
SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏
Aku sungguh bersemangat saat ibu berkata bahwa aku harus pindah sekolah. Ini pertama kalinya aku harus pindah sekolah. Bayangkan saja, dari aku TK sampai aku SMA kelas satu, aku di sekolah yang sama dengan teman yang sama. Ini yang membuatku tak mempunyai pasangan sampai sekarang.
“Sasa, kamu pergi ke sekolah duluan ya. Nanti ibu nyusul. Soalnya, ini belanjaan belum disusun.” kata ibu menghancurkan lamunanku.
“Wah, iya, Bu.”
Aku hidup hanya bersama ibu dan kakakku, Vera. Ayahku, meninggal saat kecelakaan pesawat itu. Sungguh menyedihkan bila mengingatnya.
—
“Saa!” Wah, itu Anin.
“Hai, Anin! Aku ada sebuah cerita yang kamu harus tau! Aku yakin, kamu orang pertama yang akan mengetahui ini.” kataku semangat.
“Apaan, Sa?! Kamu juara kelas lagi, ya?!”
“Bukan! Bukan itu! Aku akan segera pindah kelas sebelas nanti! Akhirnya, Nin! Setelah sekian lama aku bersekolah di tempat yang sama! Aku akan bertemu teman baru dan membuat cerita baru lagi!” kataku tak berhenti.
“Sa, kamu serius? Kamu kenapa pindah sih?” Aku merasakan kesedihan di setiap kata yang Anin ucapkan.
“Iya, Nin. Doain yang terbaik aja ya buat aku! Tenang aja, masih ada fitur video call kok! Kita masih bisa ketemu walau berjauhan! Ya, aku tak akan melupakanmu, kok! Makasih ya, Nin. Selama aku di Medan ini, aku senang punya teman kayak kamu!”
Sejujurnya, untuk meninggalkan Anin, merupakan sesuatu yang sulit bagiku. Tapi, aku harus bisa melepaskan sesuatu yang telah terikat denganku secara perlahan.
“Sa, ambil rapornya dimana?” Tiba-tiba saja, ibuku sudah sampai. Aku dan ibuku pun langsung mengambil raporku dan ya, aku juara kelas lagi. Biasanya, setelah mengambil raport, ibu akan membiarkanku bermain sebentar. Tapi, kali ini dia langsung mengajakku pulang.
“Sa, langsung pulang saja, ya. Bantu ibu dan kakakmu beres-beres. Toh, kita akan segera pindah dua hari lagi.” Aku sungguh terkejut, ternyata aku berangkat dua hari lagi dan tak mempunyai waktu untuk berpisah terlebih dahulu dengan teman-temanku.
“Sa! Nanti aku ke rumah kamu, ya! Aku bantu kamu beres-beres! Abisnya, kita gak bisa jalan-jalan lagi, kan. Boleh, ya?”
Aku sungguh bersemangat saat mendengar tawaran Anin. Aku pun menganggukkan kepala dengan semangat dan memeluk Anin.
Sudah jam dua siang, tapi belum ada tanda-tanda kedatangan Anin. Aku pun menjadi gelisah. Tapi, tiba-tiba saja bel rumahku berbunyi.
“Biar Sasa aja yang buka!” teriakku dari kamarku.
Saat aku membuka pintu, bukan hanya Anin saja yang datang. Tapi, teman sekelasku menghampiriku.
__ADS_1
“Sa, selamat udah jadi juara kelas lagi! Kami bakal ngerasa kehilangan banget kalau kamu pergi. Secara, kamu yang biasa membawa suasana bahagia di kelas.” kata Bigail.
Aku merasa terharu sampai menangis, bahkan aku lupa menyuruh mereka masuk.
“Eh, ada apa ini rame-rame? Ayo, masuk. Kebetulan nih ada kue-kue kering, dimakan, ya!” kata ibu.
Mereka semua pun masuk ke rumahku dan kami berbincang-bincang untuk terakhir kalinya. Satu-persatu pun mereka pulang. Tersisa aku dan Anin.
“Sa, aku udah janji bantuin kamu nih. Ayo, beres-beres. Nanti gak selesai loh.”
Aku dan Anin pun segera menuju ke kamarku dan membereskan segala sesuatu yang perlu dibawa.
Seperti biasa, aku pun menyetel lagu kesukaanku “Pelangi-HiVi” Aku dan Anin pun beres-beres sambil berbincang.
“Sa, maaf sebelumnya. Aku gak bermaksud menakuti kamu. Apakah kamu sudah tidak trauma lagi dengan pesawat?” kata Anin halus.
“Wah, Anin. Buat apa kamu minta maaf? Santai aja ah kamu. Hm, untuk itu, aku belum bisa lepas dari trauma itu. Tapi, bagaimanapun aku akan menyusul ayah.”
Tiba-tiba saja Anin memukulku, “Kamu ngomong apa sih, Sa. Nyusul ayah kamu gimana?”
“Ya, begitulah, Nin. Sudah, lebih baik kita beres-beres lagi. Biar cepat selesai.”
“Hm, oke deh, Nin. Hati-hati ya, Anin!”
Tak terasa, sudah saatnya aku pergi dari kota penuh kenangan ini.
“Sa, udah siap?” kata ibu
“Secara fisik sih, udah siap, Bu.”
“Secara mental gimana?” tanya ibu lembut.
“Kalau Sasa, gak usah ditanya lagi, Bu. Mental dia mah mental baja” kata Kak Vera tiba-tiba sambil memelukku.
“Wah, benar juga, Ver. Ya sudah, ayo kita bersiap-siap di depan. Supaya Anin tidak harus menunggu lagi.”
Kami pun segera ke luar dan ternyata sudah ada Anin di sana.
“Hai tante, Kak Vera dan Sasa! Ayo! Sebelum terlambat!”
__ADS_1
Kami pun masuk ke mobil Anin dan entah mengapa, Anin tak melihatku dari tadi. Aku rasa, dia merasa sedih untuk kutinggalkan. Ya, sepanjang perjalanan hanya keheningan yang ada.
Sesampai di bandara, Anin memelukku erat.
“Hati-hati di sana ya, Sa! Aku bakal kangen banget sama Sasa! Kalau udah sampai, nanti kabarin ya, Sa!” Saat dia melepas pelukannya, aku melihat ada air mata di pipinya.
“Jangan nangis, Nin. Baru gini aja udah nangis. Padahal aku udah bilang kemaren. Ya udah, ya. Bye, Anin! Thankyou, ya!”
Aku pun segera berjalan meninggalkan Anin, supaya aku tidak ikutan menangis. Licik memang.
Saat aku, kakaku dan ibuku akan melakukan check in, ternyata kami sudah tertinggal pesawat selama kurang lebih limabelas menit. Kekacauan memenuhi pikiran ibuku, pastinya ibu merasa rugi. Kami pun heran kenapa kami bisa tertinggal pesawat. Kami pun duduk menunggu konfirmasi dari pihak bandara. Syukurlah, kami bisa mengikuti penerbangan selanjutnya. Aku sungguh belum bisa melepaskan traumaku terhadap pesawat, sehingga rasa takut itu selalu muncul.
Saat aku melihat ke arah petugas maskapai penerbangan yang seharusnya aku naiki, mereka kelihatan kebingungan. Aku berusaha membaca gerak-gerik mulut mereka. Salah seorang dari mereka berkata, “Pesawat yang baru saja terbang itu tidak diketahui arahnya kemana sekarang. Bisa dibilang hilang dari radar.” Aku berusaha berpura-pura tidak tahu sambil terus bersykur, karena aku tak menaiki pesawat itu. Tak berapa lama, pesawat yang harus kunaiki sekarnag, telah mendarat. Aku berniat untuk memberi informasi pada Anin, tapi dia tidak mengangkat teleponnya. Aku terus berusaha menelepon, akhirnya diangkat juga. Tapi, ada yang aneh. Yang mengangkat telepon itu, bukan Anin. Tapi, ibunya dan ibunya sambil menangis, aku kebingungan.
“Halo, tante.” kataku pelan.
“Halo, Sasa. Tadi Anin menitip pesan, jika kamu menelepon, katakan bahwa dia baik-baik saja dan dia selalu mendoakan yang terbaik buat kamu.” jawab ibunya terbata-bata.
“Wah, baiklah tante. Tapi, kenapa tante menangis?” tanyaku pelan.
“Ya, Anin sudah sangat baik sekarang. Tante senang dia bisa kenal dengan teman seperti kamu. Kamu hati-hati ya, nak. Apakah kamu sudah di dalam pesawat?”
“Ya, tante. Kenapa?”
“Wah, baiklah. Anin baru saja terkena kecelakaan mobil sehabis mengantar kamu tadi. Pihak dokter sudah bekerja secara maksimal. Tapi, Tuhan berkata lain. Hati-hati di atas sana ya, Sa!”
“Halo, tante! Halo!”
Aku tak menyangka, secepat itu. Aku hanya bisa terus menangis. Kenapa aku tidak naik pesawat sebelumnya saja? Supaya aku dan Anin bisa bersama di atas sana! Kenapa?! Kenapa harus Anin? Aku sungguh kacau. Bahkan, aku tak bisa pergi ke acara pemakamannya! Dia pergi karena aku, tapi aku tak bisa melihatnya untuk terakhir kali! Bodohnya aku!
Banyak yang aku pelajari dari kepergian Anin yang tiba-tiba ini. Ya, aku memang harus mulai bisa melepaskan ikatan dengan seseorang yang telah terikat denganku secara perlahan. Butuh waktu lebih dari dua tahun untuk benar-benar percaya bahwa Anin telah pergi.
Selamat tinggal, Anin.
Tamat.
MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH
Cerpen Karangan: Enceladus Inamo
__ADS_1
Dewinya cerita sedih 👆👆👆👆👆