
SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏
Konon keris Nogososro berasal dari tanah Blambangan. Pusaka tersakti yang bisa melanggengkan kekuasaan. Kadang dijadikan ikhtiar mencapai kesuksesan. Digadang-gadang, kekuatannya mampu menaklukkan jagat kayangan apabila mengamuk. Benda bertuah tersebut, memiliki khodam yang sangat kuat. Energi khodam ampuh sebagai pelindung bagi empuhnya, serta pesuruh setia bagi petaka orang lain. Wujudnya terdapat kepala naga dengan mahkota keemasan. Suamiku- Bang Hanan-beberapa malam belakangan ini memimpikannya.
“Aku seperti hidup dalam dua dunia, Dek,” celetuk Bang Hanan di tengah wiridnya. “Mimpi yang terlihat seperti nyata, Dek. Entah apa yang terjadi padaku.”
Aku tahu benar maksud Bang Hanan. Tak mudah baginya menerima kondisi seperti ini. Hampir tiga bulan ini ia sakit. Beberapa rumah sakit yang kami datangi tak bisa memberi kepastian sakit yang dideritanya. Hasil lab dan indikasi sakit selalu saja menjadi tanda Tanya. Setiap malam terpaksa terjaga, bukan karena kemauannya sendiri, akan tetapi tiba-tiba lelakiku itu menjadi bergejolak dan merancau tak karuan. “Abang yang sabar ya. Allah lagi sayang sama Abang,” ucapku membesarkan hatinya. Tak lupa kuusap-usap pungung tangannya. Katanya, ia lebih tenang jika aku berada selalu di sampingnya.
Melihat kondisi suamiku, yang tak kunjung membaik dari sakit yang dideritanya. Rasanya sesak di dada. Bisa tidur dengan nyenyak menjadi kenikmatan tersendiri, sebab sepanjang hari aku tetap standby di dekatnya. Ia tiba-tiba akan meminta ini itu. Sejak sakit Bang Hanan lebih ‘aleman’, dan aku bisa memakluminya.
Jeritan Bang Hanan, tetiba mengagetkanku. "Ada penampakan Dek, lihatlah! Lihatlah!" Jari tangan Bang Hanan menunjuk-nunjuk sudut pojok kamar.
Tak tahu apa yang dilihatnya, aku hanya melihat dinding tembok bercat biru muda. Ia ketakutan luar biasa. “Istighfar, Bang! Istighfar!” teriakku tak kalah dari teriakannya. Kurapalkan beberapa ayat yang kuhafal, ayat kursi maupun ayat yang lain, agar Bang Hanan kembali tenang.
Sementara Bang Hanan sudah mulai tenang, aku masih khusuk dengan wiridku. Setelahnya, kuajak Bang Hanan ngobrol banyak hal, agar ia teralihkan dari pikiran-pikiran anehnya. Pria yang kunikahi empat tahun lalu ini akhirnya mengeluarkan senyum simpulnya. Manis sekali. Ada masa ketika kami menertawakan keadaan yang kami alami. Ketidakberdayaan kami dan ketakutan kami menjalani hari-hari berikutnya. Tetapi akhirnya, kami legowo menerima kunjugan tamu kasat mata kami. ‘Jangan terlalu lama bertamu di rumah kami!’
“Kalau ‘melekan’ seperti ini jadi ingat malam inagurasi pas ospek mahasiswa dulu ya, Bang?” Aku tersenyum sendiri mengingatnya. “Kau memberondongku dengan banyak pertanyaan yang aneh untuk orang yang baru kenal.”
“Dulu kau itu sombong sekali, Dek. sudah gitungambekan lagi,” jawabnya tak mau kalah.
“Biar sombong asal ngangenin, kan, Bang?" Pelan kucubit dia yang terkekeh dengan candaanku.
***
Hari-hari berikutnya, kami putuskan untuk tidur lebih awal, setelah sholat isya’ dan sengaja terjaga menjelang pukul 12.00 WIB. Sesekali aku bangunkan Bang Hanan jika ia ketiduran. Sebenarnya tak tega membangunkan saat ia terlelap, mengingat kondisinya yang melemah, tapi aku lebih tak tega lagi ketika melihatnya tiba-tiba terbangun karena gejolak yang tak dapat dimengerti olehnya maupun olehku.
Mimpi-mimpi Bang Hanan kian hari kian ganjil. Aku mengkhawatirkan mentalnya. Kadang aku melihatnya melamun. Bang Hanan adalah tipologi orang yang logic bahkan cenderung tak percaya hal-hal mistis. Akan tetapi, peristiwa aneh yang ia alami membuatnya mempertanyakan kembali kebenaran yang selama ini ia yakini. Ya, keimanan pada Allah, mengharuskan iman pula pada hal-hal ghaib, Bukan?
Mungkinkah ada orang yang mampu dan begitu tega untuk menyakiti orang lain sedemikian rupanya. Itu menjadi pertanyaan sendiri baginya.
“Keris apa itu? Kenapa berkepala naga dan bertahta emas? Kenapa selalu hadir dalam mimpiku?" Aku mendengarnya berbicara sendiri. Pelan kuhampiri dan kuelus punggungnya.
“Bagaimana kalau kita mencari alternatif pengobatan lain, Bang?” yakinku padanya. “ Bang Irsyad, teman Abang itu bukannya punya banyak teman yang melakukan alternatif pengobatan rukyah? Siapa tahu menjadi jalan kesembuhan, Abang. Bagaimana, Bang?” Rayuku tak mau kalah.
'Ah, Aku hanya ingin engkau sembuh Bang. Please, jangan menolak.’
Suara Bang Hanan membuyarkan lamunanku. “Baiklah Dek. Aku manut saja padamu. Aku tak tahan lagi dengan sakit ini,” ucapnya pasrah.
Aku senang akhirnya Bang Hanan bersedia mencoba alternatif pengobatan lainnya. Sebelumnya sudah beberapa kali aku membujuknya, namun ia justru memarahiku dan mengatakan kalau imajinasiku terlalu berlebihan. Ia bahkan menasehatiku agar tak berfikir yang aneh-aneh serta negatif terhadap orang lain.
Ah, Bang Hanan, kenapa ia begitu baik. Dalam kondisi yang seperti ini saja, ia tak mau diriku berprasangka buruk pada yang lain.
Kekhawatiranku ini bukan tak berdasar. Sebelum Bang Hanan sakit, ia sempat bermasalah dengan teman sekantornya. Pak Rustam, begitu Bang Hanan memanggilnya. Bukannya bermaksud berprasangka. Bukankah dalam dunia kerja, sengol-menyengol, sikut-menyikut itu hal biasa. Apalagi sempat ada cekcok dan ancaman pula.
“Sudah dek, jangan diteruskan imajinasimu itu, nanti jadinya fitnah.” Kata-kata itu yang membuatku akhirnya selalu mengurungkan niatku untuk mencoba alternatif pengobatan lain. Aku tak ingin membuatnya sedih. Pun juga tak ingin menambah dosa. Jika tak benar, maka celakalah aku karena sudah menfitnah orang.
****
[Aku akan datang dengan Nisa dan temanku. Ustad Abdu namanya. Semoga ini menjadi jalan kesembuhan suamimu. Kita coba saja dulu]
Ada pesan masuk dari Bang Irsyad. Setengah jam kemudian, kudengar suara pintu diketuk. Aku menyuruh Bang Irsyad dan Ustadz Abdu langsung menuju kamar kami, sementara aku beringsut mengambil minuman diikuti Nisa yang berniat membantu.
“Kak Hay masih sering bermimpi yang aneh-aneh ya, Mbak?” Aku hanya mangut-mangut. Nisa memang punya panggilan aneh untuk suamiku. Adik perempuan Bang Irsyad ini memang begitu akrab dengan Bang Hanan, bahkan sebelum mengenalku, pria yang menikahiku itu lebih dulu mengenal Nisa. Bang Hanan dan Bang Irsyad berteman sejak SMA. Sering mengerjakan tugas bersama di rumah Bang Irsyad, membuat ketiganya akrab bagai saudara.
Kuletakkan nampan di meja, kemudian berdiri dekat kekasih halalku itu, yang sedari tadi mangut-mangut mencerna penjelasan Ustadz Abdu tentang pengobatan rukyah.
‘Ya Allah, Gusti, semoga ini menjadi jalan kesembuhan suami hamba.’
__ADS_1
Sebelum memulai ritual pengobatan, Ustad Abdu ditemani Bang Irsyad mengelilingi rumah kami. Menerawang aura negatif yang berada di sekitar rumah. Tak semua orang diberi kelebihan pengelihatan mata batin. Penggiat rukyah itu menggunakan jari telunjuk serta rapahal beberapa surat al-Qur’an sebagai media untuk menyingkap keberadaan aura negatif dari makhluk yang tak kasat mata.
“Apa di kamar ini sering mati lampu?” Suara Ustad Abdu mengejutkanku.
“Iya, Ustad. Kenapa ya?” ucapku penasaran.
“Saya merasakan banyak energi negatif yang berada di kamar ini,” tegas Ustad Abdu yang semakin membuatku penasaran. “Saya akan membuka mata batin suami Ibu, agar ia bisa mendeteksi apa saja yang ada di sana, sekaligus menunjukkan di mana “buhul” itu di tempatkan, karena suami Ibu yang menjadi korban kedholiman, otomatis lebih cepat jika beliau sendiri yang melihatnya langsung.”
Penjelasan Ustad Abdu mengingatkan pada pengajian ibu-ibu minggu kemaren, ketika membahas tentang sebab turunnya surat al-Falaq, berkaitan dengan penyebab sakit keras yang diderita Nabi Muhammad Saw adalah sihir yang dilakukan oleh Labib bin al-A’sham, orang Yahudi. Atas perintah Rasul, sahabat Amar bin Yasir mengambil bugul yang diletakkan Labib di dalam sumur dan ditutupi dengan batu besar. Setelah buhul itu diambil dan dibakar, kesehatan Nabi Saw berangsur membaik. Ah, seorang Rasul bahkan bisa terkena sihir, bagaimana dengan imam keluargaku ini yang memiliki banyak kekurangan.
Buru-buru kupergi ke dapur, setelah Ustad Abdu memintaku untuk mengambil Baskom berwarna putih susu, tak lupa garam gosong. Setelah kuserahkan wadah dengan garam, Perukyah ini menambahkan serbuk bidara yang dibawa dari rumah, kemudian mengucurkan air ke dalamnya.
Aku melihatnya seperti adegan kaca benggala yang ada di sinetron Mak Lampir. Bisa melihat yang tersembunyi dalam air. Sayang, yang bisa melihat nanti hanya sang Ustad dan Bang Hanan saja.
Lelaki berbaju kokoh itu menanyakan kesiapan lelaki malang-ku ini. Ayat-ayat al-Qur’an mulai dilantunkan. Tak lupa berdoa meminta penyembuhan hanya pada Allah. Mas Hanan memejamkan mata sambil menirukan ayat yang dibaca sang Ustad. Di Akhir ritual, Bang Hanan dipersilahkan membuka mata dan menceritakan apa yang ia lihat dalam wadah air.
“Tidaaak!” Bang Hanan menjerit sambil menutupi wajah dengan telapak tangan.
Kuurungkan niatku menghampiri Bang Hanan yang seperti ketakutan. Ia mulai membuka netranya perlahan. Suara Ustad menambah keberaniannya, “Tak apa-apa Pak Hanan, Jangan takut! Coba lihat kembali! Apa saja yang tampak di sana, Pak?”
“Aku melihat banyak pocong di pojok kamar. Ada jenglot di halaman belakang rumah. Kertas kecil di laci bawah almari dapur.” Aku merinding mendengar apa yang baru saja dibicarakan Bang Hanan. Setengah berlari, aku buka semua laci yang ada di dapur dan kutemukan kertas bertulisan ‘pegon’ yang dilipat kecil dibungkus dengan solasi. Rasa nyeri tiba-tiba membayangiku. Potongan kertas itu akhirnya dibakar Bang Irsyad. Tulisan dalam kertas itu adalah semacam ‘raja-raja’ untuk melemahkan orang yang dituju.
“Ada sosok perempuan.” Bang Hanan meneruskan penelusurannya. “Tidak, sudah, sudah, aku tak sanggup,” jerit Bang Hanan kemudian pingsan untuk sesaat.
Kepanikanku berakhir ketika melihatnya siuman dan ditenangkan Ustad Abdu. Aku hanya bisa menangis dan memeluk Nisa yang ikut takut sampai berkeringat dingin. Tak biasanya, Nisa yang biasa cerewet, hanya tertunduk lesu. Beberapa kali ia bolak-balik ke ruang tengah mengambil minum. Aneh sekali gadis ini.
Ustad Abdu masih berkeliling area kamar dan dapur. Sambil merapalkan ayat suci, ia juga menyemprotkan air rukyah yang dicampur dengan bidara dan garam gosok. Lelaki bersahaja itu berpesan padaku agar setiap sore menjelang azan maghrib tiba, sebaiknya aku menyemprotkan air rukyah di seluruh sudut rumah. Air minum dan makanan dirukyah terlebih dahulu sebelum dikosumsi. Terapi al-Qur’an, begitu ia menyebutnya.
“Pak Hanan, mengenal sosok perempuan tersebut?”
“Baiklah, tak perlu disebutkan, nanti bisa menjadi fitnah.”
Banyak pertanyaan yang belum terjawab. Termasuk mimpi-mimpi Bang Hanan tentang keris berwujud kepala naga. Aku melihat sikap Ustad Abdu dan Bang Hanan sedikit aneh. Entalah, mungkin hanya perasaanku, tapi seperti ada sesuatu yang sengaja mereka berdua sembunyikan.
Ustad Abdu berjanji akan datang kembali untuk melanjutkan sesi terapi rukyah. Kali pertama ini hanya untuk merukyah tempat tinggal kami saja, istilah jawanya, ‘Ngesiki Omah.’ Adapun untuk melakukan rukyah langsung pada Bang Hanan, kekuatan fisik dan mental perlu dipersiapkan. Setiap orang yang dirukyah pun mengalami efek yang berbeda, ada yang yang hanya bersendawa, muntah, teriak-teriak, bahkan menangis histeris.
****
Pagi tadi, Nisa menelfon menanyakan kabar Bang Hanan. Ia terus saja mendesak, apa suamiku itu sudah menceritakan apa yang dilihatnya. Kukatakan padanya bahwa dua hari belakangan ini, aku hanya fokus menyiapkan asupan yang baik untuk Bang Hanan. Kubilang pula pada gadis manjaku itu kalau aku tak ingin memaksa, biarlah Bang Hanan sendiri yang bercerita.
“Apakah perempuan itu pernah bermasalah denganmu, Bang?” Telfon dari Nisa membuatkan akhirnya penasaran dan mencoba membujuknya.
“Sepertinya tidak.”
Yes! Akhirnya ngomong juga. Bang Hanan akhirnya menceritakan kalau sebetulnya perempuan ini dulu sempat menaruh hati padanya. Hanya saja, ia hanya menganggap adik tidak lebih.
“Gadis yang Malang,” pekikku.
Bang Hanan juga terheran kenapa gadis itu menjadi sosok yang dilihatnya. Hubungan dengannya baik. Perempuan misterius itu juga menyayangiku layaknya saudara. Siapa sebenarnya perempuan ini?.
Mendengar penjelasan Bang Hanan, membuatku berfikir bahwa perempuan ini orang yang dekat dan bisa keluar masuk di rumahku dengan leluasa. Di otakku hanya satu orang yang pikirkan. Mungkinkah Nisa?. Dia membantuku banyak hal sejak Bang Hanan sakit. Gadis itu pula yang selalu memperhatikanku agar tak lupa menjaga kesehatan. “Merawat orang sakit butuh fisik yang prima,” begitu katanya.
Masih terus penasaran, ingatanku melayang pada malam ketika Ustad Abdu datang ke rumah. Nisa berubah jadi pendiam. Dia gelisah dan bahkan berkeringat dingin, padahal biasanya aku tak bisa menghentikannya untuk berbicara barang sebentar, seperti tak pernah kehabisan kata dan topik obrolan. Mungkinkah Nisa tega berbuat yang demikian?
“Apakah Nisa, sosok yang Abang lihat malam itu?” Tadinya Bang Hanan tak mau menjawab tapi setelah kudesak akhirnya ia mengganguk mengiyakan. Aku seperti tak percaya. Nisa Aprilia Azzahra, Tega sekali kau?
"Bagaimana dengan keris dengan dua kepala itu, Bang?" tanyaku kembali pada Bang Hanan.
__ADS_1
"Aku tak tahu, Dek. Mungkin Nisa mengunakan orang lain."
Setelah percakapan itu. Aku dan Bang Hanan sepakat untuk merahasiakan ini dan membuat sandiwara agar Nisa sendiri yang akhirnya bisa menunjukkan di mana 'buhul' yang lain itu dia tempatkan.
***
[Nis, nanti sampaikan pada Bang Irsyad ya, kalau Ustad Abdu akan ke rumah]
Sebuah pesan sengaja kukirim ke Nisa, aku berharap malam ini, dia juga akan ikut datang ke rumah bersama saudaranya itu. Sebelumnya, sudah ada kesepakatan juga dengan ustadrukyah itu.
Nisa datang dengan gelagat yang tetap aneh. Sengaja kugoda dia seperti gadis yang akan dilamar saja, setelah kupegang tangannya yang dingin dan berkeringat.
"Jika buhul yang kedua ini ditemukan, maka insyaallah akan semakin jelas siapa yang tega berbuat kurang ajar pada Pak Hanan." Ustad Abdu memulai sandiwaranya. Sementara mataku tak lengah melihat tingkah Nisa.
"Sebaiknya kita mulai saja, Ustad sesi rukyahnya agar Hanan bisa melihat di mana buhul yang terakhir itu berada," sahut Bang Irsyad yang tak tahu dengan situasi yang terjadi.
"Mbak, Nisa keluar sebentar ya, mau menelfon teman, penting ini." Kujawab pertanyaan Nisa dengan anggukan.
Ketika semua serius dengan rukyah. Dengan diam-diam kuikuti kemana Nisa pergi.
Melihat kanan-kiri, Nisa menuju ke ruang tamu. Vas besar dengan bunga arkelik sebagai penyempurnanya, menjadi tempat terakhir langkah kaki Nisa. Allahu Akbar, mengapa tak pernah terpikir olehku, di sana memang ada beberapa batu warni-warni penyangga bungga. Seketika tangan Nisa merogo vas dan mengambil buntelan yang dibungkus kain putih, mirip kain kafan.
"Nisa...!" Teriakku kencang sambil menghidupkan lampu. Seketika Bang Irsyad dan Ustad Abdu datang beririgan. Disusul kemudian Bang Hanan yang berjalan dengan gontai.
Nisa terperanjat. Kuhampiri dirinya. Plak! Tamparan itu akhirnya melayang di pipi ranumnya.
"Tega sekali kau. Bukankah Bang Hanan menganggapmu sebagai adik sendiri, kenapa kau tega melakukan ini," teriakku histeris hingga tak kuasa berdiri.
"Aku tak pernah ingin menyakiti Bang Hanan, aku hanya tak suka padamu, Mbak Hanum. Kau merebut cintaku. Aku hanya ingin kau pergi tapi justru yang terluka Bang Hanan," jawabnya terisak.
Plak! Untuk kedua kalinya, Nisa mendapat tamparan dari Bang Irsyad.
"Abang malu punya adek sepertimu. Katakan siapa yang membantumu?" ucap Bang Irsyad penuh dengan kemarahan.
"Beberapa bulan lalu, ketika ada acara kantor Bang Hanan di rumah ini, aku sempat berfikir dengan Kak Rustam, dia memberi ide bagaimana aku bisa mendapatkan cintaku kembali, dan aku menurut saja kemauannya." Nisa tersungkur. Tubuhnya lunglai. Dia tergugu.
Seketika itu, tangan Nisa digelandang Bang Irsyad untuk pergi meninggalkan rumah. Bang Irsyad tampak sedih dan malu dengan perbuatan adiknya. sementara asih dengan isak tangisnya, kulihat Nisa berucap lirih, "Maafkan, Nisa, Mbak Hanum, Bang Hanan, Maafkan."
Kupandangi punggung kedua kakak beradik itu meninggalkan pelataran rumah. Ustad meminta buntelan putih yang kupegang dan keluar halaman depan rumah untuk memegangnya.
"Alhamdulillah, Pak Hanan, Allah masih menyayangi Bapak. Jangan putus untuk selalu merukyah secara mandiri. Semoga ini menjadi jalan kesembuhan Bapak."
Dengan haru, kami aminkan perkataan Ustad Abdu. Kami tak ingin menyimpan dendam, biar semua menjadi urusan Allah saja.
Setiap orang punya dua potensi, baik dan buruk, tapi Allah memberi kemampuan kita untuk bisa memilih yang baik untuk kita.
Tamat.
MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.
Penjelasan kata kata yang mungkin susah untuk dimengerti :👇👇👇👇
Buhul : semacam media yang digunakan untuk melakukan sihir.
Rukyah : doa, bacaan-bacaan atau rapalan dengan ayat-ayat al-Qur'an untuk meminta pertolongan/kesembuhan pada Allah.
Pegon : Abjad Arab yang dimodifikasi untuk menulis bahasa Jawa, Madura dan Sunda.
__ADS_1