Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
Trik Cinta Amelia (Cerita Cinta Remaja)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Hari ini gue sengaja menolak ajakan Mama pergi ke rumah Eyang. Kami memang punya jadwal khusus untuk mengujungi Eyang. Hanya saja kali ini berbeda, ada sesuatu yang membuat gue harus rela tak berjumpa dengan Eyang satu-satunya. Ialah Kak Re, temen Abang gue yang hendak datang ke rumah.


"Beneran, Mel, kamu gak ikut sama Mama? Ada banyak sepupu yang datang lho hari ini," bujuk Mama kembali.


"Beneran, Ma. Ada PR yang harus Amel kerjakan, ini belum selesai padahal besok pagi sudah harus dikumpulkan." Gue tunjukkan deretan angka-angka yang tak bisa dimengerti Mama.


Sebenarnya gue gak bohong si, memang besok ada PR tapi tinggal tiga nomor saja, entar malam juga bisa dikerjakan, tapi alasan gue kan bukan itu sebenarnya.


"Ya sudah kalau begitu. Mama pergi dulu. Entar kalau butuh apa-apa minta tolong saja sama Abang Riki." Pamit Mama sambil berlari kecil sebab Papa sudah membunyikan klakson berulang kali.


"Ya elah, gue lagi yang kena getahnya, mana harus ngemong bayi gerang jelek lagi," ucap Bang Riki sambil pergi ke dapur.


"Apa'an si, Bang. Jahat banget sama adek sendiri." Gue ikuti Abang satu-satu itu.


Selang tiga puluh menit setelah keberangkatan Mama, rombongan Kak Re datang dengan motor vespanya. Sebenarnya, gue tidak begitu suka dengan kegemaran Abang gue itu tapi berhubung ada Kak Re yang juga punya hobi yang sama jadi tertarik juga.


"Masuk saja Re," teriak Bang Riki mempersilahkan teman-teman ke ruang keluarga. "Udah, masuk kamar gi, ini pembicaraan cowok." Lanjut Bang Riki setelah melihatku mematung melihat sahabat-sahabatnya.


Suasana rumah ramai dengan tawa yang membahana. Ada saja membahasan yang membuat mereka terbahak-bahak. Gue gusar, ingin keluar tapi tak punya alasan. Eh iya ada ide, gue kan ada PR matematika.


"Bang, Amel mau tanya tentang soal yang ini, ni." Gue hampiri Abang gue dan menunjukkan kertas soal nomor delapan.


"Ah, dek. Gangu aja si, lo. Coba Abang lihat dulu." Bang Riki manyun sambil membaca kertas yang aku sodorkan.


"Gitu dong bro, sayang dikit ngapa dengan adiknya." Goda teman Bang Riki yang lain.


"Ni Re, bantuin adek gue. Paling gak bisa kalau berhubungan dengan matematika yang njlimet itu." Bang Riki menyerahkan lembar PR gue ke tangan Kak Re.


Yes. Ini yang gue harepin. Gue 'kan tahu kalau Bang Riki emang tidak ahli matematika. Kesempatan ini.


"Tapi gue bikinin mie kuah telur ya, Mel?" Todong Kak Re membuat kesepakatan.


"Siap, Kak."


Jangankan mie telur, bikin masakan yang ribet banget pasti gue ladenin, kalau Kak Re yang minta, si.


Kak Re memberi isyarat agar aku duduk tepat di sebelahnya. Sementara Abang Riki masih menggobrol dengan teman-teman yang lain, Kak Re serius dengan pensil di tangannya dan mengajarkan hitung menghitung yang gue tak bisa.


"Gak usah takut, Mel. Gue gak bakal ngigit kok. Gestur lo kayak ketemu hantu saja," goda Kak Re yang membuat gue tersenyum malu.


"Enak saja, ngapain juga harus grogi depan Kak Re." Jutek adalah jurus menyamarkan perasaan gue.


Pembahasan kami berlanjut. Kak Re ternyata begitu piyawai untuk mengajari gue. Seperti gaya seorang guru saja.


"Udah, kan, Mel. Sekarang waktunya gue makan mie,l ya?" Alis Kak Re ditarik ke atas dan satu matanya dikedipkan.


"Lha gue juga mau dong, Mel. Masak cuma Re saja yang dibuatin," cerocos teman Bang Riki yang lain, tak mau kalah.


"Yaudah biar gue bantuain masak mie-nya." Kak Re mengikuti gue ke dapur.

__ADS_1


Hari ini sangat mengesankan, mie telor membuat gue semakin akrab dengan Kak Re. Dia bercerita banyak hal, termasuk ketika pertama kali menjadi siswa baru dan akhirnya menjadi sahabat karib Bang Riki.


Mama dan Papa datang setelah gue selesai berberes dan mencuci peralatan masak. Mama memang sudah mengajarkan kalau anak-anaknya harus mandiri. Sekalipun ada asisten rumah tangga, Mama meminta agar tidak melulu mengandalkan Mbak Jum yang setiap minggu dibebastugaskan Mama.


***


Senin yang manis. Bang Riki tentu telah siap dengan vespa kesayangannya. Digosok sampai kinclong.


"Amel buruan dandannya, nanti kita bisa terlambat. Ada upacara bendera di sekolah," teriak tujuh oktaf Abangku itu.


"Iya, Bang, sebentar."


"Cewek apaan si kok bangunnya molor melulu." Kutimpuk mulut Bang Riki dengan botol minum yang dia tinggalkan.


"Cowok apa yang suka teledor dengan barangnya sendiri. Tahu Mama bisa kena sembur lo." Emang hanya dia yang bisa mengolok gue.


Bang Riki adalah ojek pribadi gue. Ya iyalah, Mama tentu tak akan membiarkan anak gadisnya berangkat sekolah naik angkot. Untung Abang gue ini sayang banget dengan adiknya. Jadi, sekalipun sering dapat bully sebagai pengasuh, dia tetap saja menjaga dan mau mengantarkan gue, kemana pun gue mau.


"Bang, Kak Re itu sudah punya cewek belum, si?"


"Lo suka ya sama Re? Ngaku de." Gila dia menertawai adiknya.


"Apa'an si, Bang. Tapi kalau misal Amel suka gak apa-apa kan, Bang?"


"Aduh adekku sudah gede. Gue si gak apa-apa Mel asal tidak keblabasan saja."


"Gitu dong, Bang." Kutepuk punggung Bang Riki keras sebab senang ada yang mendukung.


"Tapi Re dekat dengan Sinta. Tahu, kan? Cewek cantik yang sekelas sama gue itu lo."


Abang gue itu hanya memberi semangat agar tidak putus asa. Sapa tahu emang berjodoh tapi dia juga mengingatkan agar gue tidak salah jalan. Duh, seneng banget kan punya Abang yang pengertian banget begini.


Gue lihat Kak Re menyambut di depan gerbang sekolah. Bukan menyambut gue sebenarnya tapi menyambut Abang gue. Mereka berdua memang klop.


"Pagi, Mel, tambah cantik aja."


"Hei, dia adik gue lo. Jangan macem-macem," sahut Bang Riki menarik lengan Kak Re menjauh dari gue.


Kakak yang posesif. Dasar.


Gue segera menuju kelas. Lima menit lagi semua siswa sudah harus mengikuti upacara bendera. Jika tidak, siap-siap saja jadi tukang kebersian sekolah.


Di kelas sudah ada Sasi dan Reni yang setia menunggu cerita gue tentang Kak Re. Rasanya tak sabar menunggu waktu istirahat datang. Trik klasik gue, tentu pura-pura mencari Abang sayang gue, dan itu jitu membuat obrolan dengan Kak Re.


Entah, gue juga heran entah mengapa Kak Re juga tak pernah bosan meladeni kejahilan gue. Sepertinya dia juga ada perasaan dengan gue. Dilihat dari gesturnya si. Semoga gue tidak salah.


"Mel, ada yang ingin gue kenalkan sama lo," suara Kak Re mengagetkan gue.


"Siapa Kak?" jawab gue sedikit penasaran.


"Sudah ayo ikut gue ke kantin," ucap Kak Re menarik tangan gue untuk mengikutinya.

__ADS_1


Sebenarnya, gue sudah berusaha untuk menolak tapi katanya ini penting sekali. Sudah lama siswa ini ingin berkenalan dengan gue tapi selalu saja tidak ada kesempatan.


Langkah Kak Re terhenti di depan meja cewek yang tadi pagi gue bicara ketika berangkat sekolah, Sinta.


"Eh Amel. Duduk sini yuk. Gue pingin bicara banyak sama lo." Senyum Kak Sinta membuat gue gugup. Kalah telak gue di hadapan cewek cantik ini.


"Ada apa ya, Kak? Kok pengen mengenal gue. Amel hanya berteman saja kok dengan Kak Re. Benar, kan, Kak ... Kak Re?"


Kak Re hanya tertawa berbahak-bahak. Memang ada yang salah ya dengan omongan gue?


"Tenang saja, Mel. Gue bukan pacarnya Re kok. Kita hanya berteman," ucap Kak Sinta sambil mengembangkan senyumnya.


"Tapi ..., Kak."


"Justru yang Sinta sukai itu Abang lo itu, Mel," sahut Kak Re.


Aku tersendak, tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar.


Kak Sinta tanya banyak hal tentang Abang gue. Apa yang disukai dan apa yang tidak. Gue bersyukur apa yang gue pikirkan tentang Kak Re dan Kak Sinta ternyata tidak benar.


Kak Sinta meminta gue agar minggu depan bisa mengajak Abang gue untuk ke toko buku. Ceritanya, gue entar tak sengaja ketemu sama Kak Sinta. Ada Kak Re juga. Ahai mana mungkin gue tolak. Sekalian gue bisa pedekate terselubung sama Kak Re.


Sudah tak sabar menunggu akhir pekan datang.


****


Tadi Mama mau ikut ke toko buku, katanya sekalian pengen beli resep makanan, tapi dengan berbagai alasan akhirnya gue bisa membujuk Mama untuk stay at home saja bareng Papa. Sekalian bisa pacaran lagi kan? Mumpung tidak direcoki anak-anaknya.


"Setelah dari toko buku, kita ke cafe seberang ya, Dek? Abang pengen mencoba moccacino di sana." Bang Riki memberi syarat kepadaku.


"Boleh, Bang, tapi dibayarin ya?"


"Halah, kayak siapa aja yang biasa bayar. Celengan lo tambah banyak lo, Dek. Emang mau buat beli apa'an si?"


"Rahasia."


Seperti rencana. Akhirnya Kak Sinta bisa mengobrol asyik dengan Bang Riki. Sementara gue sama Kak Re menikmati capucino di cafe dekat tokoh buku.


"Amel mau tidak kalau sering-sering gue ajak ke cafe gini?"


"Mau dong, Kak."


"Tapi jadian dulu ya sama gue."


Waduh gue di tembak Kak Re. Mimpi apa gue semalem. Gue belum pernah secanggung dan segrogi ini, tapi akhirnya gue mengangguk pelan.


"Tapi awas ya Re, kalau lo macem-macem sama adik gue." Suara Bang Riki tiba-tiba nonggol di belakang gue.


Kami berempat akhirnya tertawa bersama. Trik konyol gue ternyata jitu juga. Kak Re, gue terima cinta lo.


Cerpen karangan : Windy Aira

__ADS_1


Tamat.


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.


__ADS_2