Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
Bunga Di Tengah Jalan (Cerita Misteri)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏


Kala itu, malam hari ketika semua sudah tidur, tinggal aku dan Budhe masih sibuk nonton TV. Kadang kami diskusi tentang sinetron, kadang pula tentang penyanyi salah satu acara pencari bakat. Aku dan Budhe emang nyambung. Kami begitu dekat. Seringkali kami ke pasar dikira ibu dan anak.


Lucunya, ibuku ikut senang melihat kedekatan kami. “Ya klo Ibu sih selama satu rumah akur tidak ada masalah” gitu jawaban Ibu waktu ditanya tetangga perihal aku dan Budhe yang sudah seperti ibu dan anak sendiri. Toh Budhe kan kependekan dari Ibu Gedhe. Maksudnya Ibu yang lebih tua umurnya.


Kami masih nonton TV tiba-tiba Budhe seperti terperanjat akan sesuatu, beliau diam seperti sedang mendengarkan. Aku hanya mengerutkan kening melihat tingkah Budheku. Remote TV beliau rebut, ia turunkan volume TV.


Sebelumnya pendengaranku dipenuhi suara TV, kali ini berganti mendengar mesin motor bebek lama sedang berhenti di depan sana. Di jalanan dekat rumah kami. Aku pun bertanya pada Budhe,


“Ada apa, Budhe?”


“Ssssttt..” Budhe memberikan isyarat untuk diam.


Tidak berapa lama motor pun seperti memutar lalu pergi menjauh ke barat. Sekejap itu pula Budhe menghambur ke pintu rumah. Dan mengintip melalui jendela rumah. Aku mengikutinya. Saat kulihat di luar rumah melalaui jendela, tidak ada siapa-siapa.


“Budhe lihat apa sih? Jalanan sepi kok diperhatikan?” tanyaku penasaran.


“Kmu ndak lihat ta?” Tanya Budhe.


“Lihat apa Budhe?” aku balik bertanya.


“Lha ituloh gak lihat ta?” kembali Budhe bertanya.


“Gak ada apa-apa gitu Budhe, ah Budhe ngerjain ya?”


“Lihat di tengah jalan, ada sesuatu di tengah-tengah, bungkusan itu loh” Budhe menjelaskan.


Aku memperhatikan dengan seksama. Ada sebuah bungkusan kecil yang tidak kelihatan isinya apa. Terlalu jauh dan terlalu gelap.


“Itu apa sih Budhe?” tanyaku.


“Budhe juga tidak tahu, hanya menduga-duga, semoga saja dugaan Budhe salah”

__ADS_1


“Kita lihat aja yuk ke sana” ajakku pada Budhe.


“Enggak.. enggak… Budhe gak mau, Budhe mau tidur aja udah ngantuk.” Budhe menolak ajakanku sambil ngeloyor balik ke depan TV. Dan bener tidak lama terdengar dengkuran Budhe. Nah, aku ditinggal sendirian nih.


Aku pun memberanikan diri membuka pintu rumah. Berjalan menuju tengah jalan raya. Kulihat kiri kanan tidak ada mobil yang melintas. Ku langkahkan kaki ke tengah.


Bunga warna warni terlihat di dalam wadah yang terbuat dari daun pisang. Membentuk mangkok. Beberapa bunga entah bunga apa aja yang aku tahu hanyalah bunga kenanga. Ada pula jenang berukuran kecil, kecil sekali. Terdapat pula kopi yang berukuran sama persis dengan jenang.


Aku bergidik merinding melihat sesaji di hadapanku. Hih.. Balik aja ah.. Buat apa sih orang-orang bikin kayak gini. Aneh-aneh aja orang-orang ini. Aku pulang, menutup pintu rumah dan menguncinya. Aku lalu tiduran di depan TV bersama Budhe. Meski takut, namun aku penasaran ingin bertanya pada Budhe besok pagi.


***


Seharian aku banyak aktifitas. Dari pagi hingga sore hari. Sampai-sampai aku lupa akan pertanyaan yang ingin aku ajukan pada Budhe. Setelah mandi sore hari, aku ikut duduk-duduk di depan rumah bersama Ibu dan Budhe.


"Hmm.. Baunya wangi banget, emang mau kemana?" tanya Ibu padaku.


"Gak kemana-mana Bu, aku suka sama baunya jadi pengen pake terus minyak wangi ini" jawabku pada Ibu.


"Budhe, semalem itu buat apa sih?" tanyaku pada Budhe.


"Yang apa sih?" Budhe balik bertanya tidak mengerti maksud pertanyaanku.


"Itu loh yang semalem bunga ditaruh di tengah jalan" jawabku.


"Hush.. Jangan keras-keras klo ngomong" Budhe menyuruhku memelankan suara.


"Emang kenapa Budhe?" tanyaku.


"Bahas apa sih?" tanya Ibu kalem pada kami berdua.


"Semalem, Bu. Ada orang naruh sesaji di tengah jalan raya." ujarku menjelaskan.


"Kok kamu tahu, Vi. Klo itu adalah sesaji." tanya Budhe menyelidik.

__ADS_1


"Semalem pas Budhe tidur aku keluar ke jalan dan lihat hehe.." aku bercerita menjawab pertanyaan Budhe.


"Hati-hati, Vi. Kamu ini jangan sembarangan" kata Budhe.


"Ada lagi, mbak Yu?" tanya Ibu pada Budhe.


"Iya dik. Semalem ada yang naruh lagi di tengah jalan" Budhe menerangkan pada Ibu.


"Orang yang sama ya?" tanya Ibu lagi.


"Sepertinya iya. Mbak Yu ndak lihat orangnya, hanya dengar suara motornya. Masih sama seperti sebelumnya" jawab Budhe.


"Aduuhh.. Bakal ada kejadian lagi" Terlihat Ibu khawatir.


"Emangnya kenapa sih, Bu?" tanyaku penasaran.


"Sudah-sudah kamu masih kecil, gak perlu tahu urusan dewasa." kata Budhe.


***


Malam hari waktu kami menonton TV seperti biasanya. Waktu itu sekitar jam 11an. Tiba-tiba terdengar suara mobil mengerem mendadak dan terdengar suara bertabrakan. Aku dan Budhe segera keluar melihat kejadian tersebut.


Sebuah dump truck terlihat menabrak sepeda motor. Pengendara motor berada di tengah jalan dalam kondisi mengenaskan. Darah tercecer, kepalanya pecah, usus terburai.


Aku tidak kuat melihatnya. Meski dari jauh, aku benar-bemar tidak kuat, mau muntah. Lalu kepalaku pusing. Budhe yang cepat tanggap segera membawaku ke dalam. Ibu yang terbangun segera mengambil air putih dan meminumkannya padaku. Kuteguk air minum hingga habis. Alhamdulillah tubuhku agak mendingan.


Kulihat Ibu keluar ke depan rumah, kemudian kembali lagi ke dalam dan berbicara dengan Budhe. Kudengar mereka mengatakan bahwa sesaji itu sudah memakan korban. Itu adalah sesaji untuk mendapatkan tumbal. Kurasa orang yang mencari tumbal rumahnya tidak jauh dari rumah kami. Orang tersebut memang kaya raya, namun tidak jelas dari mana kekayaan tersebut berasal karen yang aku tahu, dagangannya tidak sebegitu laku.


Cerpen karangan "Lilis Hardian (Tante Lilis)


Tamat.


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2