Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
Kemana Dia Pergi... (Cerita Menyentuh Hati)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏


Ruangan besar yang tertata rapi masih terasa sesak sekali. Udara terasa hangat sekali di dalam walau di luar terlihat hujan begitu lebat. Berkali-kali telunjuk tanganku hanya mengetuk-ngetuk meja dengan aneka tugas yang masih menumpuk. Seperti tak lagi bersemangat hidup lagi yang kulakukan hanya bermalas-malasan menaruh kepala di atas meja. Sekali lagi fikiran sudah hilang ke sisi yang lain lagi. Hatiku rasanya ingin sekali aku meremasnya agar rasa sakitnya berkurang, terkadang pilu, kadang gelisah, kadang kesepian. Kurenggangkan tubuh menjuntai di punggung kursi yang siap menampungku. Tubuh ini memantul seperti sedang duduk di marshmallow miliku sendiri, lalu berputar ke arah yang berbeda.


Mataku kali ini terbang jauh sekali, takutnya jika aku tak sadar aku bisa tersesat. Sayangnya di sudut ruangan memantul bayangan sendiri di cermin ada yang tak sempat aku hindari di sana. Ada sosok dua gadis belia memakali setelan seragam yang manis dan aneka hiasan di rambutnya.


“Franda, Apa aku sudah cantik?” gayanya begitu lucu memainkan rok span selutut dan tas merah yang menggantung di punggungnya “Bukankah aku sudah seperti wanita dewasa?”


“semua perempuan juga cantik Han,”


“bukan itu maksudku.”

__ADS_1


“Lalu?”


“Apakah aku sudah cantik seperti wanita dewasa?”


“memangnya apa bedanya dengan wanita dewasa?”


“jelas beda dong,” melihat saudaranya yang sedari tadi selalu sibuk dengan dasi yang dililitkan di lehernya “dulu aku masih terlalu muda untuk mengerti kecantikan tapi sekarang aku bisa tahu apa itu cantik dan bagaimana membuatnya cantik. Memangnya kamu? Yang tahu hanya tentang pelajaran, berteman dengan buku, dan tak pernah merawat diri. Bisa-bisa kau jadi seperti nenek dengan waktu cepat, keriput dan menua memikirkan hal-hal yang memusingkan.”


“memangnya menurutmu cantik itu seperti apa?” dengan santainya masih sibuk di depan cermin.


“itu bukanlah kecantikan, Hana.” kini Franda benar-benar tak tahan dengan cerewet mulut saudara kembarnya itu “Kecantikan itu dari sini.” Franda menyentuh dada Hana yang membuat Hana yang polos dan lugu ini hanya diam kebingungan.

__ADS_1


“Aku tidak mengerti?”


“benar kamu tidak mengerti?”


“Jelaskan padaku?”


“baiklah, cantik itu…” tak meneruskan ucapannya Franda malah bergurau dengan mengacak-acak rambut Hana. Mereka saling bercanda dan kesadaran yang penuh membuat Franda terdiam memeluk Hana yang diam tak mengerti. Franda memeluknya erat penuh kasih tanpa Hana tahu, Franda menangis diam dalam dukanya sendiri.


Meleburnya bayangan itu, kutegur diriku dengan senyum di bibir. Kerlingan bola-bola kesedian mengalir begitu saja di pipi. Kuputar kembali kursi menghadap tepat di meja dengan setumpuk buku yang berserakan. Dengan keyakinan penuh kutarik satu dari mereka yang tersusun rapi, sekarang hanya ada catatan yang bersampul biru di depanku. Lembar demi lembar kulewati dengan menyakitkan. Sampai tepat di halaman yang kucari. Tepat dimana ada selembar potretan dua gadis belia yang sedang duduk bersama menggenggam tangan. Tepatnya di halaman rumah ini semua yang terjadi sudah berlalu begitu lama sekali tapi rasanya masih baru kemarin dia berdiri di samping cermin itu. Masih segar di ingatanku ketika hari dia memanggilku untuk terakhir kalinya di rumah sakit, kemudian dia pergi dan tak pernah kembali. Aku tidak tahu dia pergi ke mana? Yang tersisia darinya hanya gema suaranya dan bayangan kehadirannya. Sudah tak pernah ada lagi yang akan menjahiliku ataupun tertawa bersamaku di kamar ini. Lalu perlahan lembar foto itu kubalik dengan menahan tangisan. Hanya ada satu kalimat yang tertekan dengan tintanya “ME AND MY SISTER, HANA”. Tak kuasa membacanya kutangisi selembar foto itu “Franda!”


Cerpen karangan "Melissa Oknus"

__ADS_1


Tamat.


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.


__ADS_2