
SELAMATMEMBACA 🙏🙏🙏🙏
Segera kucium punggung tangan Ibu dan melangkah masuk pada mobil travel yang sudah dipesan minggu lalu. Ibu terus saja menghujaniku dengan banyak doa agar aku kerasan dan sukses dalam mencari ilmu.
Dua hari lagi sudah masa orientasi bagi mahasisawa baru. Aku sengaja datang lebih awal. Menyiapkan segala keperluan agar tidak kerepotan. Kebetulan aku mendapatkan tempat kos yang dekat dengan kampus.
Pemilik kos berambut putih itu telah menantiku di depan gerbang. Sepuluh menit sebelumnya, aku berkirim pesan padanya. Jarak rumahnya dengan tempat kos memang dipisah lima rumah. Setelah turun dari mobil, segera kuulurkan tangan pada Bu Rina—sang pemilik kos—mencium punggung tangan, seraya memberi salam.
"Waalaikumussalam.” Jawab wanita berdaster itu ramah. Ia tak bisa menemaniku masuk sebab ada keperluan yang tak bisa ditinggalkan.
“Kamarmu ada di lantai atas, sebelah tangga ya," ucap Ibu kos sembari menyerahkan anak kunci kamarku. "Kalau butuh apa-apa, nanti wa saja ya, Mbak," lanjut wanita paruh baya itu lagi. Sebelum akhirnya pergi meninggalkanku.
Kuanggukkan kepala sambil tersenyum. "Iya, Bu. Terima kasih."
Kurebahkan tubuh pada kasur. Nyaman juga kamar ini. Sepertinya aku datang pertama. Ah, aku lupa. Ini masih liburan semester untuk mahasiswa lama. Semoga nanti sore sudah ada teman lain yang datang.
Jarum pendek jam tepat diangka lima. Sebentar lagi sudah masuk waktu maghrib, dan belum ada penghuni lain yang datang. Aku saat itu sedang datang bulan, dan tidak bisa sholat.
Menghilangkan kebosanan, kunyalakan televisi di ruang tengah. Sendiri di ruang sebesar ini ternyata tidak enak juga. Seluruh saluran televisi bahkan sudah kujelajah, hingga tak kusadari waktu sudah beranjak malam hari. Tubuhku tiba-tiba meremang. Sedari tadi pandanganku beredar ke penjuru ruang. Tak ada siapa pun. Ah, mungkin hanya perasaanku saja yang mengira ada seseorang yang datang.
Pukul 22.00, rasa bosan mulai menghinggapi kembali dalam benak. Acara televisi juga tidak lagi menarik untuk ditonton.
Ada kran air menyala di dapur dekat kamar mandi. Mungkin Ibu Kos ingin melihatku. Segera kuhampiri. Tapi sungguh di luar dugaanku. Tak ada siapa pun di sana. Tapi air itu menyala. Kuedarkan pandangan pada anak tangga menuju rumah Ibu Kos. Sunyi dan gelap. Lalu siapa yang menyalakan air? Ah, bulu kuduku mulai meremang.
Tiba-tiba tepukan di bahu mengagetkanku.
"Kamu penghuni baru ya?" Seorang perempuan muda dengan baju warna merah berdiri tepat di hadapan saat aku membalikan badan.
__ADS_1
"Eh... iya, Mbak. Saya Alifa, Mbaknya, baru datang ya?"
"Iya. Aku Meria. Penghuni kamar lantai tiga dekat jemuran sana." Perempuan itu menyalamiku. Dingin sekali tangannya.
Kami ngobrol beberapa saat. Selama berbincang Mbak Meria hanya berdiri. Sempat kutawari camilan yang dibawakan Ibu dari rumah, tapi dia menolaknya.
Beberapa menit kemudian, Mbak Meria mengajakku untuk ke kamarnya, tapi kutolak sebab mata mulai sembab sebab ngantuk mendera. Ia hanya tersenyum. "Semoga kamu betah di sini, ya," ucap Mbak Meria sebelum akhirnya ia meninggalkanku sendiri.
Lega. Setidaknya malam ini, aku tidak sendiri di kos ini. Kuambil selimut kesayangan yang ada di koper yang belum kubereskan. Mencoba memejam mata.
Netraku baru saja terpejam saat kurasakan sebuah tangan menarikku kasar dari tempat tidur. Beringsut, seketika aku duduk saat kulihat sosok perempuan berbaju pengantin tinggi besar menjulang dari pojok kamar. Ia menyeringai. Tangan wanita itu meraih leher dan mencoba mencekikku. Sekuat tenaga aku berusaha untuk melepaskan tangan yang mencengkeramku kuat-kuat. Merapalkan seluruh doa yang kuingat, walau itu sangat sulit sekali terucap. Suaraku seperti hilang. Mencoba memanggil Mbak Meria, tapi tetap saja bibirku keluh, tak bisa berkata apa pun.
Menit demi menit telah berlalu, tenagaku seperti mau habis. Air mataku luruh. Mengalir bak anak sungai. "Gusti. Aku tak ingin menyakiti makhluk mana pun. Aku hanya mau belajar saja di sini. Tak ingin mengganggu ciptaaanmu yang lain. Tolong hambaMu. Selamatkanlah aku ...." lirihku pasrah saat tak bisa berbuat apa pun lagi.
Tiba-tiba, secara perlahan pengantin raksasa itu melepaskan tangannya. Seketika kuhirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Berkali-kali kuketuk pintu Mbak Meria, tapi tak juga ada respon. Mungkinkah dia tertidur pulas? Aku semakin panik. Pintu Mbak Meria terus saja kugedor dengan begitu kerasnya. Tapi tetap saja tak ada jawaban. Lampu kamarnya seketika mati. Harapanku satu-satunya kini tak ada. Segera berlari turun tangga kembali.
Haruskah aku kembali ke kamar? Bagaimana kalau pengantin raksasa itu datang kembali? Kepanikanku semakin menjadi-jadi.
Aku hanya akan terjaga sampe esok hari. Merapalkan segala doa yang kubisa. Ah, mungkin aku perlu selimut untuk menutupi diriku. Saat kucoba meraih selimut yang tadi terjatuh di lantai waktu aku berlari ke kamar Mbak Meria tadi. Tiba-tiba, ada seseorang berbaju merah tepat di hadapan. Tapi ini bukan Mbak Meria. Matanya merah menyala, penuh kemarahan. Tubuhku ambruk kemudian gelap.
***
"Dek ... Dek ...bangun ... ayo bangun! Kok tidurnya di tengah-tengah pintu gini si?" Ada wanita muda dengan rangsel di punggung, saat mataku terbuka. Ia seperti keheranan.
Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang. Semburat warna jingga matahari telah melewati sela-sela jendela. Ah, untunglah sudah pagi.
__ADS_1
"Kenapa tidur di sini?" Perempuan itu bertanya kembali.
Aku mencoba duduk mengingat apa yang terjadi.
"Kakak siapa?"
"Aku penghuni kos lama, Dek. Kata Ibu Kos kamu kemaren datang duluan ya?"
"Iya, Kak."
"Berani kamu sendiri di kos?"
Aku kaget. "Ada Mbak Meria kok, Kak."
"Siapa?" Ia mengerutkan dahi.
"Itu penghuni yang tinggal di lantai atas dekat jemuran."
Tiba-tiba ia berpikir keras. Seperti tak mempercayai sesuatu.
"Itu, kan bukan kamar tapi gudang Ibu Kos."
Linglung. Seketika aku mataku gelap kembali.
Tamat.
Ini bukan cerita fiksi ya, ini pengalaman author sendiri saat pertama kali ngekos, waktu baru masuk universitas. Kalian tau apa yabg author lakuin setelah mengalami kejadian paling horor dalam hidup author?? Author langsung mandi, dan langsung menuju kampus baru author. Disana, author bilang sama dekannya, kalau author mau ijin 1 bulan. Akhirnya Bu dekan pun, ngijinin author pulang, tapi bukan 1 bulan, hanya 2 minggu saja. Author langsung balik ke kos, dan bilang ke bu kosnya, batal tinggal ngekos di sana. Author cuma ngasih seperempat dari biaya kos sebulan. Author langsung ke pesan bus, dan pulang... saat balik kesana, author lebih milih kosan yang jauh dari kampus, tapi dekat mesjid, dan pastinya kosan yang baru di bangun. Sekian dari cerita hidup horor author sendiri. Good bye...
__ADS_1