
SELAMAT MEMBACA ๐๐๐๐
Jika kalian tahu ada guyonan lelaki yang disuruh merapal surat al-Qur'an saat mendatangi rumah pujaan hatinya. Percayalah itu benar adanya, dan aku salah satunya.
Namaku Bramanta. Di kampus tak ada yang tak mengetahui sosokku. Untuk menaklukan cewek, tak perlu 'ngoyo' bagiku, sebab magnet pada diriku sudah membuat mereka mengerubungiku.
Setiap melihat cewek di kelas maupun di organisasi rasanya biasa saja, sampe akhirnya aku melihat sosok yang selalu memakai warna cerah 'orange'. Perempuan yang seperti punya daya tarik tersendiri. Satu-satunya perempuan yang tak pernah sekali pun menyapaku walau teman-temannya yang lain seperti mencari perhatian dariku. Yang lebih aneh lagi, justru perempuan ini memiliki dayang-dayang lelaki yang mengikuti ke mana langkahnya pergi.
Sore itu, pasca acara bedah buku 'Madilog', sengaja kupanggil gadis itu. Anjir. Matanya bahkan tak melihat mataku saat bicara, tapi kunikmati gaya polosnya itu. Sampai akhirnya, ada keserakahan dalam diriku untuk memilikinya. Tentu akan kudapatkan dia dengan gaya eleganku. Ide pendampingan materi 'Madilog' menjadi caraku untuk merebut hati dan menjauhkannya dari lelaki-lelaki begudal yang juga berkeinginan untuk mendapatkannya.
Satu-satunya yang menjadi pesaing terberatku adalah Raka. Lelaki itu telah berteman dengan Talita sejak mereka berdua menjadi mahasiswa baru. Tentu, sangat susah menyingkirkan pengaruhnya. Apalagi, feelingku mengatakan kalau ia juga memiliki perasaan yang sama seperti perasaanku, sama-sama menyukai gadis yang selalu berbaju cerah itu.
"Lo harus datang untuk diskusi dengan gue setelah selesai kuliah! Paham?" Perintahku tak boleh digugat dan ditolak.
Gadis itu hanya menganguk dan menyatakan kesiapannya dengan kesal. Tenang saja, Talita, sebentar lagi hanya aku yang akan memenuhi otakmu. Raka, siap-siap saja tersingkir perlahan dan pasti.
***
Seperti biasa, setiap sore aku menunggu gadis itu di taman dekat kampus. Di sana, kami berdiskusi banyak hal. Semakin hari, gadis itu semakin membuatku jatuh hati. Paras yang ayu, ditunjang dengan otak encer membuatnya semakin menarik. Tanyanya mengulik segala pengetahuan yang sudah kulahap sebelum-sebelumnya.
[Bram, hari ini diskusinya libur dulu, ya! Gue mau ngarap makalah dengan Raka.]
Pesan yang masuk membuat moodku memburuk. Bukan sebab ia tak datang diskusi tapi sebab ia tak mengacuhkanku karena adanya Raka.
[Kalau Lo gak datang, diskusi selesai di sini saja, titik.] Send.
Kubalas pesan sengan penuh amarah.
[Jangan begitu dong, Bram! Oke, gue datang tapi sedikit terlambat, ya?]
__ADS_1
Pesan balasan dengan emot senyum tipis. Hemm. Gadis ini ada saja kejutannya.
[Terserah, Lo!]
Kuakhiri pesan dengan kalimat ambigu yang tentu membuat dia tak punya pilihan untuk segera menemuiku.
Menit berlalu, dari kejauhan kulihat Talita melambai tangan pada Raka yang sengaja mengantarnya ke dekat taman. Awas saja laki-laki itu. Ini tidak bisa dibiarkan terus menerus begini.
Senyum itu mengembang saat mendekatiku. Selera humor dan segala ide serasa hilang saat ia datang dengan lelaki begundal itu. Entahlah, setiap orang yang mendekati Talita, semua kuanggap begundal, 'cangkem sampah' begitu temanku--Roni--mengatakan.
"Bagaimana kalau Lo nikah aja sama gue, dari pada Lo didekatin sama begundal-begundal itu?" sungutku sambil kusembulkan asap rokok.
Aku serius untuk ini, walau aku tak bisa seperti laki-laki lain yang bersimpuh dan memberi setangkai bunga dan cincin ketika melamar pujaannya.
"Lo nglamar gue kayak beli gorengan saja, Bram." Aku tahu ada nada kesal diucapannya. Bagaimana pun dia perempuan dan mempunyai impian yang sama dengan wanita lainnya, dilamar dengan moment paling romantis.
"Gue bukan anak kucing, Bram. Kalau Lo serius ya datangi orang tua gue," ucapnya menegaskan.
Segera kuambil motor butut dan mengantarkannya pulang. Tak ada kata yang terucap selama di perjalanan. Ia mungkin sedikit shock dengan lamaranku yang spontan tadi.
Ucapan terima kasih mengalun lembut dari bibirnya. Sebelum beranjak meninggalkannya, kukatakan sekali lagi padanya bahwa apa yang telah kuucupkan di taman barusan, bukan hanya sekedar gurauan saja. Tentu saja aku menunggu jawaban darinya.
[Bram, kalau Lo serius sama gue. Lo bisa datang ke rumah gue besok. Aku sekarang ada di rumah.]
Shit! Akhirnya kutahu kenapa tiga hari ini tak kudapati ia di kampus. Telepon gengamnya juga tak bisa dihubungi. Pesan singkat inilah jawabannya.
[Siap!] Send.
Kututup percakapan dengan penuh keyakinan dan meminta padanya untuk memberi lokasi tepat rumah lewat google maap.
__ADS_1
Dari awal semua sudah kuprediksi, karena aku tahu Talita bukan tipe cewek yang suka pacaran.
***
Setelah berpacu dengan kemacetan jalan, sampai juga di sebuah perkampungan tempat kelahiran Talita. Deg-degan juga si, ketika disuruh calon mertua untuk datang. Semoga orang tua perempuan yang aku cintai itu mau menerima keadaanku yang seperti ini, rambut gondrong.
Kudengar salam yang terucap disambut dengan baik oleh pemilik rumah. Sesosok lelaki paruh baya mengulurkan tangan dan langsung memberi komando agar aku bergabung dalam khataman al-Qur'an. Sungguh luar biasa sekali kejutan yang diberikan Talita hari ini.
Grogi, tentu saja. Disuruh melantunkan al-Qur'an melalui microphone, untung dulu pernah mempelajarinya dengan baik. Sebenarnya, tak banyak orang tahu, sekalipun penampilanku urakan di kampus tapi tetap saja ayat-ayat al-Qur'an biasa kurapalkan sehabis subuhan. Ini adalah satu-satu pesan Kyai di pondok dulu yang tak bisa kutinggalkan, istiqomah membaca al-Qur'an dalam kondisi apa pun.
Bangga, suaraku mengalun merdu. Talita tersenyum tipis dari kejauhan. Percayalah, Ta. Kau takkan bisa lepas dariku. Aku jumawa.
Selesai dengan beberapa lembar ayat dan surat. Ayah Talita mengajakku ke ruang tengah. Tentu saja, syarat awal melamar putrinya sudah kupenuhi dengan baik. Setelah ia menanyakan nama dan tempat tinggalku. Ayah biologis wanita pujaanku itu berkata, "Kau bisa membawa orang tuamu datang ke sini untuk melamar putriku!"
Hatiku membuncang, kulirik Talita dengan senyum mengembang.
Talita mengantarkanku menuju pelataran rumah.
"Terima kasih atas kejutannya," bisikku lirih dekat telinganya.
Ia hanya mentangkupkan tangan menyembunyikan tawa yang mendera.
"Kau juga mengejutkanku, Bram," jawabnya sambil menatapku penuh binar.
"Kau akan mendapatkan banyak kejutan setelah nanti sah menjadi milikku." Lekat kutatap matanya yang sayu itu.
Dan aku pulang dengan penuh kemenangan.
Tamat.
__ADS_1
MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.