Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
Andai dulu Rey (Cerita Galau)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏


'Kamu deket sama dia yah?'


'Nggak, kenal aja…'


'Tapi kalian smsan kan?'


'Iya…'


'Sering?'


'Gak juga…'


'Bohong, mereka smsan tiap waktu kok…'


'Waduh bahaya nih, saingan kamu tuh…'


Seorang cowok yang dimaksud hanya menatap kami dengan cuek sembari berkata, 'sesering apapun mereka sms, perasaan gak bisa dibohongin kan?'


Lalu dia menatapku yang tengah menunduk, tak mampu berkata karenanya.


Matahari pagi tengah menyambutku dengan hangat. Angin pagi terasa begitu lembut meniup setiap helai rambutku. Aku berusaha merapikan helaian-helaian rambutku yang kini berantakan. Pagi ini aku sengaja tidak menguncir kuda rambutku. Entahlah, aku tidak memiliki alasan. Aku hanya menginginkannya.


Sekolahku, kebangganku. Aku tersenyum lembut. Setelah melewatkan beberapa minggu liburan semester, kini aku kembali berdiri disini. Terasa begitu nyaman dan hangat berada di sekolah yang begitu aku idamkan.


Aku memutar pikiranku kembali pada hari sebelum liburan, aku kembali tersenyum mengingat kenangan itu. 'Apa kabar dia di semester baru ini?' batinku. Masih terekam dengan jelas bagaimana beberapa minggu yang lalu seorang teman sekelasku menyapaku dengan cara berbeda. Menawarkan tumpangan ke acara ulangtahun Cila teman sekelasku. Padahal saat itu dia bisa saja mengajak pacarnya untuk pergi ke acara itu, namun dia memilih untuk mengajakku. Seketika kesadaranku kembali. 'Oh tuhan, dia punya pacar. Ada apa denganku? Memikirkan seseorang yang telah menjadi milik orang lain. Ini salah.'


Aku kembali sadar. Kini di depanku, kulihat gadis-gadis yang tengah bercanda dengan serunya. Aku kembali tersenyum dan segera berlari menghampiri mereka. Masa-masa SMAku kembali dimulai.


3 Desember 2012


'Sintia…'


Aku menoleh, bingung. 'Iya, kenapa Rey?'


'Kamu mau gak aku jemput nanti malam?'


Hening. Syok. Ya aku syok. Saking syoknya aku hanya mampu menatap bingung.


Teman-teman sekelasku seketika menghentikan kegiatan mereka. Dan mulai memperhatikanku dan Rey. Maklum saja saat itu aku tengah duduk lesehan tepat di deretan depan ruang laboraturium bahasa sehingga semua mata terfokus padaku.


'Ehem…' seseorang pura-pura batuk. 'Dijawab dong Sin, jangan bingung gitu….'

__ADS_1


'Ngg? Gimana yah Rey? Kenapa kamu gak ajak pacar kamu aja?'


'Tapi aku maunya pergi sama kamu Sin…'


Aku kembali terdiam. Apa ini? Perasaan mendebarkan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Sejujurnya aku ingin mengatakan 'iya' sejak awal. Namun entahlah, ada sedikit rasa bersalah apabila aku langsung menerima ajakannya sedangkan ia telah memiliki kekasih.


'Gitu ya, kamu coba tanya kakakku aja yah. Aku takut gak dibolehin dia pergi sama cowok malam-malam…' ujarku akhirnya.


'Berarti kamu mau?' ujarnya memastikan.


Aku mengangguk. Dan dia pun tersenyum penuh kelegaan.


Hal yang pertama kali kucari di setiap awal pagiku kini adalah 'dia'. Rey. Terkadang aku tak sengaja memandanginya dan saat dia tahu aku segera memalingkan wajahku. Terkadang aku juga tak sengaja melihatnya tengah memandangku dan dia pun sama, segera memalingkan pandangannya. Tuhan, aku tak mengerti apa artinya semua ini.


Sebuah berita menyebar begitu cepat di kelasku. Berita tentang putusnya Rey dengan kekasihnya tengah hangat diberitakan. Aku berusaha tak menanggapi, walaupun dalam hati aku bersorak. Salah satu teman sekelasku berkata 'Sin, ada kemungkinan nih…'


Aku hanya tersenyum dan menggeleng.


3 Desember 2012


Aku tengah mematut diriku di cermin. Malam ini Rey berjanji akan menjemputku untuk datang ke acara ulang tahun Fila. Aku melirik jam dinding kamarku. 'Belum datang. apa dia lupa?' batinku. Keraguan mulai muncul di benakku. Mungkin dia hanya bercanda tadi. Namun aku terlalu menganggap serius.


Aku nyaris saja menanggalkan gaun malamku saat Kak Wulan memanggilku. 'Sin, Rey jemput tuh… cepetan keluar…'


Sebuah pesan masuk. Aku mengernyitkan keningku, tidak percaya. Display hp-ku menampilkan sebuah pesan masuk dari Kak Lukman. Seorang kakak kelas yang memang sempat kukagumi.


Ini Sintia?


Singkat. Namun membuatku bersorak.


Aku segera membalas sms itu. Siapa sangka, sms itu terus berlanjut setiap harinya.


Pelajaran Bahasa Indonesia terasa begitu membosankan hari ini. Semua orang sibuk dengan tugas essai yang diberikan guru bahasa kami. Kali ini aku memilih duduk di salah satu meja laboraturium bahasa Indonesia. Setiap deret terdapat empat meja, aku memilih meja ke dua. Tak seorang pun berada di deretan mejaku. Saat aku sedang asik menulis essai. Aku merasakan seseorang duduk di sebelahku. Karena posisiku yang sedang menulis aku dapat melihat kalau dia tidak menggunakan rok namun celana panjang abu-abu. Aku melirik orang di sebelahku itu.


Dia tersenyum. Manis. 'Sendirian?'


'Nggak, ramai kok, sama temen sekelas…' jawabku polos.


'Bukan, maksudnya disini duduk sendirian aja kan?'


Kulihat Rey berusaha meananggapiku dengan sabar.


'Oh, iya…' jawabku singkat.

__ADS_1


'Aku duduk disini yah?'


Aku hanya mengangguk. Tak ada pembicaraan lagi setelahnya. Namun aku berharap dia akan bertahan disana. Benar saja, dia tetap duduk disitu. Dan baru beranjak saat bel tanda istirahat berbunyi.


Kak Wulan tengah menyeretku menuju kantin. Aku berusaha melepaskan tangannya yang tengah menarik tanganku dengan paksa.


'Kak, Sintia gak mau…'


'Udah, ayo ikut aja…. Buat apa kamu sering smsan kalau gak pernah ngomong langsung…'


Kak Wulan tidak memperdulikanku yang kian meronta. Saat tengah sibuk melepaskan tanganku dari genggaman kakakku, tanpa sengaja aku melihat Rey yang sedang bersiap-siap untuk berangkat lomba bersama timnya. Kulihat begitu ramai orang di sekitar sana, mereka sedang berdoa. 'Semoga menang Rey…' batinku. Kak Wulan kembali melancarkan aksinya untuk membawaku bertemu dengan temannya, Kak Lukman.


Dan akhirnya disini aku sekarang, di sebuah meja kantin. Bersama kakakku dan Kak Lukman. Aku hanya menunduk tidak berani melihat orang yang tengah duduk di depan kakakku. Aku ingin segera beranjak dari kursi itu. Namun rasanya tidak sopan meninggalkan kakakku dan Kak Lukman begitu saja.


Kak Lukman menawarkan untuk menjemputku ke acara ulang tahun salah satu teman sekelasku yang merupakan kenalannya. Namun aku menolak secara halus. Untuk acara itu, Rey sudah berjanji akan menjemputku lagi. Dan aku sudah mengiyakannya. Kak Lukman awalnya masih mencoba menawarkan tumpangan namun akhirnya dia menyerah karena usahanya yang tak mampu membuatku mengubah keputusan.


Rey bilang, akan menjemputku malam ini. Namun dengan mudahnya dia mengatakan kalau dia tidak bisa datang dan menyerahkan begitu saja aku pergi dengan Kak Lukman. Rey bilang, dia mengalah. Rey bilang, dia pernah mengatakan perasaannya padaku. Namun setelah itu, dia merasa aku mulai menjauhinya. Rey bilang dia tak bisa seperti Kak Lukman yang selalu mengirim sms padaku. Rey bilang, lebih baik aku bersama Kak Lukman. Rey bilang, kenapa tidak dari dulu aku mengatakan perasaanku padanya. Rey bilang, semoga hubunganku dan Kak Lukman baik-baik saja kedepannya.


17 Februari 2013


Rey, aku mau jujur. Dari awal aku lebih milih kamu daripada Kak Lukman. Tapi aku ngerasa kamu gak pernah serius, dan aku milih buat ngenjalin hubungan dengan Kak Lukman. Maaf rey, kalau aku ganggu hidup kamu. Send.


Kenapa gak dari dulu Sin? Aku pernah nyatain, tapi aku ngerasa hubungan kita malah jadi renggang. Ya udah, langgeng yah.


Aku menatap pilu, balasan sms itu. 'Kamu gak pernah bilang Rey…'


Tuhan, kini aku berdiri sendiri. Aku meninggalkan orang yang kusayangi dan memilih orang yang menyayangiku. Tapi apa? Aku kembali meninggalkan orang yang menyayangiku dan berharap orang yang kusayangi akan kembali. Namun kini keduanya hilang. Tak mampu lagi kugapai dan kuraih.


Malam ini, seluruh siswa SMAku tengah berada di lapangan sekolah. Menikmati nyanyian perpisahan dan kata-kata 'maaf' yang saling diucapkan kepada satu sama lain. Prom night, ya kami berkumpul karena ini. Sebuah pesta kecil terakhir untuk kakak kelas dua belas yang akan meninggalkan kami. Perjuangan mereka di SMA telah berakhir. Peperangan telah mereka lewati. Dan yang tersisa malam ini adalah kenangan. Senang, karena akhirnya dapat melihat mereka tersenyum tanpa beban setelah ujian nasional. Sedih, karena mungkin akan sangat merindukan sosok-sosok mereka. Dan yang pasti kehilangan.


Aku berdiri memperhatikan lapangan yang begitu ramai. Banyak yang tengah berfoto. Dan kudapati kakakku yang tengah berfoto bersama sahabat-sahabatnya. Aku tersenyum memandang gaya-gaya mereka yang aneh.


Saat aku melihat ke sampingku, aku melihatnya. Sosok yang begitu kurindukan sapaannya. Dia sendiri, sama sepertiku. Dia menoleh. Kami terdiam sejenak, saling memandang.


'Rey…' Sesosok gadis menghampirinya, Rey yang tengah memandangku tersentak. Kini ia tak sendiri. Aku segera memalingkan wajahku. Seketika perih merasuki hatiku.


'Andai dulu Rey…'


Cerpen Karangan: Zhafira Nabila


Tamat.


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH

__ADS_1


(Author lagi galau nih)


__ADS_2