Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
Manusia tak bertulang (Cerita menyentuh hati)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏


Senja sore ini, seolah datang dengan cepatnya, sang surya bewarna kekuningan keemasan masih menggantung di langit jingga, yang membentang di batas cakrawala, seakan memberikan tanda bahwa sebentar lagi senja akan betakhir, dan akan tergantikan dengan malam yang gelap dan hanya ditemani bulan sabit, di ufuk barat cakrawala sore itu. Burung-burung gereja kecil yang hinggap di kabel listrik PLN, satu persatu mulai meninggalkan peraduannya dan mengepakan sayapnya terbang tinggi ke langit jingga kala itu. Melihat mereka terbang seperti, ingin rasanya aku bisa terbang bebas di udara tanpa ada yang mengusik dan membebani hati yang kalut ini, tetapi semua itu hanyalah hiasan semu yang kupikirkan, tanpa adanya bukti bahwa manusia itu bisa terbang dengan sayap di punggungnya.


Perasaan kalut yang kualami saat ini, bukanlah memikirkan tentang bagaimana aku bisa terbang layaknya, burung-burung kecil gereja itu yang terbang kian kemari tanpa sebab yang pasti. Aku memikitkan tentang apa yang harus kulakukan tentang diriku yang tak berdaya ini, yang hanya terombang-ambing tanpa tujuan yang jelas, yang dimana umurku yang sudah memasuki usia kepala dua puluh tiga tahun, tetapi aku masih saja berkalut resah seolah tak mampu mengemban tugas yang kupikul sendiri ini. Di usiaku yang muda ini memang masih kuat untuk melakukan aktivitas rutin di rumah, seperti memasak, mrmbersihkan rumah dan lainnya, tetapi batinku masih saja kalut drngan hal itu, karena aku merasa yang aku kerjakan semua itu tidak memiliki dampak yang berarti, tanpa menghasilkan keuntungan apapun.


Ingin sekali aku bisa menghasilkan uangku sendiri, tanpa harus memeras keringat orang lain yang bekerja keras demi diriku. Aku pun bingung dengan semua itu, dan hanya membebankan diriku sendiri. Aku terus memikirkan itu sepanjang hari tanpa hasil apapun, aku masih saja menghadap langit jingga itu dengan harapan yang tak pasti, tangan kananku menggenggam secangkir kopi hangat yang sudah mulai dingin, sesekali aku mnyeruput cangkir di tanganku, sambil memandang langit jingga keoranye dimana sang surya yang sudah semakin meredup cahayanya di balik awan hitam.


Hari pun sudah mulai tampak gelap, dan bulan sabit yang seolah bersembunyi, kini sudah mulai menampakan bentuk dan cahayanya di langit malam kala itu, terdengar dari kejauhan lantunan adzan maghrib yang berkumandang dengan merdunya di sebuah masjid yang tak jauh dari rumahku. Aku yang menyadari hal itu, mulai sadar dengan lamunanku yang masih menghadap langit gelap itu, wajahku maaih saja bermuram durja yang tak tahu apa harus kulakukan. Aku berjalan ke sisi meja belajar di sebelah pintu kamar, kulihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul enam sore lewat sepuluh menit. Aku pun bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu yang seakan sejuk membasuh hampir seluruh tubuhku, selesai mengambil air wudhu aku lantas kembali kekamarku, dan segera membentang sejadah hijau toska yang sedikit tebal, serta mengambil sarung dan kulilitkan di pinggangku. Aku pun langsung melafaskan takbiratull ikhram dan mulai melaksanakan sholat maghrib dengan khusuknya.


Selesai shalat kusempatkan diriiku untuk berdoa kepada Yang Maha Kuasa, agar diriku bisa terhindar dari kalut-malut pikiran diriku yang sudah semakin membengkak, dan tak bisa ditampung lagi, agar aku bisa mendapatkan jawaban atas apa yang ada di benakku selama ini. Selesai berdoa ak upun keluar dari kamar, masih menggunakan sarung di pinggangku aku menyusuri sudut rumah menuju ke meja makan, yang di sana sudah terlihat kedua orangtuaku yang sedang ingin siap makan malam, aku pun duduk di sudut meja, di sebelahku duduk abiku yang sudah duduk sambil membaca koran pagi yang tak sempat ia baca karena ia sibuk bekerja di perusahaan swasta. Abiku, berprawakan kecil dengan tubuh tegapnya yang seolah dia latih setiap harinya, matanya yang sayu sibuk melihat setiap halaman koran yang ia balikan, kaca mata yang segi empat bertengger di hidungnya yang hampir jatuh dari dudukan hidungnya.


“Masak apa hari ini Umi…?” Tanyaku dengan sedikit tersenyum manis.


“Hari ini Umi masak Ikan goreng Pindang… yang kebetulan abi mu sempat beli di pasar tadi.” Jawabnya, sambil mempersiapkan piring di atas meja.


“Waaaah enak, masakan Umi tiada duanya lah..” Ujarku tersipu-sipu


“Bisa aja kamu Wan, sini piringnya Umi ambilkan nasinya.” Ujar Umi lagi, sambil mengambil piring yang kusodorkan kepadanya.


Umi, berperawakan sedang dari Abi, meskipun begitu ia adalah seorang wanita yang ramah, dan peduli dengan keluarganya, ia selalu menghormati abi yang mana abi ku bersikap tegas kepada anggota keluarga lainnya. Umi selalu menasehatiku jika aku berada dalam, masalah, tetapi masalah yang kuhadapi saat ini, masih ku sembunyikan dari abi maupun umi.


“Dimana Dimas kok dia belum pulang jam segini…” Tanya Abi ku yang sedari tadi sibuk membaca korannya.


“Dimas kan ada kerjaan Bi di kantor, nggak sempatlah dia untuk pulang sekedar untuk makan.” Jawab Umi yang sibuk mengambil secentong nasi ke piring.


“Yah… kalau lapar kan tinggal pulang, kan kita sudah siapkan makanan banyak di sini.. dasar anak itu kerjaannya keluyuran mulu.” Ketus abi, yang masih membolak balikan korannya.


“Yah mau gimana lagi Bi, namanya juga kerja cari uang demi masa depannya.” Jawab Umi lagi sambil memberikan sepiring nasi kepada ku.


“Tuuuuh.. dengerin tuuu, contoh kaka kamu tu dia uadah berhasil ngebahagian orang tia, dan sudah membuat abi bangga, sementara kamu di sini hanya bisa duduk- duduk diam tanpa menghasilkan apapun.” Ketus abi lagi, kepadaku yang saat itu sedang tertinduk lesu mendengar ucapannya.


“Udah Bi jangan begitu, sekaran kan Wawan lagi berusaha ingin mendapatkan pekerjaan yang layak untuk dirinya.” Jawab Umi, yang seakan membelaku.


“Halah, palingan ditolak lagi lamarannya, dasar kamu ini tudak mau berusaha, dasar manusia tidak bertulang alias pemalas.” Jawab Abi lagi dengan melihat ke arahku.


Aku pun tertunduk lesu di kursi meja makan, pikiran takut serta sedih menyelimuti perasaanku saat ini, pikiran kalut yang masih di dalam benakku seakan membuatku, lupa akan segala hal yang ingin kuperjuangkan saat ini, aku terdiam tak satu katapun yang keluar di mulutku. Air mataku yang saat ini mulai menumpuk di pelupuk mataku mulai turun tak bisa kutahan lagi, tak berani lagi kutatap wajah abi yang sedang membaca koran tersebut.


“Abii… jangan ngomong begitu kenapa sih, anak sendiri kok bukannya di kasih semangat malah semakin dihina-hina.” Ujar Umi, yang melentangkan sedikit suaranya.


“Biarin Mi, siapa suruh nggak bisa jadi anak yang berguna, pemalas serta manja, mau jadi apa kamu nanti haaa…” Bentak abiku lagi sambil menyudahi baca korannya, dan menanggalkan kacamatanya ke atas meja.


Aku pun terdiam, air mataku yang sempat tertahan kini membludak keluarnya dan mengalir di pipiku, perasaan kalut serta kacaunya pikiranku menjadi semakin membengkak, aku pun segera beranjak dari kursi meja makan, lalu aku berlari menyusri koridor rumah dan langsung menuju kekamarku sambil terisak sedih dengan meninggakkan Umi dan Abiku yang masih berada di meja makan. Aku langsung menutup pintu kamarku rapat-rapat, sambil menangis di balik pintu, aku hanya terduduk meratapi kesedihanku yang tanpa berarti apapun, tetesan air mataku tumpah ruah mengalir deras membasahi pipi, memang bagiku ini merupakan pengecutnya diriku, yang mana aku adalah seorang lelaki dewasa, tetapi saat ada sentakan keras dari mulut seseorang emosiku langsung berubah drastis.

__ADS_1


Aku duduk di balik pintu masih dengan air mata ku yang menetes, kuusap air mataku dengan cepat, karena kebodohon diriku yang teramat besar. Di balik pintu kamarku terdengar suara langkah kaki menuju ke arah kamarku, aku takut kalau itu abi yang menghampiriku, dan aku sangat khwatir bila nanti aku bisa dibentak dan di permalukan di hadapannya.


“Tok… took… took… Waan… Wawaan… ayo buka pintu nya Wan… ayo makan… nanti nasinya keburu dingin loh..” Panggil seseorang di balik pintu, yang ternyata ialah Umi.


Aku hanya diam saja, kali ini aku tak lagi menangis tersedu-sedu kusapulan air mataku yang sekiranya terus menetes sehingga membasahi lantai keramik kamar ku. Aku terus saja membungkam di balik pintu.


“Waaaan… ayooo buka pintunya Waaan… Umi mau bicar sebentar sama kamu… ayo… dong Waan buka pintunya.” Sahut umi lagi dengan pelannya.


Aku pun semakin terdiam kini, pikiran kalutku semakin menguasai diriku, tanpa pikir panjang kuputar kunci pintu kamar, dan kubukakan pintu kamar, yang ternyata sudah ada Umi yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar. Dengan wajah yang masih bersedih, aku pun Menyambut Umi dengan senyum manis di bibirku, meskipun hatiku terasa sakit dan sesak setelah mendengar pernyataan Abi yang langsung membuat hati serta pikiranku menjadi tambah kacau. Lalu kuajak umi duduk di sisi ranjang tempat tidurku, sosoknya yang berkerudung lebar itu membuat hatiku semakin sedih dan membuatku mulai meneteskan kembali air mataku.


“Waaaan… maafin abi kamu yaaa.. seharusnya ia tak pantas berbicara itu di depan kamu…” Ujar Umi, yang sambil merangkulku, dan sedang menenangkan kesedihanku yang semakin memuncak.


“Yaa… miii… aku sudaaaah… me..meafkannya.. kok…” Jawabku dengan tersenggal-senggal.


“Ya udaah bagus deh kalau begitu, sekarang ayo yuk makan yuk…” Pinta Umi.


“Aku tidak nafsu makan lagi Umi… aku makan di sini aja…” Jawabku dengan perasaan sedih.


“Yaah udah kalau kamu mau nya begitu, ibu nggak maksa…” Ujar Umi yang langsung beranjak pergi keluar kamarku.


Aku pun hanya bisa terdiam sambil duduk di sisi tempat tidur, wajahku mulai kalut pikiran serta hatiku semakin kacau, aku tak tahu lagi bagaimana lagi aku lakukan sekarang, sebenarnya di dalam lubuk hatiku yang paling dalam ingin rasanya aku bisa pergi dari rumah ini, tanpa sepengetahuan Umi maupun Abi, tapi kuurungkan niatku kalau aku pergi dri rumah, yang ada makin membuat mereka tambah marah terhadapku.


Malam pun semakin larut, tak terasa mata ku terasa berat dan kurebahkan diriku di atas tempat tidur yang lumayan empuk tersebut. Mataku pun tertutup dengan cepatnya aku pun langsung terlelap tidur, masih dengan pikiran ku yang kalut, dan perasaan yang bersedih. Keesokan paginya, akupun bangun, dengan masih perasaan kalut yang mendera perasaanku. Aku pun lupa seakan bagaimana rasanya aku tersenyum, tertawa ataupun mengeluarkan kata-kata di mulutku, karena keluh kesah serta batin ku yang mendesak semakin membuat diriku seolah tak berdaya.


Aku pun mencoba mendaftar menjadi perwira TNI, memang tinggi badanku tidak terlalu sangat tinggi, tapi aku yakin kalau aku berlatih aku bisa melaluinya dengan baik. Sebulan lamanya aku berlatih sepanjang hari, mulai dari berlari joging mengelilingi kampung, push up, maupun olahraga fisik lainnya, membuat diriku pun berubah dari hari kehari, tak ada lagi tangis dan kalut dalam wajahku, aku tahu ini memang berat kujalani, tapi aku tetap sabar menjalani semua itu.


Hari demi hari telah kulewati dengan berlatih, umi yang melihat ada perubahan dalam diriku pun mulai tersenyum bahagia, tak ada lagi kulihat raut wajah khwatir darinya. Semuanya telah terhapus dan digantikan senyuman kecil yang indah.


“Wan… Umi lihat beberapa bulan terakhir ini kamu kok latihan fisik coba ceritakan semuanya kepada Umi.” Tanya umi, yang menghampiriku di beranda rumah sambil membawakan roti manis kesukaaanku.


“Iyaa… mii aku tak mau lagi berputus asa, dan tak mau lagi di cap sebagai manusia tak bertulang, sekarang Wawan ingin mengejar impian Wawan selama ini Mi.” Ujarku dengan tersenyum percaya diri.


“Impian apa itu Wan…?” Tanya Umi lagi.


“Impian Wawan ingin menjadi perwira TNI mi, TNI AU.” Ujarku dengan tersenyum lebar lagi.


“Waahh… hebat kamu Wan… Umi doakan semoga kamu keterima disana.”Jawab Umi dengan bahagianya.


“Iyaa Umii… Wawan akan berusaha untuk bisa membahagiakan Abi dan Umi.” Jawab ku lagi.


“Tapi Wan… jangan bilang sama abi kamu dulu ya, umi takut kalau abi kamu melarang bila kamu mendaftar calon perwira.” Ujar Umi lagi, dengan nada lesunya.


Akupun hanya mengangguk, sambil mengambil sepotong roti basah manis bertabur gula dan mentega buatan umi.

__ADS_1


Keesokan harinya aku pun pamit dengan umi di terminal tanpa abi yang menemani mengantar kepergianku. Selesai berpamitan dengan Umi akupun langsung memasuki bus yang akan membawaku pergi. Bus pun mulai berangkat meninggalkan terminal bersamaan dengan umi, lagi-lagi air mataku tak kuasa menahan sedih saat meninggalkan umi dan abi serta Dimas kakak tertuaku, yang sengaja tidak kuberitahukan kepadanya.


Sesampainya aku di tempat pendaftaran perwira aku pun. Mulai mrnjalani kehidupan ku yang baru, dengan berlatih serta mengikuti, beberapa tes yang ada akhirnya akupun lulus tes dan masuk menjadi anggota perwira TNI L, apalagi TNI AU, yang selama ini aku idam-idamkan. Sudah lebih setahun lamanya aku meninggalkan rumah, aku kangen apa yang dilakukan umi serta abi saat ini. Karena aku ingin memberitahukan berita bahagia ini kepada mereka.


Keesokan harinya saat hari pelantikan, aku pun dilantik secara resmi sebagai perwira TNI AU. Derai air mataku tak kuasa tertahankan saat prosesi pelantikan terjadi, selesai acara kulihat umi dan kakak lu Dimas sedang memperhatikan ku di barisan tamu. Tapi sedari tadi kulihat abi tak ikut bersamaku, apa abi masih marah padaku.


Aku pun menghampiri mereka berdua, kupeluk keduanya dan ku sujud di depan kaki umi, yang segera mengangkat diriku agar bangkit. Akupun berpelukan dengan Dimas kakak ku. Aku pun yang masih penasaran dimana abi mulai menanyakan sosoknya yang tak datang ke prosesi pelantikanku.


“Mi… kak Dimas di mana Abi kok nggak datang ke prosesi pelantikanku?” Tanyaku mulai keheranan.


“Abi kamu nggak ikut Wan, katanya dia bisa lihat kamu kok..” Jawab Umi dengan sedikit lesuh dan menangis terharu.


Aku, Umi serta kakakku Dimas pun pulang menaiki mobil yang sempat disewa kak Dimas di kantornya.


Sesampainya di rumah aku pun terkejut bukan kepalang, karena abi yang menontonku rupanya tidak ada di rumah, ke mana ia, apa ia masih bekerja. Tanyaku dalam hati.


“Mii Abii… mana kok nggak kelihatan katanya dia melihat prlantikanku…?” Tanyaku pada umi yang kelihatan nya mulai, menitihkan air mata.


“Loooh… kok umiii nangis siiih… abii ke mana mii ke manaa… ke mana dia disaat aku sudah berhasil, tapi dia tidak di sini..” Sentak ku dengan ikut menitihkan air mata.


“Abiiii… abiiiii… muuuu Waaaan… Abiiimuuu sudah meninggal Waan…” Jawab Umiku dengan langsung menangis di hadapanku, tangannya yang renta memegang baju jas pelantikanku. Aku yang langsung mendengar perkataan umi, seakan tak percaya apa yang kudengar.


“Tidak… tiiidak… mungkiiin miii… ini pasti bohooong iyaaa… kaaan… semuaaa ini bohooong kan…” Jawabku sambil terisak isak, dengan keras.


“Ituuu benaaar Naaaak… abiii muu udah nggak ada lagiiii…” Ujar Umi sambil menangis sejadi-jadinya dengan keras, aku pun mulai menangis seolah tidak percaya telah mendengar berita seperti ini. Kak Dimas yang di sebelahku mulai merangkul dan menenangkan diriku.


Rupanya, abi telah tiada enam bulan yang lalu, dia tahu aku pergi dari rumah dan mengikuti pendaftran menjadi perwira, dan sehingga ia terkena serangan jantung saat mendengar aku mendaftar menjadi perwira, dan masih sempat dirawat di rumah serta meninggalkan sepucuk surat kepadaku sebelum beliau meninggal. Aku pun membuka surat wasiat itu dimana di surat itu yang isinya.


“Assalamualaikum..wr.wb.


teruntuk anak ku Wawan tersayang, jika kamu, menerima surat ini berarti abi mu sudah tidak ada lagi, dan iya selamat kamu telah menjadi sosok yang luar biasa saat ini, abi bangga terhadap kamu nak, pertahankan apa yang telah kamu capai, jadilah kebanggaan orangtua, jangan tinggalkan sholat serta jaga umimu baik-baik. Maaf kan abi yang telah mengatakan kamu sebagai manusia tak bertulang yang tak berguna. Ayah berkata seperti itu supaya kamu termotivasi dan mau bangkit dari kertepurukanmu selama ini, dan sekarang kamu telah membuktikannya, abi bangga kepada kamu sekarang abi akan beristirahat dengan tenang.. jaga umimu baik-baik.


Salam Abi mu..


Assalamualaikum.wr.wb.”


Aku pun menitihkan air mataku, aku terisak isak drngan sedihnya umi dan kakakku dimas menenangkan diriku yang sudah tak tahan menahan kesedihan yang mendalam. Di makamnya pun aku masih menangis kepergiannya tanpa memberitahukan diriku itu, umi berkata bila ia mengatakan abi sudah tidak ada, maka konsentrasiku ikut mendaftar perwira menjadi terganggu.


Setelah kepergiannya, aku pun krmbali menjalankan tugas serta amanatku sebagai perwira TNI yang kini bisa menggapai langit jingga sore yang selalu aku pandang itu, terbang tinggi di angkasa menjangkau batas cakrawala, kini aku bukan lagi manusia tak bersayap


Cerpen Karangan: Tzuatya Egi


Tamat.

__ADS_1


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.


__ADS_2