Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
Hanya anak TKI (Cerita islami)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏


Bukankah setiap orang bebas untuk bermimpi? Tak ada perbedaan laki-laki atau perempuan, bukan? Apalagi kaya atau miskin?


Ayahku memang hanya seorang TKI di negeri menara kembang. Tiga tahun silam terpaksa ia tinggalkan keluarga, hanya demi melihatku kelak hidup secara layak.


"Kau harus semangat belajar, Nduk. Jangan seperti ayah yang hanya tamatan SD saja." Itu yang selalu Ayah katakan pada setiap kali ada kesempatan berbicara padaku.


Ibu hanya tersenyum dari kejauhan mendengar obrolanku dengan Ayah.


Wejangan Ayah membuatku memiliki keberanian untuk bermimpi setinggi-tingginya. Ya, aku ingin melanjutkan sekolahku ke jenjang yang lebih tinggi setelah tamat dari sekolah aliyah nanti.


Ibu dan Ayah memang orang sederhana, tapi untuk pendidikanku, mereka berdua tak segan mengupayakan agar diri ini tidak sampai berhenti dari sekolah.


Mereka bahkan tak peduli dengan 'nyinyir' tetangga yang dengan sengaja mencibik dan meremehkan usaha keras mereka.


"Kenapa, ya, Bu. Lek Sum selalu saja ngomong tidak enak tentang keinginanku untuk kuliah?" tanyaku penuh dongkol setiba membeli telur yang diperintah Ibu.


"Sudah biarkan saja, Nduk. Kamu kan sudah hapal tho dengan peringai Lek Sum yang selalu seperti itu. Diam saja, Nduk!" Nasehat Ibu dengan lemah lembut.


"Tapi selalu begitu, lo, Bu."


"Sudah ... sudah ..., mana telurnya? Telur itu seketika berpindah tangan pada Ibu.


"Sabar ... sabar biar rezeki tambah berkah dan Allah melancarkan segala apa yang menjadi keinginanmu untuk kuliah," tambah Ibu penuh perhatian.

__ADS_1


"Iya, Bu." Beranjak kubantu Ibu menyiangi sayur yang hendak dimasak siang ini.


Ini sudah yang kesekian kalinya, kudengarkan para tetangga yang dikomando Lek Sum mengoceh tentang diriku. Bagi mereka, aku yang hanya seorang anak TKI itu tak layak untuk bermimpi terlalu tinggi, apalagi aku hanya perempuan. Di desa ini, kebanyakan anak perempuan hanya menamatkan sekolah hingga menengah atas, selebihnya mereka akan dikawinkan. Tentu saja, ada juga yang melanjutkan seperti anak Pak Lurah, Pak Carik dan anak-anak perangkat desa yang memang kaya raya.


Kondisi di lingkungan tempat tinggalku yang demikian, tak sedikit pun menyurutkan tekadku untuk merubah diri. Ayah yang hanya kuli kasar di negera seberang sana, memberi banyak kekuatan agar aku tetap semangat. Lelaki yang sederhana, hidup dengan prihatin tapi tidak dengan pola pikirnya. Dulu sebelum menjadi TKI, Ayah tak pernah lupa membelikanku buku-buku bekas agar aku terbiasa untuk membaca dan belajar. Ayah selalu meyakinkan kalau perempuan itu harus cerdas sebab ia adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Untuk urusan terkait domestik, kata Ayah, itu bisa dipelajari sambil lalu.


Ah, kadang aku juga sependapat dengan apa yang Ayah pikirkan, terutama ketika melihat sosok Ibuku sendiri, walau ia hanya ibu rumah tangga biasa akan tetapi kecerdasannya dalam mengelola keuangan, emosi serta kemampuan kognitif saat membersamaiku belajar sungguh menakjubkan sekali. Hanya garis tangan saja yang tak berpihak padanya.


"Assalamu'alaikum." Ucapan salam dari pintu depan rumah membuyarkan segala lamunan tentang kedua orang tua.


"Waalakumussalam," jawabku sambil menyambar jilbab dan melangka menuju ruang tamu, ada Mang Qosim berdiri diambang pintu.


"Monggo masuk dulu, Mang! Biar saya panggilkan Ibu."


"Gak usah, Nduk. Ini Mang cuma mau mengantar ini dari Ayahmu. Katanya kamu mau daftar kuliah, ya? Semoga lancar ya." Ia sodorkan amplop dan segera pamit sebab banyak urusan yang sudah menunggu untuk dikerjakan untuknya.


Kuserahkan amplop ke tangan Ibu, dan disambut dengan senyum merekah, "Dari Mang Qosim, ya, Nduk? Kok gak disuruh masuk dulu tadi?"


"Gak mau, Bu. Katanya ada urusan penting."


Ibu menanggapi dengan senyuman tipis, dan segera membuka isi amplop. Bibirnya lirih mengucap hamdalah, dan terlihat ada buliran kecil di sudut matanya. Mungkin Ibu Rindu dengan kekasih hatinya itu, sudah tiga tahun mareka tak bertemu raga, hanya suara telefon Ayah yang sesekali mengobati gundah gulana.


***


Aku sudah mendaftar dan mengikuti tes masuk di kampus negeri, hanya tinggal menunggu pengumumannya saja. Doa yang dilangitkan semoga menjadi jalan agar apa yang selama ini Ayah, Ibu dan aku sendiri inginkan bisa menjadi kenyataan.

__ADS_1


Tak peduli apa pun niatku tulus mendapat ilmu, masàlah bagaimana ke depannya nanti seperti apa, biar saja itu menjadi urusan Tuhan, karena sejatinya manusia hanya punya wewenang berupaya sedang keputusan terbaik tetap ditanganNya.


Berbagai gunjingan tetangga dan terkhusus Lek Sum, kini tak lagi menjadi perhatianku. Aku sendiri juga capek harus menjawabi ke-nyinyiran mereka yang selalu menggangapku sedikit halu, dan tak sadar diri dengan kenyataan dan kondisi keluargaku. Apa pun itu, aku hanya tak ingin pikiran kotor mengelayuti hati dengan membenci kelakuan mereka. Pun aku juga tak ingin membuktikan apa pun terhadap mereka. Satu-satunya yang ingin kuusahakan adalah belajar lebih keras agar segala pengorbanan Ibu dan Ayah tidak sia-sia.


Wanti--sahabat karibku--datang ke rumah, saat para tetangga sedang 'jandon' tepat di samping rumah. Lewat temanku ini aku biasa mengakses segala informasi online. Keluarganya yang cukup berada membuatnya tak kesusahan mendapat fasilitas untuk belajar, dan aku sering 'nebeng' padanya. Untung saja keluarga itu cukup dermawan, hingga aku yang tak memiliki apa pun saja bisa diterima dengan baik saat beberapa kali berkunjung ke rumah Wanti.


"Raina ...." teriak Wanti seperti biasa saat ia datang ke rumah.


Segera kuambil jilbab yang tergantung di balik pintu, mengenakan sekedarnya dan berlari menuju teriakan Wanti depan rumah.


"Gila, kamu, Wan. Teriak-teriak depan rumah orang," jawabku sambil menertawakan kekonyolannya.


"Biarin, biar orang-orang sini pada tahu kalau aku bahagia saat ini, " tuturnya masih dengan suara yang dibuat setinggi mungkin. Tentu saja pandangan matanya memberi isyarat pada ibu-ibu yang sedang nongkrong di dekat rumahku.


"Memang ada apa'an?" tanyaku sedikit terheran.


"Kamu diterima di universitas, Rain."


Segera kupeluk sahabatku itu dan kami berdua jingkrak-jingkrak serta menari tak karuan sambil tertawa berbahak-bahak.


Ibu hanya tersenyum bangga, sementara ibu-ibu lain yang mendengar dan melihat tingkah pola kami berdua, hanya terdiam dan menyebikkan bibir.


Aku puas setidaknya bisa menutup mulut mereka dengan prestasi, bukan makian.


Tamat.

__ADS_1


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH


__ADS_2