
SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏
Toni masih memikirkan kejadian yang barusan terjadi di restoran tempat ia sarapan. Ia menyadari bahwa sejak tadi ia bercerita, ketika ia menanyakan sesuatu pada Rendy selalu dialihkan ke topic pembicaraan tentang dirinya.
Toni tidak habis pikir, ia tadi berkenalan dengan seorang criminal. Saat berkenalan tidak terlihat jika Rendy adalah seorang criminal. Tapi kenapa ketiga orang yang mengaku aparat pemerintahan bertampang sangar seperti preman. Apakah mungkin ketiga orang tersebut adalah polisi yang menyamar sebagai preman. Banyak sih yang seperti itu.
Pagi ini Toni berencana akan menghadiri acara kuliah umum yang menghadirkan seorang narasumber dari ibukota. Acara ini diadakan oleh BEM kampus. Dan dia adalah seorang panitia penyelenggara acara. Sebagai panitia wajib menggunakan jas almamater sebagai dress code bahwa ia adalah panitia selain keplek ID card panitia.
Mobil melaju dengan tujuan kampus salah satu universitas terkenal di negeri ini. Selama menyetir, pikirannya terus dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang baru saja terjadi. Sebagai seorag aktifis kampus, ia ingin tahu kejadian barusan ini menyangkut dengan kasus apa. Adakah hubungan dengan salah satu kasus yang sedang diberitakan ? namun semua pertayaannya tidak mendapatkan jawaban.
Setibanya di kampus, Toni memarkir mobilnya di halaman gedung serba guna tempat acara diselenggarakan. Ia tidak langsung menuju ke lokasi acara, ia ke toilet dahulu untuk membasuh muka dan menenangkan pikirannya.
Toni membuka jas almamaternya dan menyampirkannya ke sebuah gantungan baju di dinding toilet. Kemudian membasuh muka di wastafel. Setelah merasa segar, ia pun mengambil jas almamaternya kembali dan mengenakannya sambil keluar toilet.
Toni menghentikan langkahnya. Ia meraba saku jas almamaternya. Ada sesuatu di dalam sakunya. Ia yakin tidak pernah menaruh sesuatu apapun ke dalam saku jas almamater. Tangannya merogoh saku dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari plastic transparan. Isinya sebuah MMC. Sebuah memory card.
Aneh, ia tidak memiliki benda ini. Dan tidak pernah ada yang menitip kepadanya. Milik siapakah ini? Ia berpikir apakah jas almamaternya pernah tertukar dengan temannya. Ia membuka kembali jasnya, dan menemukan sebuah nama di bagian leher jas. Namanya sendiri!
Lalu, ini memory card milik siapa?
Jangan-jangan.. ya, kemungkinan seseorang bernama Rendy tadi memasukkannya ke dalam saku jasnya. Sepertinya dilakukan Rendy saat dia diminta pindah tempat oleh Rendy. Ia penasaran apakah isi data memory card ini. Jangan-jangan isinya data rahasia. Jika benar, maka ia terlibat dalam sebuah kasus Negara.
Keringat dingin membasahi keningnya. Tubuhnya terasa lemas. Ia duduk di kursi salah satu fasilitas gedung tersebut. Ah, ia merasa terlibat dalam sebuah tindakan criminal. Apa yang harus ia lakukan. Ia kebingungan, apakah dibuang saja?
Hati kecil Toni menolaknya. Ia menolak membuang memory card tersebut, mungkin di dalamnya bukanlah sebuah data curian, mungkin sebuah data kejahatan sebuah kelompok tertentu. Hmm.. Toni menjadi penasaran dengan isi MMC tersebut.
__ADS_1
Sepulang acara ia akan melihat di laptopnya, apakah isi data MMC ini. Toni segera melangkah menuju lokasi acara kuliah umum, ia harus mendahulukan tanggung jawabnya sebagai penyelenggara acara ini. Ia mengembalikan memori card tersebut ke dalam saku jas almamaternya.
***
Langit kuning keemasan perlahan mulai menghilang. Udara sejuk sore hari berubah pelan menjadi udara dingin. Suara adzan berkumandang pertanda waktu telah memasuki maghrib. Perlahan hari mulai gelap.
Toni sudah sampai di kostnya. Acara kuliah umum di kampusnya telah selesai. Ia memasuki kamar tidurnya dengan menenteng jas almamater. Ia menaruh jasnya di atas tempat tidur, kemudian membuka jendela kamar agar udara di kamar tidurnya tidak pengap. Lalu ia bersiap-siap untuk mandi.
Segala urusan pribadi telah ia selesaikan. Saatnya bagi Toni untuk bersantai, duduk-duduk di samping jendela sambil memandangi taman di depan jendela. Toni lalu mengambil laptop dan mulai menyalakannya.
Toni mengambil memory card di saku jas almamater lalu membuka isi data di laptopnya. Setelah terkoneksi, ia hanya menemukan 1 buah file berbentuk dot txt. Aneh pikirnya. Ia membuka dokumen tersebut.
Fiuh.. otak Toni tidak bisa mengartikannya. File tersebut hanya berisi kode-kode tidak jelas. Ia tidak mengerti sama sekali kode-kode tersebut. Ia melakukan scroll dari atas hingga ke bawah semua isi file tersebut hanyalah kode.
“Bro, lagi di mana?” Tanya Toni melalui telepon wasap.
“Lagi dikosan, ada apa Ton?” Tanya lawan bicaranya.
“Aku samperin ya, mau minta tolong nih bentar.” Kata Toni.
“Ya udah ke sini aja” jawab temannya di telepon.
Toni pun segera pergi menuju kos temannya. Ia menggunakan sepeda motor karena jarak antara kostnya dan kost temannya tidak terlalu jauh. Ia pikir dengan bantuan temannya yang memang ngerti urusan teknologi, ia bisa membongkar isi memori card ini.
Sesampainya Toni di kost temannya, ia pun menceritakan kejadian tadi pagi di restoran tempat ia membeli sarapan pagi. Ia mengatakan pada temannya bahwa ia yakin memori card ini berisi sebuah rahasia penting dan tersembunyi. Hanya saja ia tidak dapat mengetahui apa isinya.
__ADS_1
Teman Toni hanya manggut-manggut waktu mendengar cerita Toni. Ia pun segera membuka isi memori tersebut di laptopnya. Setelah terjadi koneksi antara memori card dengan laptop, teman Toni membuka sebuah program command promt.
Ia menuliskan sebuah kode di sana. Sejenak menunggu proses sebuah kode yang berjalan. Toni penasaran dengan apa yang sedang dikerjakan temannya tersebut dan ia pun bertanya, “apa yang kamu lakukan, Vino?”
“Ini proses untuk menampilkan semua file di dalam memori card, siapa tahu ada file yang di-hidden.” Jawab teman Toni yang dipanggil Vino tersebut.
Toni selanjutnya hanya memperhatikan yang dilakukan temannya tersebut.
Proses menampilkan seluruh isi file sudah selesai, Vino segera membuka isi file memori card tersebut. namun tetap saja isinya hanya 1 file berbentuk txt tersebut. Vino pun membuka file txt, lalu membacanya. Vino hanya menggeleng kepala, ia tidak mengerti isi atau bahasa kode tersebut.
“Aku tidak tahu ini isinya apa, ini hanya seperti file rusak yang tidak terbaca” kata Vino.
“Lalu kenapa oleh Rendy di taruh di dalam saku jasku ya?” Tanya Toni pada Vino meski ia tahu tidak bakal mendapat jawaban. Vino hanya mengangkat bahu sebagai jawaban atas pertanyaan Toni.
“Kalo menurutmu diapakan ini memroi card, Vin?” kembali Toni bertanya pada Vino.
“Ya gak tahu, Ton” jawab Vino.
Toni menghela nafas, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan pada memori card ini. Ia lalu kembali ke kostnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada jawaban.
Cerpen karangan : M. Rudy Haris
Tamat.
MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.
__ADS_1