Makasih banyak, Dit. Gue.. gak bakal berani ngutarain itu semua karena waktu gue gak banyak. Haha.. contact me. I'll be there." Chalia ngelihat gue dengan tersenyum. Tapi, gue malah gak ngebales senyum dia. Entah karena apa, gue gak mau jauh dari dia.


"Lo kapan take off?" gue.


"Dua jam lagi. Kenapa? Lo pengen nganter gue? Ah, gak usah. Ini perintah! Gak usah! ok?"


Dia pintar. "Yah, baiklah. Chalia, hati-hati. Gue akan.. kangen sama lo. Hehe. Sampai jumpa"


Chalia mengangguk dan tersenyum, "Ya. Lo juga. Gue juga pasti kangen sama lo. Hahah.."


Chalia kasih gue sebuah kotak ukuran medium. "Buka dan jaga.."


Gue menerimanya, "Kenapa lo gak bilang kalau pengen tuker kado..gue gak ada persiapan!"


"Ah, gak apa-apa!"


--


2 days later..


Chalia udah pergi. Gak ada pembimbing deh gue. Yah, meskipun gitu.. hidup gue makin berwarna sih karena dia juga. Gue akan buka kotak ini. Ini pasti berharga sampe dia bilang jaga ke gue. Haah.. Oke, gue akan buka. Apa ini? album foto? D-dia.. dia maniak. Ini foto gue semua? Waktu gue lagi nurutin dia.. Hahaha.. Eh ada foto gue sama dia juga? Dasar tukang selfie .. eh, ada bacaannya juga?


"Dear Adit? Hei! Apa kabar? Gimana keadaan lo setelah tahu gue bakalan pindah? Sedih ya? Wkwkwk. Ditinggal orang yang lo sayang. Pasti berat. Gue akuin, gue juga sedih. Gue cinta pertama lo, ya? Hahaha. Kalau bukan, gue cuma nebak kok. Gue tahu lo sayang sama gue itu dari si Hari. Tapi, gue cukup tahu akan hal itu. Haahh.. Gak banyak dari gue. Gue gak tahu gue kenapa. Tapi, gue sayang banget sama lo, dit! Yah, meskipun gue tahu tulisan ini gak ada gunanya lagi.. tapi.. no problem. Gue, maaf. Maaf ya, dit. Gue bikin perjanjian buat gak suka sama gue dulu. Akhirannya jadi begini. Gue bakalan tarik omongan gue waktu itu. Gue gak mau bikin lo sedih juga."


"Jujur. Gue gak mau pisah dari lo. Gue masih mau ngajarin lo. Karena, itu yang buat gue sibuk. Itu yang bikin gue ketawa. Itu yang buat gue makin tahu siapa diri gue ini sebenernya. Hehe. Dan lagi, gue nyaman sama lo. Makanya itu, gue ceritain cerita hidup gue ke lo. Hahaha. Nih ya, gue punya satu tantangan. Gue gak janji tepat waktu. Terserah lo mau lakuin ini atau enggak. Kalau lo masih mau tunggu gue, tunggu gue 2 tahun lagi. Oke? I love you ? Gue percaya sama lo, Aditia Rio. Best regards, Chalia."


Chalia? Hm, gue akan tunggu lo. Maaf untuk ngelanggar janji gue. Dan makasih buat semuanya.


--


6 years later..


Kenapa semua ini terjadi sama gue. Gue harus ngegantiin posisi ayah gue sebagai direktur. Gue juga udah lebih dari 2 tahun belum ketemu Chalia. Yah, tapi ini hidup.


Kring!! Telepon di ruangan gue ini bunyi. Harus gue angkat.


"Ya?"


"…"


"Oh. Suruh dia masuk"


"…"


"Ya"


Sekretaris baru buat gue? Sekretaris ayah emang ke mana? Yah, bodo amatlah.


Tok, Tok, Tok, "Permisi"


Oh, udah datang. "Masuk."


Pasti nih orang ribet deh. Kan biasanya kayak gitu. Gua gak mau lihat. Gue rasa, nih orang udah duduk di depan gue. Haah. Tahap perkenalan ya? Okelah.


"Oke. Siapa nama kamu?" Dan, shock.


Chalia?


Dia tersenyum. Dia, kembali.


"Selamat pagi, Pak. Nama saya Chalia. Senang bertemu dengan anda." ucapnya.


Apa ini? Ini tipuan? Hah, gak peduli deh. Chalia, gue kangen sama lo.


"Apa kabar, Adit? Apa lo ikut tantangan gue? Hahaha. Gue senang di sini."


Gue diem. Gue keinget suratnya dia dulu. Hahaha. Kenangan itu.. Yah! Gue juga senang lo di sini.


"Gue memang sudah melanggar janji gue dari awal. Dan gue udah terima tantangan lo. Jadi, selamat datang, Chalia."


Dan, cerita ini akan terus berlanjut. Tentunya, janji itu gak bisa gue tepati. Welcome, sekretaris baru gue. Hahaha. Welcome, Chalia.


Tamat.


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2