Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
Terlalu sempurna (Cerita Romantis)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Kau begitu sempurna Di mataku kau begitu indah Kau membuat diriku akan s'lalu memujamu Di setiap langkahku Ku kan s'lalu memikirkan dirimu Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu


Lirik lagu sempurna milik Andra and the Backbone mengalun merdu menemani kesibukkanku melayani seorang customer cantik langganan. Ah, andai dia mengerti lagu itu tertuju untuknya.


"Terima kasih, enggeh, Mas?" ucap gadis itu dengan lembut.


Kubalas gadis itu dengan senyum dan anggukan kepala. Sejak lima purnama bekerja di tempat ini, belum kutemukan perempuan yang sepertinya. Wajah cantik, kulit bersih, ditambah lagi dengan kelembutan tutur kata dan perangainya.


Prameswari, nama yang kubaca saat diminta untuk membantunya mengeprint tugas makalahnya. Nama yang menurutku cocok dengan karakter yang ia miliki.


Masih segar dalam ingatan, bagaimana sabarnya wanita itu, kala menunggu jilidan yang sedang aku kerjakan. Ia hanya diam menunggu sambil sesekali melihat gawai miliknya. Sementara beberapa pengunjung warnetku, justru berebut antri dan memburu agar bisa dilayani terlebih dahulu.


"Santai saja, Mas. Nanti malah tidak rapi pekerjaannya!"


Bicaranya memberi stimulus di otakku agar lebih sigap dalam menghandle tumpukan kertas yang hendak dijilid dan dilaminating.


Dalam diam kukagumi keanggunannya yang terbalut dengan tutur kata yang menghipnotis. Aku terlalu pengecut untuk berkata padanya.


"Uangnya pas enggeh, Mas. Terima kasih," ucapnya saat kuserahkan lembar-lembar kertas itu padanya.


Kutatapi punggung wanita itu yang berjalan menjauh dan menghilang di balik pintu.


Kepergian perempuan sempurna itu, mengingatkanku pada tiga hari yang lalu saat tak sengaja bertemu di sebuah pameran buku di sebuah mall besar di kota surabaya ini.


Ia selalu punya cara membuatku tak berkedip saat melihat tingkah polanya, dan tanpa tersadar diam terpaku.


"Eh, Mas Kahar, lihat pameran, ya?" Sapanya sambil berjalan mendekat padaku. Semoga ia tak mendengar degup kencang jantungku.


"Iya, Mbak. Sama teman-temannya, ya?"


"Injeh, Mas. Saya baru tahu ternyata Mas Kahar juga penyuka buku. Bagus, deh, kalau begitu. Ya sudah, saya ke sana dulu, ya."

__ADS_1


"Iya, Mbak."


Andai saja aku adalah salah satu dari teman-temannya itu. Ah, sudahlah.


Sejenak kutinggalkan pikiran yang berkecamuk dalam hati dan melangkah menyusuri deretan buku-buku yang sedang dipajang. Pameran buku ini adalah kesempatan yang tak bisa kusia-siakan, aku bisa mendapat berbagai buku bagus dengan harga ramah di kantong.


Membaca adalah kesenangan yang tak bisa kutinggalkan begitu saja. Rumah Ibu yang berdampingan dengan tempat penyewaan buku, membuatku melahap semua buku yang dipajang Mang Qosim di kios miliknya itu, dan kebiasaan itu terus mendarah daging hingga saat ini.


"Mas, ngeprint! Mas ...!"


Suara keras Roni--teman kampus--membuyarkan lamunan.


"Eh--iya, Mbak--Mas."


"Ngelamun saja kamu, Pren. Mikir apa'an si?" Selidik Roni sambil mengangkat satu alisnya.


"Enggak, gak apa-apa. Mau apa lo kemari?"


"Ngeprint, lah. Sekalian gue mau nyamperin gebetan baru gue yang kuliah di kampus dekat sini."


Temanku satu ini memang terkenal dengan flamboyannya. Ah, tentu saja, ia bisa, segala keperluan dari kuliah hingga kebutuhan sehari-hari difasilitasi orang tuanya. Sementara aku harus bekerja agar bisa kuliah. Ah, kadang takdir begitu menyakitkan.


"Ia dong, Pren. Tapi yang baru sungguh luar biasa, bawaannya adem sekali. Setiap di dekatnya, aku kayak dikipasi, jadi pengen dekat-dekat dengan dia terus," tuturnya panjang lebar.


"Wui... kenalin, dong!"


"Beres tenang saja. Tidak hari ini, dia masih sibuk dengan kuliah prakteknya."


Sahabatku itu mengambil kertas print yang kusodorkan dan memberi lembaran uang berwarna merah, menyuruhku mengambil saja kembalian yang menurutku cukup banyak.


***


Beberapa lagu sudah kuputar menemani kerjaku. Di pagi hari memang tak banyak pengunjung yang datang, yang ngeprint dan menjilid tugas juga tidak banyak.

__ADS_1


Sejenak ingin menyandarkan kepala di kursi. Sampai terdengar suara Roni memecah keheningan.


"Hei, Pren. Tumben jaga pagi?" Roni menyodorkan sebungkus rokok yang telah dia ambil sebatang.


"Iya, karyawan yang shif pagi mendadak izin dan tak ada yang mengantikannya. Tumben bener pagi-pagi sudah ada di sini?"


"Biasa, Pren. Jemput si pujaan hati. Mau gue ajak jalan-jalan doi."


"Yang penting bukan dijadikan permainan, Pren. Kasian anak orang itu."


"Enggak la, Bro. Sudah insyaf. Gue mau seriusin ini cewek. Dia beda dengan yang lainnya. Sukur-sukur mau pas gue ajak ke pelaminan." Suara tawanya membahana.


"Amin. Gue doain deh. Langgeng-langgeng."


Sambil ngobrol kulanjutkan pekerjaanku, sementara dia sibuk dengan gawainya. Sesekali terlihat senyum simpul Doni saat mendapat pesan balasan. Aku tak pernah melihat temanku itu bertingakah aneh ketika berhubungan dengan wanita, tapi tingkahnya sangat berbeda ketika berhubungan dengan pacar barunya ini. Semoga feelingku tepat kali ini, ia telah menemukan cinta sejatinya.


"Permisi ...." Prameswari tiba-tiba nongol di balik pintu.


"Eh, Mbak Prames, mau ngeprint tugas mbak?" tanyaku menyambut kedatangan wanita yang selalu kudamba hadirnya itu.


"Eh, enak saja kamu, Har. Dia ini cewekku sengaja aku menyuruhnya ke sini untuk kuperkenalkan padamu," sahut Doni sambil merangkul pundak Prameswari.


"Ja--di?" tanyaku sedikit shock dengan apa yang sedang kulihat dan terjadi.


"Jadi Prameswari ini adalah pacar gue, Bro. Ternyata kalian sudah saling kenal." Rangkulan Doni semakin erat.


"Kenal la, Mas. Aku kan pelangan setia di warnet ini." Jawab wanita yang kukagumi itu dengan senyum mengambang.


Sementara aku menampakkan senyum dengan sedikit hati yang lara. Andai saja aku lebih berani. Bisa jadi, aku yang merangkul wanita itu. Siapa yang bisa menebak? Gadis yang aku idam-idamkan ternyata beberapa menit sebelumnya telah aku doakan bersanding dengan sahabatku sendiri. Sungguh tak ada seorang pun yang bisa menyana takdir. Aku ikhlas asal kau bahagia, Prames.


Prameswari memang terlalu sempurna untuk kumiliki. Sementara aku hanya mengaguminya tanpa mengupayakan agar aku pantas untuknya, maka sangat wajar jika takdir kali ini hanya milik sahabat seperjuanganku.


Kurelakan kepergian keduanya menghilang dari balik pintu warnet. Lantunan lagu sempurna semakin menyayat hatiku.

__ADS_1


Tamat.


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.


__ADS_2