Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
SANG PEMBUNUH!! (Cerita Horor)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏


“Hal yang paling kutakutkan di dunia ini ketika kematian menjemputku sedangkan aku tak sempat menyambutnya. Kupikir setelah sekian lama aku melupakan perasaan yang pernah menghantuiku telah sirna selamanya. Ternyata aku masih menyimpannya dengan rapi. Menggenggamnya hingga kurasakan sakit yang begitu hebat, Ingin sekali aku melemparkan api neraka di tanganku. Saat ini yang kuinginkan hanya bermimpi.


Setiap orang punya hatinya masing-masing. Begitupun aku, Aku punya seribu hati yang mana salah satunya terluka maka semuanya hancur. Mungkin aku telah memaafkan tapi tak mudah kulupakan semua Luka yang telah kau torehkan.


Saat itu aku berjalan dalam gelap, merangkak pada jalan yang membuatku tersesat. Mencari yang mana telah menjadi yang terlarang. Aku menjadi si sang pembunuh! Kau tahu? Aku ingin bahagia. Membuat sebuah kebahagiaan butuh pengorbanan dan aku butuh kau untuk melakukannya. Sebenarnya, Kau adalah perempuan cantik yang bodoh.


“Heh kalian tahu ga? si itu tuh.. Katanya hilang dan sampai sekarang belum ketemu”. “Iya, Aku juga dengar kabarnya”. “Sayang sekali ya, Padahal aku mau menjadikannya kekasihku. Dia kan cantik sekali. Wajar saja sih”. “Mana ada yang peduli dengannya? Dia kan sombong dan juga tidak mau berteman”. “Shuuuutttt udah-udah jangan ngomongin dia terus”.


“Tapi bagaimana mungkin kau mau meninggalkanku. Kita telah lama saling mencintai”. “Sudahlah aku sudah tak lagi mencintaimu”. Dari kejauhan kulihat langkah kakimu yang ragu. Kembalilah, Kumohon. Keesokan harinya kau membawa laki-laki itu di hadapanku. Dengan jas hitam berdasi yang digunakannya, Membuat laki-laki itu lebih pantas untukmu. Mobil BMW i8 yang bahkan tak sanggup aku membelinya mengantarmu pada gerbang yang menari indah. Aku mulai menjauh. “Aku akan membuktikannya padamu bahwa aku sungguh mencintaimu mia”. Semakin lama, Aku semakin tak bisa mengejarmu. Aku sangat membencimu, Ingin rasanya aku membuat wajahmu hancur begitu saja tanpa seorang pun mau menyentuhnya. Tapi kupendam semua itu begitu lama hingga aku jatuh cinta pada perempuan itu, Lalu kau datang lagi padaku dan meminta maaf. Perasaan yang kau berikan padaku membuat aku semakin muak padamu. “Mengapa wajahmu terus membayangiku mia, Apa salahku padamu? Aku ingin selalu di dekatmu, Kau menjauh. Aku telah melupakanmu, Kau mengingatkan. Aku telah membencimu, Tapi aku juga sangat merindukanmu”.

__ADS_1


“Mia, Ada apa dengan kamu? Aku lihat kamu mendekati si agus lagi. Buat apa? Dia hanya sampah masyarakat”. “Hahaha, Aku hanya mempermainkannya rena. Aku tahu ia tak akan pernah melupakanku. Bahkan dia takkan sanggup melupakan wajahku. Aku pun tak sudi bersama dengannya lagi. Dia hanya anak orang miskin”. Begitu yang kau ucapkan pada temanmu di balik dinding yang memisahkan kita.


Aku telah memaafkanmu sejak dahulu, Tapi aku terus memikirkannya. Aku ingin membalasmu dengan dendam yang telah membara membakar hatiku. Aku terus mengingatnya, Bukan pada wajahmu. Tapi pada rasa yang pernah kulupakan, Menyayat wajahmu yang indah. Aku tak ingin lagi dihantui rasa sakit yang menikam tubuhku. “Hahahahahaha aku ingiiinn tertawa”.


“Mia, Aku punya hadiah untukmu. Maukah kau ikut denganku sebentar saja”. “Aku tahu kau masih mencintaiku, Ya setidaknya aku masih bisa bersikap baik padamu karena aku tak akan meminta maaf untuk yang ke dua kalinya”. (Kau salah, Aku sangat membencimu. Rupanya kau telah tumbuh dewasa dengan kesombonganmu. Aku hanya perlu berbaik hati padamu dan kau takkan pernah bisa meminta maaf lagi bedebah). Perasaan itu terus menghentakkan jantungku berdegup lebih kencang. “Deg deg deg deg deg”.


“Katanya mia kembali ya”. “Iya katanya sih, Tapi ia terlihat murung dan terus menutupi wajahnya”. “Biasanya ia selalu memamerkan wajahnya yang busuk itu”. “Mungkin ia menghilang karena operasi plastik”. “Hahahahahahaha”. “Ayo kita lihat saja”. Mereka menghampirimu yang sedari tadi duduk di koridor sekolah. Kau menatap mereka dengan dingin. Tak seorang pun yang mau mendekatimu. Aku tahu semua itu diluar dugaanku! Aku ingin menghentikan semua ini, Tapi bukan dengan kematian.


“Hai, Kamu siapa? Kok kamu di sini sendirian?”. “Kau siapa? Aku tak mengenalmu”. Suaramu parau dan gadis itu terus bertanya padamu. “Namaku desi, Kau siapa? Tak ada teman yang menemanimu?”. “Aku mia, Tak ada yang mau berteman denganku. Temanku rena, Dia menusukku dari belakang dan aku tak mau lagi berteman dengannya”.


Desi dan kau bermain bersama. Hingga hari berlalu begitu saja, Meninggalkan bekas tanpa pamit. Di ujung koridor sekolah, Kau selalu duduk di sana. Tak ada orang yang mau melihatmu bahkan melirik saja enggan. Bau tubuhmu yang busuk mengusik kehidupan mereka. “Apa tubuhku bau busuk?”. “Oh tidak mia, Kamu sangat harum. Memangnya kenapa? Meskipun kamu bau, Aku takkan meninggalkanmu. Kita adalah teman”. “Terimakasih desi, Kau sangat baik”.

__ADS_1


“Lalalalalalalalalala, Lihat mia burung-burung itu menari”. “Ya sungguh indah. Desi aku ingin bertanya sesuatu”. “Mau tanya apa? Asal kamu jangan aneh nanyanya”. “Mengapa kau mau berteman denganku saat yang lain menjauh. Kau pun tidak mengenali wajahku, Selama ini aku menutupinya darimu”. “Mia, Aku berteman denganmu karena kita teman, Argghhh aku tidak bisa menjawabnya. Aku tak peduli wajahmu. Kamu teman yang baik”. “Aku ingin memperlihatkannya padamu, Tapi aku tak pernah lihat kamu sebelumnya”. “Sebenarnya, Aku ini hantu”. “Hahahaha, Kau bercanda ya desi”. “Tidak, Aku tidak bercanda mia. Hanya kamu yang dapat melihatku, Aku tidak punya teman. Maafkan aku telah membohongimu dengan berlagak seperti manusia”. “Sudahlah, Aku tak peduli lagi. Aku lebih seram. Padahal kau hantu dan aku manusia”. Kau memperlihatkan wajahmu yang telah hancur sebelah. Bahkan setiap kali kau berkaca, Kau akan menangisi wajahmu yang sebelah kiri dan mendambakan yang sebelah kanan.


“Agus, Kau mau membawaku kemana?”. “Ke tempat yang indah, Aku akan memberi kau hadiah”. “Rena, Sedang apa kau di sini?”. “Mia, Aku ke sini bersama agus. Agus adalah kekasih yang amat aku cintai”. “Kalian berdua menjebakku?”. “Aku tidak menjebakmu. Kamu terlalu sombong, Aku mencintainya dan kamu mencampakkannya. Dia memang sampah dan miskin, Tapi kamu lebih busuk darinya”. “Agus apa yang kamu lakukan?”. “Aku ingin menghancurkan wajahnya”. Aku menusukkan pisau di mata sebelah kirimu, Menghantam wajahmu dengan batu. Merobek mulutmu hingga kau mati di tanganku. “Apa yang kamu lakukan, Kamu membunuhnya. Kamu pembunuh agus”. “Rena, Kau pikir kau siapa? Kau hanya akan sama sepertinya”. “Kaaaaa kau, pembunuh”. Aku membunuh rena. Aku tertawa, Aku bahagia dan aku menjadi suka. Membunuh adalah hal yang indah untukku, Jiwaku telah dirasuki dendam, Amarah dan api yang berkobar.


“Miiiia, Kamu juga hantu. Tapi mengapa mereka juga bisa melihatmu?”. “Apa? Aku hantu? Apa maksudmu? Kau bercanda?”. “Tidak, Aku melihatnya. Sebuah kematian”. “Tidak mungkin, Aku tidak ingin mati. Dia yang telah membuatku seperti ini. Aku tapi, Tapi aku. Aku tak bisa menemukannya”.


Bertahun-tahun berlalu. Aku telah berada di dimensi yang berbeda. Aku melihat segerombolan orang yang aneh. Ada orang tanpa kepala, Si kecil berkepala botak. Nenek-nenek yang tak punya kaki. Perempuan dengan lubang. Aku tak suka berada di sini. Lalu aku bertemu denganmu. Aku minta maaf mia, Aku sungguh menyesal. “Bagaimana kau juga bisa menjadi hantu”. “Rasa penyesalanku, Aku membunuh diriku sendiri yang tak mau mati”. Aku menjemput ajalku tanpa aku mau. “Lalu, Mengapa orang-orang dapat melihatku agus? Aku seperti hidup, Aku seperti manusia. Padahal ruhku sudah tak ada. Aku hantu, Tanpa aku tahu!”. “Semua itu karena aku yang menjadikanmu seperti ini. Orang-orang melihatmu, Kau malu dan menderita. Maafkan aku mia”. “Aku sudah memaafkanmu, Bagaimana aku bisa tak terlihat oleh manusia. Aku ingin tenang agus?”. “Aku akan menggali lagi kuburanmu. Begitu kata guruku, Aku hanya perlu membalikkan tubuhmu ke arah kiblat”. Setelah itu aku kembali menggali tanah yang telah kering. Saat aku akan membalikkan tubuhmu, Hanya tulang belulang yang aku temukan. Tapi alangkah terkejutnya aku, Tubuh itu kembali menjadi seutuhnya. Saat aku hendak membalikkan tubuhmu. Kau bangun dan menampar pipiku hingga sakit, Kau balas dendam padaku dan luka itu membekas seperti telapak tangan menempel dipipi kiriku. “Agus, Sebenarnya aku masih mencintaimu. Tapi karena umurku tak akan lama lagi. Aku sengaja begitu padamu agar kau pergi dan menjauh dariku. Aku tak menyangka kau sebegitu membenciku. Maafkan aku”. “Mia, Benarkah yang kau katakan? Aku tidak membencimu, Aku hanya dendam karena aku sangat mencintaimu dan kau membuat luka padaku. Maukah kita mengulangnya lagi?”. “Boleh. Aku mencintaimu agus”. Dan kita menjadi hantu yang paling bahagia”. Begitulah kisah yang kuceritakan pada mia!


Cerpen Karangan: Dheea Octa


Tamat.

__ADS_1


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.


__ADS_2