
SELAMAT MEMBACA ๐๐๐๐
"Fokuslah hanya pada kebaikan saja, Nduk. Maka takkan pernah kau temukan pertikaian. Sebesar apapun kesalahan pasti ada sisi baik untuk dilihat, sebab tak ada manusia yang benar-benar sempurna," ucap Bapak saat melihatku masih termenung di depan jendela kamar.
Pria yang mulai sepuh itu pun berlalu meninggalkanku dalam kecamuk hati.
Ya, ini sudah hari ke-tiga, aku berada di rumah yang menyimpan segala memori tentang masa kecil hingga remajaku. Pertengkaran dengan Mas Ilham--suamiku--kemaren lusa membuatku terpaksa mengambil jarak dengan lelaki yang kunikahi enam bulan yang lalu itu. Tentu, itu dengan kerelaan hatinya untuk mengantarku pulang sejenak ke pangkuan Ibu, agar bisa berfikir lebih jernih.
Bukan aku tak bisa menerima masa lalunya. Itu sudah kulakukan bahkan sejak aku berkata 'iya' saat lelaki berpostur tinggi itu melamarku. Akan tetapi, kehadiran wanita masa lalu di tengah pernikahan kami, membuatku terluka. Nyatanya, bukan aku satu-satunya wanita yang merajai hatinya. Egoku terluka karena cemburu merasuki hati.
"Maafkan aku, Dek. Percayalah ini untuk yang terakhir kali. Aku berjanji dengan segenap jiwaku," pinta Mas Ilham memohon ikhlas.
Hatiku senyap. Hanya buliran air mata yang menganak sungai menjawab segala tutur yang terucap.
Kami sama-sama terdiam. Aku seperti menyalahkan takdir yang sedang menimpahku. Terkhianati saat bunga pernikahan masih menguar kuat. Dia menatapku lekat. Mengusap punggung tangan dan mencium berulang kali. Mengiba dengan tatapan nelangsa.
Aku tak bisa melihatnya seperti itu. Pun tak bisa menahan emosi yang meluap dari amarahku.
"Awalnya, aku hanya ingin membantu masalahnya saja. Tak lebih. Tapi aku tak bisa menahan perasaan saat melihatnya terluka, karena sedikit banyak, ia sempat bertahta dalam hati. Sungguh aku lemah untuk yang satu itu, Dek," ungkap lelaki yang masih menatapku itu menyibak fakta.
Tangisku semakin tergugu. Ia memeluk dan mengulang maaf tak terbilang angka.
Kubenamkan wajah di lutut. Berharap aku mereda sakit yang menghujam jantung hatiku, tetapi justru yang terasa ribuan pisau yang seolah mencabik hati saat setiap kata maaf itu terdengar di daun telinga.
"Bolehkah aku pulang dulu ke rumah untuk sebentar saja?" pintaku meminta pengertian.
"Tapi bagaimana nanti kata Ibu dan Bapak--?" tanyanya sedikit gusar.
"Bapak dan Ibu tentu akan tahu kalau ada masalah di antara kita. Tapi percayalah, fakta persoalan ini hanya akan menjadi milik kita, Mas," lirihku sambil terisak. "Orang tuaku mengajarkan dan mendidik tentang tanggung jawab sebagai istri, Mas. Menutup segala aib suami. Tapi aku hanya manusia biasa yang terluka, Mas. Berikan aku jeda untuk menerima ini dengan lapang," ucapku tak bisa membendung lagi tangis yang sedari tadi tertahan.
__ADS_1
Ia terdiam untuk beberapa lama. Mengambil nafas panjang dan menghembuskan seketika.
"Baiklah, akan kuantar kamu ke rumah Bapak. Berkirimlah kabar jika lapangmu sudah bermuara."
Aku mengangguk dan seketika bangkit. Mengambil tas yang kemudian kuisi dengan beberapa stel baju.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menuju perkampungan yang asri. Tempat yang selalu membuatku memiliki banyak semangat untuk melihat hidup.
Bapak dan Ibu berada di balai depan rumah dengan cangkir kopi dan sepiring ubi rebus, saat mobil kami memasuki pekarangan rumah yang masih ditumbuhi beberapa pohon jambu.
Mereka berdua berdiri menyambut kedatangan kami. Senyum tipis sengaja kupaksa demi mengelabui.
"Lho kalau datang kok tidak memberi kabar. Kalau tahu Ibu bisa masak terong bakar sambal kacang kesukaan Ilham," kata Ibu sembari mengulurkan tangan untuk kusalami.
"Mas Ilham mau keluar kota dini hari nanti, Bu. Aku tidak berani tinggal sendiri di sana, jadi sementara aku pulang saja. Ndak apa-apa kan, Bu?" Jawabku banyak bohong.
Mas Ilham hanya tersenyum.
"Belum pasti, Bu. Sampai masalah proyek di kantornya itu terselesaikan dengan baik."
Mas Ilham membawa tas ke kamar. Segera kuikuti langkahnya. Memberi pengertian padanya untuk langsung pulang malam ini. Aku hanya ingin sendiri untuk malam ini.
Mobil Mas Ilham menghilang setelah melewati pekarangan rumah.
Bapak dan Ibu akhirnya tahu kalau sebenarnya ada masalah dengan rumah tanggaku. Apalagi sejak kedatanganku di rumah, selera makanku tiba-tiba hilang dan lebih banyak mengurung diri di kamar.
Mereka hanya memberiku beberapa nasehat kecil tanpa kuminta. Tak pernah sekali pun tanya apa yang terjadi, karena tak ingin menambah persoalan semakin runyam. Seperti sore tadi, tiba-tiba bapak memberi petuah tentang apa itu kebaikan saat melihatku hanya menatap keluar jendela kamar dengan air mata yang tiba-tiba keluar tanpa diberi komando.
Inilah aku yang lebih memilih diam, dan menghamburkan harap pada gelaran sajadah agar Tuhan melapangkan hati dan membuka jalan keluar tanpa rasa perih dan tak ada yang tersakiti.
__ADS_1
***
"Rum, ayo keluar makan malam dulu!" teriak Ibu membuatku harus segera menutup kitab pedoman yang hampir setiap hari menemaniku di kamar kesayangan.
Bapak dan Ibu telah menanti di meja makan yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Senyum mereka masih semringah menyambutku. Memiliki mereka adalah anugerah tersendiri yang kupunya. Orang-orang yang sederhana. Penuh pengabdian, dan selalu melihat orang lain dengan ilmu hakikat, hingga hanya ada kebaikan saja yang terpancar. Aku masih belajar untuk itu.
Malam ini, Ibu sengaja memasak lontong sayur kesukaanku. Potongan lontong itu sudah tersaji di piringku. Bapak menambahkan kuah sayur yang menguar bau sedap sebab ada beberapa potong udang di dalamnya. Tak lupa, kerupuk mini yang berbahan dari pati singkong, membuat hidangan itu semakin lezat untuk segera dinikmati.
Kali ini, sengaja kuhabiskan makananku untuk menghargai Ibu yang sudah susah payah masak.
"Perempuan jawa itu 'mendhem jero mikul dhuwur', Nduk. Kamu harus selalu mengingat-ingat itu," ucap Ibu setelah melihatku hendak bangkit dari tempat duduk.
"Injeh, Bu."
Ya, sedari remaja Bapak dan Ibu selalu mengajarkanku tentang makna kalimat itu. Sebuah petuah yang bisa membentuk karakter seseorang bahwa setiap perempuan jawa ketika sudah berumahtangga maka ia harus siap melambungkan segala kebaikan suaminya dan menutup rapat-rapat segala keburukan atau aib yang ada pada suaminya. Hal ini sama artinya dengan gambaran dalam kitab suci umat islam. Istri dan suamimu adalah pakaianmu. Sejatinya, fungsi pakaian bukankah untuk menutup yang tidak boleh untuk diperlihatkan.
Aku hendak masuk kamar. Saat Bapak tiba-tiba berucap.
"Hubungi Ilham dan segera minta jemput. Semakin lama kau berfikir semakin lama setan ikut campur juga," titah Bapak yang tak mungkin kuabaikan.
"Injeh, Pak."
***
Mas Ilham sudah berada di ambang pintu saat aku sudah bersiap dengan tas di tangan.
Segera ia meminta maaf pada Bapak dan Ibu dan mendekatiku yang masih tertegun hadirnya yang secepat angin membawa pesan whatsapp dariku. Ia memelukku lama.
Pelukan lelaki itu masih sama. Hangat sehangat semburat warna jingga yang datang saat waktu senja. Aku wanita yang mencintai tanpa tapi.
__ADS_1
Tamat.
MAAF KALAU ADA KESAMAAN NAMA, ALAMAT, WAKTU, DAN TEMPAT. CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, LIKE, KOMEN YANG BANYAK, JADIKAN FAVORIT, VOTE JUGA BOLEH. TERIMA KASIH.