
SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏
Rendy duduk terpekur di balik meja kerja. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Beberapa kali ia mendesah, mendongak, dan menyibakkan rambutnya yang tidak panjang. Matanya memperhatikan langit-langit kamar apartemennya.
Lalu Ia berdiri, berjalan hilir-mudik di dalam kamar. Sejenak ia berhenti. Mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Ia membuka jendela kamar, bersandar pada dinding samping jendela. Matanya jauh menerawang ke pusat kota melewati lampu-lampu perkotaan.
Sebuah mobil berhenti tepat di bawah jendela kamarnya berlantai 3. Beberapa orang bertopi dan berjaket hitam keluar dari mobil, Satu persatu mereka memasuki apartemen melalui pintu samping.
Rendy mengerutkan dahi. Sedetik kemudian ia menghambur kearah meja kerja, mengambil beberapa lembar kertas dan sebuah flashdisk dari dalam laci meja. Lalu berlari kearah pintu.
Sejenak ia berhenti, memasang pendengaran baik-baik. Dirasa aman, Ia pun membuka pintu kamar apartemen dan berlari menuju tangga darurat. Secepat kilat ia menuruni anak tangga dari lantai 3 menuju lantai dasar.
Baru setengah perjalanan Rendy menuruni anak tangga, terdengar suara desir halus.
“ZEP!!!” Sebuah peluru hampir saja mengenai tubuhnya.
Rendy melihat seseorang memakai jaket hitam dan bertopi hitam serta berkacamata sedang mengarahkan sebuah pistol dilengkapi peredam suara mengarah padanya. Tembakan kedua dan ketiga secara beruntun mengarah pada Rendy.
Sambil menunduk dan menempel dinding, Rendy pun segera mencabut pistol dari balik mantelnya. Lalu membalas pria bertopi hitam dengan sebuah tembakan. Ia akan memancing pria bertopi untuk menghabiskan peluru.
Beberapa kali tembakan beruntun menuju arah Rendy. Sekali dua kali saja Rendy membalasnya. Perlahan Rendy menuruni anak tangga, diikuti pula oleh pria bertopi tersebut sambil terus menembak kea rah Rendy.
Akhirnya mereka bertemu di tangga lantai 2. Sekejap itu pula tembakan demi tembakan dimuntahkan dari pistol pria bertopi. Rendy membalas sekali dan berlindung.
“Klik .. klik.. klik .. klik ..”
Rendy mendengar suara pistol ditembakkan namun sudah kehabisan peluru, segera Rendy menampakkan diri dan menembak pria tersebut. Peluru menembus tepat di kepala pria tersebut. Tanpa menunggu pria tersebut jatuh, Rendy segera berlari menuruni anak tangga melewati tubuh pria tersebut menuju lantai dasar.
__ADS_1
Sesampai di depan pintu keluar tangga darurat, Rendy mengintip melalui kaca jendela kecil pada pintu. Aman. Ia pun keluar dari tangga darurat berlari menuju pintu depan. Matanya secara cepat dan cermat membaca setiap gerakan dan sudut ruangan.
Sesampai di luar pintu apartemen, Rendy berlari menuju mobil yang ia parkir di depan. Tak lama Rendy telah berada di dalam mobil dan segera tancap gas menuju jalan raya. Ia mendengar beberapa tembakan, sekejap itu pula kaca belakang mobil pecah diikuti lampu belakang mobil.
Rendy tidak memedulikannya. Ia terus mengendarai mobil tersebut dan semakin menjauh dari kota. Semakin lama, semakin sedikit lampu di kiri kanan jalan. Rendy sesekali melirik spion, memastikan tidak ada yang mengikutinya.
Ia sudah memasuki pinggiran Kota berikutnya. Ia mulai menurunkan kecepatan mobil. Hanya 20 KM/jam. Ia membelok ke kiri saat jalanan mencapai pertigaan. Sekitar 5 KM dari pertigaan, Ia memberhentikan mobil di depan sebuah rumah di samping gudang.
Di teras rumah ada seseorang yang sedang duduk sambil menyulut sebuah rokok. Asap mengepul di sekitar teras rumah. Sebuah minuman kaleng kosong tergeletak di atas meja, menggambarkan bahwa isi kaleng minuman telah habis.
Orang tersebut melemparkan sebuah kunci kearah Rendy setelah Rendy keluar dari mobil dan mulai menaiki teras rumah. Rendy menangkap lemparan kunci tersebut dengan tangan kiri. Tanpa bicara sepatah kata pun, Rendy berlalu meninggalkan orang tersebut.
Rendy membuka pintu gudang, lalu memasukkan mobilnya ke dalam. Gudang ini lebih mirip sebuah bengkel mobil tua. Beberapa perkakas dan peralatan service terdapat di mana-mana. Selain mobil Rendy, terdapat 2 mobil lain yang diparkir di dalam gudang. Sebuah mobil sedan hitam dalam keadaan rusak, satu mobil lagi merupakan mobil Avanza silver dalam kondisi baik.
Rendy berjalan menuju mobil Avanza. Ia membuka pintu mobil, lalu duduk di belakang kemudi. Sebuah kunci sudah tertempel di kontak. Rendy mulai menstarter mobil dan memeriksa dashboard. Tidak menunggu waktu lama, Rendy mulai mengeluarkan mobil dari dalam gudang.
Mobil sudah berada di luar, gudang juga sudah ia kunci. Rendy berjalan menuju rumah di sisi gudang. Ia menaiki teras rumah dan memasuki rumah tersebut.
Rendy memasuki lorong tersebut. Terdapat Rak berisi berbagai jenis pistol dan senapan laras pendek. Ia berhenti di sebuah kotak. Membuka kotak tersebut yang berisi peluru. Ia mengambil beberapa kotak peluru.
Rendy kemudian keluar dari lorong tersebut dan menuju pintu keluar. Tanpa bersapa dengan sesosok pria di teras, Rendy berlalu ke mobil dan membawa mobil jauh meninggalkan rumah dan gudang tersebut.
Sesampai di pertigaan, ia membelok ke kanan, kembali menuju ke kota. Ada sebuah tugas penting, sebuah misi yang harus ia selesaikan. Meski barusan ia ditembaki entah oleh siapa. Sepertinya mereka professional.
Masih dalam setengah perjalanan, Rendy melihat ke belakang melalui spion mobil, sebuah cahaya kuning kemerahan terlihat begitu terang disertai kepulan asap hitam yang membubung tinggi. Tidak seberapa lama terdengar ledakan beberapa kali.
Kening Rendy berkerut, seketika ia membanting stir mobil ke kiri jalan dan berhenti. Ia keluar dari mobil dan melihat cahaya terang dan asap tersebut. Rendy yakin itu adalah asap kebakaran. Lokasinya jelas dari rumah dan gudang tadi.
__ADS_1
Salah satu “Rumah Saudara” telah diketahui oleh musuh. “Rumah Saudara” merupakan sebutan untuk titik point penyimpanan, perbaikan, penukaran perlengkapan dan peralatan bagi seluruh agen badan intelijen negara. Setiap agen memiliki sandi masing-masing. Setiap kasus dan penugasan memiliki sandi tersendiri. Dan itu hanya 3 orang tahu, Kepala BIN, agen yang bertugas, serta penjaga “Rumah Saudara”.
Di bawah tanah setiap “Rumah Saudara” telah dipasang bom yang kapan pun bisa diaktifkan oleh penjaga jika terjadi sesuatu di luar kendali.
Di Wilayah Surabaya Raya hanya ada 1 “Rumah Saudara”. Sekarang tidak ada lagi tempat bagi Rendy untuk mengganti maupun menambah amunisi. Saat seperti inilah dibutuhkan kemampuan terbaik seorang agen. Segala sesuatu dilakukan sendiri. Begitulah protokol keamanan bagi agen Badan Intelijen Negara.
Rendy menginjak gas dengan keras, mobil menderu melesat ke arah kota. Ia tidak mengetahui jika musuh tadi membuntutinya. Ia sudah berusaha menghilangkan jejak tadi. Tapi masih saja diketahui musuh.
Mobil melaju dengan kencang. Ia tetap menuju tengah kota karena masih ada tugas yang harus ia selesaikan.
Pikirannya penuh dengan berbagai peristiwa. Potongan-potongan petunjuk berlalu-lalang di otaknya. Seperti puzzle yang belum dirangkai, ia berusaha merangkai tiap-tiap petunjuk tersebut.
Di satu titik ia focus pada sebuah petunjuk. Sebuah foto yang ia lihat di sebuah kantor akuntan terkenal. Ia yakin orang itu ada hubungan dengan keseluruhan kasus yang ia tangani saat ini.
Rendy sebenarnya mendapat tugas hany amenyelediki sebuah kasus gratifikasi pembelian pesawat korporasi milik pemerintah. Namun dalam perjalanannya ia menemukan banyak kejanggalan dari setiap peristiwa. Instingnya mengatakan bahwa kasus yang ia selidiki adalah potongan dari banyak kasus besar yang menyeret nama-nama di ibukota.
Waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Ia telah memasuki kota. Kecepatan mobil sudah ia turunkan. Rasa kantuk mulai menyerang. Ia kurang tidur beberapa hari ini. Seluruh petunjuk dan peristiwa yang melintasi pikiran, mulai disingkirkan dahulu. Ia mulai mencari tempat aman barang sejenak mengistirahatkan mata.
Sejak tadi matanya berulang kali melirik kaca spion untuk memastikan tidak ada gerakan mobil yang mencurigakan di belakangnya. Pelan-pelan mobilnya berjalan di sisi kiri jalan. Sambil sesekali memperhatikan kaca spion.
Sebuah ide muncul di kepalanya. Ia pun mulai menginjak gas kembali. Sekejap mobil melaju dengan cepat di jalanan kota yang lurus dan sepi. Tidak lama di persimpangan, mobil berbelok ke kanan, lalu persimpangan berikutnya belok ke kiri.
Jalan satu arah itu menuju ke barat, mobil terus melaju. Di depan terlihat gedung-gedung bertingkat mulai dari hotel hingga perkantoran. Tiba-tiba Rendy membelok memasuki halaman gedung sebuah hotel 19 lantai.
Setelah mengambil karcis parkir, ia mengendarai mobil menuju area parkir. Setiap lantai memiliki area parkir untuk mobil. Rendy pun mencari lokasi parkir yang kosong. Ia terus mengendarai mobilya naik ke atas, lantai demi lantai ia lalui. Belum menemukan lokasi parkir yang kosong. Lantai 1 hingga 10 semuanya penuh.
Baru di lantai 11 ia temukan sebuah lokasi kosong. Namun ia tidak segera memarkir mobilnya, ia terus melaju menuju lantai 12. Sesampainya di lantai 12, ia pun tidak menemukan tempat kosong. “Baik, lantai 11 lokasi yang pas.” Pikirnya. Mobilnya pun turun kembali menuju lantai 11.
__ADS_1
Tidak lama Rendy sudah memarkir mobilnya. Lalu membuka sedikit kedua jendela pintu depan. Rendy mematikan mesin mobil. Kunci kontak mobil ia ambil dan di taruh di saku celana. Ia beranjak ke kursi tengah mobil. Lalu tiduran di sana.
BERSAMBUNG...