Sejuta Cerita

Sejuta Cerita
Hidup kedua (Cerita Horor)


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA 🙏🙏🙏🙏


“Jangan ganggu aku, kumohon jangan mendekat” Aku meronta lalu seketika sebuah pecahan kaca menusuk perutku. Rasa sakit begitu hebat kunikmati.


“Intan, bangun nak” Mama membangunkanku dari mimpi buruk itu. “Ma, mimpi itu datang lagi” Kataku sambil mengusap wajahku yang berkeringat. “Sudah sayang, mimpi itu hanya bunga tidur. Sekarang kau bergegas mandi lalu berangkat kuliah”. Oh iya, Hari ini adalah awal aku kembali berkuliah setelah setahun lamanya aku mengalami koma akibat kecelakaan itu. Tapi semenjak aku kembali membuka mata, Aku sering sekali mendapat gangguan yang membuatku takut. Selalu ada hal aneh yang menurutku begitu janggal.


Setibanya aku di kampus. Aku disambut dengan senyum bahagia oleh seluruh penduduk kampus. “Selamat ya tan, atas kembalinya duniamu. Hahaha” Ucap mery padaku. “Aku senang kau sudah sadar dari koma” Irwan menyambung. “Ini semua berkat doa kalian, Terimakasih semua” Ucapku sambil memeluk mereka. “Sama-sama intan”. Oh iya, Kalian tahu? Irwan adalah kekasihku, Walau sekian lamanya aku koma, Tapi itu tak membuatku lupa padanya. Aku sangat mencintainya.


Saat mata kuliah berlangsung. Kulihat nina begitu murung, Wajahnya pucat pasi. Saat aku menatapnya, Dia terlihat marah padaku. Aku tak begitu dekat dengannya. Aku pikir “Apa dia sedang sakit?”. Kulihat dia pergi tanpa izin. Lalu aku meminta izin kepada dosen untuk keluar. Aku mengikuti ke mana nina akan pergi, Tapi dia mendadak menghilang. “Apa yang terjadi padaku? ke mana dia?” Tanyaku membatin. Saat aku melewati lorong kampus, Sepi dan lengang. Hembusan angin tiba-tiba membuat bulu kudukku berdiri. Aku melihat bayangan putih menghampiriku. Aku mendengar teriakkan seseorang, Semakin jelas. “Intannnnnnn, Ini saatnya kau membayar janjimu”. Entah suara itu dari mana. Seketika aku mendengar suara isak tangis, Saat kuhampiri. “Sedang apa kau di sini nina?” Kataku. “Pergiii, Bukan saatnya sekarang”. Aku hanya diam. Nina terus menangis. Air matanya berubah menjadi darah. Wajahnya sangat mengerikan. Dia menghampiriku lebih dekat. “Oh tuhan, wajahnya hancur sekali” Batinku. Aku berlari sekencang mungkin.


Setibanya di kelas. Kulihat nina sudah duduk di bangkunya. “Sejak kapan dia di sini?” Tanyaku dalam hati. Jam kuliah berakhir. “Hei, Ngapain di sini sendirian?” Tanya irwan sambil menepuk pundakku. “Kau ini, Ngagetin aku aja” Balasku. “Habis kau melamun saja, Mikirin aku ya!” Ledeknya. “Ih bisa aja” Balasku. “Terus mikirin apa dong?”, “Mikirin, Apa setahun ini kau telah melupakanku?” Tanyaku. “Tentu tidak, Aku percaya kau akan sadar dan bersamaku lagi” Balasnya. “Aku percaya kau setia padaku”. Irwan mengantarku pulang, Berpamitan dan berlalu.


Seperti biasa. Saat maghrib tiba, Aku hendak berwudhu. Air kran mendadak mati, Aku mendengar suara orang sedang mandi, Saat kubuka pintu, Tak seorang pun kudapati. Suara itu semakin jelas terdengar. Aku hanya tinggal berdua dengan mama setelah papa pergi meninggalkan kami. Tiba-tiba lampu mati dengan sendirinya. Aku berteriak memanggil mama. Tapi yang kudengar hanya “Intan, Ini saatnya”. “Siapa itu?” Tanyaku. Lalu sosok itu menghampiriku. Wajahnya sama seperti yang kulihat tadi siang. Mengerikan. Dia membawa sebuah pecahan kaca seakan hendak membunuhku “Arrrrrghh..” Aku berteriak lalu semua gelap.

__ADS_1


Saat aku sadar, Aku telah berada di tempat tidurku “Lukanya, Tidak ada. Apa aku bermimpi lagi?” Batinku. “Kau sudah sadar sayang?” Suara mama membuyarkan lamunanku. “Memang ada apa ma?” Tanyaku heran. “Kau pingsan di kamar mandi nak”. “Aku mau ke rumah mery, Aku mau mama mengantarku”. “Tap..” Belum sempat mama melanjutkan ucapannya, Aku menarik tangannya agar mama mau menuruti pintaku. Mama pasrah dan akhirnya mengantarku. Setibanya di sana. Mery heran mengapa aku datang mendadak. Kuceritakan semua padanya. Tapi mery tak percaya. Kemudian aku pamit pulang. Mery mengantarku. Di dalam mobil aku kembali berusaha meyakinkannya, Tapi dia hanya menganggapku berhalusinasi.


Sesampainya di rumah, Kurebahkan tubuhku di atas sofa. Aku tertidur dan terbangun ketika kudengar pintu diketuk seseorang. Kulihat arloji pukul 21:05. Saat aku membuka pintu, Kulihat mery berdiri di hadapanku. Kemudian dia menangis “Mengapa kau lakukan ini padaku” Ucapnya. Kemudian wajah itu berubah begitu mengerikan. “Intannn” Kututup pintu lalu berlari ke dalam kamarku. Kulihat arloji pukul 22:05. Kututup wajahku dengan selimut. Kudengar langkah kaki mendekat semakin dekat. Saat kubuka mata, Semua gelap. “Meryyyyy” Teriakku. “Sayang sadarlah, Ini mama”. “Mamaaa…” Sontak aku memeluk mama dan meminta mama tidur bersamaku. Saat kubangun, Aku menemukan kertas putih bertinta darah dengan huruf “M”. Pagi harinya, Aku terkejut saat mendengar berita bahwa mery tewas mengenaskan dalam kecelakaan pukul 21:05 dimana saat mery mendatangiku.


Pada malam harinya. Amanda datang ke rumahku. Kebetulan mama sedang lembur di kantornya. Aku menceritakan semua pada amanda. “Nina sudah mati intan” Ucapnya. “Jadi dia hantu?” Tanyaku dengan bodoh. “Iya, Dan dia telah membunuh mery” Balasnya. “Tapi kenapa dia membunuh mery?” Tanyaku lagi. “Sudahlah, Aku pamit pulang”. Setelah itu, Aku melanjutkan menonton siaran televisi. Terdengar suara pintu diketuk. Kulihat arloji pukul 21:05.


Saat kubuka pintu, Amanda menatapku tajam dan menggigil. Kemudian dia berkata “Kau harus membayar semua ini”. Lalu wajah itu mendekat hendak menerkamku. Aku lari hingga terjatuh. Kulihat arloji menunjukkan pukul 22:05. Saat kubangun matahari telah terbit. Mama sudah menyiapkanku sarapan dan bertanya. Mengapa aku tidur di bawah tangga. Aku juga heran. Aku kembali menemukan kertas itu tapi dengan huruf “A”. Aku tak memperdulikannya. Aku mendengar kabar bahwa amanda tewas dibunuh di tepi sungai dekat rumahku. Tubuhnya terdapat tusukan kaca di bagian perut. Persis seperti mery. Kini hari-hariku kelabu. Dalam dua hari ini aku kehilangan kedua sahabatku.


Malam datang lagi. “Kring.. kring.. kring” Bunyi handphoneku. Kulihat nama tio yang tertera. Aku mengangkatnya. “Hallo, Ada apa yo?” Tanyaku di telepon. “Aku ingin bicara denganmu, Apa kita bisa bertemu?” Tanyanya. “Bisa, Kapan dan di mana?”. “Sekarang, Di taman”. Aku menghampirinya. Tio berkata “Mengapa mereka semua mati setelah bertemu denganmu intan?”. “Apa maksudmu? Kau menuduhku membunuh mereka” Ucapku dengan kesal. “Bukan seperti itu intan” Bantahnya. “Lalu siapa? Apa nina? Mengapa nina membunuh mereka?” Tanyaku. “Nin…a, Tidak mungkin” Kemudian tio berlari meninggalkanku. Aku terpaksa pulang sendiri.


Saat ku bangun, Aku kembali menemukan kertas itu dengan huruf “T”. Jika kugabungkan semua itu dan ditambah dengan huruf I, Akan menjadi kata “MATI” dan semua orang yang kuceritakan tentang nina, Mereka semua mati. Aku tak akan menceritakannya lagi. Saat aku tiba di kampus. Benar dugaanku, Tio ditemukan tewas di taman dengan luka yang sama. “Mungkin nina merasa terganggu jika aku terus mencampuri urusannya” Batinku.


Tak disangka hari ini tepat tanggal 5 desember 2016 dimana aku mengalami kecelakaan pada tanggal 5 desember 2015 pukul 21.05. Aku merasa ada kejanggalan pada pukul itu. Sore harinya, “Kring.. kring” Bunyi telepon. “Ah irwan, Mau apa dia telepon?” Batinku. “Hallo, Selamat sore intan” Ucapnya. “Sore, Ada apa?” Tanyaku. “Begini, Apa nanti malam kau mau makan malam denganku?” Tanyanya. “Tentu, Pukul berapa?” Jawabku. “pukul 19:30”. Kemudian kami berpamitan lalu menutup teleponnya.

__ADS_1


Tepat pukul 19:30 irwan menjemputku. Sesampainya di sana, Sepi dan lengang. “Ke mana mereka?” Tanyaku pada irwan. “Aku menyewa tempat ini ksusus hanya untuk berdua denganmu” Ucapnya. Ketika kami duduk. Irwan menceritakan tentang nina. Pikiranku kini bukan apakah irwan akan mati seperti mereka. Tapi rasa sakit di hatiku begitu aku tahu “Dulu, Sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku menjalin cinta dengan nina di belakangmu. Tanpa sepengetahuanmu. Aku bermain cinta dengannya selama 4 bulan. Pada malam sebelumnya, Nina mengancam akan memberitahukan semua ini padamu intan. Tapi aku tak ingin menyudahi hubunganku denganmu. Aku ceritakan semua ini pada mereka. Lalu amanda mengusulkan untuk membunuhnya. Malam berikutnya, Aku menemuinya. Kemudian aku mengajaknya ke rumahku tepat tanggal 5 desember 2015 pukul 19:30. Di sanalah kami mencoba membunuhnya. Kemudian tio merusak mobil nina hingga remnya blong, Kalau-kalau nina mencoba untuk kabur. Benar saja nina berhasil lolos dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kami mengikutinya. Dan tanpa kami duga. Mobilmu lewat di depan mobilnya hingga kalian saling bertabrakan. Bukan sebuah kebetulan, Tapi itu takdir. Kami pun turun. Saat kulihat yang ditabraknya adalah kamu intan, Kekasih yang amat kucintai. Aku membawamu ke rumah sakit bersama mery. Dibalik itu, Saat amanda dan tio melihat keadaan nina, Dia selamat. Namun amanda membunuhnya. Menusuk perutnya dengan pecahan kaca hingga nina tewas seketika. Setelah itu kamu koma, Sudah 5 bulan kamu koma dan aku amat frustasi. Amanda datang padaku dan menceritakan apa yang terjadi pada nina. Amanda berkata dia melakukan itu karena mencintaiku. Kami pun menjalin cinta. Maafkan aku intan, Kau pantas membenciku” Ucapnya padaku sambil menangis memelukku. Aku hanya diam atas kekecewaanku padanya. “Apakah dia juga akan membunuhku?” Batinku. Entah kekuatan dari mana. Aku mendorong tubuhnya hingga irwan terjatuh. “Aku akan membunuhmu, Seperti aku membunuh mereka”. “Jadi kamu yang membunuh mereka?”. “Bukan, Bukan aku” Aku menjawab dengan heran. Kemudian sosok putih datang menghampiri kami “Nina”. “Kau yang membunuh mereka intan” Ucap nina. “Tidak, Aku tidak merasa melakukan itu. Kamu yang membunuh mereka” Ucapku. “Masih ingatkah kau dengan perjanjian kita intan? Aku akan mengembalikan hidupmu, Asal kau mau menukarnya dengan orang-orang yang kumau.


“Dan kau bersedia. Sekarang yang kumau adalah irwan. Bunuh dia” Ucap nina padaku dengan wajah yang menyeramkan. “Tidak aku bukan pembuhuh” Teriakku. “Tapi kau telah membunuh mery saat dia mengantarmu pulang. Kau bertengkar dengannya dimobil saat kau tahu mery tak mempercayaimu dan kau marah hingga membuatnya celaka. Kemudian kau menusuknya dengan pecahan kaca jendela mobil. Saat amanda datang dan kau menceritakan semua padanya. Kau tanya mengapa aku membunuh mery, Amanda malah berpamit pulang padamu. Lalu kau berkata padanya karena aku sakit hati sama seperti sakit hatimu padanya. Kau menusuknya dengan pecahan kaca, Kau membuang mayatnya di sungai. Dan saat tio mengira kau membunuh mereka, Kau marah padanya lalu menusuknya pula seperti kau membunuh mereka. Kau menulis huruf-huruf itu setelah kau membunuh dengan darah mereka sendiri agar aku tahu kau menepati janjimu. Hahaha.. hahaha” Nina tertawa mengerikan. “Aku tidak merasa melakukan itu semua, Kau bohong” Ucapku. “Aku meminjam ragamu, Tapi kau yang melakukannya. Kau terlalu naif intan, Kau menukar nyawamu dengan nyawa mereka. Kau biarkan mereka mati dan kau hidup. Aku menginginkan irwan. “Jika kutahu itu aku tak akan pernah…”. “Bunuh dia, Bukankah dia juga telah menyakiti hatimu” Nina berteriak, Seketika itu aku mengambil pecahan kaca dan “Pergi irwan”. “Arghh…” Darah mengalir deras.


“Mengapa kau lakukan ini?”. “Aku terlalu naif untuk dapat membencimu, Aku ingin kau hidup bahagia kelak. Perjanjian yang tak kuinginkan ini usai sayang” Ucapku lirih. “Mengapa kau tak membiarkanku mati?”. “Aku mencintaimu” Lalu aku telah pergi selamanya menjadi gumpalan darah. Luka yang irwan telah torehkan di hatiku tak sebesar cintaku padanya. Hari ini aku pernah mati dan telah mati serta takkan hidup kembali.


Irwan menangis seraya melihat batu nisan di hadapannya. Orang yang dicintainya, Orang yang telah disakitinya rela mengorbankan hidupnya demi laki-laki sepertinya. Dan aku telah bahagia, Di tempat yang terindah. Di sisi tuhan yang maha esa, Yang senantiasa mencintai tanpa menyakiti.


YANG TIDAK TERLIHAT OLEH MATA BUKAN BERARTI TIDAK ADA, YANG JAUH BUKAN BERARTI TAK DAPAT MENYATU.


Cerpen Karangan: Dheea


Tamat.

__ADS_1


MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.


__ADS_2