
SELAMAT MEMBACA ๐๐๐๐
Setiap kali ke tempat ini, seperti biasanya harus berdesakan dengan pengunjung yang lain. Hal itu tak pernah menyurutkan langkah agar mengunjungi pesarean ini.
Bukan syirik atau apa, sebab segala permintaan tentu harus disandarkan pada Allah, Maha dari segala Maha. Bisa mengaji di dekat makam seorang wali sungguh mententramkan hati.
Kulihat orang-orang khusyu' dengan rapalan doa serta lantunan kalam ilahi. Tempat yang tak pernah sepi tapi mendamaikan.
Selesai dengan doa tahlil yang kubaca. Bergegas kurapikan tas dan berbalik arah untuk keluar dari maqbarah, tapi sungguh otakku sulit mencernah apa yang sedang kulihat di hadapan, sosok yang di luar perkiraan ternyata bisa berada di tempat ini, dengan kopyah putih dan sarung kotak-kotaknya. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Padahal hampir dipastikan setiap kali berjumpa dengan pria ini di kampus, ia terkenal dengan gaya slengean serta cap playboy kondang.
"Radit ... ?" Seketika kututup mulut yang hendak berteriak.
"Eh, kamu, Sa. Kamu biasa ke sini, ya?" Pemuda gondrong itu berdiri dan mengikuti langkahku menuju jejeran tempat air minum berada.
Sementara aku hanya mengangguk saja menjawab pertanyaannya.
"Ni, minum. Cewek duluan." Radit mengulurkan gelas yang sudah diisinya dengan air, yang segera kusamput dan meminumnya.
"Terima kasih." Kukembalikan gelas kosong itu kepadanya.
Beberapa saat kemudian, kami ngobrol di dekat pelataran masjid. Memperhatikan orang yang lalu lalang. Aku masih tersenyum-senyum setiap kali melihat lelaki ini.
"Jangan senyum-senyum! Bukankah orang tak butuh tahu tentang ini. Oia jangan bilang siapa-siapa, ya!" pintanya menghibah.
Aku terbahak.
Bagaimana mungkin aku dapat menahan tawa dengan keanehan yang kulihat saat ini. Di kampus, lelaki yang duduk di sampingku ini, selalu punya cara menggombali wanita, seperti kamus hidup kalau soal cinta. Kadang dia selalu menjahili teman yang hendak jama'ah ke masjid, dan lagi, kesan urakan yang selalu dia tampilkan.
"Kamu pulang dengan siapa? Bareng aku ta?" tanyanya seketika.
"Gak ah, takut nanti kepelet sama playboy," jawabku enteng saja.
"Segitunya sama aku. Gini-gini masih ada lha, sisi baik dalam diriku. Lagian ya, gak mungkin bisa aku ngombalin kamu."
"Waw ... biasanya piawai banget kalau soal gombal mengombal." Bibirku mencibik.
"Iya, tapi di depanmu, aku tak bisa. Entahlah, padahal kamu juga cewek, bahkan yang sebenarnya kuomongan malah susah untuk diucapkan." Suaranya lirih dan menunduk ketika berbicara.
"Eh ... serius ni. Emang mau ngomong apa?"
"Entar saja lah. Ayo kuantar pulang." Seketika ia memegang lengan dan menarikku berjalan di sampingnya.
Dia benar-benar mengantarkan tepat di depan kos. Sebelum berlalu dari hadapan, lelaki itu berkata, "Terima kasih, ya."
Aku bahkan tak mengerti dengan ucapan terima kasihnya, padahal seharusnya aku yang berkata demikian. Bisa pulang ke kos dengan aman dan gratis pula.
***
Kuliah pertama hari ini dimulai jam sembilan tepat. Teman-teman sudah banyak yang datang. Seperti biasa, Radit dikerumuni oleh para fans wanitanya. Kulewati saja mereka dan berjalan cepat menuju kelas.
__ADS_1
Menit berikutnya, lelaki itu sudah berjalan tepat di belakangku.
"Nglutur saja, si, Sa."
"Takut menganggu."
"Justru kehadiranmu, menganggu pesona ke-playboy-anku." Dia berbicara sambil tertawa.
"Orang aneh."
Kedatangan Pak Lukman, seketika menghentikan pembicaraan kami yang tak berujung.
"Hei, Sa, hati-hati nanti kena perangkap Radit lho. Dia, kan, buaya darat." Lani'--temanku--memberi peringatan.
Semoga tidak. Tapi sejak bertemu dengannya di area pesarean itu sungguh membuatku jadi terpikir tentangnya terus.
"Udah, ah. Dilihat Pak Lukman ituloh."
Lani menutup mulut dengan tanganya, sementara aku hanya menahan tawa.
[Sa, nanti sore aku main ke kosmu, ya?]
Pesan singkat dari Radit membuat sesegara mungkin menyembunyikan ponsel agar tidak ketahuan Lani. Bisa heboh sekampus kalau cewek ini tahu.
Dipikir-pikir ada benarnya juga, ucapan Lani tadi, aku juga musti berhati-hati dengan cowok satu ini. Mengingat take record dirinya sebagai playboy kampus.
Kukirim pesan balasan padanya. Aku tak ingin dijadikan bahan percobaan cowok ini.
[Masak main saja harus ada alasannya? Kita, kan, satu kelompok tugas makalah. Lupa ya?]
[Ya, sudah. Habis isya' saja, ya. Tapi nanti jam 9 tit, kamu harus sudah balik. Peraturan di kos soalnya]
[Siap, calon istri]
Apa maksudnya?
[Jangan macam-macam! Aku paling tidak suka ada orang mainin perasaan]
[Suuzan amat si. Sampai nanti malam,ya.]
Tak kubalas pesan terakhir darinya. Semoga aku tak terbuai bujuk rayunya seperti teman-teman cewek yang ada di fakultas ini.
Pak dosen mengakhiri sesi kelas ketika sudah tidak ada lagi pertanyaan dari mahasiswa. Teman-teman berhambur keluar. Hari ini memang hanya ada satu mata kuliah saja, jadi banyak teman yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Lani mengajakku untuk pulang saja, ia ingin 'leyeh-leyeh' di kos sambil menikmati cilok Mang Upik belakang kampus.
***
Setelah menunaikan salat maghrib, kulanjutkan dengan mengaji sambil menunggu salat isya'. Ibu memang memberi wejangan padaku agar tidak lupa 'nderes' sekalipun hidup di kota.
Kurapikan mukenah setelah mengerjakan salat isya'. Aku hendak mengambil piring dan sendok untuk mengisi perut, ketika benda pipi itu berpejar.
__ADS_1
[Aku sudah dibawa, Sa. Oia, bawa sendok dan garpu ya, aku bawa mie goreng Pak Gandul. Pasti suka, kan?]
[Oke, sebentar aku turun]
Bagaimana aku bisa menolak mie favorit mahasiswa di sini. Untuk beli saja, kadang harus antri sebelum maghrib, saking ramenya pengunjung. Ah, lelaki ini memang punya banyak akal untuk menyenangkan wanita.
"Mana sendok dan garpunya?" tanyanya tak sabar setelah melihat kehadiranku.
Kusodorkan sendok dan garpu yang kubawa.
"Kok cuma satu-satu sendok garpunya?" tanyanya heran.
"Lha tadi, kan, gak bilang suruh dua," jawabku ngasal.
"Baguslah berarti memang cocok berbagi sendok kita."
Kurampas segera garpu dan kusisakan sendok untuknya.
"Ni satu, satu, kan." Aku tersenyum dengan penuh kemenangan.
Ngobrol berdua sambil ditemani mie ternyata membuat kami lupa waktu. Tak terasa. Pantas saja banyak cewek yang dekat dengannya. Dia cepat sekali beradaptasi dengan segala pembicaraan.
Jam sembilan tepat, akhirnya lelaki itu pamit pulang, dan berjanji akan datang kembali besok.
Aduh, apa lagi ini. Kenapa aku juga merasa senang dengan janji yang dia buat. Ada apa denganku?
Cling. Sebuah pesan masuk. Radit? Bukankah dia baru saja pulang dari sini.
[Terima kasih ya, Sa, untuk makan malamnya. Makan malam terindah]
Cowok yang aneh. Tapi sungguh aku tak bisa menahan sesuatu yang meremang dalam dada. Kenapa aku menyukai segala perhatiannya?
***
Kubuka lembaran kitab tebal, dan menguntai satu persatu kalamNya. Tak lupa, kukhususkan fatihah pada menghuni maqbarah ini.
Sementara itu, di kejahuan kulihat lelaki yang turut bersamaku tadi. Dia khusyu' dengan rapalan doanya, dan aku begitu senang dan tenang melihatnya dengan sarung kotak-kotak yang dipakainya sekarang.
Satu jam kemudian, kami bertemu di pancuran air minum.
"Sudah, Sa," tanya lelaki itu.
"Sudah, Ayo."
Kulangkahkan kami dan memegang lengan tangan untuk berjalan di sampingnya. Dialah imamku sekarang, lelaki yang kunikahi tiga hari yang lalu. Di tempat ini untuk pertama kali, pandangan jelekku tentang lelaki playboy itu berubah. Dialah, Radit dan aku tertawan oleh cinta sang playboy tobat.
Tamat.
MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.
__ADS_1