
SELAMAT MEMBACA ๐๐๐๐
Bibir Maysaroh--istriku--masih monyong lima senti. Sejak pulang dari pameran perumahan tadi, wanita itu diam saja tidak mengucapkan apa pun. Aku sendiri juga heran dengan tingkahnya kali ini, biasanya kalau dia lagi sebal pasti nyerocos kayak blender.
"Abang seneng banget ya digodain cewek SPG itu?" Tambah moncong itu bibir Maysaroh.
"Ya namanya saja suami ganteng, May. Ya, wajar kalau banyak yang tertarik," jawabku santai.
"Abang ...!" teriak Maysaroh kenceng.
"Udahlah, May. Kan hati Abang cuma buat kamu seorang, May." Kuhampiri istriku dan menjawil sedikit dagunya.
"Gombal," jawabnya tersenyum malu-malu.
Yes. Lelaki ganteng ya gini bisa menaklukkan hati wanitanya.
"Tapi kenapa tadi Abang kok bilang 'Maysaroh', saat teman-teman Abang tanya namaku?"
Mulai lagi. Kadang tidak paham dengan mood istriku yang selalu berubah-ubah ini.
"Lha itu, bukannya namamu yang ada di KTP, May?"
"Iya, si, Bang. Tapi kan gak perlu sebut lengkap gitu. Panggil Memey kek, atau May saja kan lebih elengan, Bang!" Sunggutnya sekali lagi.
"Yaelah, May. Nanti tak pesen bubur merah sekalian ya?"
"Abang ...!" Suara barito wanita itu menggema di ruangan.
Sejak percakapan tadi, kulihat Maysaroh hanya mondar-mandir di depanku sambil mencebikkan bibir seksinya itu.
Sepertinya aku harus menyari cara agar hatinya kembali adem, karena itu bisa menyebabkan masalah stabilitas di bagian vitalku yang meremang sejak kemaren siang.
__ADS_1
Ada sedikit penyesalan, kenapa tadi membawa Maysaroh menemui kawan-kawanku di pameran itu, kalau tahunya begini. Padahal, aku berniat menyenangkan hati wanitaku itu, sebelum nanti malam kuajak keliling taman surga.
Menit menuju jam, makanan pun terhidang di meja makan. Satu hal yang kusuka dari istriku ini. Sekalipun dia marah padaku, kewajibannya untuk mengurusi segala keperluanku tidak ia tinggalkan, kecuali satu itu, yang berhubungan dengan bantal guling, tentu tak enak jika memaksa.
"May, Abang minta maaf, May. Senyum ngapa?"
"Ogah!"
"May ...."
"Udah Abang makan malam dulu saja. May juga sudah mengantuk biar cepat bisa May beresin."
Siap sayang. Kalau cuma makan dengan cepat saja, tentu Abang jabanin, yang terpenting Maysarohku sayang ada dalam dekapan.
Kubantu Maysaroh membereskan meja makan. Membawa piring kotor ke dapur. Wanita itu hanya terdiam saja melihatku yang cekatan.
Menarik mangsa ya memang harus gini, siap berkorban lebih dulu.
Melihat Maysaroh yang berjalan menuju ke kamar, membuatku dag ... dig ... dug. Saatnya mempraktekkan ilmu kanuragan.
Mati deh. Kali ini.
"May, masak gak kasihan sama Abang. Kan kemaren pas Abang pergi ke luar kota belum dikasih bekal, May?"
"Kenapa Abang gak beli saja?"
"Emang kamu izinkan? Kan dosa, May."
"Ya, gak boleh Bang. Tapi malam ini Abang tetap tidur di luar!"
"May...!"
__ADS_1
"Kaplingan lagi naik harga, Bang."
"Yaelah, May. Tidak takut apa kalau ada suster ngesot dari dalam kamar mandi."
"Kagak."
"Nanti ada darah menetes dari plafon atas kamar, May."
"Tidak mempan, Bang. Sudah diam saja."
Hem susah bener membujuk istriku ini.
"May, kamu belum tahu ya?"
"Apa?" teriaknya di balik pintu kamar.
"Pak RT kemaren didatangi pocong. Katanya sih, sejak tetangga sebelah meninggal itu lho, May."
"Abang, jangan bercanda, lah. Gak bener, kan, Bang itu?" Suara wanita itu sedikit bergetar.
"Bener, May. Ini aku lagi WA-an dengan Pak Rt," sahutku cepat.
Kreat!
"Bang, sepertinya kaplingannya turun harga deh, " ucap Maysaroh mengeluarkan setengan kepalanya ke pintu kamar.
Cara ini ampuh menundukkan istriku itu. Dia yang cerewet itu memang sedikit jiper dengan hal-hal yang berbauh mistis.
Yes! Komar dilawan. Kuambil bantal dan secepat kilat menuju ke kamar sebelum nanti ada sengketa lagi. Ya, begini memang menghadapi istri yang moodian, apalagi menjelang PMS. Tapi sabar saja pemirsa. Kesabaran dan ketekunan itu akan berbuah manis.
Cerpen karangan: Windy Aira
__ADS_1
Tamat.
MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.