
SELAMAT MEMBACA ๐๐๐๐
Mata kuliah histiografi islam membuatku harus menelfon sana-sini mencari nara sumber. Si dosen killer itu memberi tugas untuk mereview peninggalan sejarah yang ada di sekitar kampung halaman masing-masing. Beruntung aku tinggal di kawasan pantura Gresik, sehingga aku bisa meneliti sekaligus menelusuri, jejak sang adipati yang terkenal dengan Kanjeng Sepuh.
Beberapa kali, aku sengaja mendatangi pesarean, terutama ketika jumat pahing saat banyak pengunjung dan tentu sang juru kunci makam membuka lebar-lebar area pemakaman itu.
Tak banyak data yang kutemukan di sana, selain barisan nisan keluarga kanjeng sepuh. Pengurus masjid pun tak bisa memberi keterangan banyak. Sampai ada seorang lelaki, perkiraan 40 tahun-an memberi sedikit informasi.
"Coba sampean menghubungi orang ini saja, Mbak. Orang ini punya channel youtube yang membahas tentang kabupaten sedayu ini. Siapa tahu, sampean dapat data banyak darinya."
"Oh, enggeh, Pak. Terima kasih." Kusambut uluran sobekan kertas yang tertulis deretan angka dari lelaki di hadapanku itu.
Sebelum kutanyakan yang lain, pria baik itu sudah pergi berlalu mengendarai sepeda maticnya.
Ah, ternyata tak sia-sia aku datang ke sini, hari ini. Biarpun belum sempat kuisi lambung dengan apa pun.
Gegas, kulangkahkan kaki menuju deretan warung yang berada di sekitaran pasar pahing sedayu, sebelum tubuh ini benar-benar menuntut haknya. Sengaja kupilih semangkok bakso untuk membungkam cacing-cacing di perut yang mulai bernyanyi. Duduk berhadapan dengan beberapa lelaki gondrong membuatku begidik juga, apalagi mereka serius sekali dengan obrolan dan kepulan asap rokok yang disemburkan tanpa sopan. Huft!
Kuhabiskan segera isi mangkok, membayar dan sesegera mungkin pergi meninggalkan warung itu.
Ah, ya aku harus sesegera mungkin menghubungi nomor yang tertera di sobekan kertas tadi. Kurogoh saku dan menyalinnya pada ponsel.
[Assalamu'alaikum, Pak. Perkenalkan nama saya Meira. Saya mahasiswa yang ingin menanyakan perihal kanjeng sepuh. Saya mendapatkan nomor Bapak dari pengurus masjid jami'. Berharap bapak bersedia membantu saya. Terima kasih]
Send.
Kukirimkan pesan panjang itu pada seseorang yang bahkan tak kuketahui namanya.
Beberapa menit kemudian. Balasan pesan kuterima.
[Salam, oke. Pengen langsung ketemu atau berbincang lewat kirim pesan saja?]
[Bagaimana kalau bertemu saja, Pak? Biar saya bisa memperoleh penjelasan yang lebih gamblang]
[Oke. Tapi jangan panggil saya, Pak. Panggil Bro saja. Lebih keren]
Lucu juga caranya membalas pesan.
__ADS_1
[Saya bisa menemui, Pak Bro dimana, ya? Saya sekarang berada di kawasan Sedayu soalnya.]
[Dibilang panggil Bro saja kok dablek.]
[Oia Bro]
[Temui saya di tengah alun-alun sedayu. Ada barisan pohon besar, kamu bisa menemui saya di sana sambil ngopi]
Gila. Aku kan sekarang di tengah alun-alun bagus deh kalau gitu.
[Saya sudah di alun-alun, Bro. Baju kasual warna kuning dengan tas rangsel hitam]
[Oke, tunggu saya di sana]
Mataku membelalak saat melihat penampakan lelaki yang datang menghampiri. Gaya slengean dengan rambut gondrong yang terkesan urakan. Sungguh di luar dugaan, tadinya kupikir lelaki ini cukup klimis. Ya Tuhan. Bukankah pria ini yang tadi kutemui di warung bakso? Yang sempat kuumpat dalam hati sebab begitu tak sopan menghebuskan asap rokoknya pada orang lain.
Dekat. Lelaki itu semakin dekat. Semoga dia tidak galak.
"Kamu Meira, kan?"
Kuanggukan kepala menjawab pertanyaannya. Jujur aku masih shock dengan apa yang kulihat saat ini.
Tanpa menjawab kuayunkan kaki mengikuti kemana pria gondrong di hadapanku itu melangkahkan kakinya. Dia berhenti di sebuah warung kopi. Dengan isyarat dagu, kembali ia menyuruhku duduk tepat di depannya.
"Mbok Jum, kopi biasa satu sama ...." dia melirikku agar memesan minuman.
"Es teh saja," jawabku pelan.
"Es teh, Mbok Jum," teriaknya kembali.
Lelaki ini mengamatiku tanpa ampun. Sejurus kemudian, mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.
"Kamu pengen tahu tentang kanjeng sepuh ya?"
"Iya, Pak. Eh... iya Bro."
Pria itu hanya mencibik sambil tersenyum mendengar kegugupanku.
__ADS_1
"Sebelum itu, kamu mesti tahu dulu tentang kadipaten sedayu. Wes paham, belum?"
"Belum," jawabku sedikit gugup.
Ih, jangankan itu. Aku kan sengaja nemui dia biar tahu. Sumpah, cara dia mengintimidasi luar biasa.
"Kalau gitu, tak terangin itu dulu. Biar kamu tahu. Bagaimana?"
"Baik, Bro." Aku mulai terbiasa memanggil Bro.
"Oke, kita mundur ke dinasti yuan ya, tahun 1293. Dalam sumber tiongkok, yang tercatat di dinasti yuan. Saat menyerang Jawa, pasukan Mongol dibagi menjadi dua kekuatan. Kekuatan pertama dikirim lewat jalur darat dan separuh lainnya lewat jalur laut menggunakan kapal. Mereka pergi ke pedalaman Jawa lewat sungai sugalu (sedayu), dari sana menuju sungai kecil Pa-tsieh (kali mas) ... bla ... bla ...." Lelaki gondrong itu menerangkan sejarah yang ia ketahui seperti menghembuskan asap rokoknya.
Hebat di luar kepala cara Bro ini menjelaskan sejarah.
Hampir dua jam aku hanya mendengarkan dia bercerita. Sengaja kurekam agar data yang kuperoleh tidak hilang. Di akhir penjelasannya, lelaki ini menunjukkan beberapa buku yang harus kubaca untuk memaksimalkan riview yang nantinya akan kutulis.
Kutunjukkan sebuah outline dari kerangka yang hendak kutulis. Dengan sigap, dia coret beberapa point yang tidak penting dan memberi alternatif yang lebih cocok untuk digunakan.
Aku hendak bangkit membayar minuman dan makanan yang sempat kami makan, tapi langkahku terhenti ketika sebuah ucapan keluar begitu saja dari mulutnya.
"Sudah, pulang saja, sudah sore. Aku saja yang membayar. Tenang saja. Tak usah sungkan. Segala ilmu tadi gratis untukmu dan untuk kau bagikan pada yang lain," ucapnya sambil menyeruput kopi terakhir dan menjauh dariku menuju Mbok Jum.
Kuhentikan bis berwarna hijau dan duduk di bangku kosong menuju desa tempat kelahiranku. Sungguh hari yang melelahkan sekaligus mengagumkan hari.
***
Sejak obrolan di warung Mbok Jum kala itu, bisa dibilang setiap hari aku menghubunginya sekedar meminta jelas perihal kekurangan data yang hendak kutulis.
Pak dosen killer itu, memberiku nilai yang cukup memuaskan saat mengetahui riviewku yang penuh dengan daging dan ditunjang dengan referensi yang cukup memadai.
Penelitian ini menyadarkanku satu hal tentang cara pandang. Sebelumnya, aku begitu 'underestimate' terhadap sosok gondrong yang terkesan urakan itu. Bahkan pandangan ini, mungkin juga sama dengan pandangan orang lain di luar sana ketika melihat sebuah kulit.
Siapa sangka, sosok yang seperti tak berguna di mata masyarakat sebab penampilannya itu, justru dialah yang menyelamatkan generasi selanjutnya agar tak lupa akan sejarah. Menghargai sejarah berarti menghargai hidup dengan penuh syukur.
"Terima kasih, Bro. Sungguh kau keren. Semoga lain waktu bisa belajar sejarah yang lain darimu."
Pesan centang biru itu dibalas dengan sebuah jempol.
__ADS_1
Tamat.
MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH