
SELAMAT MEMBACA đđđđ
âHal yang paling kutakutkan di dunia ini ketika kematian menjemputku sedangkan aku tak sempat menyambutnya. Kupikir setelah sekian lama aku melupakan perasaan yang pernah menghantuiku telah sirna selamanya. Ternyata aku masih menyimpannya dengan rapi. Menggenggamnya hingga kurasakan sakit yang begitu hebat, Ingin sekali aku melemparkan api neraka di tanganku. Saat ini yang kuinginkan hanya bermimpi.
Setiap orang punya hatinya masing-masing. Begitupun aku, Aku punya seribu hati yang mana salah satunya terluka maka semuanya hancur. Mungkin aku telah memaafkan tapi tak mudah kulupakan semua Luka yang telah kau torehkan.
Saat itu aku berjalan dalam gelap, merangkak pada jalan yang membuatku tersesat. Mencari yang mana telah menjadi yang terlarang. Aku menjadi si sang pembunuh! Kau tahu? Aku ingin bahagia. Membuat sebuah kebahagiaan butuh pengorbanan dan aku butuh kau untuk melakukannya. Sebenarnya, Kau adalah perempuan cantik yang bodoh.
âHeh kalian tahu ga? si itu tuh.. Katanya hilang dan sampai sekarang belum ketemuâ. âIya, Aku juga dengar kabarnyaâ. âSayang sekali ya, Padahal aku mau menjadikannya kekasihku. Dia kan cantik sekali. Wajar saja sihâ. âMana ada yang peduli dengannya? Dia kan sombong dan juga tidak mau bertemanâ. âShuuuutttt udah-udah jangan ngomongin dia terusâ.
âTapi bagaimana mungkin kau mau meninggalkanku. Kita telah lama saling mencintaiâ. âSudahlah aku sudah tak lagi mencintaimuâ. Dari kejauhan kulihat langkah kakimu yang ragu. Kembalilah, Kumohon. Keesokan harinya kau membawa laki-laki itu di hadapanku. Dengan jas hitam berdasi yang digunakannya, Membuat laki-laki itu lebih pantas untukmu. Mobil BMW i8 yang bahkan tak sanggup aku membelinya mengantarmu pada gerbang yang menari indah. Aku mulai menjauh. âAku akan membuktikannya padamu bahwa aku sungguh mencintaimu miaâ. Semakin lama, Aku semakin tak bisa mengejarmu. Aku sangat membencimu, Ingin rasanya aku membuat wajahmu hancur begitu saja tanpa seorang pun mau menyentuhnya. Tapi kupendam semua itu begitu lama hingga aku jatuh cinta pada perempuan itu, Lalu kau datang lagi padaku dan meminta maaf. Perasaan yang kau berikan padaku membuat aku semakin muak padamu. âMengapa wajahmu terus membayangiku mia, Apa salahku padamu? Aku ingin selalu di dekatmu, Kau menjauh. Aku telah melupakanmu, Kau mengingatkan. Aku telah membencimu, Tapi aku juga sangat merindukanmuâ.
__ADS_1
âMia, Ada apa dengan kamu? Aku lihat kamu mendekati si agus lagi. Buat apa? Dia hanya sampah masyarakatâ. âHahaha, Aku hanya mempermainkannya rena. Aku tahu ia tak akan pernah melupakanku. Bahkan dia takkan sanggup melupakan wajahku. Aku pun tak sudi bersama dengannya lagi. Dia hanya anak orang miskinâ. Begitu yang kau ucapkan pada temanmu di balik dinding yang memisahkan kita.
Aku telah memaafkanmu sejak dahulu, Tapi aku terus memikirkannya. Aku ingin membalasmu dengan dendam yang telah membara membakar hatiku. Aku terus mengingatnya, Bukan pada wajahmu. Tapi pada rasa yang pernah kulupakan, Menyayat wajahmu yang indah. Aku tak ingin lagi dihantui rasa sakit yang menikam tubuhku. âHahahahahaha aku ingiiinn tertawaâ.
âMia, Aku punya hadiah untukmu. Maukah kau ikut denganku sebentar sajaâ. âAku tahu kau masih mencintaiku, Ya setidaknya aku masih bisa bersikap baik padamu karena aku tak akan meminta maaf untuk yang ke dua kalinyaâ. (Kau salah, Aku sangat membencimu. Rupanya kau telah tumbuh dewasa dengan kesombonganmu. Aku hanya perlu berbaik hati padamu dan kau takkan pernah bisa meminta maaf lagi bedebah). Perasaan itu terus menghentakkan jantungku berdegup lebih kencang. âDeg deg deg deg degâ.
âKatanya mia kembali yaâ. âIya katanya sih, Tapi ia terlihat murung dan terus menutupi wajahnyaâ. âBiasanya ia selalu memamerkan wajahnya yang busuk ituâ. âMungkin ia menghilang karena operasi plastikâ. âHahahahahahahaâ. âAyo kita lihat sajaâ. Mereka menghampirimu yang sedari tadi duduk di koridor sekolah. Kau menatap mereka dengan dingin. Tak seorang pun yang mau mendekatimu. Aku tahu semua itu diluar dugaanku! Aku ingin menghentikan semua ini, Tapi bukan dengan kematian.
âHai, Kamu siapa? Kok kamu di sini sendirian?â. âKau siapa? Aku tak mengenalmuâ. Suaramu parau dan gadis itu terus bertanya padamu. âNamaku desi, Kau siapa? Tak ada teman yang menemanimu?â. âAku mia, Tak ada yang mau berteman denganku. Temanku rena, Dia menusukku dari belakang dan aku tak mau lagi berteman dengannyaâ.
Desi dan kau bermain bersama. Hingga hari berlalu begitu saja, Meninggalkan bekas tanpa pamit. Di ujung koridor sekolah, Kau selalu duduk di sana. Tak ada orang yang mau melihatmu bahkan melirik saja enggan. Bau tubuhmu yang busuk mengusik kehidupan mereka. âApa tubuhku bau busuk?â. âOh tidak mia, Kamu sangat harum. Memangnya kenapa? Meskipun kamu bau, Aku takkan meninggalkanmu. Kita adalah temanâ. âTerimakasih desi, Kau sangat baikâ.
__ADS_1
âLalalalalalalalalala, Lihat mia burung-burung itu menariâ. âYa sungguh indah. Desi aku ingin bertanya sesuatuâ. âMau tanya apa? Asal kamu jangan aneh nanyanyaâ. âMengapa kau mau berteman denganku saat yang lain menjauh. Kau pun tidak mengenali wajahku, Selama ini aku menutupinya darimuâ. âMia, Aku berteman denganmu karena kita teman, Argghhh aku tidak bisa menjawabnya. Aku tak peduli wajahmu. Kamu teman yang baikâ. âAku ingin memperlihatkannya padamu, Tapi aku tak pernah lihat kamu sebelumnyaâ. âSebenarnya, Aku ini hantuâ. âHahahaha, Kau bercanda ya desiâ. âTidak, Aku tidak bercanda mia. Hanya kamu yang dapat melihatku, Aku tidak punya teman. Maafkan aku telah membohongimu dengan berlagak seperti manusiaâ. âSudahlah, Aku tak peduli lagi. Aku lebih seram. Padahal kau hantu dan aku manusiaâ. Kau memperlihatkan wajahmu yang telah hancur sebelah. Bahkan setiap kali kau berkaca, Kau akan menangisi wajahmu yang sebelah kiri dan mendambakan yang sebelah kanan.
âAgus, Kau mau membawaku kemana?â. âKe tempat yang indah, Aku akan memberi kau hadiahâ. âRena, Sedang apa kau di sini?â. âMia, Aku ke sini bersama agus. Agus adalah kekasih yang amat aku cintaiâ. âKalian berdua menjebakku?â. âAku tidak menjebakmu. Kamu terlalu sombong, Aku mencintainya dan kamu mencampakkannya. Dia memang sampah dan miskin, Tapi kamu lebih busuk darinyaâ. âAgus apa yang kamu lakukan?â. âAku ingin menghancurkan wajahnyaâ. Aku menusukkan pisau di mata sebelah kirimu, Menghantam wajahmu dengan batu. Merobek mulutmu hingga kau mati di tanganku. âApa yang kamu lakukan, Kamu membunuhnya. Kamu pembunuh agusâ. âRena, Kau pikir kau siapa? Kau hanya akan sama sepertinyaâ. âKaaaaa kau, pembunuhâ. Aku membunuh rena. Aku tertawa, Aku bahagia dan aku menjadi suka. Membunuh adalah hal yang indah untukku, Jiwaku telah dirasuki dendam, Amarah dan api yang berkobar.
âMiiiia, Kamu juga hantu. Tapi mengapa mereka juga bisa melihatmu?â. âApa? Aku hantu? Apa maksudmu? Kau bercanda?â. âTidak, Aku melihatnya. Sebuah kematianâ. âTidak mungkin, Aku tidak ingin mati. Dia yang telah membuatku seperti ini. Aku tapi, Tapi aku. Aku tak bisa menemukannyaâ.
Bertahun-tahun berlalu. Aku telah berada di dimensi yang berbeda. Aku melihat segerombolan orang yang aneh. Ada orang tanpa kepala, Si kecil berkepala botak. Nenek-nenek yang tak punya kaki. Perempuan dengan lubang. Aku tak suka berada di sini. Lalu aku bertemu denganmu. Aku minta maaf mia, Aku sungguh menyesal. âBagaimana kau juga bisa menjadi hantuâ. âRasa penyesalanku, Aku membunuh diriku sendiri yang tak mau matiâ. Aku menjemput ajalku tanpa aku mau. âLalu, Mengapa orang-orang dapat melihatku agus? Aku seperti hidup, Aku seperti manusia. Padahal ruhku sudah tak ada. Aku hantu, Tanpa aku tahu!â. âSemua itu karena aku yang menjadikanmu seperti ini. Orang-orang melihatmu, Kau malu dan menderita. Maafkan aku miaâ. âAku sudah memaafkanmu, Bagaimana aku bisa tak terlihat oleh manusia. Aku ingin tenang agus?â. âAku akan menggali lagi kuburanmu. Begitu kata guruku, Aku hanya perlu membalikkan tubuhmu ke arah kiblatâ. Setelah itu aku kembali menggali tanah yang telah kering. Saat aku akan membalikkan tubuhmu, Hanya tulang belulang yang aku temukan. Tapi alangkah terkejutnya aku, Tubuh itu kembali menjadi seutuhnya. Saat aku hendak membalikkan tubuhmu. Kau bangun dan menampar pipiku hingga sakit, Kau balas dendam padaku dan luka itu membekas seperti telapak tangan menempel dipipi kiriku. âAgus, Sebenarnya aku masih mencintaimu. Tapi karena umurku tak akan lama lagi. Aku sengaja begitu padamu agar kau pergi dan menjauh dariku. Aku tak menyangka kau sebegitu membenciku. Maafkan akuâ. âMia, Benarkah yang kau katakan? Aku tidak membencimu, Aku hanya dendam karena aku sangat mencintaimu dan kau membuat luka padaku. Maukah kita mengulangnya lagi?â. âBoleh. Aku mencintaimu agusâ. Dan kita menjadi hantu yang paling bahagiaâ. Begitulah kisah yang kuceritakan pada mia!
Cerpen Karangan: Dheea Octa
Tamat.
__ADS_1
MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.