Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
Naga hijau (Cerita Thriller)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏


Tengah malam aku terbangun. Ku dengar suara jeritan menyayat hati di kejauhan. Suara jeritan menembus dinding rumah dan kamarku. Mataku terpejam. Berusaha konsentrasi dari arah mana suara tersebut. Sebisa mungkin memusatkan pikiran untuk mendapatkan asal suara jeritan. Aku yakin ini suara dari selatan.


Aku beranjak dari tempat tidur. Waktu sedang menunjukkan pukul 1 dini hari. Aku segera keluar rumah. Suara masih terdengar tapi tak kulihat seorang pun di luar rumah. Apakah orang-orang tertidur lelap hingga tidak mendengar suara tersebut?


Tidak terlalu memusingkan pertanyaan tersebut, langkahku pun beranjak menuju asal suara. Sambil jalan aku terus mendengarkan jeritan itu agar tidak salah lokasi. Dalam perjalanan ini tak kulihat seorang pun di jalan. Benar-benar sunyi seolah hanya aku yang mendengar suara tersebut.


Jalan yang ku lalui adalah jalan setapak. Kiri kanan hanyalah pepohonan jati. Sekitar 1 kilometer di depan sana ada sebuah lembah. Lembah yang terkenal. Terkenal angker.


Di tengah lembah tersebut terdapat telaga. Dikelilingi oleh pepohonan yang rindang. Telaga ini memiliki air yang jernih dan dihiasi oleh bunga teratai yang begitu indah saat bermekaran. Pemandangan indah yang terlihat di siang hari dan malam hari saat bulan purnama.


Aku masih setengah jalan, saat kudengar suara jeritan itu lagi. Jeritan menyayat dan memilukan hati. Aku tidak berani berlari untuk sampai ke sana. Sekelilingku gelap tak bisa kulihat dengan jelas. Jika aku berlari, aku takut terjatuh.


Saat aku melewati sebuah tanaman menjalar yang melintasi jalan dan seolah menghubungkan antara satu dahan pohon sebelah kanan dengan kiri jalan, ada sesuatu hawa dingin menerpaku. Kedua pohon tadi terlihat seperti sebuah gerbang taman tapi yang kurasa seperti memasuki sebuah dunia yang berbeda.


Kudengar suara burung gagak. Awalnya hanya seekor yang kulihat, semakin aku masuk ke dalam semakin banyak burung gagak bertengger di dahan dan ranting pohon. Anehnya, hanya seekor yang mengeluarkan suara.


Sejenak langkahku terhenti. Kusadari sudah tidak terdengar lagi suara jeritan tersebut. Aku berpikir, apakah aku kembali atau melanjutkan perjalanan. Sebelum keputusan aku ambil, terdengar kembali suara tersebut. Kuarahkan kembali langkahku menuju suara tersebut.


Samar-samar terdengar pula suara perempuan tertawa mengekeh. Dan itu tepat ada di balakangku. Suara itu mengikutiku. Aku tidak berani menoleh. Aku fokuskan jalan di depan. Aku melirik ke samping, Sosok wanita berpakaian putih dengan rambut panjang terurai melayang mengiringiku sambil tertawa mengekeh menyeramkan dan membuat bulu kuduk merinding.


Di samping sebelah kiri kulihat pocong dengan warna hitam di matanya. Ia hanya melayang dan melihatku denga sorotan mata tajam menembus jantung. Aku jengah dilihat seperti itu. Ia menghilang dan muncul kembali di pohon berikutnya mengikuti langkah kakiku.


Sejenak sosok wanita tadi telang menghilang dan hanya menyisakan suara tawanya yang samar-samar. Tinggal pocong ini saja yang masih membayangi langkahku.


Tidak jauh, muncul kembali sosok lain hitam gelap dan tinggi besar. Matanya merah menyala. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi aku yakin bahwa itu sosok genderuwo. Ia menggeram dengan kemarahan. Melotot kearahku.


Aku tidak memedulikan semua sosok yang hadir di perjalananku. Aku focus pada suara jeritan menyayat hati dan meminta tolong dari kejauhan. Aku merasa suara itu berasal dari lembah di depan setelah hutan ini.

__ADS_1


Tidak lama, aku sudah berada di akhir jalan setapak pinggiran hutan. Di depanku terhampar lembah dengan telaga di tengahnya. Aku terkesiap. Dari kejauhan ku lihat naga hijau besar. Tingginya sekitar 3 meter saat kepalanya berdiri dan siap menerkam sesosok wanita di depannya.


Suara jeritan minta tolong itu berasal dari wanita tersebut. Ia terlihat sangat ketakutan. Tanpa berpikir panjang, aku pun berlari melintasi lembah. Sekuat tenaga aku berlari menuju telaga. Berbekal ilmu bela diri dan tenaga dalam yang sudah lama aku pelajari, tubuhku terasa sangat ringan.


AKu memusatkan tenaga dalamku pada kakiku. Sebagian lagi aku curahkan ke pandangan dan telingaku. Semakin cepat aku berlari seolah aku terbang melintasi jalan lembah.


Kurasakan ada sorotan mata tajam terarah padaku, naga itu menyadari kehadiranku. Aku pun bersiap jika tiba-tiba naga itu menghampiriku. Aku semakin kencang berlari. Sekejap kemudian aku sudah berada di hadapan naga tersebut.


Naga itu mendengus, marah akan kehadiranku. Ia pun menerkam ke arahku. Aku berkelit ke samping dan bersiap dengan kuda-kuda untuk menerjang ke samping kepalanya. Tapi urung kelakukan, naga itu secepat kilat berbalik ke arahku. Kembali aku berkelit, tubuhku melayang ke atas.


Kuarahkan tendangan di kepalanya. “Bug!” tendanganku hanya mengenai tanah. Naga itu sudah memundurkan kepalanya, dan sekejap mulutnya sudah di depanku. Aku menilangkan lenganku di depan kepala, merapal sebuah jurus sakti pemberian guruku dari pegunungan tengger Bromo.


Kupusatkan tenaga dalam di lenganku. Jariku mengepal dengan keras. Sinar putih keluar dari tengah antara silang lenganku. Saat itu pula moncong naga sudah berada satu jengkal dari lenganku.


“BBBAAAAMMM!!!”


Kulihat kepala naga itu terpelanting ke belakang tapi tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Hanya kepala dan lehernya saja yang bergerak. Aku memuji kekuatan naga tersebut. Ia benar-benar memiliki kekuatan yang besar sesuai dengan ukuran tubuhnya.


Di lain pihak, naga itu pun kagum dengan tenaga dalam pemuda di depannya. Ia tadi sudah mengeluarkan setengah tenaganya. Dan hanya orang-orang pilihan yang mampu bertahan melawan setengah tenaga dalam naga tersebut.


Naga tersebut mulai menggerakkan tubuhnya. Dari perut hingga ekor yang awalnya melingkar pun mulai bergerak dan mengembang. Dengan tetap mata menyorot tajam, tubuhnya mulai bersinar kehijauan.


Tersadar akan kekuatan besar yang dipersiapkan oleh naga tersebut, aku pun mulai memasang kuda-kuda. Kakiku menjejak tanah dengan keras. Kugerakkan lenganku menyilang di dada, perlahan bergerak ke depan dan merapal sebuah jurus yang kudapat dari guru kedua ku dari gunung semeru.


Naga itu benar-benar tidak main-main, ia sepertinya mengeluarkan seluruh tenaganya. Tubuhnya memancarkan warna hijau menyilaukan. Mulutnya terlihat komat-kamit seolah membaca sebuah mantera.


Aku pun mempersiapkan seluruh tenaga dalamku. Kurasakan seluruh alam seolah terhenti. Tidak ada suara apapun, angin seolah terhenti. Rumput berhenti bergoyang. Bahkan kurasakan nyamuk pun tidak bergerak sama sekali. Seluruh alam semesta seperti mengehntikan waktunya sejenak.


Ini adalah kedua kalinya aku merapal jurus hebat dari gunung semeru. Pertama kali kurapal saat ujian pamungkas sebelum dilepas oleh guruku. Dan mendapat pesan penting bahwa jurus ini boleh digunakan saat mengahadapi pendekar kejam dari golongan hitam atau melawan makhluq aneh dari dunia lain.

__ADS_1


Secepat kilat naga itu menerjang ke arahku, ia menyibakkan ekornya. Menyerangku dari arah samping kiri. Aku menangkisnya dengan tangan kiri. Saat itu juga kembali terdengar suara menggelegar.


“BUMMM!!!”


Dua kekuatan besar bertemu. Tubuhku terdorong ke samping beberapa langkah. Aku melirik ekor naga itu terpelanting kembali ke belakang.


Tapi sekonyong-konyong moncong naga sudah berada di depanku. Moncongnya bersinar seolah api berwarna hijau menderu dengan kekuatan yang panas. Satu meter kemudian moncong itu akan menerpa dadaku.


Hawa panas menjalar di dadaku, kusiapkan tanganku di depan dadaku. Kurapal kembali jurus pamungkasku dari gunung semeru. Kemudian terjadi benturan dua kekuatan besar.. “DUARRRRRRR!!!”


Tubuhku terjerembab ke belakang, hawa panas menyeruak ke dalam dadaku dan membuatku sesak bernapas. aku terbatuk-batuk. Ada darah keluar dari mulutku. Saat itu aku sudah tidak bisa apa-apa. Lenganku seolah remuk redam.


Luar biasa tenaga dalam naga tersebut. Membuat tubuhku lemah terbaring dan tidak dapat bangun kembali. Kulihat naga tersebut juga mengalami kondisi yang sama. Ia menggelepar di samping telaga. Tidak bergerak sama sekali. Tidak lama aku pun pingsan tidak sadarkan diri.


***


Entah berapa lama aku pingsan, tiba-tiba aku sudah bangun dan berada di sisi telaga. Kurasakan tubuhku lemas, bagaimana bisa tubuhku sudah berada di sini. Seketika aku kaget, di sampingku sudah ada naga duduk dengan menggulung tubuhnya dengan kepala tegak.


“Cukup, Ngger. Kamu sudah lulus ujian, terimalah ilmu ini”, kudengar ia mengatakan kepadaku.


Sebelum sempat aku menjawab, suatu cahaya masuk ke dalam tubuhku, berjalan dari kepala menjalar ke seluruh tubuh hingga terakhir di kakiku. Kurasakan seluruh tulang dan persendianku bahkan aliran darahku disembuhkan kembali. Tubuhku kembali normal.


Sebelum sempat aku berdiri, sebuah cahaya yang kedua masuk ke dalam tubuhku. Cahaya hijau. Saat itu pula tubuhku bergetar hebat, tubuhku tidak kuat menerima cahaya tersebut. Kembali aku merasa akan pingsan, namun sebelum aku pingsan, ku lihat sesosok orang tua yang ku kenal sedang berdiri di samping naga hijau. Guruku!


Cerpen karangan : M. Rudy Haris


Tamat.


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2