Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
Jantung imitasi (Cerita Sedih)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏


Violeta Aurora, adalah gadis yang sangat baik dan pintar. Dia adalah temanku, Viola yang dianugerahi kecantikan dan sebuah bakat kecil sebagai pemain biola. Pribadinya sangat halus serta begitu pemalu. Setiap aku mengunjungi rumahnya, aku selalu mendengar alunan indah yang diciptakan oleh sepasang tangannya bertemankan biola kesayangannya.


Namun, kekurangan yang ada pada dirinya tidak sanggup mengelak dari kenyataan. Kini dia berubah layu karena menderita penyakit lemah jantung semenjak dia terlahir di dunia. Orangtuanya terpaksa membatasi setiap kegiatannya baik di rumah atau di sekolah, biarpun Viola tidak menyukainya. Karena semua itu demi dirinya, agar dia tidak lemah dan berakhir rapuh. Bahkan dia tidak sanggup berdiri lebih dari lima belas menit, untuk itu dia selalu duduk di kursi roda.


“Aku bukan orang lemah!!” Teriaknya ketika dia sudah mulai frustasi dan terpaksa harus menerima kenyataan tentang hidupnya saat ini. Namun saat dia berteriak, dia selalu dengan susah payah meremas dadanya dan kemudian.. tidak sadarkan diri. Harus bagaimana lagi? sekuat apapun Viola menolak, kenyataannya dia hanyalah seorang gadis yang lemah.


Suatu hari saat aku mengunjungi rumahnya, sebuah suara alunan musik yang sangat menyedihkan dimainkan oleh sebuah biola di balik sebuah pintu yang merupakan kamar Viola. Dari setiap gesekan aku dapat merasakan keretakan hatinya. merasakan betapa berat beban yang ditanggungnya dalam nada-nada yang dimainkan Viola.


“Jantung yang ada di tubuhnya saat ini bukanlah jantung manusia yang didonorkan pada tubuhnya.” Papar orangtua Viola. “Dia hanya menggunakan peralatan medis yang fungsinya seperti jantung untuk sedikit mempertahan dan memperpanjang usianya. Meskipun peralatan itu sangatlah canggih dan melampaui segalanya, tapi itu hanyalah buatan manusia, dan buatan manusia tidak akan bisa bertahan selamanya. Pasti ada saat dimana alat itu mengalami gangguan atau kerusakan yang fatal hingga mengancam nyawa Viola.”


Sebagai teman sepermainannya, aku tidak sanggup melakukan apapun untuk Viola. Hanya berusaha membuatnya sejenak mengalihkan penderitaannya dan menemani sisa hidupnya yang hanya sanggup aku laksanakan. Karena aku bukanlah Tuhan, yang bisa menghapus penderitaannya dan membebaskannya. Aku hanyalah seorang teman yang merasa kasihan padanya.


“Filya, kalo misalnya suatu hari nanti gue gak ada di samping lo.. apa yang bakalan lo lakuin?” Tanya Viola suatu hari.

__ADS_1


“Apa yang bakal gue lakuin.. ya… gue harus terpaksa jalanin hidup gue sendirian tanpa lo, tanpa canda tawa dan keceriaan lo, intinya semua bakalan sepi deh.. apalagi kalo kehilangan lo yang humoris.” Jawabku.


“Hahaha.. lo tuh ada-ada aja, lagian kan gue juga gak bakal kemana-mana kali.. gue gak bisa hidup tanpa lo dan bokap-nyokap gue.”


Tapi, mungkinkah dia tidak akan meninggalkanku suatu hari nanti?


Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk sang pemain biola Violeta Aurora. Dia akan mengikuti sebuah audisi pencarian bakat bersama kawan setianya yang senantiasa menemaninya, biola kesayangan pemberian ayahnya.


“Filya, hari ini.. tahta panggung sepenuhnya bakal jadi milik gue. dan semua penonton pasti bakal terpesona sama gue. and then.. penonton cowok-cowok pasti bakal minta pin BBM gue lah, nomor ponsel, secara gue ini kan cantik.. iya gak? hahaha..!” Canda Viola di belakang panggung bersamaku. Seperti biasa, selera humornya selalu mampu memecah ketegangan.


“Ya.. kita kan udah jadi temen dari balita. masa iya sih cuma nonton pertunjukkan temennya aja dihitung rugi?”


Viola tersenyum padaku. “Makasih ya! dan.. maafin gue kalo misalnya gue pernah buat salah sama lo. Dan juga.. anterin permintaan maaf gue ke bokap-nyokap gue juga ya?”


Aku bingung dengan perkataan Viola. Permintaan maaf? Untuk apa?

__ADS_1


“Kenapa sih lo harus minta maaf segala. Gue sebagai temen lo bakal selalu maafin kesalahan lo. Lo gak punya catatan dosa sama gue. Santai aja, ntar gue anterin ke bokap-nyokap lo.”


Dan saat Viola dipanggil oleh pembawa acara dia berkata, “Bye-bye, Filya. Arigatoo Gozaimasu (terima kasih)!” sambil melambaikan tangannya padaku. Seperti sebuah salam perpisahan.


Alunan nada yang pelan nan mengharukan membuat para penonton menitikkan air mata. Aura kesedihan jelas kentara pada alunan nadanya. Gubahan Handel, sebuah gubahan lama yang menceritakan tentang seseorang yang tetap bertahan hidup meskipun menanggung beban berat yang dipikulnya di dunia yang saat ini dia mainkan, memancarkan kesedihan yang sangat mendalam. Para penonton bertepuk tangan ketika Viola menyelesaikan nada terakhirnya.


Viola meletakkan biolanya di pangkuannya dan meminta mmikrofon yang dibawa oleh pembawa acara. “Semuanya, thanks karena udah bertepuk tangan dan ngasih standing applause buat aku. aku seneng banget.. terutama buat orangtua aku dan sahabat tercintaku, Filya. Makasih.. karena telah membantuku bertahan bersama sakitku saat ini. Makasih.. kalian udah ngedukung aku sampai akhir, bahkan hingga saat ini. Maaf, aku..”


Belum selesai Viola berbicara, mikrofon yang dipegangnya terjatuh. Dia terdiam. Semua penonton berlari mendekati Viola, terutama dengan kedua orangtuanya yang seketika menangis setelah mendengar kenyataan bahwa lembaran perjalanan hidup Violeta Aurora telah mengalami ending yang menyedihkan.


Kini, usai sudah cerita tentang Violeta Aurora, yang berusaha tetap bertahan hidup berjuang dengan kekurangannya bersama jantung imitasi yang bersarang di tubuhnya. Selamat tinggal Viola, beristirahatlah dengan tenang di sana. Tuhan telah memberikan kesembuhan abadi untukmu di surga.


Cerpen Karangan: Kevina Susanti


Tamat.

__ADS_1


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.


__ADS_2