Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
my wifes code (cerita komedi)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏


[Kang, aku sudah kirim maap biar kamu tak ke sasar sampek rumah!]


Sebuah pesan yang datang sontak membuatku bergegas merapikan lembaran kertas pekerjaan dan secepat kilat sampai di rumah sebelum perang dingin terjadi.


Istriku ini memang tergolong aneh untuk kebiasaan wanita pada umumnya, tapi setelah hidup bersamanya untuk beberapa tahun, akhirnya aku bisa mengerti kode-kode yang ia berikan.


Kode? Ya, istriku itu punya kode berupa panggilan yang berbeda padaku, saat manja, senang dan saat lagi marah. Tak mengapa, selama dia masih memanggil berarti masih terkendali, yang paling menakutkan jika mulutnya terkunci rapat-rapat, dia seperti robot. Melakukan segala pekerjaan rumah dengan baik tapi tak ada suara yang keluar dari kerongkongannya. Kau tahu rasanya? Anyep.


Kali ini, Clara memanggilku dengan sebutkan Kang. Bisa dipastikan dia sedang marah. Memang sedikit unik kalau dia marah. Kadang mengirimu rute jalan, maap rumah bahkan peta agar aku segera datang. Padahal, alamat rumah tentu sudah di luar kepala.


Kutinggalkan tempat parkir dan melajukan kendaraan secepat kilat. Berhenti sebentar di pertigaan gang menuju rumah. Dua porsi kebab dan es oyen kesukaan istri, sengaja kupesan sebagai kunci agar bisa masuk rumah dengan selamat.


Segera kusodorkan lembaran uang warna pink pada sang pedangang langganan, Mang Jalil dan mengikhlaskan kembalian sebagai tolak balak agar tidak sampai terjadi perang di rumah. Ah, istriku. Sungguh hidupku seperti petualang untuk memahami tingkah polamu.


Wanita itu sudah berdiri di depan pintu masuk rumah, menyambut kedatanganku. Diciumnya punggung tangan setelah kuulurkan.


"Lama amat si Kang, pulangnya," ucapnya dengan bibir monyong lima senti.


Aku geli melihatnya tapi sebisa mungkin menahan tawa agar tidak tambah bermasalah.


Seketika kurangkul pinggang aduhainya itu dan menyerahkan bungkusan yang tentu membuat bibirnya sedikit menyunging senyum.


"Akang sudah secepat kilat mengendarai buroq kita, Dek. Agar bisa membuat lima senti manyunmu itu turun."


"Apa'an, si?" Dia singkirkan tangan yang melingkar dan segera menaruh bungkusan di meja makan. Sejurus kemudian menuangkan air putih di gelas dan menyodorkan padaku.


"Memang ada apa, Dek? Kok Akang disuruh segera pulang."


Perempuanku itu menuju kamar dan kembali dengan barang di tangan.


"Lihat ni, Kang! Tinta isi ulang Akang mengenai kerudungku."


Dia perlihatkan kerudung yang penuh dengan bercak tinta.


Waduh gawat ini!


"Nanti Akang ganti, deh, dengan kerudung yang lebih bagus. Kerudung punya cap halal itu lho."


"Gak mau."

__ADS_1


"Terus maunya, bagaimana?"


"Adek mau kerudung Adek saja."


"Tapi itu sudah banyak noda tintanya, Dek."


"Ya salahkan tinta Akang, ngapain meluber di kerudung Adek."


Wanita itu terkadang absurd. Hal sepele bisa menjadi besar.


"Ya, sudah Adek maunya bagaimana? Akang turuti deh. Lagian kok bisa itu kerudung ada di meja kerja Akang?"


"Ya, Adek yang naruh waktu lagi dandan," sahutnya cepat.


"Tuh kan. Berarti yang salah bukan tinta Akang."


"Akang nyalain, Adek?" ucapnya sedikit ketus.


Aduh salah lagi.


"Bukan, Dek. Wong Akang cuma menyalahkan, kenapa itu kerudung kok gak hati-hati," ucapku selembut mungkin.


"Ya sudah, nanti Akang ganti ya kerudung Adek dengan merek zoyana itu, loh!"


Ya Allah, Clara. Dari awal juga sudah kubilang akan ganti. Malah ngajak ngomong muter-muter. Dasar wanita. Wanita memang harus mengeluarkan aksara di kepala lebih banyak dari pria.


Kulihat Clara meninggalkanku menuju tempat cucian pakaian. Sementara kubersihkan diri dan berganti baju santai.


Bau masakan menguar sampai ke ruang tengah. Berita sore hari menemaniku sambil menunggu hidangan siap disajikan. Mood ìstriku itu memang naik turun. Mungkin benar kata sebuah lirik lagu bahwa setiap wanita perlu dimengerti. Mengerti sampai yang paling konyol sekalipun.


"Abang ... Abang ... minta tolong bantuin ngapa."


Terdengar teriakan Clara dari arah belakang. Kali ini bukan lagi Akang, tapi Abang, yang berarti moodnya sudah membaik.


Dari sekian panggilan yang perempuan itu sematkan padaku, panggilan Abang ini yang paling kusuka, yang berarti dia lagi pingin dimanja. Ah, otak laki-laki kalau sudah begini bisa kemana-mana.


"Ya, Sayang. Ada apa?"


Kuhampiri dia yang masih sibuk dengan pengorengannya, sambil memeluk pinggangnya dari belakang dan sedikit mengodanya.


"Lepasin ah, Abang nakal."

__ADS_1


"Yo, gak apa-apa, Dek. Halal kok."


Aku memang paling suka mendekap perempuan ini dari belakang ketika dia memasak. Bau khas tubuhnya mengurai segala keruwetan yang ada di kantor. Apalagi wanita ini cukup tahu apa yang harus dipakai saat di luar dan di dalam rumah. Percayalah, wanita itu memang penuh dengan banyak misteri.


"Udah, Bang. Lepasin. Adek kudu pipis, makanya dari tadi manggil Abang kesini. Ni pegang sutil ini. Awas gosong!"


Dia lepaskan pelukan dan berlari menuju kamar mandi.


Semua hidangan sudah tersaji di meja makan. Perempuanku itu izin membersihkan diri. Setiap selesai masak, dia memang langsung mandi. Katanya, tak suka bau gosong menyeruak di badannya. Ini adalah salah satu yang kusuka dari wanita ini. Dia cukup tahu diri bagaimana harus menempatkan dirinya. Di rumah memang dia tak bersolek tapi tidak juga bau asem. Jika keluar rumah, tentu dia akan bersolek dengan wajar. Sebagai penghormatan sekaligus citra diriku bahwa aku mampu membahagiakannya. Bukankah kesuksesan suami itu bisa dilihat dari istrinya.


Kaos kuning kunyit dengan setelan celana kain melengkapi tubuh sintalnya. Wanitaku ini memang tak suka pakai daster. Walau aku sendiri tak pernah mempermasalahkannya. Toh dia tetap saja menarik di hadapanku, terutama ketika dia bergelayut manja.


"Kok gak makan duluan, Mas?"


Kali ini, dia menyebutku dengan panggilan mas, yang menunjukkan moodnya lagi stabil. Jangan heran memang wanitaku ini sungguh unik.


"Nunggu kamu, Dek. Lama sekali mandinya."


"Gak enak, Mas. Kalau bau asap, rasane gimana gitu."


"Iya, Dek. Aku juga suka dengan harum tubuhmu sehabis mandi." Kukerlingkan satu mata untuk mengodanya.


Makan malam adalah rutinitas yang tak pernah kutinggalkan. Aku bisa bercerita banyak hal di kantor tentang keruwetan yang kualami. Sesekali istriku akan memberi pendapatnya. Dia cukup tahu dengan pekerjaanku karena sebelumnya, dia juga bekerja. Sekarang hidupnya dihabiskan lebih banyak di rumah melayaniku dan sesekali sibuk dengan rutinitas online yang memang menjadi kegemarannya. Hanya satu hal yang membuatku sedikit tarik nafas, saat berhubungan dengan naik turun moodnya.


Setelah makan malam, kunikmati tayangan humor di salah satu channel televisi, sementara istriku masih sibuk dengan gawai menulis aksara yang dia suka sambil menyandarkan kepalanya di pundakku.


Waktu beranjak merambat. Pukul 22.30 kukode wanita ini untuk pindah tempat. Ya, tentu saja tempat peraduan. Aktifitas yang padat dan berangkat cukup pagi. Memaksaku tak boleh bergadang.


"Mas, duluan saja ke kamar. Aku tak membereskan dulu dapur dan ke kamar mandi."


"Siap, Yang. Jangan lama-lama ya!"


Kubersihkan diriku dulu sebelum ke kamar. Ah, rasanya ada yang meremang di sekujur tubuh.


Prang. Tak sengaja tanganku menyenggol sesuatu. Sebuah benda kotak persegi jatuh dan butiran halusnya bertebaran tepat di atas kaki.


Kulihat istriku tepat di ujung pintu. Mendelik dan berteriak, "Akang ....!"


Yassalam. Alamat tidur di luar diriku. Sirna sudah sekenario slide film yang sudah membumbung di otak. Sepertinya, aku perlu belajar pada Dan Brow, yang dengan cerdasnya menggungkap kode-kode dalam buku yang ia tulis.


Tamat.

__ADS_1


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH


__ADS_2